DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 23



"Bisa kau hubungi Renata? Aku ingin tahu titik koordinatnya!" ucap Gio. lalu bersiap di depan layar komputer di depannya.


Axel segera mengangkat hpnya dan menghubungi Renata.


Tut... Tut...


Axel menunggu dengan cemas. Dia sampai menggigit ujung jarinya. Renata tidak mengangkat panggilannya.


Hingga di panggilan ketiga akhirnya ...


'Halo?!'


"Re, kamu ada dimana?" tanya Axel tak sabar. Dia senang luar biasa saat Renata mengangkat panggilannya. Terdengar suara deru mobil perlahan di seberang sana.


'Aku sedang di ...'


Tut... Tut... Panggilan terputus. Tepatnya ada seseorang yang memutuskan panggilan itu. Axel yakin, tadi sebelum hp Renata mati dia mendengar suara laki-laki yang terdengar marah.


Axel kembali menelfon Renata, tapi kali ini hpnya tidak aktif sama sekali.


Beberapa kali mencoba, tapi tetap sama. Renata tidak bisa di hubungi lagi.


Aarrgghht.... Axel menendang meja di depannya. Perasaannya berkecamuk, marah, takut, dan kesal.


Apa yang dia fikirkan? Kenapa dia harus lari? Siapa pria yang bersama dia?


...*...


Suara hp terdengar di telinga Renata. Pria yang duduk di sampingnya menatap Renata dengan tatapan memicing. Dia menunggu apakah gadis manis di sampingnya akan berani mengangkat telfonnya atau tidak.


Renata mengeluarkan hpnya dan melihat nama yang tertera di layar hp itu. Axel.


Renata senang karena pria itu menepati janjinya untuk melepaskan Axel.


Renata mengangkat hpnya. "Halo?"


'Anak ini ... berani sekali dia mengangkat telfon di depanku!' batin pria di sampingnya, merasa geram, apalagi melihat senyum tersungging di bibir Renata. Rasa panas di hatinya menjalar seketika.


'Re, kamu ada dimana?' terdengar suara teriakan Axel di kejauhan sana. Renata semakin memperlebar senyumnya, Axel pasti sedang mengkhawatirkan dirinya, terdengar dari nada suaranya yang marah dan bergetar.


"Aku sedang di ..."


"Matikan!"


Belum juga Renata mengatakan ada dimana dia, hp miliknya sudah di rebut oleh pria di sampingnya, dan di lempar keluar jendela.


Renata terkejut. Barang berharga miliknya telah di buang begitu saja keluar jendela mobil yang kini bergerak meluncur dengan cepat di jalanan.


"Hei, apa yang kamu lakukan?!" seru Renata dia memukul pria di sampingnya dengan keras.


"Kurang ajar! Seenaknya saja kamu melempar hpku!" beberapa pukulan ia layangkan karena kesal. Pria itu hanya menghalau wajahnya dengan menggunakan tangan.


Merasa pukulan Renata semakin menjadi-jadi, dia mencekal tangan Renata.


"Sudah puas pukulnya?" ucapnya dingin membuat Renata mengkerut. Di hempaskannya Renata ke tempatnya semula.


"Memangnya kenapa? Aku bebas mengangkat telfon dari siapa saja. Tidak ada yang bisa melarangku!" teriak Renata. Mendengar hal itu pria di sampingnya menatap Renata tak suka.


"Hentikan mobilnya! Aku mau turun!" teriaknya lagi.


"Jangan harap! Kamu sendiri yang naik ke dalam mobil ini kenapa kamu juga ingin turun?"


"Itu karena kalian mengamcamku!"


"Lalu kenapa kamu menurut? Apakah pria itu orang yang sangat berharga untuk kamu?" tanya pria itu lagi.


"Dia tak ada hubungannya dengan urusan kita. Noah, lepaskan aku!" mohon Renata. "Kalau tidak aku akan lompat dari sini!"


Berharap ancamannya akan membuat pria itu mendengarkannya. Nyatanya ancaman Renata tidak di anggapnya sama sekali. Renata mencoba membuka pintu mobil, tapi tidak bisa. Terkunci.


"Lompat? Coba saja buka!"


Renata masih tetap berusaha membuka pintu mobil. Masih tidak bisa! Dia sangat yakin sekali untuk kabur dengan cara melompat. Biar saja dengan nyawanya, apapun yang terjadi dia tidak mau terjebak dengan pria itu!


"Semua akan mudah kalau kamu menurut dari awal." Noah dengan nada suara dinginnya. Dia menyilangkan kakinya dengan angkuh, lalu tertawa pelan.


"Menikah sama kamu?" Noah tersenyum seraya mengangguk. Dia mengambil sedikit rambut Renata dan membawanya ke bawah hidungnya. Menghirup aroma wangi sampo yang tadi sore Renata gunakan.


Renata menepis tangan Noah kasar.


"Dalam mimpimu!" ucap Renata ketus.


Dia lantas membuka kalung miliknya, sesuatu yang berharga yang sudah ia jaga selama lebih dari sepuluh tahun hidupnya.


Rasanya ini lah akhir dari perjuangannya menjaga kalung itu. Dia sudah tidak kuat. Jika kalung ini yang memang mereka inginkan maka dia akan memberikannya.


'Ayah. Ibu. Maafkan aku. Aku menyerah! Aku harap kalian bisa memaafkan aku!' batin Renata menangis.


Renata mengambil tangan Noah dan memberikan kalung itu pada telapak tangannya.


"Ini ...! Ini yang klian mau kan! Ambil saja, tapi aku mohon jangan lagi mengganggu hidupku!" sebulir air mata mengalir melewati pipinya. Hatinya sedikit banyaknya tidak rela. Itu adalah barang berharga miliknya peninggalan dari kedua orangtuanya.


Mata Noah sedikit membulat mendengar perkataan Renata. Dia menatap kalung liontin yang sedari dulu menjadi incaran papanya.


Apa dia sudah menyerah? Semudah ini?


Rasanya kecewa. Gadis pemberani yang biasanya melawan kini hanya pasrah. Sorot matanya terlihat lelah.


"Aku mohon lepaskan aku! Tidak puaskah kalian menyiksa batinku? Kalian sudah mengambil Kak Tommy, mengambil semua yang kami punya .... Tidak bisakah kalian melepaskan aku? Apa kesalahan ku sampai kalian ingin aku juga menjadi tawanan kalian ... Hiks..." tangis Renata.


"Tolong lepaskan aku. Aku sudah menyerahkan apa yang kalian mau. Kalian bebas memiliki perusahaan itu. Semua sudah ada di tanganmu sekarang. Noah ... Tolong lepaskan aku!" lirih Renata menghiba. Dia sampai mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


Tak terasa mobil sudah sampai di kediaman Alexander. Sopir keluar dari dalam sana dan membiarkan Noah dan Renata di mobil berdua.


"Lepaskan?" Renata mengangguk.


Noah, mengelengkan.kepalanya.


"Tidak!"