DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 36



Karena ancaman dari Renata akhirnya Darius menelfon Axel. Takut sebenarnya, tapi kalau Renata keluar dari sini dia pasti tidak bisa memantau Renata seperti yang di minta bosnya.


Axel menutup telfonnya dia menyandarkan dirinya pada sandaran kursi. Ia tak setuju saat Darius bilang kalau Renata ingin bekerja seperti biasanya. Tangan Renata belum sembuh total, ia khawatir kalau Renata akan lebih parah cederanya. Tapi gadis itu juga mengancam akan keluar jika dia di bedakan dengan yang lainnya.


"Apa tangannya sudah baikan?" gumam Axel.


Jujur saja dia sangat rindu dengan Renata. Sudah hampir lima hari ini mereka tidak bertemu.


Gio masuk membawa berkas di tangannya dan menyerahkannya pada Axel.


"Aku sudah mengurus semua keperluan perusahaan itu. Tikus-tikus licik sudah di singkirkan. Dana, SDM, dan sebagainya sudah aku atur. Hanya tinggal menunggu waktu sampai perusahaan itu bangkit kembali." ucap Gio. Axel membuka berkas itu dan melihatnya sekilas. Dia tersenyum puas dengan segala usaha Gio selama ini. Seperti biasa tidak pernah mengecewakan!


"Bagaimana kabar Renata?" tanya Gio, dia duduk di kursi di depan Axel.


"Renata baik-baik saja. Tapi sepertinya dia masih enggan bertemu denganku." ucap Axel pasrah.


"Kamu mau menyerah?" tanta Gio.


"Tidak lah. Enak saja! Memang kamu fikir aku pria macam apa yang mudah menyerah karena penolakan dia?" Axel kesal dan melemparkan pulpen mahalnya ke arah Gio. Gio dengan cepat menghindar hingga pulpen itu melewatinya begitu saja dan jatuh di lantai.


"Ya aku kira kamu akan menyerah. Tidak aku sangka seorang Axel Felix Aditama Rudolf bisa di tolak juga!" ejek Gio. Axel mendelik tak suka mendengar ejekan itu.


"Bukannya lebih parah kamu? Di tinggal pas sayang-sayangnya?" Axel balik mengejek Gio. Gio mendengus kesal. Dia menggerutu dengan mengerucutkan bibirnya, membuat Axel tertawa penuh kemenangan.


"Gio. Besok carikan aku sekretaris." Gio menatap Axel heran.


Tumben sekali! Bathin Gio. Padahal dulu dia tidak mau saat akan di carikan sekretaris.


Axel menatap Gio yang mengeluarkan ekspresi herannya.


"Aku kasihan sama kamu. Memegang semuanya sendiri. Apa kamu tidak capek pegang semua sendiri?" tanya Axel. Dia ingat saat-saat Gio baru pulang dari luar kota dan harus kembali ke perusahaan untuk membantu papanya.


Gio lagi-lagi mendengus kesal. Dasar bos tidak pengertian! Harusnya tanpa bicara pun dia tahu kalau dirinya sangat sibuk luar biasa!


"Ya capek lah. Tapi ya mau gimana lagi. Kemarin bos bilang masih tidak butuh sekretaris. Dan lebih ingin menyiksa asisten mu ini! Sampai kurang tidur dan telat makan!" ucap Gio kesal mengeluarkan protesnya.


"Lalu kenapa kamu gak protes kalau kamu keberatan?"


"Terus? Apa kamu bakal mendengarkan?" cibirnya.


Axel hanya mengangkat kedua bahunya. Gio mengusap wajahnya kasar. Jika sudah seperti itu terus berdebat juga percuma. Bos lah yang akan menang!


"Carikan aku Bunga Iris. Aku akan menjemput Renata nanti," ucap Axel.


"Oke." jawab Gio.


Gio kembali ke ruangannya, sedangkan Axel menyalakan hpnya. Dia melihat video yang tadi siang di kirim oleh bawahannya. Bukan sesuatu yang penting sebenarnya, hanya saja Axel sangat merindukan gadisnya itu.


***


Gio keluar dari perusahaan untuk mencarikan bosnya bunga Iris. Dia menghentikan mobilnya di sebuah toko bunga yang berada tak jauh dari perusahaan.


Selesai memesan bunga yang Axel mau, Gio kemudian keluar dari sana sambil menenteng sebuket bunga berukuran besar di depan dadanya.


