
Seperti yang sudah di rencanakan, aku, Nanda, dan Nayara malam ini menginap di rumah Sofia. Besok hari minggu jadi kami bebas meski bangun siang sekalipun.
"Aku senang, kalian mau menginap disini. Bang Ed mah keterlaluan! adiknya di tinggalin aja!" sungut Sofia merutuki kelakuan abangnya.
"Biarin aja kali. Kan anak muda, wajar lah malam mingguan!" ucapku.
Selesai makan malam kami langsung menuju kamar Sofia.
Rumah Sofia sangat mewah, orangtuanya memiliki banyak perusahaan. Selain yang di bangunnya sendiri, juga perusahaan yang di berikan oleh kakeknya. Jadi wajar jika Sofia sedikit manja, apapun yang dia minta selalu dia dapatkan, beruntungnya dia. Orangtuanya juga baik dan penyayang, apalagi ayahnya yang selalu memanjakan anak gadisnya ini. Hanya satu yang aku salutkan, dia tidak sombong!
Maid di rumahnya sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk kami, termasuk menggeserkan sofa yang ada di kamar Sofia ke tepian dan menggantinya dengan dua buah kasur springbed yang di ambil dari kamar tamu di bawah. Meskipun ranjang milik Sofia besar, tapi tidak akan muat untuk kami berempat.
Kami bertiga membicarakan hal lain, kebanyakan tentang oppa-oppa korea dan murid tertampan di sekolah. Sofia sedang memakai krim malamnya di meja rias. Sesekali dia menimpali atau berkomentar, lalu kembali lagi pada aktifitasnya. Pantas saja wajahnya kinclong karena dia selalu merawat wajahnya dengan baik, tidak sepertiku yang cuek dengan kulitku! Terakhir Sofia menyemprotkan minyak wangi yang membuatku mual dan pusing.
Aku menutup mulutku lalu berlari ke arah kamar mandi. Sofia dan Nayara hanya melihatku dengan heran, sedangkan Nanda terlihat khawatir.
"Nye." seru Sofia, dua yang lainnya berada di luar pintu kamar mandi. Aku lagi-lagi memuntahkan isi perutku, Sofia benar-benar membuatku mual, maksudku bau parfumnya! Sofia membantu mengurut tengkukku.
"Aku kerok ya?" usul Sofia yang tanpa jijik melihatku muntah.
Setelah selesai, Sofia memapahku menuju ke ranjangnya. Kepalaku rasanya sakit sekali. Pandanganku kabur, semakin lama semakin gelap. Hingga aku mendengar teriakan dari ketiga sahabatku, dan akhirnya suara-suara itu menghilang bersama kegelapan.
Bau minyak angin tercium jelas di hidungku, aku membuka mata. Nanda, Nayara, dan Sofia duduk di samping kanan kiriku. Di kaki ranjang ada bang Ed yang memandang arah jendela, wajahnya terlihat seperti marah, satu tangannya mencengkeram tiang besi salah satu sudut ranjang.
"Sof, Nan, Nay, bang Ed?" Aku memanggil mereka satu persatu. Hanya ketiga sahabatku lah yang merespon, sedangkan Edgar? Entah lah apa dia marah? tapi kenapa dia disini bukannya dia pergi tadi?
Aku duduk di bantu oleh Sofia dan Nayara.
"Jadi Devan?" Ucap Edgar tiba-tiba.
Edgar beralih dan duduk di dekat kakiku. Mata elangnya menatapku tajam.
"Kamu hamil anak Devan?" tanya Edgar sekali lagi. Nadanya datar tapi cukup menusuk.
Aku menatap Nanda, yang di tatap hanya menunduk. Tidak menyangka kalau Nanda bercerita pada yang lainnya. Bukankah Nanda sudah berjanji?
Semua diam. Hanya terdengar isak tangis dari tiga wanita di sampingku.
"Tadi kamu pingsan...hiks.." Sofia.
"Aku panik...lalu telfon bang Ed. Dan kami panggil dokter...hiks... Dokter bilang kamu sedang hamil...hiks...Nanda sudah cerita... Maaf... Maaf kan kami. Kami bukan sahabat yang baik!" Sofia menunduk dengan air mata yang terus keluar dari mata cantiknya. Tangannya mengepal di atas lututnya. Nayara dan Nanda saling berpelukan. Bang Ed masih menatapku walau tidak setajam tadi.
"Maaf, Nye. Kami bukan sahabat yang baik. Harusnya kami gak ninggalin kamu sama Noval." Nayara menangis. Aku membuka tanganku lebar-lebar, dan merangkul ketiganya, kami berpelukan. Tak terasa aku pun ikut menangis.
Kata maaf terus keluar dari mulut ketiga sahabatku.
"Bukan salah kalian." ucapku menenangkan ketiganya.
"Ssttt. Sudah lah, ini memang sudah takdirku. Tapi kalian mau bantu aku kan." Semua mengangguk kecuali Edgar. "Jangan sampai orang lain tahu. Dan kalau aku ngidam kalian harus nurutin kemauan aku." ujarku dengan tawa di akhir kalimat. Lagi mereka bertiga mengangguk dan semakin memelukku erat. Sofia mengelus perutku. Rasanya menyenangkan!
Kali ini aku menatap Edgar.
"Apa Devan tahu?"
"Iya." Lirihku.
"Dia akan tanggung jawab?" Aku hanya diam.
"Dia harus tanggung jawab, Nye!" teriak Edgar tepat di depanku. Tubuh Edgar condong hingga wajahnya hanya satu jengkal di depanku.
Sofia mendorong dada Edgar.
"Jangan menekan Anye, bang! Bicarakan baik-baik! Inget, Anye lagi hamil!" teriak Sofia. Edgar mengusap wajahnya kasar.
"Kalian, tidur lah. Ini sudah malam!" Lalu Edgar keluar dari kamar.
"Ayo tidur, Nye! Kamu di sini saja. Kami di bawah." ucap Sofia.
"Aku juga di bawah saja. Aku mau kalian peluk aku semalaman." ucapku, semua tersenyum.
Beruntungnya aku punya sahabat seperti mereka.
Pagi aku terbangun lebih dulu dan berlari ke kamar mandi, seperti biasa, morning sick! Menyebalkan!
"Anye? Kamu gak pa-pa?" Nayara mendekat, di belakangnya Sofia dan Nanda yang juga baru bangun.
"Enggak. Maaf kalian jadi kebangun!" sesalku. Pastilah suaraku sudah membangunkan mereka.
"Enggak apa-apa. Aku ambilkan air hangat." ucap Sofia lalu pergi. Nayara memijit tengkuk leherku, dan Nanda mengambilkan handuk kering untuk mengelap wajahku.
"Trimakasih." ucapku.
Tak lama Sofia kembali dengan segelas air putih hangat di tangannya.
"Maaf aku merepotkan kalian." cicitku.
"Apa sih, jangan sungkan kami senang akan punya keponakan!" Sofia tersenyum tapi air matanya mengalir.
"Aku gak mau lihat kalian nangis." ucapku saat melihat yang lain juga sudah berlinang air mata. Nayara menyusut sudut matanya sedangkan Nanda menengadahkan kepalanya agar air matanya tidak mengalir.
...***...