
Suara hp ku berbunyi. Pesan dari grup riweuh dan beberapa yang lainnya. Aku masih bersiap-siap. Memakai riasan terakhir di wajahku. Bukan full make up dengan banyak perona pipi, aku hanya memakai riasan tipis di wajahku. Rambut aku biarkan tergerai, satu jepitan dengan bentuk bunga menyemat indah di rambutku.
Tring!
Satu notif kembali terdengar.
Noval.
Aku.
Aku bergegas memakai heels setinggi tiga senti berwarna senada dengan gaunku. Warna biru langit.
"Anye keluar ma, pa, ada acara. Nanti Anye pulang sebelum tengah malam!"
"Sama siapa, sayang?"
"Temen Anye ma, Noval. Sudah jemput di depan. Anye di undang ke cara ulang tahun teman."
Mama beranjak dari duduknya, pastilah mama juga ingin tahu aku berangkat dengan siapa. Sedangkan papa hanya cuek seperti biasanya, menoleh pun tidak apalagi bertanya! Hufftt...
Aku dan mama berjalan keluar. Noval sudah berdiri di ujung teras. Dia memakai kemeja hitam lengan panjang yang di gulung setengah. Celana jeans biru dan sepatu hitam mengkilat.
"Val udah lama?" Noval menoleh, dia terdiam saat melihatku, matanya yang sipit mendadak bulat, dengan mulut yang sedikit terbuka. Ada yang salah kah?
"Noval anak dari Yura ya?!" Seru mama membangunkan Noval dari dunianya. Noval mengangguk mengiyakan.
"Eh, tante? Ternyata mama Anye?!"
"Iya. Kebetulan sekali! Kalian satu sekolah?" mama menepuk bahu Noval.
"Iya. Kami satu sekolah!" Noval salah tingkah dan menggaruk belakang lehernya. "Umm, tan. Anye... boleh kan pergi ke acara ulangtahun teman malam ini?"
"Iya, gak pa-pa. Asalkan pulang sebelum tengah malam ya." ucap mama.
"Iya, tan. Kami... permisi ya, tan. Trimakasih sudah izinkan Anye pergi." Noval mengambil tangan mama dan menciumnya. Aku juga sama melakukan hal itu.
"Anye pergi ya ma!" pamitku. Mama mengangguk dengan di sertai senyuman.
"Kami pergi tante!" ucap Noval sopan.
Baru kali ini aku melihat Noval sangat sopan terhadap seseorang, biasanya juga dia bersikap seenaknya sendiri!
Kami masuk ke dalam mobil, Noval melajukannya dengan santai.
Notif di hpku semakin gencar berbunyi.
'Udah OTW belum?!'
'Gue dah sampe!'
'sama gue!'
'Hemmm!! 😒😒😒'
'Duh @Anye cute yang di jemput!!!'
'Cieeeee...'
'Personel yang jomblo bakal berkurang nih!'
'Gara-gara kalian gak jemput gue! Awas ya!!!"
'Nikmatin aja, kapan lagi di jemput cowok?! wkwkwk'
'Bener!! Biar gak di sangka jeruk makan jeruk!! ✌'
'ASEEMMM LOE PADA!!!'
'Nan, Nay. Dimana? Gue dah nyampe! Udah jangan gangguin si Anye yang lagi menikmati waktu berdua.'
"Aahhh! Dasar kampret!!!" teriakku kesal sambil memasukkan hp ke dalam tas.
"Kamu kenapa Nye?!" tanya Noval khawatir.
"Eh.. Enggak. Sorry..." ucapku malu.
"Ini Sofia sama yang lain chat aku. Jadi kebawa suasana!" ucapku tidak enak.
"Aku kira kamu kenapa!"
"Hehe..."
"Eh, Nov. Kamu kok bisa kenal mama?!" tanyaku penasaran.
"Iya waktu itu gak sengaja ketemu waktu nganter mama arisan."
"Ohh."
Lalu kami terdiam.
"Kamu cantik malam ini!" Ucap Noval.
"Trimakasih!"
Hening lagi.
Noval terlihat berkeringat meskipun mobil ini ber-AC.
"Kamu kok keringetan?" tanyaku.
"Eh gak pa-pa. Mungkin baju ini bikin aku kepanasan!" ucapnya lalu mengipasi lehernya sendiri dengan sebelah tangan.
Aku menatap jendela di sampingku, satu tangan menopang pipi kiriku. Sedang tangan kanan membuka jendela hingga setengah. Seketika angin yang dingin bersemilir membelai rambutku.
