
Aku harus sehat supaya bisa melakukan tes DNA itu, dokter bilang dua minggu lagi, tunggu aku dan janinku sehat seperti sebelumnya. Walaupun dingin Devan masih tetap perhatian padaku, membuatkan aku sarapan dan makan malam. Dia tidak pernah mengajakku bicara, dan juga tidak pernah menjawab jika aku bertanya. Meyakinkan dia kalau ini anaknya terlalu sulit untuk sekarang. Telinga Devan seakan sudah tertutup, hatinya juga. Tidak ada celah untukku!
Beberapa malam ini aku tidur sendirian, bagaimanapun aku membujuknya untuk tidur di kamar dan aku akan mengalah di sofa, Devan menolak dan menyuruhku untuk tidur di kamar. Aku faham jika dia masih marah, bagaimana pun juga bukti dengan yang dia lihat lebih nyata daripada penjelasan dariku. Mungkin akupun akan sama marahnya seperti dia jika melihat fotonya bersama dengan wanita lain. Hanya satu kesempatan untuk aku bisa membuktikan kalau aku tidak bersalah. Tes DNA.
Terkadang, aku bermimpi tapi terasa seperti nyata, Devan tidur di sampingku, sambil mengelus perutku. Dia terisak pelan sambil bergumam entah apa. Lalu saat aku terbangun dia tidak ada. Hanya mimpi.
Setiap malam aku selalu mengintip Devan tidur terlelap di sofa, wajahnya lelah, dia terlihat kurus dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Sesekali memberanikan diri mengecup kening Devan, hanya itulah yang membuat aku merasa tenang sambil mengelus perutku. Hanya itu yang membuat rasa rinduku pada suamiku ini tersalurkan. Hamya itu yang bisa membuat gerakan putraku menjadi aktif.
Aku harus bersabar. Aku akan buktikan kalau itu hanyalah fitnah. Hanya menunggu sampai waktu itu tiba!
...*...
Terdengar suara bel di pintu. Aku sedang mencuci piring bekas makan siangku. Segera aku selesaikan dan sedikit tergesa ke arah pintu.
Dua orang wanita yang sangat aku kenal. Mama dan Kak Melati. Mereka berdiri dengan angkuhnya di sana, tersenyum miring penuh ejekan.
"Ada apa kesini ma?" tanyaku, merasa heran dan waspada dengan kedua wanita beda generasi ini.
"Begini cara kamu menyambut mertua kamu?!" sinis mama sambil mendorong bahuku. Mama melenggang masuk ke dalam di ikuti oleh kak Melati di belakangnya.
"Silahkan masuk!" ucapku, mama tidak peduli, dia langsung duduk di atas sofa dengan angkuhnya.
"Ambilkan kami minum, kami haus!" titah mama.
"Baik!" aku menurut saja. Entah apa yang ingin mama lakukan saat ini aku tidak tahu, tapi aku wajib waspada. Devan tidak ada disini.
Pergi ke arah dapur, membuat sirup untuk mama dan kak Mel. Tak lupa beberapa camilan yang untungnya masih ada beberapa bungkus terakhir.
"Silahkan!" aku berjongkok di atas lantai, memindahkan gelas sirup dan cemilan itu ke atas meja. Mama langsung menyambutnya dengan kasar, dia mendekatkan gelas itu ke mulutnya lalu tak disangka-sangka, air gelas itu tiba-tiba beralih mendarat di wajahku, hingga aku terjengkit ke belakang.
Aku terkejut. Merasa panas di hidungku, pastinya sempat terhirup karena aku tidak siap sama sekali.
Mama tertawa melihat aku terbatuk, kak Mel juga, lalu tanpa perasaan kak Melati membalikan gelas miliknya di atas kepalaku hingga air sirup itu mengguyur basah rambutku! Lengket sudah pasti.
Mereka tertawa senang, lalu berdiri.
"Ini baru permulaan Anyelir. Jika kamu tidak juga pergi dari Devan. Kamu akan tahu apa yang akan kami lakukan!" Mama berujar dengan sinis.
Kak Melati membungkuk dan berbisik padaku. "Kamu hanya harus pilih. Tinggalkan Devan dan anakmu akan selamat, atau tetap bersama Devan dan hadapi segala sesuatunya dengan sabar, termasuk keselamatan anak kalian. Aku akan membuat hidup kamu tidak tenang. Adik!" ucap kak Mel menekan kata 'adik' padaku.
