
Dengan menggunakan pintu belakang hotel pria itu berhasil membawa kami ke dalam mobilnya. Tidak ada pegawai yang curiga dengan kami, karena mereka mengancam kami dengan menggunakan pistol yang mereka sembunyikan di balik jaket. Apa kami sedang di culik sekarang?
Entah kemana kami akan di bawa, tangan kami terikat di belakang. Mata kami juga tertutup kain, aku tidak bisa melihat! Mulutku juga di lakban, tidak bisa bicara! Aku takut, aku masih belum mau mati! Siapa mereka?
Devan, ada apa ini?
Daniel, Axel, maaf mama tidak bisa menepati janji mama akan pulang malam ini!
Ayah, tolong aku!
Sam, dimana kamu!
Hati dan fikiranku kacau! Rasa takut sedari tadi terus saja menggangguku, menghantuiku.
Samar aku mendengar dua orang sedang berbicara, mereka membahas soal pernikahan!
"Bos pasti akan suka kita membawa seorang wanita! Hahaha!"
Apa wanita yang mereka maksud adalah aku?!
"Salah sendiri dia tidak bisa membayar hutangnya! Hei kau, pengusaha abal-abal! Ngakunya pengusaha kaya, tapi bayar hutang satu triliun saja tidak bisa! Pengusaha macam apa kamu! Hahaha..." mereka tertawa dengan nada mengejek.
Hutang? Satu triliun? Siapa? Apa Devan? Tapi untuk apa?
Ku rasakan seseorang menggeliat di sampingku, pasti Devan sedang mencoba membuka ikatan di tangannya.
"Kalau bukan pengusaha kaya, jangan sok-sok an meminjam uang pada bos kami! Jadi sekarang tahu sendiri kan akibatnya?!"
"Hei nona. Apa kamu tahu apa yang suamimu lakukan di belakangmu? Bisa di bilang kalau dia sudah menjualmu! Salah sendiri dia tidak mampu membayar hutangnya dan bos kami sudah memutuskan untuk mengambil kamu sebagai bayarannya!"
Apa maksudnya dia? Aku di jadikan alat pembayar hutang, begitu? Apa dia tidak tahu aku siapa? Aku bisa membayar hutang itu, bahkan jika jumlahnya lima kali lipat!!
Aku berteriak, tapi suaraku tidak terdengar sama sekali!
"Hahaha, nona. Percuma berteriak, tidak akan ada yang menolong kamu dan suamimu!" lalu terdengar satu lagi suara tawa dari yang lain.
"Hehh. Aku pusing melihat mereka tidak mau diam. Bungkam saja mereka!" entah suara siapa itu.
Apa maksud mereka dengan 'bungkam'?
"Maafkan aku nona, tapi ini juga perintah dari bos kami!"
Sesuatu yang lembut terasa di hidungku, seperti sebuah kain dengan bau yang menyengat dia bungkam-kan disana. Kepalaku pusing seketika, aku mencoba untuk tetap sadar, tapi tak bisa!
...★★★...
Aku terbangun dalam sebuah ruangan. Kepalaku masih terasa berat, mataku juga berkurang-kunang. Kupijit pangkal hidungku yang masih berdenyut.
Eh... tanganku bebas? Mulutku juga sudah terbebas dari lakban! Aku bangkit berdiri, lalu berpegangan pada tepian kasur, menyibak gaun putih lebar panjang sampai di kakiku.
Gaun?
Rambutku juga sudah di tata sedikit rupa tapi entah seperti apa, tidak ada cermin disini!
Mengedarkan pandanganku. Bukan di mobil! Mana Devan! Dan kenapa aku memakai gaun putih? Seperti gaun pengantin!
Oh, tidak! Apa aku akan benar-benar menikah dengan bos dari dua orang tadi? Tidak!
Ku langkahkan kaki menuju ke arah pintu. Pintu terkunci dari luar.
"Hei, siapapun! Tolong buka pintunya! Keluarkan aku!" Aku berteriak sekencang yang aku bisa. Takut! Aku takut! Devan, dimana kamu?!
