DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 12



Axel pov.


Semenjak aku menjenguknya hari itu hubungan kami semakin dekat. Aku sering pulang bersama dia, tepatnya aku mengantar dia meski cuma sampai dia turun dari bis. Dan selanjutnya aku bisa meniru dia saat akan turun dari dalam besi persegi panjang itu. Rasanya menyenangkan juga mengetuk kaca bis dengan koin. Hehe...


Malam ini aku ingin mengajaknya ke suatu tempat, bukan tempat yang romantis sih, hanya saja ini rekomendasi Gio untuk membawanya ke pasar malam. Tidak yakin juga sebenarnya.


Hahh... apa sih spesialnya pasar malam? Tempat dimana banyak orang berdesak-desakan, ingin menaiki wahana permainan tradisional. Banyak lapak pedagang kaki lima. Sudah terbayangkan olehku bagaimana keadaan disana. Panas, gerah, debu. Hah.... meskipun aku sekarang sudah bisa menjadi orang yang 'biasa', tapi membayangkan berdesak-desakan seperti itu...Apa tidak kasihan Renata? Aku ingin makan malam romantis saja. Menghabiskan waktu berdua dengannya tanpa banyak orang yang mengganggu.


Tapi tidak ku sangka saat aku bilang akan mengajaknya kesana matanya berbinar-binar, dia mengatakan 'aku mau. Aku mau!!' dengan penuh semangat. Seperti anak kecil yang bahagia akan di ajak menaiki wahana. Eh... Memang iya kan. Kami akan menaiki wahana kalau pergi kesana!


Gio menepuk bahuku. Dia duduk di tepi ranjang. Menenangkan dan meyakinkan aku bahwa pasar malam tak seburuk yang aku kira.


"Pasar malam bukan tempat yang buruk, kok! Malah akan terasa romantis saat kalian menaiki bianglala. Melihat langit malam yang cerah. Melihat pemandangan kota dari ketinggian." Gio menggerakkan tangannya di udara, sepertinya sedang membayangkan dirinya berada di atas sana. Melukiskan hal-hal yang indah dengan imajinasinya. "Dan kalau kamu beruntung, kalian bisa....pst.. pst..." berbisik di dekat telingaku.


Ah mendengar Gio membisikan hal itu, kenapa aku merasa wajahku memanas?


"Hehe.... bagaimana?" tanyanya dengan senyuman nakal, dia menjauhkan dirinya dariku. Wajahnya terlihat menggelikan dengan senyum seperti itu!


"Dasar kurang ajar! Kenapa kamu meracuni fikiranku dengan hal seperti itu?" aku bersiap memukulnya, tapi dia sudah berkelit dan segera berlari menjauh sambil terkikik.


"Itupun kalau kamu bisa melakukannya." teriaknya dia sudah berada ambang pintu. Dia mengejekku! Hanya sekedar cium saja, dia kira aku tidak bisa apa?!... Dasar, Gio Si Jomblo Karatan!!


"Kita bertaruh, kalau kamu gak bisa cium dia malam ini, aku ingin Si Avi!"


What?!!! Kenapa bawa-bawa Si Avi? Em... Btw Avi adalah mobil Lamborghini Aventador milikku, edisi terbatas, hanya beberapa orang saja di dunia ini yang punya. Dan itu adalah mobil kesayanganku. Dan ku namakan Avi karena memang namanya Aventador, dia mobil cantik berwarna merah candy.


'Keterlaluan!'


"Hehh... Ciumanku tidak ada hubungannya dengan si Avi!"


"Takut?" tanya Gio dengan nada yang terdengar menyebalkan!


"Oke! Tapi kalau aku bisa menciumnya. Hancurkan motor butut milikmu!" aku balik menyerang.


Raut wajahnya terlihat tak suka, ingin protes sepertinya.


"Bagaimana? Deal?"


Dia terdiam, menatapku dengan kesal.


"Hei, aku kira deal! Mendapatkan mobilku bisa kamu jual dan belikan lebih dari seribu motor butut seperti itu!" aku tersenyum, balik mengejek. Dia melengos dan pergi. Apapun yang akan membuatnya melepaskan memori nya tentang wanita itu aku akan berusaha untuk melenyapkannya!