Mereka berjalan meninggalkan aku, mataku panas, nafasku memburu. Aku berdiri, seketika ingin sekali mengangkat meja kaca di depanku itu dan melemparkannya ke kepala mereka. Tapi aku masih waras, dan aku tidak mau terlibat kriminal, aku tidak mau melahirkan di dalam sel penjara.
"Kenapa kalian melakukan hal itu? Tidak bisakah kalian membiarkan kami tenang menjalani kehidupan kami? Aku tidak pernah mengusik hidup mama dan kak Melati, tapi kenapa kalian JAHAT?!!" jeritku membuat mereka berhenti melangkah.
Hanya tawa yang aku dengar, tawa menakutkan seperti tawa siluman di film-film horor!
"Kami sudah berbaik hati memberi kamu waktu selama ini dengan Devan. Dan kami ingin kamu segera pergi. Kamu tidak mau? Maka Devan yang akan segera usir kamu!" Aku mengepalkan tangan ku, geram, kesal. Hanya bisa melihat mereka pergi.
Kaki ku lemas, terlalu shock dengan perlakuan dan perkataan mereka tadi. Aku terduduk di atas di sofa menatap bajuku dan lantai yang basah berwarna merah.
'Menangis sekarang tidak ada gunanya Anyelir! Kuat lah, harus kuat, demi kebenaran. Kuat!"' ucapku pada diri sendiri, mencoba untuk menguatkan hatiku. Aku hanya harus kuat, tidak boleh stress hingga saat di lakukan tes itu.
Setelah membersihkan diri dan membereskan semua kekacauan yang ada, aku merebahkan diriku di atas kasur. Lelah. Tubuh ku cepat capek akhir-akhir ini, mungkin karena hormon kehamilan.
Pintu kamar terbuka, aku segera bangun dari berbaringku. Devan datang dengan wajah terlihat marah. Dia segera mendekat ke arahku, di belakangnya ada mama sedang menangis tersedu sambil memegangi lehernya. Drama apa lagi yang sedang di jalaninya?
Devan sudah ada di depanku, dia mencengkeram pipiku dengan kencang. "Apa yang kamu lakukan sama mama?" matanya merah memancarkan amarah.
"Apa yang aku lakukan?" tanyaku bingung.
"Dev, jangan kasar sama Anye, dia itu sedang hamil!" seru mama menarik tangan Devan agar menjauhiku. Devan menghempaskan tangan mama, hingga mama hampir terjatuh.
"Kamu berani kasar sama mama?! kamu lukai mama?! Masih tidak mau mengaku!!!" teriaknya lagi.
"Aku lukai apa?"
"Sudah Dev, salah mama. Anye pasti khilaf Kalau saja mama tidak datang kesini untuk menjenguk calon cucu mama, pasti Anye tidak akan mencakar mama. Dia pasti masih marah karena soal foto itu! Mama cuma ingin pastikan Anye baik-baik saja!" ucap mama sambil menarik tangan Devan. Aku melotot, fitnah apa lagi ini? Baru aku lihat di lehernya tergurat tiga garis luka memanjang.
Apa maksud Devan aku yang mencakar mama, begitu?!
"Kamu, dengar? Kurang apa mama untuk kamu! Mama masih perhatian sama kamu setelah adanya foto itu. Dasar wanita tidak tahu diri!" teriak Devan menghempaskan wajahku ke samping.
"Bukan aku Devan! Aku bersumpah, aku tidak melakukan kekerasan pada mama, justru mama dan kak Melati yang datang kesini untuk mengancam aku!!" jeritku tidak tahan.
"Kenapa membawa Melati? Anye kamu berhalusinasi!"
Bohong lagi. Berapa banyak kau akan melakukan kebohongan mama!
"Aku yang jadi korban disini Dev! Mereka siram aku pakai sirup. Mereka ancam akan lukai anak kita kalau aku tidak pergi dari kamu, mereka akan...Akhhhh!!!" aku berteriak refleks menutupi wajahku dengan tangan. Tangan Devan terlepas dari rahangku dan sudah hampir melayang, dekat dengan pipiku. Tidak ada yang terjadi! Aku mengintip, membuka mataku sedikit, tangan mama menahan tangan Devan hingga tidak sampai di pipiku.
