DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 197



Hari ini kami membawa Axel ke Singapura dengan menggunakan pesawat jet yang kami sewa. Kami tidak punya pesawat pribadi seperti ayah. Tepatnya masih belum membutuhkannya. Kami hidup dengan sederhana disini, kami hanya punya beberapa mobil, dan satu motor milik Daniel, dan satu sepeda kecil milik Axel.


Turun dari pesawat, kami di jemput oleh helikopter khusus yang di kirim dari rumah sakit. Satu dokter yang sangat aku kenal mendampingi Axel selama dalam perjalanan. Dia adalah dokter yang di ajukan oleh dokter Hans, namanya dokter Frans. Mirip? Hans-Frans? Ya dia adalah kakak kembar dari dokter Hans!


Sempat aku salah mengira dulu kalau dia adalah dokter Frans, ternyata bukan!


Setelah operasi dua hari yang lalu, akhirnya dokter mengizinkan Axel untuk pergi ke Singapura. Harusnya Axel berangkat sekitar dua hari lagi, tapi ternyata si pendonor sudah menghembuskan nafasnya pagi ini. Dengan mengejar waktu untuk transplantasi, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat segera setelah mendapatkan kabar itu!


Operasi akan di lakukan empat sampai enam jam, tergantung bagaimana tingkat kesulitan yang ada. Dokter Frans dan beberapa dokter ahli lainnya sedang berada di dalam ruangan itu, membantu Axel untuk berjuang dengan hidupnya.


Devan meraihku ke dalam dekapannya. Tubuhku rasanya lelah sekali, sedari kemarin aku mengurusi semua kebutuhan Axel, bahkan aku juga sering melupakan jam makanku. Dan aku juga melupakan suami dan anakku yang lainnya, Gio!


Karena harus tetap sekolah Gio aku titipkan pada mama, Leon juga tetap tinggal untuk menjaganya. Mengenai ayahnya, dia sudah aku jebloskan ke penjara untuk kedua kalinya, tapi kali ini aku meyakini kalau dia tidak akan mudah bebas seperti kemarin!


Kembali pada keadaanku. Ku rasakan tubuh yang lelah ini, serasa semakin berat, pandanganku berkunang-kunang, kepalaku pusing.


"Kamu istirahat ya, aku akan minta seseorang untuk antar kamu ke hotel!" ucap Devan, aku menggeleng. Bagaimana bisa aku istirahat sedangkan anakku sedang berjuang di dalam sana?!


"Gak mau! Aku mau tetap disini! Aku mau tunggu Axel sadar!"


"Tapi ini masih lama. Baru satu jam mereka di dalam sana!" Aku menegaskan Devan dengan menggelengkan kepalaku!


Devan merebahkan kepalaku di dadanya, rasanya hangat, menenangkan. Usapan tangannya juga sangat nyaman terasa lembut di tambutku sejenak aku melupakan rasa lelahku.


...***...


Aku terbangun, mengerjapkan mataku beberapa kali. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Lorong rumah sakit yang sepi, sesekali perawat lewat di depan kami. Ku lihat lampu ruang operasi masih menyala, terlihat disana waktu operasi baru saja berjalan selama tiga jam. Semoga saja satu jam lagi operasinya selesai!


Saking lelahnya aku malah tertidur disini! Payah!


Ku lirik Devan, dia sama tertidur seperti aku. Wajahnya terlihat lelah, pastilah lelah karena beberapa hari belakangan ini dia sangat sibuk mengurus perusahaan dan juga pulang pergi ke rumah sakit untuk ikut menjaga dan memantau Axel.


Nafasnya teratur, berhembus ke udara. Matanya yang terdapat lingkaran hitam terpejam, sesekali bergerak-gerak lucu. Ku sandarkan kembali kepalaku di lengannya yang tadi menjadi bantalku. Ku usap pipinya perlahan.


"Trimakasih, selalu ada saat aku susah dan sedih!" lirihku lalu mendekat dan mencium pipinya.


"Tanggung sekali! Kalau mau cium di bibir saja!" aku terkejut, ku kira dia tidur tadi. Dia membuka matanya dan menoleh, lalu tersenyum padaku. Mengambil daguku dan menariknya mendekat padanya.


Cup.


Hanya sekilas.


"Hei! Tidak ingat kalian ada dimana?" suara seseorang menginterupsi dari belakang ku. Aku menoleh dan mendapati Samuel berjalan ke arah kami bersama Nanda.


"Sam!" Aku bangkit dari duduk dan berlari ke arahnya, menghambur ke dalam pelukannya. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Umm... sebenarnya tiga bulan!


"Kalian datang kesini?" aku bertanya tak percaya.


"Iya. Nanda bilang kamu ada di Singapura, dan kebetulan aku selesai dengan urusanku di Hongkong. Jadi aku mampir dulu saja kesini!"


"Aku senang!" lalu memeluknya kembali. Dia mengacak rambutku seperti biasanya.


"Peluknya sudah belum?" tiba-tiba saja suara Devan terdengar tepat di belakang ku. Sebal sekali rasanya kalau sedang menumpahkan rasa kangen dengan seseorang lalu ada yang mengganggu!


"Ingat sayang, Sam sudah ada yang punya!" selalu itu yang dia bilang.


"Iya!" jawabku lalu melepaskan diri dari Sam. Devan melingkarkan tangannya di pinggangku dengan posesif.


"Kamu juga! Ingat wanita di belakang mu!" tunjuknya pada Sam. Lalu Devan memutar tubuhku dan kembali membawaku duduk di kursi.


"Dasar pencemburu!" Cerca Sam.


"Sudah sayang. Jangan bertengkar seperti itu. Ingat ini ada dimana! Kita kesini kan untuk memberikan support pada Anye!" Nanda mengelus dada suaminya yang mulai terbakar amarah. Entah kapan suami kami akan akur, selalu ada saja yang membuat mereka berdebat.


"Dia sangat menyebalkan!" Sam tidak mau kalah.


Nanda hanya terdiam, tapi dia menatap Sam dengan tajam. Nanda bukan wanita yang suka berdebat, dia lebih memilih diam saat marah. Sifat seperti itu lebih gawat daripada sifat seperti aku yang seperti petir menyambar, Samuel harus melakukan segala cara untuk merayu sang istri agar dia tidak marah.


"Sam!" panggil Nanda dengan nada dingin membekukan tulang. Sam langsung terdiam dari ocehannya. Dia tersenyum seperti anak kecil yang ketahuan bersalah!


"Bagus!" ucap Nanda lalu meninggalkan Sam yang mencebik di belakangnya. Sam tidak lagi berani membuka mulutnya. Devan tertawa pelan yang langsung terhenti saat aku menyodok perutnya.


"Sakit!" cicitnya.


"Kalian jangan berdebat terus!" ucapku geram.


"Iya!" Devan.


"Kamu juga!" Nanda pada suaminya.


"Iya!" ucap Samuel patuh.