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku bersiap pergi dengan meminjam motor butut milik Gio. Meski dia tidak rela, tapi untuk perjuanganku dalam mengejar cinta akhirnya dia mengikhlaskan motor kesayangannya untuk ku pinjam malam ini. Dengan satu helm tambahan yang aku pinjam dari pak satpam.


"Kenapa tidak beli sendiri?" dia protes seperti itu saat aku sudah siap menaiki motornya. Aku hanya nyengir dan lalu memakai helm Gio yang sudah sedikit retak di kacanya. Akibat dia banting saat wanita itu meminta putus darinya.


Percaya tidak kalau motor butut ini adalah barang termahal yang dia punya. Bukan dalam ukuran materi, tapi memori! Motor ini yang membawanya hingga menemukan cintanya, yang membawa mereka sepasang anak muda menghabiskan banyak waktu malam minggu dengan berjalan-jalan mengelilingi kota Jakarta. Yang membuat Gio selalu pergi saat hari libur tiba, bahkan dia selalu mencuri waktu pergi di saat jam kerja hanya untuk menjemput wanitanya dari tempat kerja dan mengantarnya pulang. Dan saat itu aku sangat menyedihkan, karena seseorang yang selalu menemaniku sedari kecil seperti melupakan aku.


Sekarang aku tahu. Bagaimana rasanya seperti itu. Jatuh cinta? Memang membuat seseorang berubah, dan melakukan hal-hal gila. Aku contohnya! Aku merendahkan diriku dengan menjadi pelayan kafe. Berusaha tahan dimaki pelanggan. Bahkan aku juga di perintahkan untuk membersihkan toilet! Menyedihkan! Sayangnya, yang selama ini mereka tahu, Gio lah pemilik dari kafe tempat kami bekerja. Tapi rasanya sepadan saat melihat senyum dan tawanya. Renata!


Dan dalam dua minggu ini, mendadak aku belajar caranya mengendarai motor supaya bisa membonceng Renata di belakangku. Bukankah akan sangat romantis kalau dia memelukku dari belakang? Sssttt... mama gak tahu kalau aku diam-diam belajar naik motor!


"Sudah. Sana pergi! Tapi ingat jangan ngebut-ngebut! Kamu masih belum mahir pakai motor, mana gak punya sim lagi, pelan-pelan saja. kalau mau belok jangan lupa lamp..." Dia cerewet seperti emak-emak! Beruntung mama sedang pergi ke Prancis untuk menjenguk Kak Daniel, dan juga kakek. Mama juga kangen si chubby Nathalie, putri kak Daniel. Kalau mama tahu aku pakai motor, habislah sudah. Mama juga pastinya tak kalah cerewetnya dengan pria ini!


"Iya aku tahu! kalau mau berbelok harus menyalakan lampu isyarat!" sela ku sambil menyalakan motor lalu pergi meninggalkannya, tak ku dengar lagi gerutuannya, kalah tersamarkan oleh knalpot berisiknya ini.


Aku mencoba membelah jalanan. Tak ada rasa takut meski ini baru pertama kalinya aku mengendarai motor membaur di jalanan yang ramai di malam minggu. Hanya STNK yang ku bawa di dalam dompetku. Bagaimana kalau aku tertangkap pilisi karena tidak ada SIM? Akhh itu urusan nanti! Yang penting aku akan pergi dengan Renata!


Malam minggu... Bukankah ini kencan?


Membayangkan ini kencan pertama kami membuat ku sedikit tak fokus pada jalanan. Alhasil beberapa pengendara membunyikan klaksonnya padaku dan mengumpat kesal saat mereka melewatiku karena aku tak sengaja menghalangi mereka.


Aku harus berhati-hati. Ini motor, bukan mobil! Kalau aku tidak hati-hati aku bisa saja terjatuh.


Selang berapa lama di jalanan akhirnya dengan susah payah aku sampai di depan gang dimana Renata sudah menunggu di tepi jalan. Dia terlihat cantik dengan celana jeans ketat, serta baju kedodoran yang menenggelamkan tubuh mungilnya. Tas pinggang kecil tersampir di bahunya, ia juga mengurai rambutnya. Dua jepit berwarna pink tersemat di atas kepalanya, saling menyilang. Cantik. So beautiful!


