
"Jangan pura-pura Anye. Jangan sok suci!" Suara kak Mel mulai meninggi. "Kamu pergi dari suami kamu dan menggoda lelaki lain yang lebih berumur begitu?Yang lebih kaya? Dasar j*lang!" serunya.
"Tidak cukupkah kak Mel menghinaku tadi di dalam toilet?" tanyaku.
"Menghina? Bukankah memang kenyataannya begitu?" dia melipat kedua tangannya di depan dada, berkata dengan sinis. "Lalu buat apa kamu kembali kesini hem? Mau menggoda yang lain lagi? Siapa target kamu selanjutnya?"
Aku tertawa pelan. "Kenapa kak Mel bertanya seperti itu? Apa kak Mel mau tahu incaranku dan balas dendam untuk merebutnya begitu?" Ah mulutku kenapa jadi ikutan jahat?!
"Kau..." Kak Mel maju satu langkah tangannya ia tarik ke atas. "Wanita lakn*t!" geramnya tangannya terayun hampir mengenai pipiku tapi gerakannya tertahan, seseorang menahan tangan kak Melati dari belakangnya. Devan! Dia berdiri tepat di belakang kak Mel sambil menantap ku.
"Melati, tinggalkan Anyelir!" Devan berkata dengan nada dinginnya. Kak Mel berputar hingga mereka saling berhadapan.
"Lepaskan Dev, biar aku kasih pelajaran pada si jal*ng ini!" teriak kak Mel. Beberapa orang sudah mulai datang karena mendengar perdebatan kami.
"Melati aku peringatkan. Ini tidak ada hubungannya sama kamu! Aku yang salah!" kak Mel menarik tangannya.
"Dev dengar, dia sudah tinggalkan kamu lama sekali dan sekarang dia datang pasti..."
"Pergi!" ucap Devan.
"Tapi Dev aku..."
"Ku bilang pergi Melati!" teriak Devan. Kak Mel pergi dengan perasaan kesal.
Devan menatap ke arahku. "Kamu kemana saja, Anye?" tanya Devan, tangannya bergerak untuk memelukku. Sam menepis tangan Devan dariku.
"Jangan sentuh Anye!" Sam berujar dengan kesal. Entah kenapa riak wajahnya berubah padahal tadi dia masih baik-baik saja. Sam menarik tanganku. Membawaku berjalan dengan cepat ke arah luar. Tapi Devan menarik tanganku yang bebas. Hingga Sam dan aku menghentikan langkah.
"Samuel. Kamu gak bisa bawa Anye. Dia itu masih istriku!" Devan berkata dengan lantang. Perasaan hangat menjalar di relung hatiku.
Sam berbalik dan tertawa pelan penuh ejekan.
"Istri?"
"Kamu gak ingat kalau aku masih suami dia?" Devan berkata penuh emosi. Sam menarik tanganku dan Devan juga, terjadilah tarik menarik di antara mereka berdua.
"Hei lepas. Sakit!" aku mengaduh. Tanganku benar-benar sakit. Apa mereka kira aku ini tambang?!
"Sam lepaskan istriku!" Devan berteriak.
"Kamu yang lepaskan! Semenjak Anye memutuskan buat pergi dia bukan lagi istri kamu!" Sam balas berteriak sambil menarikku lagi ke arah nya.
"Kalian berdua stop!! Berhenti bertengkar. Kalian seperti anak kecil!" teriakku. Tidak peduli orang lain melihat kami, aku hanya ingin mereka berhenti berdebat.
"Anye aku mohon pulang denganku. Kamu masih istriku!" Mohon Devan, dia memegang tanganku dengan lembut.
"Suami macam apa yang sudah tega berbuat kasar pada istrinya? Yang sudah tidak percaya pada istrinya, dan ragu dengan anaknya?! Ckckck... suami lakn*t!" Sam berkata dengan geram sambil menggelengkan kepalanya
"Aku salah, aku minta maaf." Devan berkata dengan lembut padaku.
"Anye, ayo pergi! Jangan hiraukan dia." Sam kembali menarikku. Baru saja tiga langkah, Devan berteriak.