"Tolong. Buka pintunya!" teriakku lagi, tidak ada suara apapun diluar sana!
"Hei!!! Apa kalian tidak tahu siapa aku? Aku bisa menuntut kalian karena kasus penculikan!! Aku akan laporkan kalian, dan kalian tidak akan bisa lolos dari hukum! Kalian akan mati kalau tidak melepaskan aku!" teriakku lagi. Tenggorokanku sakit karena berteriak. Ingat jika aku belum minum apapun sedari siang.
"Hp! Aku harus telfon seseorang!" ku larikan langkahku ke dekat ranjang, mencari tas atau sebagainya. Tidak ada!
Jendela! Terkunci. Sial! Yang aku lihat hanyalah hamparan laut luas di luaran sana!
Ku ambil kursi kayu yang berada tak jauh dari ku, dan ku hempaskan ke jendela kaca. Sekali. Dua kali. Tiga kali! Bahkan retak pun tidak! Sial. Tanganku sakit.
"Aaarrgghhh!!" berteriak frustasi lalu membanting kursi itu ke lantai.
"Percuma nona! Jendela itu tidak akan bisa pecah meski dengan peluru sekalipun!" Seorang pria jangkung gede terlihat di ambang pintu. Dia mengarahkan moncong peluru ke arahku.
Syuh. Syuh. Syuh!!
Suara tembakan yang sama seperti desau angin! Aku menghalangi wajahku dengan kedua tangan.
Tak. Tak. Tak.
Lalu terdengar suara dentingan peluru-peluru itu yang jatuh ke lantai. Kaca itu hanya terlihat retak sedikit!
Tempat macam apa ini? Seseorang yang memasang kaca anti peluru pastilah bukan orang sembarangan! Bisa dia dari kalangan pengusaha yang takut nyawanya terancam, atau bisa juga dari kalangan orang jahat yang takut jika polisi atau sebagainya datang!
Oh, ya. Dia adalah orang yang sudah memberikan Devan uang! Dia pastilah salah satu rentenir yang banyak musuhnya!
Untuk apa Devan meminjam uang dari dia?
"Mohon ikut dengan kami, nona!" ucap pria itu.
"Ikut kemana?"
"Tentu ke pesta pernikahan kalian!"
Aku mengambil kursi yang tadi aku banting ke lantai, dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Bersiap untuk melindungi diriku dari apapun!
"Jangan harap aku mau ikut dengan mu! Aku ini wanita yang sudah bersuami! Bukankah tidak di benarkan poliandri?!" teriakku.
"Tentu saja hukum negara ini tidak memperbolehkan, tapi kalau suami pertama mu mati? Bukankah pria lain boleh menikah dengan kamu?!"
Apa maksudnya? Jangan bilang kalau Devan... Oh tidak!
"Apa yang kau lakukan dengan suamiku?" teriakku. Satu cairan hangat meluncur begitu saja di pipiku.
"Haha, suamimu masih baik-baik saja! Setidaknya sampai nanti dia menyaksikan kamu dan bos kami berada di altar! Bukankah kami harus memberikan dia hadiah sebelum kepergiannya ke alam baka?!"
"Bawa dia keluar!" ucapnya. Dua orang lain berbadan tinggi tegap datang dari luar. Aku melayangkan kursi yang ku pegang ke arah mereka, tapi dengan mudahnya mereka bisa menepis pergerakanku!
Kursi terlempar hingga jauh akibat perbuatan mereka. Aku mundur hingga tersudut di dinding, tak bisa lagi bergerak. Mereka terus maju dan menarik kedua tanganku!
"Lepaskan! Dasar bajingan!" aku berteriak keras saat mereka menarikku. Mereka keterlaluan! Aku ini seorang wanita! Bukan seekor sapi yang akan di sembelih dalam suatu perayaan!
