DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 58



Gio kembali lagi ke dalam kantornya. Dia menggelengkan kepalanya, melihat Tiara sedang menumpukan kepalanya pada kedua tangannya di atas di meja.


"Anak ini .... Ckckck. Bukannya bekerja malah tidur!" Gumam Gio, lalu mendekat ke arah Tiara berada.


Gadis itu sedang tertidur pulas disana. Wajahnya sangat tenang, berbeda sekali dengan saat gadis itu tersadar. Barbar! Bahkan suara dengkuran halusnya sampai terdengar di telinga Gio. Geli. Bagaimana seorang wanita tidur dengan tidak elegan seperti ini?


"Hei! Bangun! Hei!" menarik lengan baju Tiara beberapa kali.


Tiara yang merasa tidurnya terganggu segera membuka matanya.


"Eh. Pak Gio!" Tiara menutup mulutnya yang menguap lebar. Lalu mengucek matanya. Selesai dengan tugasnya tadi, dia merasa bosan menunggu atasannya kembali dan akhirnya tak sengaja tertidur.


"Ini kantor buat kerja, bukan buat tidur! Sana cuci muka!" titah Gio pada Tiara.


"Maaf, Pak. Habisnya tadi Bapak lama di kantor Pak Axel!" jawab Tiara. Dia lalu tersadar dengan ucapannya setelah melihat Gio yang menatapnya tajam penuh kekesalan.


"Iya. Aku akan cuci muka ke toilet!" seru Tiara lalu bangun dan setengah berlari ke dalam toilet. Daripada kena semprot!


Gio menyimpan kedua tangannya di pinggang, merasa kesal. Ada satu orang yang sudah membuatnya pusing. Bahkan orang itu sepertinya tidak takut sama sekali dengan dirinya, yaitu Tiara! Gadis kecil ini dari awal sampai detik ini selalu saja membuat dirinya kesal!


Gio mengambil pekerjaan yang sudah Tiara selesaikan, dia terhenti dan menatap foto yang ada di meja itu. Tiara dengan seorang wanita paruh baya sedang berfoto di depan rumah. Pasti ibunya!


Ada note disana.


*Next r*enovasi rumah.


Semangat Tiara!


Seketika Gio teringat saat dia mengantarkan Tiara waktu itu. Rumah Tiara memang terlihat lebih yua dari rumah yang lainnya.


Gio tersenyum dengan tulisan note itu. Pantas saja gadis itu bertahan bekerja dengannya, ternyata dia ingin merenovasi rumahnya. Jika dengan gadis lain, mereka akan cepat mengundurkan diri seperti sebelum-sebelumnya karena sifat keras Gio. Tapi Tiara bertahan dan akhirnya Gio tahu karena apa.


Gio menyimpan kembali baingkai foto itu di tempat semula. Dia segera kembali ke mejanya dan mengerjakan tugasnya yang lain.


Tiara baru keluar dari kamar mandi. Dia mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap wajahnya yang basah. Segar!


Dia kembali ke tempat duduknya dan menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menoleh ke arah Gio.


Oh, sudah di ambil!


"Pak!" panggil Tiara.


"Hemm!"


Haihhh dasar! Di panggil jawabnya ham-hem-ham-hem! Bisa gak sih yang normal gitu jawabnya!


"Ada tugas lagi gak buat saya?" tanya Tiara pada Gio.


"Pekerjaan, Tiara. Bukan tugas!" Ralat Gio, sudah beberapa kali dia ingatkan untuk mengatakan pekerjaan bukan tugas, tapi anak itu masih saja seperti anak kuliahan meminta tugas!


"Iya. Pekerjaan!" Tiara bersungut. Perasaan salah mulu! hatinya membatin.


"Memangnya apa bedanya tugas sama pekerjaan? Sama-sama wajib di kerjakan!" sungutnya lagi, lirih namun tetap saja si manusia kutub itu bisa mendengarnya.


Gio menggelengkan kepalanya.


"Belum ada. Istirahat saja dulu! Tidur lagi juga tidak apa-apa. Nanti kalau ada akan aku bangunkan." ucap Gio santai dengan komputernya.


Tiara melongo. Kalau memang tidak ada tugas, kenapa juga dia di bangunkan?


"Mana bisa tidur lagi, lah!"


"Kenapa tidak bisa?"


"Ya karena sudah di bangunkan! Harusnya bapak tadi gak usah bangunkan saya kalau memang tidak ada tugas yang harus saya kerjakan. Umm .... maksud saya pekerjaan!" meralat ucapannya sendiri.


"Ini kantor. Bukan kamar! Kalau mau tidur sana, di dalam kamar!" titah Gio menunjuk ke arah pintu kaca yang pernah menjadi sasaran kemesuman sekretarisnya.


Tumben sekali hari ini bosnya baik!


Tiara segera bangkit dari kursinya, tidak buruk juga ide Gio. Memang dirinya sedikit lelah, apalagi tadi dia mengangkat belanjaan yang banyak dan berat. Kakinya juga masih pegal karena berusaha mengimbangi langkah besar pria itu.


Sampai di depan pintu kaca, Tiara mengulurkan tangannya untuk meraih handle pintu.


"Jangan lupa, kalau mau masuk ada paswordnya." ucap Gio. saat Tiara akan menarik pintu itu.


Canggih sekali, pintu saja ada passwordnya. Ah, mungkin saja ada sesuatu di dalam sana.


"Apa passwordnya?" tanya Tiara. Gio mengangguk.


"Apa?"


Gio mengambil hpnya dari dalam saku, dia memanyunkan bibirnya dan mencium layar hpnya.


"Lakukan seperti kemarin. Harus sama persis!" titah Gio.


Tiara mendelik kesal. Dia lantas membuka pintu itu tanpa menggubris perintah bosnya.


Heeh sku kira apa!


"Bapak lakukan saja sendiri. Aku gk mau!" kesalnya, lalu masuk ke dalam sana dengan wajah merah karena kesal dan marah.


Brukk. Pintu ditutup dengan keras.


Gio tertawa melihat ekspresi Tiara yang seperti itu. Dia melanjutkan kembali pekerjaannya yang seharusnya ia berikan pada Tiara.


Kasihan gadis itu. Dia pasti kelelahan setelah membawakan belanjaannya tadi.