DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 9



Kami sedang berada di sebuah kafe, milik teman Edgar katanya. Lumayan lah suasananya sangat sederhana dan menyenangkan untuk sekedar nongkrong, dan menikmati sore.


"Nye, Nan, mau pesen apa? Bang Edgar yang akan traktir." ucap Sofia yang membuat aku dan Nanda berteriak dengan urakan, tidak peduli dengan orang lain yang memandangi kami.


"Jus alpukat, dan jus stroberi?!" tunjuk Edgar padaku dan Nanda bergantian. Aku dan Nanda mengangguk senang. Edgar memanggil seorang pelayan.Edgar memang sudah sangat hafal dengan kesukaan kami.


"Ih gue enggak bang?" tanya Sofia yang pesanannya tidak di sebut sang kakak.


"Ah tinggal bilang aja yang elo suka, ribet amat!" dengusnya. Sofia kesal karena Edgar selalu menggodanya seperti itu.


"Ya udah deh, gue mau vodka aja. Ada gak mbak?" ucap Sofia asal, membuat Edgar melotot pada adiknya.


"Elu itu masih di bawah umur gak boleh minum kayak gituan, Jus jeruk aja mbak!" Edgar meradang dan akhirnya memesankan minuman kesukaan Sofia. Sofia hanya tersenyum senang.


"Awas aja lo kalau berani minum yang kayak gituan!" tunjuk Edgar tepat di depan wajah sang adik. Sofia hanya mendelik mendengar peringatan Edgar.


"Eh Anye sayang, semalam kamu kemana? kok bisa ngilang? Abang Edgar panik cari kamu!"


"Iya Nye! Kemana sih." Nanda.


"Si Naya hampir nangis takut elo nyasar gak bisa pulang!" Sofia.


"Hahaa... Aku cuma kedorong orang. Mau cari kalian gak tahu kemana jadi keluar aja." ucapku gak sepenuhnya bohong kan ya?!


"Ih abang juga nih, gak bener jagain kita!" tunjuk Sofia pada Egdar.


"Eh, emangnya jagain kalian berempat gampang gitu? Tahu kan bang Ed juga udah manggil tiga bodyguard yang laen?!" Edgar mengingatkan dengan ketiga temannya.


"Iya tapi kan elu yang jagain Anye, jaga satu orang aja gak becus, malah asik nyenggol-nyenggol dada sama bokong cewek di sebelah!" Decih Sofia yang di lanjutkan dengan kekehan Nanda.


"Tau sendiri di tempat kayak gitu desek-desekan. Ya kan rejeki mah bang Ed mana bisa nolak, ya kan?" Edgar meminta dukungan dariku.


"Yee itu mah sih kesenangan elu bang!" ucapku.


"Hehe, gue gak bisa pegang punya elu, ya yang ada aja!" Dasar Edgar gila!!


"Elu mau gue timpuk pake sepatu gue bang?" ucapku yang sudah berhasil membuka flatshoes dan mengangkatnya di satu sisi kepalaku. Edgar hanya menyengir mirip dengan kuda.


"Hehe, ya kan kali aja gitu! Makanya Anye sayang ku cintaku, lulus sekolah nanti nikah sama Abang Ed ya!"


"Ogah gue, masih banyak yang lebih waras bang! Lagi gue mau di kasih makan apa? Elo aja masih di kasih jatah mingguan sama nyokap kan?" tebakku, walau aku juga tahu yang sebenarnya dari Sofia.


"Ya kan bang Ed bisa cari kerja Neng!" ucap Edgar tidak mau kalah.


"Dimas." ucapnya smbil mengulurkan tangan padaku dan Nanda bergantian. Sedangkan Sofia memang sudah kenal dengan Dimas yang merupakan sahabat Edgar.


Perawakan Dimas tinggi dan pas menurutku, tidak kurus tapi juga tidak gendut. Walaupun dia pakai kacamata tapi tidak mengurangi kadar ketampanannya. Denyumnya seksi dengan satu lesung pipi, ah sekilas dia mirip Afghan.


"Sialan lo, gini-gini juga gue masih bisa dapetin kerjaan yang lebih baik. Masa cuma jadi tukang cuci piring! Asal Neng Anye tau ya, babang Ed ini lagi merintis karir, tau!"


"Karir apaan?" tanya ku pura-pura.


"Bang Ed punya bengkel, masih kecil sih, tapi Bang Ed yakin sebentar lagi akan besar kok. Kamu tenang aja Nye. Bang Ed gak mungkin bikin kamu dan calon anak kita kelaparan nanti." Aku memutar bola mata malas. Edgar tidak pernah berubah, sering berbual!


Dimas pamit kembali tempatnya sedari tadi. Sedangkan kami melanjutkan mengobrol kesana kemari, obrolan unfaedah tentunya.


Hampir dua jam kami disana. Perut kenyang, hati senang. Kami memutuskan untuk pulang. Edgar mengantarkan Nanda terlebih dahulu, lalu Sofia dan terakhir aku. Berurutan menurut tempat tinggal kami aku lah yang terjauh dari keduanya.


"Bye Nye! Sampe ketemu besok di sekolah." Sofia berdadah ria sebelum masuk ke dalam gerbang rumah mewahnya.


"Dah Sof, lain kali ajak hangout gue lagi ya." ucapku dengan cengiran. Sofia hanya memutar bola mata malas.


"Dasar. Oke deh, harus bujuk Bang Ed buat ajak elo yang tukang makan banyak."


"Bang anterin Anye sampe rumah, awas jangan di ajak ngeluyur loh!" teriak Sofia pada Edgar. Edgar hanya menyengir ria.


"Gak janji gue!" ucapnya di belakangku, lalu dengan cepat menginjak gas mobil hingga melaju meninggalkan Sofia yang tengah menggerutu.


Edgar memang seperti itu, janjinya tidak pernah benar! Dia bilang akan mengantarku ke rumah, tapi ucapannya tadi memang terealisasi dia membawaku ke tempat lain sevelum ke rumah. Selalu seperti itu.


"Bang, kebiasaan!" ku tinju lengan kirinya.


"Sakit, Nye!" serunya tapi masih fokus mengemudi.


"Mau ajak kemana lagi sih?"


"Udah lama gak maen skate board, temenin ya!"


Aku berfikir sebentar. Ini masih jam tiga sore.


"Oke, itung-itung rasa trimakasih gue karena elo dah ajak gue makan tadi." ucapku.


"Nah gitu dong!" ucapnya senang lalu mengacak rambut ku gemas. Kebiasaan!