
Tiara merasa kesal melihat banyaknya makanan di depannya kini. Apa bosnya ini tak salah? Memesan makanan hampir satu meja penuh!
"Ayo makan!" ucap Gio yang baru saja menelan makanannya.
"Aku masih belum lapar, Pak!" tolak Tiara.
Gio menatap Tiara dengan tajam.
"Gak mau makan gak akan pulang ke kantor!" ucap Gio. Tiara menyunggingkan senyumnya.
Berarti hari ini free? Asyikk!!
"Bisa pulang dong kalau gak ke kantor?" tanya Tiara dengan nada yang ringan. Dia tersenyum senang bisa pulang degan cepat.
Gio menatap Tiara dengan bingung, lalu mengusap wajahnya kasar.
Bukan itu yang dia maksud, Apa dia gak ngerti apa maksudku?
"Bukan pulang ke rumah. Kita gak akan puang dari sini kalau kamu gak ikut makan!" ucapan Gio barusan membuat senyum di bibir Tiara menghilang seketika.
Dia mendengkus kesal. "Aku belum lapar gimana mau makan?" Tapi tak ayal dia ambil juga sendok yang ada di atas piring, dia masukkan dengan malas dan terpaksa ke dalam mulutnya. Tidak akan pulang. Ancaman dia pasti tak main-main. Sama seperti biasanya!
Gio tersenyum senang. Dia sudah bosan melihat raut wajah lesu Axel di rumah, jika dia melihat raut wajah yang lain, gak dosa kan ya? Merasa berkianat karena behagia sementara Axel merana... Akh... aku juga butuh hiburan!
...***...
Gio dan Tiara kembali ke kantor. Tiara menjatuhkan dirinya di sofa panjang, menyelonjorkan kakinya di atas sana. Tak peduli dengan kehadiran Gio. Tak peduli juga dengan apa yang akan pria itu katakan. Dia sakit perut karena kekenyangan!
Salahkan si Bos!! Batinnya memberontak.
"Akhhh...." Sengaja Tiara merintih dengan keras. Biar dia tau akibat dari pemaksaan si bos pada dirinya. Memang ia akui makanan yang ia tadi makan sangat lezat, tapi menghabiskan makanan sebanyak itu... Gilaa! Lain kali daftarkan saja dia pada lomba makan, dapat hadiah pula! Lah ini? Dapa hadia tidak, sakit perut IYA. Heh... dasar pemaksa!
Tiara mendelik pada sosok bos nya yang kini berjalan dengan santai ke arah kursinya.
Keterlaluan! Dia yang pesan jadi aku yang makan! Kesalnya.
"Pak. Lain kali aku gak akan ikut bapak makan lagi!" ucap Tiara kesal. Dia mengelus perutnya yang sakit. Bahkan dia tanpa malu membuka kancing rok kerjanya dan menarik kemejanya keluar, menutupi roknya yang baru saja ia lepas kancingnya. Biarkan saja jika Gio marah karena dirinya tak rapi. Perutnya butuh ruang sekarang! Butuh kebebasan, lagi pula Gio ada di kursinya sekarang!
"Kalau sudah makan jangan tiduran! Tidak baik untuk kesehatan!" tubuh Tiara tertarik ke depan. Dia yang baru saja memejamkan mata mendadak melebarkan matanya.Gio sedang menarik tangannya menyuruhnya untuk duduk.
"Aahhh... aku mau tiduran, Pak. Perutku sakit. Aku juga mengantuk!" rengek Tiara. Dia menarik dirinya untuk kembali berbaring di sofa.
Gio mendengus kesal. Dia tak mau asistennya ini berbaring setelah makan, bagaimana kalau pencernaanya terganggu?
Hehh... memang siapa yang buat dia seperti itu?
Tiara senang saat Gio meninggalkanya.
"Satu jam saja. Aku mau tidur sebentar." ucap Tiara dengan nada malasnya.
Dia mengusap perutnya yang masih terasa sesak. Sakit. Bibirnya berdecap merasakan lezat makanan di sudut bibirnya.
Refleks dia membuka mata.
"Eh, Pak... Apa yang bapak lakukan?" Tiara terbelalak kaget saat melihat Gio menaikan bajunya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain masih mengusap perutnya. Tiara mencoba mempertahankan bajunya yang Gio angkat sampai ke atas.
"Pak Tolong jangan. Jangan mesumin aku!!" teriak Tiara takut. Dia bersiap untuk menendang Gio dengan kakinya.
"Siapa yang mau mesumin kamu? Saya cuma mau oleskan kayu putih ini ke perut kamu." bentak Gio. Dia menepis kasar tangan Tiara dari pakaian yang dia pakai.
"Tapi... Tapi jangan begini juga kali Pak. Nanti kalau ada yang masuk di kiranya kita lagi ngapa-ngapain lagi!"
"Oh jadi kamu mau saya mengunci pintu, begitu?" tanya Gio dengan senyum seringai di bibirnya.
"Eh bukan begitu juga kali pak. Aduh, bagaimana ini. Jangan buat saya panik lah pak, bapak juga tahu apa masksud saya kan? Bapak gak bodoh kan?" Tiara beringsut mundur.
Gio menatap tiara dengan kesal, apa dia bilang? Aku bodoh?
Upsss... Tiara mengatupkan bibirnya.
Mati aku, harusnya aku cari kata lain selain bodoh!
Tiara menatap mata Gio yang membulat marah.
Gio menarik kedua tangan Tiara dan menguncinya di kedua sisi tubuh Tiara yang kini tak bisa bergerak. Dia menatap tajam asisten yang sudah lancang menyebutnya dengan sebutan. BODOH!
Tiara terdiam takut saat Gio mendekatkan dirinya, dekat dan semakin dekat. Membuat dadanya menjadi sesak.
Kedua mata meraka saling beradu menatap satu sama lain. Mengunci tatapan Tiara yang tak bisa ia alihkan ke arah lain.
"P- Pak..." Lirih Tiara saat hidung mereka hampir bertabrakan.
Suara lirih Tiara membuat otak Gio membeku, dia tak bisa berikir dengan jernih. Terdengar seksi bahkan dia ingin mendengarnya sekali lagi.
Kalau bisa lagi, dan lagi.
Wajah Tiara, matanya, hidungnya, bibinya... menawan! Rasanya ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari sana.
Tiara menutup matanya, takut. Dia mempersiapkan dirinya dengan segala apa yang mungkin akan terjadi.
.
.
.
.
.
Aduh... Bang Gio apa yang akan kamu lakukan! 🙈🙈🙈