DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 200



Semua orang sudah kembali ke hotel, aku Devan dan Gio masih menunggu disini. Menjaga Axel kalau-kalau dia butuh sesuatu.


Axel tengah tertidur pulas, di sampingnya -di brankar yang berbeda- Gio juga tertidur. Mereka tidur dengan saling berpegangan tangan. Anak itu keukeuh tidak mau kembali ke hotel bersama mama dan papa, ingin ikut menjaga Axel, dan akhirnya aku meminta kepada pihak rumah sakit untuk menambah satu brankar lagi untuk Gio tidur. Mungkin ada dari mereka yang berfikir, 'Ini rumah sakit. Bukan hotel!' , tapi biarlah. Mau bagaimana lagi? Aku sangat tidak tega memisahkan mereka kembali. Gio dan Axel sudah ibaratkan air dan wadahnya. Hehe... lucu!


Lihat saja, bahkan pegangan tangan mereka sangat erat!


"Sudah jangan ganggu mereka!" suara Devan membuatku menoleh.


"Hehe... Saking kangennya, tidurpun gak mau lepasin tangan!" ucapku sambil menyelimuti tubuh mereka dengan selimut, dan mencium kening mereka satu persatu.


Ku langkahkan kaki menuju sofa, tempat Devan berada. Devan membuka kedua tangannya lebar-lebar, aku menjatuhkan diriku ke dalam pelukannya. Nyaman sekali!


Ku hirup bau tubuhnya yang selalu wangi. Devan memelukku semakin erat.


"Sayang?"


"Hem?"


"Jangan seperti itu! Kamu goda aku!"


Aku menjauhkan diriku darinya.


"Aku gak goda kamu! Tapi kamu wangi, baunya enak!" ucapku. Dia mencubit hidungku, gemas. Kembali aku merapatkan diri ke dadanya yang bidang. Devan mencium pucuk kepalaku dan mengelus rambutku lembut.


"Dev, kamu sudah cari tahu soal anak itu?" tanyaku.


"Sudah. Tapi aku masih belum menemukan petunjuk. Beberapa informasi tidak bisa aku korek sama sekali!"


Ku tatap wajahnya dari bawah sini, ku lihat Devan menatap lurus ke depan dimana Axel dan Gio sedang tertidur pulas.


"Apa mungkin anak itu bukan anak biasa?" tanyaku.


"Aku juga tidak tahu!"


"Kamu bisa lacak lewat rekening mereka kan?" tanyaku. Sesaat setelah anak itu meninggal dan di ambil organ jantungnya, Devan mengirimkan sejumlah uang yang mereka minta, cukup besar. Sesuai dengan kesepakatan mereka.


Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Devan terlihat sedang berfikir.


"Rekening milik orang lain!"


"Maksudnya palsu?" tanyaku lagi, kini menarik diriku ke belakang, menatap netranya langsung.


"Bukan. Bukan palsu. Tepatnya, dia hanya meminjam! Rekening itu milik orang lain. Dan aku melacak kalau nomor rekening itu milik salah satu bank di negara kita!"


"Jadi maksud kamu, mereka dari..."


Devan mengangguk. "Bisa jadi! Pemilik bank itu sudah lama meninggal, dan orang lain yang memakainya! Tapi aku belum tahu siapa yang bertransaksi dengan nomor itu."


"Kita bisa lacak lewat keluarga pemilik akun itu kan?"


Devan menggelengkan kepalanya. "Pemilik akun tidak punya keluarga, dia seorang pemuda yatim piatu yang sudah meninggal!"


"Lalu nomor telfon mereka? Apa tidak bisa di lacak?"


"Hanya sampai tempat terakhir mereka mengaktifkan nomor itu. Setelah mereka mengambil uangnya, aku tidak bisa menemukan lokasi mereka!"


"CCTV, Dev. Bagaimana dengan CCTV rumah sakit! Nomor plat mobil mereka?!" aku belum menyerah.


"Semua sudah aku selidiki, tapi mereka sepertinya sudah ahli dalam hal ini."


Aku terdiam. Apakah sesulit itu mencari petunjuk?


"Dev, darimana kamu dapatkan anak itu? Jangan bilang kalau kamu dapatkan dia dari pasar gelap, atau dari jaringan mafia penjual anak!" ku tatap dia dengan tajam. Bukankah itu ilegal?


"Aku tidak tahu! Mereka hanya bilang anak ini adalah anak panti asuhan yang sedang sekarat karena di keroyok massa. Pendarahan pada otaknya membuat dia koma, dan kemudian dokter menyatakan kalau dia mengalami brain death."


"Mati otak?"


"Ya, mati otak! Meski organ tubuh lainnya tidak ada masalah, tapi pasien dengan kasus mati otak tidak bisa hidup tanpa itu semua. Bisa di bilang kalau dia tidak bisa hidup tanpa alat bantu, dan dia tidak bisa sadar dari komanya sampai kapanpun. Bahkan meski memakai berbagai obat dan operasi, dia tidak akan bisa bagun dari komanya. Artinya dia tidak bisa melanjutkan hidupnya sama sekali."


"Kasihan sekali dia. Dia masih muda dan harus mengalami hal seperti itu." aku turut sedih.


"Lalu bagaimana dengan panti asuhan itu?" tanyaku.