"Hai! Sudah lama menunggu?" tanyaku. Dia tersenyum manis dan mendekat. Ku berikan helm yang sedari tadi menggantung di dekat kakiku.


"Baru keluar, kok!"


"Kita berangkat?" tanyaku. Renata mengangguk, dia lantas memakai helm di kepalanya lalu mencoba untuk menguncinya di bawah dagu. Terlihat kesusahan.


"Sini!" panggilku. Dia mencondongkan dirinya, mendekatkan kepalanya padaku. Ku bantu dia untuk menguncinya supaya aman.


Deg. Deg.


Akh, jantungku mulai lagi. Hal yang paling menyebalkan saat dekat dengan dia adalah ritme jantungku yang tidak menentu, apalagi dengan keadaan kami yang saling berdekatan seperti ini, aku bisa melihat dengan jelas bibirnya yang pink. Sekilas rasanya inginkan dia lebih daripada sekarang ini. bolehkah aku menariknya mendekat dan melakukannya? Merasai manis bibirnya? hangat nafasnya?


"Sudah belum? Punggungku sakit menunduk terus!" protesnya.


"Eh, Iya maaf! Maaf!" aku melepaskan tanganku darinya.


"Kamu itu malah ngelamun. Ngelamunin apaan sih?" tanya Renata.


"Gak ada!" jawabku canggung. Kenapa aku bisa berfikiran seperti itu tadi? Ah ini pasti gara-gara Gio yang menyinggung soal ciuman tadi!


"Ayo naik!" titahku. Renata duduk di belakangku. Dia memegang erat tepian jaketku. Padahal aku berharap dia memelukku.


Kami mulai berjalan mengikuti beberapa kendaraan.


Ku lajukan motorku dengan perlahan. Tidak ingin mengebut karena aku juga khawatir akan keselamatan Renata di tangan pengemudi pemula sepertiku. Ku lihat di speedometer, kecepatan kami hanya berkisaran antara empat puluh sampai empat puluh lima.


Entah jam berapa ini, dan entah berapa lama aku mengemudi hingga akhirnya kami sampai kesini. Jujur aku menghela nafas lega!


Ku turunkan Renata di depan pintu masuk sementara motor ku bawa ke tempat parkir di area terbuka di dekat sana. Lucu! Jika biasanya pembatas diberi garis kuning, disini garis pembatas menggunakan tali plastik.


Ku perhatikan beberapa orang yang sama seperti diriku sedang menitipkan motornya. Pak Parkir dengan memakai rompi oranye datang dan membantu merapikan motor, lalu dia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Dan ku lihat Mas Parkir yang seorang lagi baru saja mengeluarkan motor lain dari sana dan menyerahkannya pada si empunya. Si empunya mengeluarkan uang kertas, entah berapa, dan diberikan pada si Mas Parkir. Oh, jadi bukan pake scan saperti biasanya!


Kali ini giliranku. Ku biarkan Pak Parkir mengambil alih motorku, dan beliau mengeluarkan kertas karton yag sudah di potong persegi panjang selebar 6×10 cm, kira-kira, ada angka di permukannya. Angka delapan puluh tiga. Satu untukku dan satu lagi untuk si motor. Aku tertegun. Selama ini aku benar-benar tidak tahu dengan hal yang seperti ini.


"Xel, sudah?" seseorang menepuk bahuku. Aku tersadar, dan melihat Renata sudah berdiri di sampingku.


"Apa kamu kesusahan dapat parkiran?"


"Tidak!" jawabku.


"Ren, apa ini aman?" bisikku di dekat telinga Renata. Tidak yakin sebenarnya apa ini rawan pencurian atau tidak.


"Apanya?" Renata bingung.


"Parkirnya!" Dia hanya menatapku dengan tatapan bingung. Membuatku tersadar, aku ini awam dengan masalah seperti ini


"Itu... haha... aku tanya, soalnya kan ... yang aku bawa motor kakakku!" Aku tertawa garing karena pertanyaan konyolku. Harusnya aku tidak bertanya hal seperti itu.


