DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
260



Jakarta


Cantik sedang menonton drama korea di hpnya. Tidak ada pekerjaaan apapun lagi membuat dia cepat bosan, kalau saja ibu tidak tidur pastilah dia bisa mengobrol atau memasak bersama dengan ibu.


Sebuah panggilan tiba-tiba masuk ke dalam hp Cantik, panggiln dari Mr. Ekspeeet ...


Ya ampun, aku lupa belum hapus nomor dia.


Cantik menepuk dahinya. Dia biar kan saja panggilan itu, mau apa lagi pria menyebalkan itu menelpon dia? Suda tidk ada hubungan apa-apa lagi diantara mereka.


Panggilan itu terdengar kembali, Cantik teap saja membiarkan nya dan tdak menggubrisnya sama sekali. Malas,


Panggilan berhenti. Cantik memutuskan untuk melanjutkan menonton lagi. Satu pesan tiba-tiba sampai pda hpnya.


[Aku butuh bantuan mu lagi. Apa kau bisa membantu ku?] isi pesan dari Mr. Ekspreeet.


Cantik menimang pesan itu, mau dia balas apa.


[Bantuan apa?] tanya Cantik akhirnya.


[Nenek ku masuk rumah sakit, dia mau bertemu dengan mu].


Cantik tiba-tiba saja berpikiran lain, dia merasa ini bukan hal yang bagus.


[Aku mohon].


Cantik menggembungkan mulutnya. Demi nenek, pria itu sangat menyayangi neneknya.


[Baik lah].


Hanya itu jawaban pesan yang Cantik balas. Dia segera bersiap untuk prgi. Jika mengenai neneknya sudah lah. Lagian nenek juga wanita tua yang menyenangkan. Dia sangat ramah dan juga bisa membuat dia tertawa di tengah sakitnya.


Ibu terlihat sedang berada di dapur saat Cantik keluar dari kamar. Cantik sudah menghubungi seseorang untuk menjaga ibu selama dirinya tidak ada.


"Bu aku izin keluar sebentar ya. Aku akan pergi ke rumah sakit." izin cantik pada ibu.


"Siapa yang sakit?" ibu bertanya sambil tangannya tidak berhenti memesukkan tepung ke dalam mikser.


"Teman."


"ya sudah, jangan sampia malam ya pulangnya."


Setelah mendapatkan izin dari Ibu segera Cantik menuju rumah sakit dimana nenek dirawat.


Tidak butuh waktu lama, Cantik sampai di rumah sakit dan menemui Alvian yang kini berjalan mondar mandir dengan gelisah, pria itu tetap saja memakai masker di wajahnya. Cantk sangat penasaran sekali dengan wajah pria itu, dia ingin melihat wajah itu,separah apaluka yang ada di sana.


"Kau sudah datang?" Alvian mendekat ke arah Cantik dan kemudian meraih tangan itu untuk dia raih dan dia bawa ke dalam ruangan.


"Memangnya nenek kenapa?" tanya Cantik dngan bingung.


Alvian hanya diam, Cantik pun tidak bertanya lagi, sebentar lagi pun dia akan melihat keadaan nenek. Dia akan tahu jawabannya.


Nenek terlihat lemah sedang berbaring di ranjang rumah sakit. Matanya semakin cekung, wajahnya pucat tidak seperti beberapa hri kemrin. Bibir keriput itu kini tersenyum memandang Cantik yang datang bersama degan cucunya. Dengan gerakan lemah tangan itu terangkat dan meminta Cantik untuk mendekat.


"Aku senang dengan kedatangan mu." nenek berkata dengan lirih, Cantik tersenyum dan meraih tangan Nenek untuk di sentuhnya.


"Maafkan aku, aku baru di kasih kabar kalau nenek ada disini."


"Tidak apa-apa. Nenek memang yang melarang Vian untuk menghubungi mu. Nenek tidak mau merepotkan orang lain lagi." bibir nenek bergetar saat berkata itu.


Nenek dan Cantik mengobrol berdua sedangkan Vian menatap kedua wanita itu dari sofa. Dia sedang sibuk mengurus pekerjaannya dari laptop yang dia pangku.


"Kalian kapan akan menikah?" tanya nenek tiba-tiba membuat Cantik dan Vian menoleh ke arah nenek bersamaan.


Cantik terkejut, begitu juga degan Vian, tapi Vian sudah menyangka dengan maksud nenek ingin bertemu dengan Cantik hari ini. Nenek memang selalu membicarakan Cantik setelah terakhir kali bertemu dengan wanita itu.


"Secepatnya, Nek. Yang penting nenek sembuh dan kami akan segera merencanakan pernikahan. Alvian menjawabnya dari kursinya." Cantik terkejut, kali ini dia menatap Alvian dengan bingung. Vian menganggukkan kepala. Cantik mengerti akan anggukan itu.


"Iya nek, segera." Cantik tersenyum dengan canggung. Dia merasa hidupnya kini akan sulit menghadapi hari esok."


Alvian tersenyum di sudut bibirnya, dia senang mendengar jawaban Cantik atas pertanyaan nenek barusan. Senyum nenek adalah segalanya, dan itu sangat berharga sekali untuk Vian.


Nenek pun tersenyum senang. Cucu satu-satuya ini akhirnya akan menikah. Nenek sudah tidak peduli bagaimana keadaan Cantik, mau dari kalangan berada atau kalangan biasa, Cantik cukup sopan dan juga terlihat baik di ata nenek. tidak seperti wanita lain yang Vian bawa, mereka hanya cari muka saja untuk mendapatkan Vian, tapi hal tu tidak terlihat ada di mata Cantik,


Setelah di periksa, Nenek harus istirahat, Vian membawa Cantik untuk makan siang.


"Maaf, aku sudah merepotkan mu lagi. Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa. Sebenarrnya nenek melarang ku untuk menghubungimu sedari kemarin, tapi tadi entah kenapa nenek ingin bertemu dengan mu. Maaf juga kalau pertanyaan nenek tadi begitu."


Makanan sudah sampai di depan mereka. Vian menyuruh Cantik untuk makan makanan yang ada. Cantik menatap makanan itu dan kemudian menatap Vian. Dia kira mereka akan mekan bersaama dan dia bisa melihat Vian membuka maskernya.


"Kau tidak makan?" tanya Cantik akhirnya.


"Aku baru makan dua jam yang lalu." jawab Alvian membuat Cantik kecewa.


"Makan bukan di jam nya?" tanya Cantik, Vian hanya mengangguk.


"Aku tidak terbiasa sarapan, aku selalu brunch." jawab Vian lagi.


Cantik akhirnya makan hanya sendirian, sedangkan Vian hanya minum saja, itu pun dia akukan dengan menggunakan sedotan. Sayang sekali Cantik tidak bisa melihat wajah itu, dengan suara khas lelaki yang gagah, apakah akan sama dengan wajahnya?


"Ada apa?" tanya Vian saat ketahuan Cantik sedang menatapnya. Cantik menggelengkan kepalanya, masa iya dia mau bilang kalau penasaran dengan wajah itu. Kan malu, Cantik melanjutkan acara makannya sementara Vian segera menghabiskan minumannya.