"Aku sudah kesana. Panti asuhannya ada, dan anak dengan nama Yohan itu, pengurus panti bilang tidak pernah ada anak yang bernama Yohan. Tanda tangan memang milik pengurus panti, tapi dia tidak mengakuinya sama sekali. Setelah di selidiki dari CCTV yang ada disana, beberapa hari yang lalu ada beberapa orang yang datang untuk melihat anak panti, dan seorang pria masuk ke dalam kantornya. Mungkin dari sana dia mencuri tanda tangan dan juga data ibu panti." ucapnya.


"Kenapa semua jadi rumit Dev? Bagaimana kalau ada pihak yang kemudian menuntut kita. Bagaimana kalau kemudian ada pihak keluarga yang menyalahkan kita karena mengambil jantungnya?" tanyaku. Devan kembali merengkuh aku ke dalam pelukannya. Mencium keningku dan mengelus rambutku lagi.


"Kita akan cari keluarganya, dan kita bicarakan yang sesungguhnya. Jika memang ada pihak yang sudah berbuat jahat pada anak itu, tentu aku akan mengurus mereka dengan tanganku sendiri. Aku janji!" Ucap Devan. Ku lihat tangannya mengepal di atas pahanya. Devan pasti sudah menduga dengan apa yang terjadi.


Aku kira kami akan hidup tenang setelah ini, tapi nyatanya ada suatu hal yang masih mengganjal dalam hati kami. Siapa anak itu? Yohan. Yohan Leonard.


"Ren-Ren!" Terdengar suara Axel mengigau pelan dari tidurnya.


Ren-Ren? Siapa yang Axel panggil?


Aku dan Devan saling bertatapan.


"Apa gadis yang dia suka?" tanya Devan.


"Ah, masa? Tahu sendiri kan anak itu bagaimana, dia pemalu dengan anak perempuan selain dengan Tiana dan juga Si Kembar, dia tidak punya banyak teman atau kenalan. Dan yang aku tahu teman sekelasnya tidak ada yang bernama Ren-Ren." jawabku.


"Lalu siapa?" tanya Devan lagi.


"Tidak tahu! Kita tanya Axel besok!" ucapku. Devan tersenyum dan mengangguk.


Kami terdiam beberapa saat, memperhatikan Axel dan Gio yang tertidur dengan tenang. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi kami belum mengantuk sama sekali.


"Honey!"


"Hemmm?" Dia mengelus perut rataku.


"Apa masih tidak ada tanda-tandanya?" tanya Devan.


"Tanda apa?" bukannya aku tidak tahu, tapi pura-pura saja tidak tahu!


"Nanda sedang hamil!" Tuh kan, memancing sesuatu dan berharap aku memakan umpan yang di sebarnya.


"Terus?"


"Aku juga mau hamilin kamu!" lirihnya berbisik di telinga. Tangannya sudah mulai masuk ke dalam bajuku.


Segera aku menjauhkan diriku. Apa dia tidak ingat ini dimana?


"Dev, aku tidak mau pulang ke hotel. Aku mau jaga Axel!" seruku seraya melotot padanya.


"Siapa yang bilang mau balik ke hotel?"


Hahhh? 🙄🙄🙄


Jangan bilang kalau...


Devan bangkit, dia tersenyum, lalu menarik tanganku ke arah kamar mandi!


Aaahhhh. Orang ini... Ya ampun!


"Dev, apa yang kamu lakukan?! Ini rumah sakit!" aku menahan tangannya yang akan mengunci pintu kamar mandi.


Dia menarik ku dan mendorongku ke dinding, menahan tangan kananku ke atas kepala, lalu tangan yang satunya lagi.


Trek!


Satu tangannya mengunci pintu.


"Dev, jangan! Bagaimana kalau nanti dokter memeriksa Axel?" tanyaku panik apalagi tangannya sudah mulai merambah ke dalam celana bahan ku.


Ah....Ssshh..


Ku gigit bibir ini, aku hampir saja mend*sah karena dia menggoda milikku dengan jari tangannya.


"Dev. Janganh! Ingat... ini... dimana!" ucapku terpatah-patah. Tak kuat menahan rasa lain di bawah sana.


"Aku ingat!" dia tidak menghentikan aktifitasnya menciumi leherku. Rasa panas ini semakin panas menjalar melalui aliran darahku.


"Kamu bilang tidak mau pulang ke hotel, kan? Jadi untuk sementara kita jadikan tempat ini hotel kita!" Dia memegang bajuku.


Srekkk.


Kancing bajuku bertebaran dimana-mana.


Aaakkkhhhh!!! ❤💘💘💘💘💘💘


.


.


.


Skip woyyy. Skipppp!!!!


Author kagak tahan.


Suamiiii mana suammiiii... 🤩🤩🤩🤩🤭


...****************...


Mohon maaf kalau mungkin pas waktu bahas prosedur transplantasi agak sedikit ngaco ya, soalnya ini hanya halunya author aja. Peace ah ✌😁.


Oh iya, kalau ada yang mau tahu tentang author lebih banyak, boleh kok intip-intip di FB, syukur-syukur jadi temen. Gak susah-susah kalau cari author mah namanya sama kok! Trias Wardani. IG juga sama TRIASWARDANI_13


Q: Author kayak gak punya nama lain aja 😒!


A: 😅😅😅 . Ya gimana ya, kayaknya memang nama itu udah melekat banget gitu sama hati author. Wkwkwk... Sok ah mangga. 🤭