"Tidak apa-apa. Lagian kalau mau ada yang curi pasti yang terbaik dulu yang akan diambil. Ups... maaf, hehe...." Renata terkekeh. Sifatnya yang terbuka kadang membuat hati orang bisa tercubit, tapi ya itulah dia! Tapi aku suka!


Aku manggut-manggut.


Iya juga, sih! Motor butut seperti itu memangnya ada yang mau?!


Kami berjalan masuk ke dalam area pasar malam. Sudah aku duga kalau keadaannya akan ramai seperti ini, sampai kami harus berdesak-desakan dengan yang lainnya. Rasanya tidak rela jika Renata tersenggol orang lain, apalagi pria. Sebisa mungkin aku menjaganya di belakang dia.


Tapi keuntungan lainnya... Aku terus menatap tanganku yang dipegang erat olehnya. Sangat erat. Hangat. Tak rela kalau nanti tautan tangan kami terlepas. Tentu saja ini kali pertama kami berpegangan erat seperti ini.


Renata membawaku ke sebuah wahana permainan, lalu ke wahana permainan lainnya. Kami cukup bersenang-senang malam ini. Ternyata pasar malam tidak seburuk yang aku duga, kecuali karena banyak orang saja yang aku tidak suka!


Kami tidak sadar sudah menghabiskan banyak waktu disini. Menjajal hampir semua permainan yang ada. Dan yang membuatku malu di hadapan Renata adalah permainan ombak air.


Permainan tradisional dengan media tempat duduk dari kayu di buat melingkar dengan diameter yang besar. Awalnya aku takut jika itu membahayakan keselamatan Renata, melihat dari safety dan cara mereka melakukannya. Jauh dari bayanganku. Tapi melihat antusiasme-nya akhirnya aku mengikuti Renata juga, naik ke wahana itu untuk melindungi dia. Itu pemikiran ku. Mana aku sangka Renata malah berteriak da tertawa saat melihat wajahku yang pucat pasi.


Dengan menggunakan kekuatan manusia, mereka berlari dan membawa kami berputar, di ayun ke atas hingga ke bawah. Para pemuda itu ikut berakrobat, menyuguhkan kemampuan mereka yang membuat beberapa orang berdecak kagum terkecuali aku. Aku terus merapalkan doa dan menginginkan permainan segera berakhir. Mereka tak takut jika lalu mereka bisa terpelanting atau tergencet kursi saat kami condong berputar ke bawah. Aku ngeri sendiri membayangkannya.


Saking kencangnya ombak air itu berputar, membuat kepalaku pusing, perutku rasanya bergejolak, dan akhirnya setelah permainan selesai Renata membantuku memijiti tengkuk leherku di pojokan sepi yang gelap. Semua makanan yang ku makan siang tadi keluar sudah. Memalukan!


"Xel! Kamu gak pa-pa?" tanya Renata khawatir. Aku hanya melambaikan tanganku di udara, tak bisa berkata apa-apa.


"Tunggu sebentar! Aku belikan minum!" Renata pergi sebelum aku bisa melarangnya. Hanya bisa ku pantau dia dari tempatku membungkuk. Tak lama dia datang dengan membawa sebotol air mineral dan kemudian membukakannya untukku.


Aku minum dan membasuh wajahku dengan air. Segar rasanya, tapi perutku sedikit sakit karena terlalu keras mengeluarkan cairan tadi.


Dia juga menyodorkan bungkusan tisu padaku. Ku ambil beberapa lembar dan menggunakannya untuk mengeringkan wajahku.


"Ini, pakai kayu putih. Pasti perut kamu gak enak!" tebaknya.


"Trimakasih!" ku ambil kayu putih dari tangannya dan lalu menyapukan cairan hangat itu di permukaan kulit ku. Rasanya nyaman sekali. Hangat!


Renata terkekeh. Aku menatapnya, dia pasti menertawakan aku.


"Kalau kamu takut naik yang seperti itu kenapa tidak bilang?!" dia masih terkekeh.


"Aku gak takut, tapi setelah dibawa putar-putar, aku jadi mual!" memang seperti itulah kenyataannya. Maklum, aku baru pertama kali menaiki wahana yang seperti ini. Dan sepertinya ini akan menjadi yang terakhir kali untuk ku naiki!