
Tiana duduk bersandar pada tembok, dia tak peduli dengan gaunnya yang kotor karena duduk di lantai yang penuh debu. Dia duduk sambil melipat kedua kakinya, menumpukan kedua tangan pada lututnya, dan menenggelamkan kepalanya disana, menangis tersedu tanpa khawatir akan ada yang tahu dengan keberadaan dirinya. Semua orang sedang menikmati pesta di bawah sana. Tak akan peduli dengan keadaan dirinya yang seperti ini.
Tiana menangis dengan hebatnya, air matanya tak bisa ia hentikan. Terus saja mengalir dengan lancangnya. Hatinya sungguh terasa sakit saat ini. Tangannya sudah basah oleh air mata tapi dia tak peduli.
Dunia tak adil! Dia yang lebih dulu mengenal Axel, yang lebih dulu memberikan perhatian pada pemuda itu, tapi kenapa wanita asing itu yang mendapatkan perhatian dan juga cinta Axel. Semua salah dari awalnya. Hatinya yang tak mendengar saat otak dan pikirannya mencoba untuk menyadarkan dirinya.
"Huaaa..... hiks..." tak tahan dengan keadaan hatinya, Tiana menangis dengan keras. Masih menelungkupkan kepalanya di atas kedua lengan. Bahunya bergerak naik turun seiring dengan nafasnya yang tersendat karena isak tangis.
"Kenapa dunia ini tak adil! Aku yang lebih dulu suka dengan dia! hiks... kenapa... Kenapa bukan aku yang ada di samping dia?" menangis dengan hebatnya. Mengeluarkan rasa sesak yang ada di dalam dadanya.
"Aku... aku suka dengan kamu, Axel!" teriak Tiana akhirnya. Dia mengangkat kepalanya sambil berteriak sekali lagi meneriakkan nama Axel ke udara. Namun, sebelum nama Axel dia sebut dengan sempuna dia terdiam dan merasa kesal. Merasa malu juga. Jika dia tahu ada seseorang yang berdiri disana dia tak akan berteriak seperti itu tadi!
Tiana membuang pandangannya dengan kesal. Dia mencoba untuk menekan rasa malunya. Wajahnya sudah memerah saat pria itu terus saja menatapnya dengan tajam dari tempatnya berdiri. Dengan tak berperasaan, dia tak berniat mengalihkan pandangannya atau meninggalkannya sendirian.
Sialan! Dia hanya ingin sendirian sekarang! Haruskah dia menyingkirkan pria ini dengan cara mendorongnya? Mengingat posisinya yang duduk bersandar ke tembok pembatas sambil melipat kedua tangannya di depan dada, bukankah dia akan mudah kehilangan keseimbangan dan pastinya akan mudah terjun dari lantai dua belas ini.
Dia sudah tidak waras!
Gio hanya diam, dia tak mengalihkan pandangannya dari wanita yang tengah patah hati itu.
Tiana merasa kesal, bukannya menjawab pria itu hanya diam dan menatapnya dengan tatapan menusuk seperti sedang sengaja mengejeknya.
"Aku tanya, sedang apa kau disini?" setengah berteriak pada pria yang kini menghembuskan nafasnya, terdengar kesal.
Jika ia tidak duluan yang bertanya pria itu pasti akan hanya diam juga entah sampai kapan.
"Aku hanya ingin mengejekmu! Kau bilang tidak punya rasa pada dia, tapi apa yang aku dengar barusan?" Gio tertawa dengan menyeramkan. Tiana menatap Gio dengan penuh kebencian. Pria itu tertawa dan tak segan mengatakan kalau dia tengah mengejeknya. Dasar pria menyebalkan! Gila! Oh ... dan jangan lupakan dirinya yang juga menyedihkan!
"Kau sudah tahu apa jawabannya sedari dulu. Dan masih tetap bertahan? Dasar Bodoh!" Gio mencerca dengan kata-katanya. Tiana mendengus kesal. Siapa juga yang ingin dengan hal menyakitkan seperti ini? Tiana hanya berharap... Berharap jika saja ada keajaiban yang datang dan membuat Axel membuka hatinya dan mengizinkannya untuk masuk ke dalam sana. Pemikiran yang bodoh!
"Hiks... Hikss...." Tiana mencoba untuk menenangkan dirinya, namun Tiana bukanlah Wonder Woman yang kuat untuk menahan rasa sakit yang di rasakan di dalam hatinya. Dia kembali menelungkupkan kepalanya di kedua tangannya seperti semula. Kini tak peduli lagi dengan kehadiran pria yang berdiri di dekatnya. Masa bodoh! Silahkan saja jika dia ingin mengejeknya lagi.
Gio kembali menghela nafas, dia menatap jam yang ada di pergelangan tangannya. melirik ke arah Tiana yang malah semakin keras isak tangisnya. Gio menunggu saja. membiarkan Tiana menghabiskan sisa air matanya meski entah akan sampai kapan. Tidak baik jika dirinya meninggalkan gadis itu sendirian. Bagaimana jika dia naik ke tembok pembatas dan terjun dari sana, meski dia tahu gadis itu takut dengan ketinggian, tapi semua mungkin terjadi bukan? Cinta membuat semua orang menjadi gila! membuat yang takut menjadi berani, dan sebaliknya, membuat yang berani menjadi sering merasa ketakutan tanpa sebab. Membuat akal pikiran menjadi tak sehat. Hais... cinta... cinta. Beruntung dirinya tak merasakan hal seperti itu. Dia masih bisa berpikir dengan waras. Oh, bukan masih bisa, tapi dia memang waras! Catat!