
Axel tersenyum senang, menatap Renata yang kini tertidur lelap di sampingnya. Dia menaikkan selimut tebal Renata hingga ke leher. Renata hanya menggeliat pelan di dalam tidurnya.
Axel mendekat dan mencium kepala Renata. Dia sangat senang sekali akhirnya kesabarannya selama ini berbuah manis. Mereka sudah resmi dan sempurna menjadi pasangan suami istri. Semoga saja di waktu dekat ini ada kabar baik yang akan datang menghampiri mereka.
Axel tersenyum menatap perut Renata yang tesembunyi di balik selimut dan berdoa semoga saja bukan hanya satu tapi dua atau tiga sekaligus, sangat tidak apa-apa. Dia tak ingin anaknya nanti kesepian seperti dirinya, punya seorang kakak tapi tak dapat hidup bersama.
Jika saja dia tak bertemu Gio pasti hidupnya akan kesepian. Entah kenapa Kak Daniel memilih tinggal dengan Kakek Surya di Prancis, Axel masih tak tahu alasannya. Kakaknya salah satu pria dingin yang tak bisa dia gapai.
"Apa yang kau tertawakan?" suara Renata tiba-tiba terdengar. Axel mengalihkan tatapannya. Renata sedang tidur dengan mengapit kedua tangannya di bawah kepala.
"Aku sedang bedoa, semoga saja usaha kita tadi berbuah manis dan segera tumbuh di sini!" Axel mengusap perut Renata dengan lembut. Renata tersenyum senang.
"Semoga, Xel. Aku harap juga begitu." ucap Renata. Terbayang jika dia kembali mengandung, kemarin saja Axel begitu antusias meski bukan anak kandungnya apalagi nanti kalau mereka di karuniai putra sendiri.
"Aku mau punya anak kembar. Bisa dapat tidak, ya? Tiga sekalian lebih bagus!" ucapan Axel membuat mata Renata membulat. Renata memukul pundak Axel dengan gemas.
"Perutku akan sebesar apa kalau aku mengandung anak kembar tiga? Kau sih enak hanya tinggal membuat saja, sedangkan aku yang membawa mereka kemana-mana di dalam perutku. Dasar leterlaluan!" Renata mencebikkan bibirnya. Axel tertawa melihat bibir Renata yang masih bengkak, rasanya dia ingin membuatnya lebih bengkak lagi,
"Kamu gak suka punya anak dengan ku?"
"Bukan aku gak suka, tapi tiga apa tidak terlalu banyak?" tanya Renata masih mencebik.
"Bukan aku gak suka. Kalaupun kembar cukup dua lah, jangan tiga. Aku takut kalau aku gak akan bisa jalan kalau perutku besar seperti itu. Aku takut gak akan bisa menjalani kewajibanku dan mengurusi semua kebutuhan kamu." ucap Renata.
"Kamu gak perlu urusi semua kebutuhan aku, cukup duduk manis dan aku yang akan urusin kamu dan bayi kita!" Axel mencubit hidung Renata dengan gemas hinga hidung itu memerah.
"Jangan memanjakan aku seperti itu. Nanti aku keenakan!" Renata menepis tangan Axel.
"Memangnya kenapa? Kau adalah ratu, dan aku tidak ingin ratuku kesusahan dan lelah, cukup jaga dan urus dirimu sendiri, itu sudah cukup bagiku."
Cup.
"Apa itu masih sakit?" tanya Axel pada Renata.
"Apa kau mau lagi?" Renata balik bertanya. Axel hanya tersenyum meringis, miliknya memang sudah kembali terbangun karena melihat wajah bersinar istrinya meski hanya di terangi cahaya lampu pijar, tapi sungguh membuat Renata semakin cantik dan juga keadaan di ruangan ini menjadi romantis.
"Tidak, besok saja lagi, kau istirahatlah. Pasti masih sakit, kan?" Renata mengangguk, dia senang dengan Axel yang bisa menahan dirinya.
"Aku akan batalkan perjalanan kita kepuncak Fuji. Kau harus istirahat total besok." ucap Axel, dia mengelus kening Renata dengan sayang.
Renata mendekat dan tidur di lengan suaminya.
"Trimakasih karena sudah mengerti aku selama ini, Xel. Kau memang suami yang baik! Dan maaf, karena aku tak bia memberikan yang terbaik untukmu. Aku tak bisa memberikan yang pertama buat kamu!" sesal Renata. Ingat kejadian di masa lalu.
"Apa artinya keperawanan? Itu hanya sebuah kepuasan semata. Aku sudah mendapatkannya tadi, dan kau masih nikmat. Sangat nikmat, sampai aku ingin lagi dan lagi." Axel tertawa kecil membuat Reata tersipu malu.
"Kalau kau mau lagi, aku akan berikan. Kau suamiku. Berhak mendapatkannya jika ingin sebanyak apapun, kan?"
"Tidak, sudah cukup aku dapat untuk hari ini. Simpan tenagamu untuk besok, aku akan mengunjungimu lebih banyak dari pada dua sesi yang tadi." Axel menyeringai di bibirnya, membuat Renata sulit menelan ludah. Lain kali ingatkan untuk membeli salep untuk mengobati area sensitifnya yang lecet.
Axel pencium yang lembut, tapi dia pria yang cukup brutal saat bercinta hingga rasanya tadi Renata ingin pingsan karena keperkasaan pria ini. Dua kali. Dan itu dirasa Renata sangat lama sekali hingga setelah mereka selesai bercinta pinggangnya terasa rontok, miliknya juga mungkin masih bengkak sekarang!
"Sudah jangan bicara lagi. Kita tidur dulu. Ini sudah malam! Perlu aku matikan apinya?" tanya Axel. Renata menggelengan kepalanya. Dia lebih suka dengan suasana temaram seperti ini.
"Jangan di matikan, aku takut!"
"Oke. Sini aku akan peluk kau sampai pagi!" Axel memeluk Renata dengan erat, mendekatkan dirinya lebih dekat lagi hingga kasurnya tersisa banyak ruang kosong di belakangnya.
Axel mencium kening Renata. "Selamat malam. Selamat tidur, istriku." ucap Axel.
"Selamat tidur juga, suamiku!" ucap Renata dengan senyuman, dia menenggelamkan kepalanya di dada Axel yang bidang.