
Satu hari berlalu.
Dua hari.
Devan belum juga bangun dari tidurnya. Satu berita yang membuat kami shock, dokter bilang Devan mengalami koma akibat benturan keras di kepalanya. Cobaan apa lagi ini?
Ku elus tangan Devan pelan. "Dev, jangan main-main lagi. Bangun. Aku tahu trik kamu. Kamu hanya pura-pura seperti waktu dulu kan? Pura-pura mati untuk mengejutkanku!" ucapku. Rasanya sesak sekali di dalam dada ini. Devan hanya terdiam.
"Dev, Daniel sudah maafin kamu. Dia bilang ingin kamu antarkan ke sekolah, dia mau tunjukin kalau dia juga punya ayah yang hebat seperti teman-temannya yang lain. Kamu mau kan antar Daniel?!" tanyaku. Tapi yang ditanya hanya diam saja.
"Nanti sore papa Stevan dan mama Lita sampai disini. Aku harap kamu sudah bangun dan menyambut mereka."
Aku pergi meninggalkan Devan. Daniel masih berada disini dan dokter memperbolehkannya pulang esok hari. Luka sayatan di tanganku juga sudah mulai membaik. Aku harap tidak akan meninggalkan bekas disana.
Sore hari aku meminta Sam untuk menjemput kedua mertuaku, Daniel sangat antusias dengan kedatangan kakek dan neneknya.
Menunggu hampir satu jam, yang ditunggu akhirnya datang. Aku membawa papa dan juga mama ke ruangan Devan. Mereka menangis meratapi kondisi putra satu-satunya itu. Bahkan papa yang tidak pernah terlihat menangis kali ini menitikkan air matanya melihat kondisi Devan.
"Maaf ma, pa. Kalau aku tahu akan seperti ini aku gak akan bawa Devan kesini!" sesalku.
"Mama dan papa tidak akan menyalahkan kamu. Itu adalah tanggung jawab Devan untuk melindungi putranya." ucap mama. Betapa bijaksananya kata-kata mama, hatiku jadi tenang.
"Dev. Cepatlah bangun. Istri dan anak kamu sudah menunggu. Setelah ini kalian bisa hidup dengan tenang dan bahagia!" ucap mama.
Iya Dev, aku masih menunggu saat-saat kita hidup bahagia bersama.
...*...
Daniel sangat senang meski dia malu-malu dengan mama Lita yang kini menggendongnya di pangkuannya. Khusus untuk Daniel mama bawakan kue kering yang di buatnya sendiri. Daniel sangat menyukainya tak terasa hingga dia menghabiskan banyak sekali kue.
Papa hanya tiga hari disini dan kembali ke negaranya, sedangkan mama ingin tetap tinggal untuk memantau keadaan Devan.
Setiap hari kami ke rumah sakit untuk melihat Devan, bersama-sama menjaganya. Daniel sudah lebih baik, tapi dia masih harus menggunakan kursi roda. Dia hanya datang ke rumah sakit untuk cek-up.
Mama mengelap tubuh Devan yang tidak tertutup perban dengan sayang. Putra yang sudah ia tinggalkan selama lebih dari dua puluh tahun, dan sekarang baru saja bertemu dia harus merelakan Devan dengan keadaannya seperti ini, tidak berdaya.
Mama terisak pelan, aku hanya bisa menenangkan mama.
"Dev, besok mama harus pulang. Mama sudah lama meninggalkan papa disana sendirian. Papa sedang sakit." ucap mama.
Sudah dua minggu lamanya mama disini. Terlihat mama sangat lelah, siang malam memikirkan putranya, wajah cantiknya terlihat lelah. Mama sangat berat untuk meninggalkan Devan.
...*...
Mama pulang dengan pengawalan ketat dari ayah. Aku hanya bisa mengantarkan mama sampai bandara, melepas kepergian mama dengan berat hati. Daniel sangat sedih saat mama pergi. Dia merengut, merengek, dan juga rewel mencari perhatian dari neneknya supaya tidak pulang. Setelah mama membisikkan sesuatu di telinga Daniel barulah anak itu melepaskan neneknya dengan mata berkaca-kaca. Entah apa yang mama katakan.
Aku kembali ke rumah sakit sedangkan Daniel bersama Samuel kembali ke rumah.
Tidak ada perubahan pada diri Devan. Dia masih tetap sama, hidup tapi seperti mati.
Dev, kumohon, bangun lah!
Hari semakin sore, senja di ujung langit terlihat indah, tapi rasanya percuma karena apalah arti keindahan itu jika hanya aku yang menikmatinya sendirian.
Pintu terbuka, terlihat Samuel datang dengan membawa boks makanan di tangannya.
"Hei, menangis lagi?" Samuel meletakkan boks makanan di atas meja. Dia menghampiriku. Aku mengusap air mataku.
"Tidak. Aku cuma... ada debu!" ucapku. Samuel tertawa mengejek.
"Jangan bohong!" dia menyentil keningku dengan jarinya, sakit!
"Wajar kalau menangis. Aku bawakan makanan kesukaan kamu, udang saus padang! Lynn bilang kamu akhir-akhir ini tidak benar makan, hem?" Samuel menarik tanganku untuk duduk di sofa, dia menarik boks makanan itu dan membukanya. Wangi aroma saus padang tercium sangat enak di hidungku. Perutku seketika menjadi resah, berbunyi keroncongan minta diisi. Ingat jika aku belum makan dari pagi.
Sam menyodorkan makanan itu ke hadapanku. Dengan semangat aku segera memasukkan nasi ke dalam mulutku. Rasanya aneh. Wangi aroma yang menggiurkan tadi entah kenapa terasa berubah saat sudah sampai di dalam mulutku. Semakin aku mengunyahnya, perutku semakin bergejolak menolak.
Aku berlari ke arah kamar mandi tidak menghiraukan teriakan Samuel yang memanggilku.
Huekkk...
Makanan yang tadi aku kunyah kembali keluar, terbuang bersama air yang mengalir dari kran wastafel.
"Anye!" panggil Sam yang mengetuk pintu kamar mandi. Aku tidak menghiraukan panggilan Samuel, lebih asyik dengan urusanku sendiri yang tidak bisa aku tahan.
Samuel memaksa masuk ke dalam, khawatir melihat wajahku yang pucat dari balik cermin.
"Hei, kamu tidak apa-apa?" tanya Samuel. Aku mencuci muka ku, menatapnya dan menggeleng pelan, tapi kepalaku terasa pusing berdenyut. Mataku berkurang-kunang. Kakiku lemas tidak bisa menopang tubuhku lagi. Tubuhku serasa melayang, tidak tahu lagi dengan yang Samuel bicarakan yang aku dengar seperti berteriak lalu suara itu menghilang.
Semua gelap!