"Huhh... Dasar. Padahal sambil jemput, dia juga bisa mampir ke toko bunga! Kenapa soal yang seperti ini saja harus aku juga?" tanya Gio pada dirinya sendiri. Dia merasa kesal pada Axel. Tugasnya banyak di kantor dan masih di tambah dengan hal yang kecil seperti ini. Apalagi dia juga harus ikut meeting setengah jam lagi.


Gio mengulurkan telapak tangannya, merasakan rintikan air yang turun dari langit. Dia kemudian melangkah menuju ke arah mobilnya di parkir di tepi jalan. Satu tangannya ia gunakan untuk menutupi kepalanya dari rintiknya hujan. Gerimis baru saja turun saat dia sampai disana tadi.


"Awas!!! Yang di depan minggir!" teriak seseorang dari atas sepedanya melaju ke arah Gio dengan kencang.


Brukkkk!!!


Tak sempat menghindar Gio terjatuh ke trotoar, bunga di tangannya terlepas dan terlindas roda belakang sepeda. Rusak!


"Aww!!" gadis yang menabrak Gio merintih kesakitan, dia terjatuh dan tertimpa sepedanya. Lengan dan lututnya lecet. Begitu juga dengan Gio yang merasa sakit di sikutnya. Jas mahalnya kotor terkena genangan air di trotoar.


"Aww sakit!" rintih gadis itu.


Gio menatap ke arah dimana bunga yang di belinya rusak. Dia menatap nanar pada kelopak bunga yang kini bertebaran di atas trotoar basah.


Gio berdiri dan mendekat ke arah gadis itu.


"Hei, kalau pake sepeda lihat-lihat dong!" bukannya membantu dia malah memarahi gadis itu.


"Maaf, Pak. Gak sengaja." ucap gadis itu sambil mengangkat sepedanya dan menarik kakinya. Dia berdiri dan membersihkan baju dan celananya dari tanah kotor. Dia juga menyibak rambutnya yang menutupi wajahnya.


"Gak sengaja? Kamu naik sepeda di trotoar dan bilang gak sengaja? Trotoar itu bukan tempat untuk pesepeda. Apalagi ngebut sembarangan!" teriak Gio di depan wajah gadis itu.


Gadis itu mengkerut ketakutan. Dia sampai menutup kedua matanya saat Gio berkata dengan keras tepat di depannya. Wangi nafas mintnya sampai terasa pada hidungnya saking dekatnya pria itu berteriak. Memang ia yang salah, ia akui itu.


"Saya kan sudah minta maaf. Bisa gak kalau bapak ngomongnya baik-baik? Jangan marah-marah loh, Pak. Bisa cepet tua nanti!" peringatnya yang membuat Gio semakin naik tekanan darahnya.


Pak? Yang benar saja. Usianya baru dua puluh empat dan dia di panggil Pak? Kalau di kantor sih tidak apa-apa, mereka memang menghormatinya dengan menyebut Pak, tapi ini di luar kantor, dan gadis ini menyebutnya Pak dan meledeknya tua?


Sadar dengan ucapannya yang salah, gadis itu menutup rapat mulutnya dengan kedua tangannya. Dia menunduk menghindari tatapan Gio yang terlihat marah.


"Gara-gara kamu, bunga saya jadi rusak." tunjuk Gio pada bunganya di bawah.


"Saya akan ganti!" ucap gadis itu. "Berapa saya harus ganti?" tanyanya sambil mengeluarkan dompetnya dari tas pinggang.


Gio menarik tangannya untuk masuk kembali ke dalam toko bunga. Si gadis terkejut saat Gio menariknya meninggalkan sepeda dan juga bunga Iris yang teronggok di trotoar.


"Tolong berikan bunga yang sama seperti yang tadi, dia yang akan membayar!" ucap Gio dengan kesal ke penjual bunga tersebut.


Penjual bunga mencari apa yang Gio inginkan tapi sayang bunga Iris di tempatnya sudah habis.


"Maaf, Pak. Bunga Iris nya habis. Kalau di ganti dengan bunga yang lain apa Bapak mau?" tanya penjual bunga itu ramah.


"Bunga Iris ada banyak macamnya, kan? Ambilkan saja yang lain." ucap Gio. Dia melirik ke arah pergelangan tangannya, sebentar lagi meeting akan di laksanakan.


"Maaf, Pak. Untuk hari ini kiriman bunga Iris hanya sedikit, dan yang tadi bapa beli itu adalah buket bunga terakhir," ucap penjual bunga itu dengan halus. Pria di depannya tampak sedang marah, dan ia kira itu karena gadis ini.