"Hei, kamu! Bilang sama aku, berapa uang yang harus aku keluarkan untuk melepaskan kami?! Aku sanggup membayarnya!" teriakku pada orang tadi yang berjalan di depan.
"Sayangnya, percuma! Bos kami lebih tertarik dengan mu daripada uang itu!" dia terus berjalan, tak peduli dengan aku yang mencercanya dan mengatainya dengan perkataan kasar! Banyak nama hewan di kebun binatang keluar dari mulutku!
Begitu juga dengan dua pria di sampingku ini. Mereka tuli, tidak merespon saat aku berteriak pada mereka, bahkan saat suaraku melengking bak Judika yang tengah mengadakan konser! Ekspresi wajah mereka, datar!
Kami berhenti di sebuah pintu besar.
"Pantas saja bos kami suka dengan mu! Dia suka dengan tipe wanita yang bar-bar seperti kamu!" Siapapun yang ada di posisi ini tentu akan menjadi bar-bar!
"Siapa bos kalian? Biar aku hadapi dia!" teriakku.
"Kamu akan tahu nanti!"
Siapa orang itu?!
Pintu terbuka, terlihat di luar sana sebuah taman yang indah dengan beberapa hiasan bunga mawar merah dan putih, melingkar pada tiang yang menjulang setinggi dua meter. Deretan kursi putih sudah berjajar rapi di kanan kiri. Sebuah panggung kecil dengan hiasan love penuh bunga terlihat indah di depan sana.
Indah.
Kalau saja aku tidak dalam posisi seperti ini!
Mereka membawaku ke hadapan seorang pria dengan menggunakan baju tuxedo berwarna putih. Tingginya kira-kira hampir sama denganku. Perut buncit, dan jambang yang terlihat kasar di dagunya. Asap cerutu mengepul dari mulutnya. Dia terlihat sangat tua dan pantas menjadi ayahku daripada suami!
"Bos, kami sudah membawa wanita yang anda mau!" ucap pria tadi. Aku terus meronta dengan semua tenagaku.
"Bagus-bagus! Cepat bawa orang itu dan bawa pendeta kemari!" Aku di bawanya mendekat ke arahnya, masih dengan cekalan kedua pria di sampingku, sedangkan pria itu pergi. Tak lama dia kembali dengan membawa Devan.
"Anye!" dia berteriak meronta dalam cekalan dua orang berbadan kekar lainnya. Wajah Devan lebam di beberapa bagian. Penampilannya sangat berantakan!
"Devan!" aku berteriak memanggil Devan. "Lepaskan aku!" meronta lagi, tapi tidak bisa. Aku kalah kekuatan dengan pria-pria jangkung kekar itu! Pun dengan Devan yang melakukan hal yang sama.
Ya tuhan, ada apa lagi ini? Baru saja aku mendapatkan kebahagiaanku, kenapa semuanya jadi seperti ini?
"Heh, kelakuan kalian sekarang seperti drama telenovela saja!" ucap pria tua itu seraya tertawa mengejek kami.
"Sudah aku bilang kan. Bayar hutang mu! Kalau kamu bayar hutang kamu sedari dulu, aku gak akan menangkap istri kamu!" dia tertawa lagi lalu mendekat ke arahku, menjepit daguku, dan memutarnya ke kanan dan ke kiri.
"Sangat cantik!"
"Lepaskan istriku!" teriak Devan.
"Terlambat!" ucapnya.
"Lepaskan aku! Berapa hutang suamiku? Aku akan bayar sekarang juga!" ucapku. Rahangku sakit karena ia jepit dengan menggunakan tangannya.
"Aku sudah tidak ingin uang! Sepertinya daun muda sepertimu bagus juga untuk jadi selirku!" Hahaha..." tawanya menggelegar terdengar di udara, bersahutan dengan suara ombak yang berlarian ke pantai.
Cuih! ku lemparkan ludahku ke arahnya.
"Aku tidak akan mau jadi selirmu! Lebih baik aku mati!" teriakku.
