DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 219 Hari Bahagia



Empat bulan kemudian di sebuah aula gedung hotel ternama pernikahan dilaksanakan. Tiara tampak cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih senada dengan Gio yang juga memakai tuxedo berwarna senada. Mereka tampak sangat cantik dan juga serasi berdiri di atas panggung pelaminan. Gio dan Tiara sangat bahagia dengan hari ini. Akhirnya tiba juga hari ini yang menjadi hari kebahagiaan mereka.


Ibu dan Mama sedang berdiri bersama Devan bersama kakek dan juga Daniel bertiga sedang berbicara degan relasi mereka. Semua larut dalam kabahagiaan masing-masing.


Tiara dan Gio saling melempar senyum malu. Hari ini mereka menjadi raja dan ratu sehari. Acara hari ini dibuat dengan gaya sederhana atas permintaan Tiara dan juga ibu. Anye tidak keberatan, Dia faham dengan keinginan sang besan. Gedung dihias tidak berlebihan dibuat sederhana tapi teta terlihat elegan.


Ucapan selamat banyak di ucapkan oleh para tamu.


"Ara!" suara seruan membuat Tiara dan Gio menoleh bersamaan. Alea datang dengan Kenzo sang kakak. Keduanya masih saja jomblo hingga memutuskan untuk datang bersama.


"Hai!" Tiara bangkit dari duduknya. dia menyambut kedatangan Alea dengan sang kakak.


"Selamat untuk kalian!" Lea menghambur ke dalam pelukan Tiara. Menagis tersedu.


"Hei sudah lah, kenapa kau menangis di hari bahagiaku ini? Harusnya kau ikut senang, Le." Tiara mengusap punggung Lea dengan pelan.


"Aku memang senang kau menikah dengan Kak Gio, tapi kenapa kau menyelenggrakan pernikahan disaat aku baru saja putus? Kan aku jadi tidak bawa pasangan kemari... huaaa..." Tiara menggelengkan kepalanya, dia kira Alea menangis karena terharu dengan hari bahagia ini, ternyata meratapi dirinya yang kini menjomblo.


"Sudah, aku doakan semoga kau dapat jodoh di hari bahagiaku ini." Ucap Tiara yang diamini sang kakak dan juga Gio.


Kini beralih Alea pada Gio.


"Kak Gio. Kau tega sekali padaku. Aku dulu patah hati karena kau memilih Tiara. Tapi sekarang aku benar-benar ikhlas kau dengan sahabatku. Awas saja kau jangan buat sahabat ku menangis ya." Lea memeluk Gio dengan erat. Gio merasa canggung dipeluk seperti itu oleh Alea. Dia hanya menepuk bahu Alea dengan kaku.


Kenzo menarik adiknya tahu akan tatapan Tiara yang terlihat cemberut saat adiknya itu malah menempel denga pria yang kini telah menyandang status suami Tiara.


"Sudah hentikan apa kau mau dijambahk istri sahnya?" ucap Kenzo. Lea mencebik kesal melihat tatapan tajam sang istri sah. Lea memang masih belum melupakan Gio, tapi dia mencoba untuk mngikhlaskan segala sesuatu nya tentang pria itu.


"Selamat ya, Ra. Kau sudah menemukan orang yang tepat utuk menjadi pendamping hidupmu. Meski aku masih tidak rela kau dengan dia..."


"Apa maksudmu?" Gio mendorong bahu Kenzo. "Kau masih mau merebut istriku?" tanya Gio garang.


"Iya, aku akan merebutnya jika suatu saat kau membuat dia terluka. Aku akan menjadi orang pertama yang akan datang mengambil Tiara saat kau menyakiti dia." Gio maju satu langkah hingga jarak tubuh mereka sangat tipis. Tatapan tajam di layangkan kedua pria itu bak pedang yang siap saling menghunus satu sama lain. Tiara dan Lea menatap takut pada kedua pria itu. Takut jika mereka tidak bisa mengendalikan diri dan melakukan kekacauan di hari spesial ini.


"Kau tahu aku tidak akan melakukan hal itu. Aku akan menjaga dan selalu melindungi ratuku dengan segenap hati, Maka aku akan bilang dari sekarang, jangan terlalu banyak berharap untuk itu, Bung!" Gio dan Kenzo terdiam lalu sama-sama tersenyum dan mereka saling mengangkat tangan dan berangkulan, saling menepuk pundak satu sama lain, dan tertawa. Tiara dan Alea menghela nafas degan lega melihat kejadian itu, mereka kira akan ada adu jotos diantara keduanya, tapi syukurlah, hari ini mereka sangat akur.