Entah berapa lama aku menikmati angin malam, sampai tersadar saat tangan Noval menyentuh tanganku.
"Anye, kita sampai!" ucap Noval.
"Oh. Oke!" ucapku lalu menaikan kaca jendela.
Mobil masuk ke sebuah rumah mewah, beberapa mobil sudah terparkir disana. Suasana pesta dari luar rumah sudah sangat terasa. Lampu berkelap kelip menyambut kedatangan kami.
Aku dan Noval masuk bersamaan. Suasana sudah riuh ramai di dalam sana. Sebuah ruangan yang luas sudah di sulap sedemikian rupa menjadi ruangan pesta khas anak muda.
Nando datang menghampiri kami. Wajahnya sumringah dengan senyum manis di bibirnya. Dia memakai setelan kemeja putih dengan celana putih. Rambut di buat sangat rapi di sisir ke belakang, badannya tinggi tegak dengan porsi yang pas. Persis seperti tokoh pangeran dalam cerita-cerita.
"Anye akhirnya kamu datang juga!" Nando mengulurkan tangannya. Aku membalas uluran tangan Nando.
Dia tahu nama aku?! Aku kira dia tidak tahu, aku kan bukan cewek terkenal juga di sekolah.
"Iya, datang. Selamat ulang tahun ya."
"Trimakasih. Kamu cantik banget malam ini." pujinya membuat pipiku panas.
"Trimakasih. Kamu berlebihan Nan." ucapku.
"Sungguh kamu cantik sekali. Apa kamu berdandan sengaja buat aku?" Nando tersenyum
"Udah, salamannya gak usah lama-lama. Gue juga belum salaman." Noval melepaskan tautan tangan kami, dan ganti dia yang menjabat tangan Nando.
"Selamat ya atas bertambah tuanya umur elo!" ucap Noval, Nando mendengus kesal mendengarnya. Mereja satu kelas tapi tidak akur. Ish!
"Hemmm. Ya udah masuk deh, nikmatin pestanya." ucap Nando ketus pada Noval. "Nye selamat menikmati pestanya ya. Nikmati juga makanannya. Nanti aku temuin kamu lagi." Nando berkata lembut padaku.
"Iya. Trimakasih." ucapku.
Nando meninggalkan kami menyambut tamu yang lainnya. Aku dan Noval berjalan semakin masuk ke dalam.
Noval melambaikan tangannya ke arah lain, terlihat beberapa teman sekaligus antek-anteknya disana.
"Kalau kamu mau kesana boleh kok, aku juga mau cari Nanda dan yang lainnya." ucapku.
"Tapi masa kita pisah disini sih?"
"Terus?"
Noval menggaruk lehernya. "Umm... ya udah gak pa-pa deh tapi nanti kamu pulang bareng aku lagi ya!" Tanya Noval terlihat wajahnya berubah masam.
"Oke!" ucapku Noval tersenyum. Aku mengeluarkan hpku. "Ya udah kalau mau kesana duluan aja." ucapku setengah mengusir.
"Aku anterin kamu dulu ketemu yang lainnya." Aku mengangguk. Lalu mulai mengetik pesan. Nanda dan Nayara ada di area kolam renang.
"Mereka di kolam renang." ucapku memberi tahu.
"Oke, aku anter." Kami berjalan ke belakang, area kolam renang juga sudah di sulap sedemikian rupa. Indah sekali. Juga ramai dengan suara musik yang berdentum seperti di disko.
Nayara dan Nanda melambaikan tangannya ke arah kami. Aku dan Noval mendekat pada mereka. Mereka melompat kegirangan, dan memuji ku karena aku berbeda! Masa? Padahal aku biasa saja!
"Biasa bagaimana? Eh Nye, dengerin ya. Elo itu cantik! Tapi gue heran elo selalu cuek sama penampilan, padahal kalau di poles dikit pake dempul mah calon putri Indonesia ini!" ucap Nanda. Noval membenarkan.
"Bajay kali, dempul!" ucapku ketus.
"Eh elu itu ibarat batu tapi berharga, poles dikit jadi berlian." Nayara berujar.
"Ish, berlebihan!"
"Emang bener Nye, kamu cantik. Sangat cantik!" timpal Noval.
Setelah berbasa basi sedikit dengan kedua sahabat kami, Noval pamit untuk bertemu dengan sahabatnya.