"Hahaha..." dia gila! Dia tertawa, melepaskan tangannya dari rahangku seraya mengambil sapu tangan di balik jasnya, dan mengelap ludahku dari pipinya.
"Menarik. Sangat menarik! Aku suka wanita bar-bar. Aku tidak sabar untuk merasakan malam pertama denganmu!" bisiknya di telingaku. Aku melayangkan tendanganku dan mengenai perutnya, dia mundur dua langkah karena ulahku. Meringis kesakitan sambil mengusap perutnya.
"Lepaskan istriku, bajingan!" Devan lagi-lagi berteriak. "Kalau kamu mau nyawaku, ambil saja! Jangan ganggu istriku!"
"Terlambat tuan Devan. Sangat terlambat! Apa kamu tidak pernah berfikir panjang sebelum kamu meminjam uang dariku?"
"Kau itu rentenir gila! Aku hanya pinjam sedikit darimu kenapa jumlahnya jadi sebanyak itu?"
Jadi benar Devan meminjam uang darinya?
"Hei, itu namanya bisnis. Aku juga butuh keuntungan!" ucap pria tua itu.
"Aku akan bayar semuanya, tapi lepaskan istriku!"
"Istrimu? Sebentar lagi dia akan jadi istriku! Haha...." aku benci tawanya.
Dia menggerakkan jarinya, lalu pria yang tadi menendang kaki Devan hingga dia berlutut di tanah. Devan meringis kesakitan.
"Lepaskan aku. Dev!!!" Ku panggil Devan, dia hanya menatapku nanar. Bibirnya bergerak, aku menangkap bahasa bibirnya seperti mengucap maaf dari sana.
Dor!!
TIDAAAKK!!
Devan ambruk ke tanah. Hatiku rasanya hancur melihat dia tak berdaya, tak lagi bergerak. Tembakan itu tepat di jantungnya!
"Dev..." air mataku mengalir seketika dengan deras.
"Bajingan! Kembalikan suamiku!" teriakku padanya.
"Terlambat!" ucapnya santai. "Maaf, sayang. Aku sangat suka dengan kamu, sampai-sampai aku tidak sabar ingin menikah denganmu! Bawa dia ke tengah laut untuk jadi santapan ikan!" ucap pria tua itu.
Mereka membawa tubuh Devan yang tak berdaya ke arah lain. Disana sudah ada helikopter yang menunggu, baling-balingnya berputar siap untuk mengudara.
"Devan!!" aku berteriak memanggil Devan yang kini sudah mengudara menuju tengah laut. Bisa aku lihat kalau tubuhnya di lemparkan dari heli. Air mataku tak berhenti mengalir. Aku meronta, tapi rasanya tubuh ini semakin lemas. Aku menangis. Hatiku sakit. Suami yang aku cintai mati di hadapanku dengan cara yang mengenaskan. Dan aku juga. Nasibku mengenaskan!
"Bajingan kamu! Aku tidak akan melepaskan kamu! Aku akan buat perhitungan dengan kamu, dasar rentenir gila!!" Aku berteriak kepadanya.
"Berteriaklah sepuasmu, sayang! Tapi ingat malam ini kamu juga akan berteriak nikmat di dalam kamarku!"
"JANGAN MIMPI KAMU!!"
"Hahaha..." Dia tertawa lagi, diikuti oleh beberapa bawahannya yang juga ikut tertawa keras.
Aku kutuk kau menjadi batu, dasar manusia sampah!
"Bawa penghulunya kemari!" ucap pria itu.
Devan. Mana janjimu untuk selalu menjagaku? Kenapa kamu mati semudah ini? Lihat aku. Lihat bagaimana keadaanku sekarang? Aku kacau, Dev! Aku kacau! Kenapa garis takdir hidup kita seperti ini? Kita baru saja bahagia, kenapa kita sudah terpisah lagi? Kamu tega pergi meninggalkan kedua putramu? Daniel dan Axel masih sangat membutuhkanmu Dev!
"Mulai upacaranya!"
Tidak!
"Aku tidak mau menikah denganmu!