"Kenapa kamu bohong Anyelir?!" Mama menjerit, air matanya membasahi pipinya. "Mama datang kesini hanya karena mama khawatir kamu baru pulang dari rumah sakit, hiks...! Tapi kamu...apa kamu masih dendam sama mama? Tadinya mama ingin maafkan kamu, tapi kelakuan kamu....hiks. Salahkah kalau mama ingin melindungi Devan, ternyata kamu wanita munafik! Kurang apa lagi Devan? dia sudah berikan semuanya untuk kamu, dan kamu hianatin dia? Orangtua mana yang tega melihat anaknya di sakiti, Anye? Bahkan Devan lebih memilih kamu daripada mamanya sendiri!!" jerit mama di akhir kalimat, sambil memukuli dadanya. Oh jadi sekarang mama berperan menjadi orang yang teraniaya, begitu? Sempurna sekali aktingmu mama.
"Ma Anye mohon mama jangan berakting ma...Kita tahu yang teraniaya disini siapa!" aku tak kalah kencangnya menjerit. "Jangan membuat Devan bingung, ma!"
"DIAMMM!!!!" Teriak Devan, wajahnya terlihat murka. "Kalian berdua DIAMMM!!" Devan menatap padaku.
"Minta maaf sama mama!" titahnya. Nada suaranya terdengar dingin. Aku menggeleng. Aku tidak bersalah buat apa minta maaf?
"Anye!" tegas Devan.
"Aku menolak Dev, aku tidak salah!" aku berseru, Devan menatapku tajam sedangkan mama tersenyum sinis menunggu kemenangannya.
"Sudah lah Dev tidak perlu." cicit mama.
"Kalau begitu, minta maaf karena sikap tidak sopan kamu sama mama!" Devan meraih tanganku kasar, mencengkeramnya hingga pastinya nanti akan membekas.
"Aku tidak sopan dimana Dev. Aku selama ini sudah bersikap sabar dengan mama, aku diam saat mereka aniaya, karena aku masih menghormati ibumu!" aku menjerit dengan keras, rasa sakit hatiku ini karena Devan tidak percaya lah yang membuat aku suka berteriak sekarang, Devan mencekik leherku dan mendorongku hingga terbaring di atas kasur. Sesak sekali. Kali ini aku harus pasrah jika aku harus mati di tangan suamiku sendiri.
"Dev, uhukk uhuk... lepas... sakit!" Devan menutup matanya sekilas, semakin terasa sesak, hingga akhirnya aku tidak bisa lagi bernafas.
"Pergilah!" titah Devan akhirnya melepaskan aku. Aku meraup udara banyak-banyak, sambil mengusap leherku yang sakit. Apa maksudnya pergi? Dia usir aku?
"Kamu usir aku Dev? Tapi aku akan pergi kemana?" lirihku.
"Kalau begitu aku saja yang akan pergi dari sini! Renungkan semua kesalahanmu. Setelah kamu sadar dan menyadari semua salahmu, telfon aku!" Devan turun dari atas kasur dan pergi keluar, langkahnya terlihat berat, tidak ada semangat di wajahnya. Aku hanya bisa memandangi punggung Devan yang tidak lagi tegak.
'Aku tahu kamu hanya sedang bingung Dev. Kamu gak benar-benar benci sama aku! kamu hanya bingung!'
"Apa lagi yang kamu tunggu?" mama melipat kedua tangannya di depan dadanya, dengan keangkuhan setinggi langit. "Sudah aku bilang kan, aku tidak bisa membuat kamu pergi. Maka Devan yang akan mengusirmu!"
"Lakukan saja apa mau mama, kalaupun aku pergi sekarang, suatu saat aku akan kembali untuk membalas perbuatan mama!"
Plak!!
"Berani kamu?!" tangan mama masih terangkat, pipiku perih. Baru kali ini aku diperlukan seperti ini oleh orang lain. Mama Linda saja yang mengasuhku tidak pernah kasar padaku. Papa Yudhistira meskipun kata-katanya tajam dia tidak pernah main tangan, tapi mertua rasa siluman ini sudah berani menampar pipiku.
"Jaga mulut kamu wanita tidak tahu di untung. Tidak tahu diri!" Aku geram, dia sudah terlalu dalam menghinaku. Aku mencengkeram bantal, siap untuk melemparkannya ke wajahnya.
Suara telfon berbunyi, Mauren, mertua rasa siluman ini mengangkat hpnya. "Iya mama akan segera turun!" berucap dengan lemah lembut, lalu menutup telfonnya. "Kamu. Awas saja kalau buat ulah! Aku pastikan nama kamu akan tertulis di atas batu nisan!" menunjuk tepat pada wajahku. Lalu kemudian pergi.
Dasar siluman! Meskipun dia mertua ku, aku tidak akan hormat sebelum dia menghargaiku! Tapi orang yang seperti ini tidak mudah untuk berubah!