"Mungkin bapak ingin menggantinya dengan bunga lain?" tanyanya pelan.


"Iya, Pak. Ganti saja. Toh bunga sama saja kan. Pasti pacar bapak akan senang kalau bapak kasih bunga yang lain. Mawar merah mungkin, kan lebih romantis, Pak!" bujuk gadis itu. Dia harus segera pulang, ada yang harus ia lakukan di rumah.


Jika saja itu bunga miliknya tak masalah menggantinya dengan bunga yang lain, toh wanita sama saja, mereka akan senang jika di berikan bunga. Tapi Axel, jika pemuda itu sudah bicara A maka dia tidak bisa menerima toleransi untuk mengubahnya menjadi B. Mungkin hanya Anye dan Renata yang bisa membuat Axel keluar dari kebiasaannya bahkan gadis itu bisa membuat seorang Axel menjadi pelayan kafe.


"Tidak perlu. Saya ingin bunga yang persis seperti tadi!" ucap Axel lalu kembali menarik tangan gadis itu keluar dari sana.


Brukk.


"Akh!" si gadis terkejut saat Gio membuka pintu mobil dan mendorongnya ke dalam sana.


"Apa yang bapak lakukan?" tanya gadis itu takut. Tapi Gio tidak memberi jawaban, dia malah berputar ke sisi lain mobilnya dan masuk untuk duduk di belakang kemudi.


"Pak tolong turunkan saya!" teriak gadis itu pada Gio. Tapi pria pemarah itu tak peduli dan menginjak pedal gasnya dan meninggalkan toko bunga.


"Pak. Tolong turunkan saya. Kenapa karena saya tidak sengaja merusak bunga, bapak jadi culik saya?" tanya Gadis itu takut.


Gio berkata dengan kesal tanpa menoleh pada gadis di sampingnya.


"Saya bukan mau culik kamu. Saya cuma mau kamu tanggung jawab untuk bantu saya cari bunga yang tadi dan menggantinya." ucap Gio.


Gadis itu berhenti berteriak, dia kini manggut-manggut mengerti.


"Tapi gak usah gini juga kali, Pak. Bapak cukup biarkan saya pergi cari bunga yang tadi, dan bapak tinggalkan saja alamat buat saya, biar saya bawa bunga itu ke tempat bapak." ucapnya yang membuat Gio berfikir.


'Astaga.... Benar juga. Aku jadi tidak usah repot mencari bunga itu, dan pasti aku bisa ikut rapat. Tapi ....' gumam Gio dalam hati. Dia mengusap wajahnya kasar, dan kemudian menginjak gasnya semakin dalam.


"Nanti kalau kamu kabur bagaimana?" tanya Gio kemudian.


"Ya elah, Pak. Saya ini wanita yang bertanggung jawab. Gak mungkin saya kabur dan ingkar janji, apalagi memang saya yang salah. Kan saya tadi sudah bilang saya minta maaf dan saya memang benar-benar akan mengganti bunga bapak yang rusak, saya ...."


"Sudah-sudah. Kamu berisik sekali!" ucap Gio bertambah kesal. Sepertinya dia semakin tidak suka dengan makhluk yang namanya wanita apalagi jika tipe cerewet seperti gadis ini.


Dia lalu menepikan mobilnya dan membuka kunci.


"Ya sudah, sana turun. Carikan aku bunga dan kirim ke ...."


"Enak saja! Bapak suruh saya turun disini dan mencari bunga? Hello, Pak! Sepeda saya ketinggalan di toko bunga tadi! Dan jaraknya kesana jauh! Bapak tega saya jalan kaki kesana buat ambil sepeda saya dan lalu balik lagi cari toko bunga. Yang benar saja lah, Pak. Saya tidak mau! Bapak harus tanggung jawab sudah bawa saya sejauh ini. Dan kalau bapak mau saya cari sendiri, antarkan saya kembali ke toko bunga tadi buat ambil sepeda saya!" ucap gadis itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dia tak mau beranjak keluar dari sana. Gio memijit pangkal hidungnya yang berdenyut.


Dia sudah pusing dengan urusanmya hari ini, di tambah harus mencari bunga, dan dia juga semakin pusing dengan gadis yang tak bisa menjeda ucapannya ini. Mirip seperti kereta uap yang tak bisa berhenti berbunyi.