"Samuel! Kalau saja aku tahu dia akan pergi sama kamu, dulu aku gak akan segan bunuh kamu dengan tanganku sendiri. Bajingan, kamu sudah bawa istriku lari!"
"Lelaki macam apa yang sudah bawa lari istri orang huhh!! Apa tidak ada wanita lain yang bisa kamu cintai, sampai kamu membawa istriku?" teriak Devan lagi.
Beberapa orang saling berbisik, samar-samar ku dengar mereka membenarkan kata-kata Devan, dan ada juga yang mengutuk aku yang pergi dengan pria lain, dan juga menyalahkan Sam karena membawa aku lari. Yaa, mereka tidak tahu saja apa yang aku alami kan?
"Bisa kamu bicara seperti itu? Kenapa kamu gak koreksi diri sendiri, kenapa istrimu bisa sampai melarikan diri, huhh!!" ujar Sam dengan tenang. Tatapan matanya penuh kebencian.
"Aku hanya membantu istrimu untuk meraih kebahagiaan, itu saja! Jadi yang bajingan disini siapa?" tanya Sam, tak ku sangka Devan menghambur dengan kepalan tangannya. Sam terhempas ke belakang, menabrak dinding kaca yang tebal.
"Sam!" aku terpekik kaget, ingin menghampiri Samuel tapi tanganku di tahan oleh Devan. "Dev lepas!" pintaku sambil mencoba melepaskan diri dari nya.
Sam bangun sambil menyusut warna merah di bibirnya. "Lihatkan! Dia lebih perhatian padaku dari pada sama kamu!" Sam teryawa kecil.
Sam tolong hentikan! Jangan pancing kemarahan Devan! Tapi itu semua hanya sampai di tenggorokanku saja. Aku tidak bisa berkata-kata sekarang.
"Ini untuk kamu yang sudah tidak percaya sama istri kamu!"
Bugh!!!
Bugh!!!
Dan beberapa tinjuan lainnya di wajah Devan, untuk dia yang menyiksaku. Untuk dia yang tak percaya dengan anak yang ku kandung. Untuk dia yang selalu menyakiti aku!
Devan tak sedikitpun membalas. Wajahnya sudah babak belur, mulut dan hidungnya mengeluarkan darah.
"Sam hentikan, Sam!" teriakku pada Sam, aku menahan tangan Samuel tapi dia menghempaskan aku sampai aku kehilangan keseimbanganku dan terjatuh. Lututku sakit!
Devan melihatku dan dia terlihat marah. Dia mendorong Samuel dan duduk di atas tubuh nya melayangkan beberapa tinjuan balasan pada Samuel. Sedetik kemudian mereka bergelung di lantai, saling menindih dan saling memukul. Aku berteriak pun tak ada yang mendengarkan.
Alex dan Edgar mendekat, begitu juga degan yang lainnya. Mami papi Edgar. Mama dan papa Devan. Mama dan papa Yudhistira. Juga Kak Melati dan Riana. Mereka saling berteriak minta seseorang untuk melerai keduanya. Beberapa petugas keamanan datang, tapi tidak bisa menghentikan keduanya.
Devan mengangkat Sam dan menghempaskannya hingga vas besar yang di gunakan sebagai hiasan di depan pintu disana pecah berserakan. Sam bangkit lalu mendorong Devan dengan bahunya hingga mereka berdua menabrak kaca hingga dinding kaca itu pecah. Tubuh keduanya tergeletak di lantai, lalu bangkit dan mulai lagi duel keduanya tidak peduli dengan wajah dan tangan mereka yang sudah berlumuran darah.
Alex dan Edgar dengan dua orang dari keamanan melerai mereka. Tenaga mereka masih sangat besar hingga harus di tahan oleh dua orang yang berbadan kekar. Itupun mereka masih berontak dan saling melayang kan kaki mereka untuk menendang.
"Kalian berdua hentikan!!" aku berteriak dengan emosi. Mereka seperti anak kecil! "Apa tidak bisa kalian bersikap normal?" teriakku lagi. Dadaku sakit melihat wajah keduanya yang berdarah dan juga penuh lebam.
Papa Stevan datang mendekat di antara kerumunan orang-orang.
