
"Yang cepat jalannya bisa gak sih?!" teriak Gio saat Tiara tertinggal jauh di belakangnya. Tiara bersungut kesal sambil terus berjalan. Sumpah, kakinya sakit! Dia belum terbiasa dengan heels!
"Iya-iya! Bantuin napa, Pak! Berat nih! Pegel!" protes Tiara.
Gio berhenti melangkah setelah mendengarkan protes dari sekretarisnya itu. Tiara tersenyum, dia senang Gio berhenti dan akan membantunya. Dia mengangkat tinggi-tinggi tangannya, menyerahkan kantong belanjaan itu pada Gio.
"Apa? Kamu kira saya berhenti untuk bantu kamu?" tanya Gio yang membuat Tiara menurunkan lengkungan senyum di bibirnya.
"Bawa sendiri belanjaan kamu!" ucap Gio lalu kembali melangkah meninggalkan Tiara sambil mengulum senyum di bibirnya. Puas sekali dia membuat sekretarisnya itu meradang.
Tiara mendecih sebal. Dasar tak berperasaan! Dasar kompleks! Dasar laki-laki egois! Dan banyak lagi.
Dia menatap barang belanjaan di tangannya. Hanya empat kantong miliknya dan yang lainnya milik Gio.
Belanjaanku kan hanya sedikit!
Kembali menatap beberapa kantong yang lain. Ingin rasanya dia melemparkan hampir delapan kantong itu pada punggung Gio.
"Kamu mau saya tinggal?" Lagi Gio berteriak membuat beberapa orang menatap pada Tiara. Tiara berubah merah mukanya. Bisa gak sih kalau gak mau bantu jangan suka teriak-teriak?! geram!!!
"Iya!" lagi-lagi hanya pasrah!
Awas saja kalau aku kaya nanti akan aku buat perhitungan sama kamu! batinnya meski dia juga gak tahu kapan dirinya akan kaya. Bisakah seorang sekretaris lebih kaya dari bosnya? Impossible!
"Kalau kamu lama kamu lebih baik naik taksi saja!" geram Gio. Wanita memang lambat!
Mereka masuk ke dalam lift. Tiara menatap punggung Gio yang lebar. Dia kesal. Sebal. Ingin mengumpat. Bahkan ingin sekali dia menendang bagian belakang Gio saat pintu lift terbuka. Biarkan saja jika pria itu terjerembab! Masa bodoh. Ia akan tertawa jika itu terjadi.
Ya sudahlah! Ingat dengan tujuanmu, Tiara!
Batinnya mencoba untuk bersabar.
Sampai di kantor, Tiara masih mengikuti Gio di belakangnya menenteng tas belanjaan yang berat. Dia tertinggal jauh dengan lelaki itu, bahkan Gio kini meninggalkannya dengan masuk ke dalam lift, tak peduli dengan teriakan Tiara yang meminta menunggunya.
Beberapa orang menatap Tiara dengan menahan tawa. Tiara tahu itu! Ekspresi wajah mereka, kelakuan mereka... Dia mulai faham setelah beberapa hari bekerja disini. Mereka sedang tertawa mengejeknya!
Semua orang terdiam, dan melanjutkan pekerjaannya masing-masing setelah Tiara mendelik menatap mereka tajam. Mereka pura-pura tidak melihat apapun!
Dengan langkah kesal, Tiara mendekat ke arah lift dan menunggu pintu lift terbuka.
Tiara sudah masuk ke dalam lift. Kaki ya perih, pasti lah lecet. Jika saja boleh untuk karyawan, dia ingin memakai flatshoes saja atau sendal tidak masalah. Yang penting kakinya nyaman!
Tiara membuka sepatunya. Masa bodoh! Di lantainya bekerja hanya ada dia dan Gio saja. Tidak ada yang akan melihat atau mengejeknya karena bertelanjang kaki.
Tring. Pintu luft terbuka. Tiara segera keluar dari dalam kotak besi itu dan segera pergi ke ruangannya.
Brukk!!
Dengan kesal dia melemparkan kantong belanjaannya di atas ke maja. Gi hanya menatap.Tiara dengan tatapan yang entahlah.
"Kenapa disimpan disini!!"