Pesta berjalan dengan lancar. Para tamu undangan semakin banyak yang datang untuk bertemu dengan kedua penganti itu. Sebagiaan kecil Tiara mengenali, karna sewaktu masih menjadi sekretaris Gio dia banyak bertemu dengan para pengusaha-pengusaha yang sukses.


Tamu baru saja turun dari panggung, Tiara tertegun saat melihat ke arah pintu. Samar dia melihat sosok yang sangat dia kenal, tapi dia merasa itu hanya khayalannya saja. Tidak mungkin.


Tiara berusaha mengabaikan pandangannya dari objek yang tadi menyita perhatiannya, tapi kembali dia menoleh tatkala ibu berlari dan memeluk seseorang. Tangis ibu pecah disana. Banyak tamu undangan yang menyaksikan kejadian itu. Mata Tiara tiba--tiba memanas. Mungkinkah?


Pria itu menatap Tiara, kini mereka saling adu tatap dengan lamat.


"Itu kakakmu. Sana pergilah" Ucap Gio. Tiara menoleh ke arah pria yang kini menjadi suaminya. Gio hanya mengangguk seraya menggerakkan tangannya untuk mempersilahkan Tiara turun.


Dengan langkah ceppat Tiara mengangkat gaun panjangnya. Langkah itu semakin cepat hingga beberapa detik kemudian dia sampai tiga meter dihadapan lelaki yang sangat dirindukannya selama beberapa bulan terakhir.


Banyak pasang mata yang melihat kejadian ini, beberapa ada yang mengambil video atas mereka. Masih bingung dengan kejadian ini.


"Kakak..."


Momen Haru itu manjadi momen yang tak pernah terlupakan untuk Tiara. Harapannya agar sang kakak datang di hari pernikahan terwujud juga.


Banyak diantara tamu yang mengusap sudut matanya. Momen langka dan mengharukan.


Dari atas panggung, Gio tersenyum Melihat pemandangan indah di hadapannya. Dia memang seringkali menangkap ucapan Tiara yang sebal dan marah pada sang kakak, tapi dia tahu bahwa di dalam hati Tiara sangat merindukan kakaknya itu. Sempat kehilangan jejak, dan akhirnya sang kakak berhasil dia temukan kembali.


"Jadi itu kakaknya Tiara?" Renata mengusap sudut matanya yang tak mau berhenti dari tangisannya.


"Iya, itu kakak Tiara." Axel mengalihkan pandangan pada Renata. Istrinya itu tengah menangis tergugu, menyusut wajahnya dengan menggunakan tisu.


"Jangan menangis, nanti riasanmu terhapus kau jadi..."


"Apa!" Renata mendelik sebal.


"Tidak jadi... silahkan kalau kau mau menangis tapi jangan lama-lama, kasihan anak kita." Axel meringis, lebih baik dia diam daripada berhadapan dengan istrinya yang kini sangat sensitif.


"Sudah jangan menangis." Ridwan mengusp kepala adiknya dengan sayang, satu kecupan didaratkan pria itu di kening ibu dan juga adiknya bergantian. "Maafkan aku yang baru bisa hadir disini. Kau sangat cantik Tiara." puji sang kakak. Tiara kembali masuk ke dalam pelukan sang kakak.


"Jangan pergi lagi aku mohon." pinta Tiara.


"Aku sudah memaafkanmu, maka jangan pernah pergi lagi, jangan tinggalkan kami!" Tiara menangis. Ridwan pun sama, dia menitikkan air mata saat melihat adiknya menangis dengan terisak hebat.


"Aku janji akan jadii adik yang baik, tappi au jangan pergi lagi ya." mohonnhya sekali lagi.


"Iya, Kak. Jangan pergi meninggalkan kami lagi ya." Kini ibu yang meminta. Ridwan menghapus air mata ibu yang kini telah membasah wajah tuanya.


"Aku minta maaf Bu, Masih ada beberapa urusan yang aku harus lakukan, tapi hari ini aku janji aku akan disini sampai malam nanti acara selesai." ucap Ridwan.


"Kau akan pergi kemana lagi" tanya ibu.


"Nanti akan aku ceritakan, sekarang kembalilah ke singgasanamu, Ra. Suamimu menunggu."


Tiara menoleh ke arah Gio. Dia sampai lupa jika masih dalam acara penting seperti ini.


"Ayo aku antarkan kau pada pengantin pria." Ridwan memberikan lengannya. "Hapus air matamu dan jangan pernah menangis lagi." pinta Ridwan. Tiara mengangguk lalu berjalan beriringan menuju tempat dimana Gio berada.


.


.


.


.


Amplop. Mana amplop!!


😁😁😁