"Bawa mereka pergi!" titah papa Stevan pada yang lain. "Devan, tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu. Lihat banyak awak media yang mengambil gambar kalian tadi!" Devan dan Samuel sama-sama berontak minta di lepaskan.
Riana dan kak Melati mendekat ke arah Devan, keduanya berebut entah mencari perhatian Devan, atau memang mereka sangat perhatian pada Devan.
Aku mendekat ke arah Samuel, beberapa bagian wajahnya berdarah terkena pecahan kaca. Samuel masih menatap ke arah Devan dengan tatapan membunuh.
"Sam ayo kita pulang!" aku menarik tangan Samuel, hingga keluar dari sana, mobil sudah menunggu sedari tadi.
"Anye." panggil seseorang dari belakang ku. "Anye tunggu." aku berhenti dan melihat mama Linda berlari ke arahku, mama langsung memelukku erat. Dia menangis, tubuhnya bergetar. "Anye, mama kangen nak. Mama kangen." mama memegangi pipiku, mencium kedua pipi dan keningku. Matanya basah, gurat letih lelahnya terlihat sangat jelas di wajahnya. Wajah yang selama lima tahun ini hanya aku lihat dari foto atau video.
"Mama. Aku juga kangen ma!" aku ikut menangis. Selama aku disini, aku menahan diriku untuk tidak bertemu mama, siapa sangka kalau mereka juga akan ada disini.
"Kamu baik-baik saja kan selama ini? Kemana kamu pergi hem? Kamu sudah buat mama khawatir!" mama mengelus pipiku dengan lembut, beberapa langkah di belakang mama berdiri papa yang menatap kami.
"Kemana saja kamu? Kami mencari kamu selama ini, tapi kamu menghilang, sayang. Kami gak bisa nemuin kamu!" mama menangis tersedu mengambil tanganku dan menciuminya.
"Anye baik-baik saja ma, Anye hanya butuh waktu sendiri. Maaf sudah buat kalian khawatir." Aku ganti menciumi tangan mama dengan penuh kasih. Tangan yang selama belasan tahun merawatku, tangan yang selalu mengusap pipiku dan mengusap rambutku di saat aku butuhkan, tangan yang sudah mulai terlihat tidak segar lagi seperti saat sebelum aku keluar dari rumah mama.
"Pulang ke rumah nak." pinta mama. Aku menggelengkan kepalaku.
"Maaf ma, tapi lain kali aku janji akan menemui mama. Aku harus urus Samuel, lihat wajah dia kacau seperti itu." aku menunjuk dengan daguku. Mama tersenyum dalam tangisnya. "Aku sayang mama." aku kembali mencium tangan mama sebelum kami kembali berpisah. Hatiku rasanya sakit saat melihat mama lagi-lagi mengeluarkan air mata dan dengan berat hati melepasku.
Aku meninggalkan mama yang masih berdiri disana. Mobil sudah membawa aku dan Sam berbaur ke jalanan yang sudah mulai sepi. Ku alihkan pandanganku keluar jendela. Tak terasa air mataku meleleh lagi, mengingat mama yang tadi menangis.
"Kenapa?" tanya Samuel. "Ingat Devan?!" aku memutar kepalaku menatap Samuel.
"Siapa yang ingat dia! Aku cuma ingat mama Linda!" ucapku. Ku lihat wajah Sam mulai membiru di beberapa bagian. Aku meminta kotak P3k dari sopir. Dengan telaten aku membersihkan luka di wajah Sam dengan menggunakan kapas dan alkohol.
"Akh, aaakhh. Sakit!" teriak Sam saat aku menempelkan kapas itu di keningnya.
"Sakit? Tadi saja waktu kalian saling pukul gak bilang sakit kan?!" geramku sambil menekan lukanya, Sam kembali mengaduh.
"Kalian ini persis seperti anak kecil! Kenapa sih harus pakai kekerasan buat selesaikan masalah?" tanyaku geram.
"Memangnya kenapa? Langsung aku racuni begitu? Oke lain kali aku akan kasih dia kopi dengan sianida!" ucap Sam dengan kesal.
*
*
*