
Selesai dengan acara yang dilakukan di hotel. Tiara Gio dan juga Ibu, beserta Kak Ridwan pulang ke rumah. Ibu dan Tiara ingin mendengar apa yang terjadi terhadap pria itu.
"Jadi kakak telah mencelakai orang?" Tiara dan ibu terkaget saat mendengar cerita Ridwan. sedangkan yang ditanya hanya menundukkan kepalanya.
Hampir dua tahun yang lalu. Flashbacak dikit gak apa-apa ya....?
Sebuah mobil meluncur cepat di tengah jalan raya. Jalanan yang basah tak membuat si pengendara memelankan laju kendaraannya.
"Kau kan harusnya bisa mengambil sertifikat tanah itu dari ibu. Ingat ya Ridwan, aku mau dengan mu karena kau menjamin kehidupanku! Kalau kau tidak seperti itu aku mana mau dengan mu? Kau kini hanya karyawan biasa, hartamu sudah habis sejak lama!" Suara sang wanita terus saja berbicara mendominasi di dalam mobil itu.
"Aku sudah lama menderita, ingin ini gak ada uang, ingin itu gak ada uang. Kau tega sekali. Mana janjimu yang akan membahagiakan aku seumur hidup?" tanyanya lagi dengan nada tinggi yang memekakkan telinga.
"Kalau kau bisa mengambil sertifikat tanah kan kita bakalan punya uang, tidak akan kita hidup dengan susah. Tidak harus aku memikirkan besok mau makan apa."
Ridwan yang terus didesak akhirnya tak tahan juga. "Sertifikat. Sertifikat. Kau pikir aku mau mengambil itu untuk kita bersenang-senang?"
"Bukan bersenang-senang Ridwan!"
"Ya bukan kita. Tapi kau. Kau yang bersenang-senang dengan uang yang aku miliki. Apa kau tidak memikirkan kalau aku ambil sertifikat itu dan menjualnya lalu ibu dan adikku mau tinggal dimana?" tanya Ridwan dengan marah.
"Kalian kan masih ada saudara. Bisa lah mereka tinggal dengan saudara. atau adikmu kan bekerja di perusahaan, masa sih tidak bisa mengontrak rumah?" Sinta terus saja mengoceh membuat Ridwan merasa sangat marah.
Dulu dia meninggalkan ibu dan adiknya yang sangat butuh kasih sayang dan juga perlindungan darinya demi wanita ini, tapi akhir-akhir ini wanita ini malah tidak pernah sama sekali membuat dirinya senang. Tak ada aperhatian sama sekali dari Sinta pada dirinya hanya meminta uang dan uang.
"Sinta, hentikan omong kosongmu. Bagaimanapun juga aku tidak akan menuruti apa kemauan kamu! Aku tidak mungkin mengambil apa yang bukan hak ku. Aku sudah mengambil pabrik dan juga toko, maka rumah itu aku tidak ada haj lagi!" Ridwan memperingatkan.
"Kau ini kan anak laki-laki satu-satunya. Tentu kau berhak Ridwan." Ridwan berusaha fokus mengemudi, hujan asih sja lebat,. Jarak pendangan pun terbatas.
"Aku berhak kalau aku mengurus mereka. Kau kan tahu aku tidak ada lagi dengan mereka, seluruh hidupku aku buat hanya ntuk menyenangkan dirmu. Dan sekarang kau bilang aku berhak karena aku anak laki-laki satu-satunya? Aku akan kembali saja pada ibu." ucap Ridwan. Sinta melotot mendengar apa yang diucapkan kekasihnya iitu.
"Lalu bagaimana dengan ku?" tanya Sinta. "Kau akan meninggalkkan aku?"
"Iya kalau kau terus merongrongku untuk mengambil sertifikat rumah dan tanah ibu maka aku akan pergi saja dan kembali pada ibu. Terserahh kau mau kemana dan apa yang akan kau lakukan!" Ridwan sudah kesal. Baru ia sadar wanita ini hanya ingin hartanya saja. Ingin hidup senang.
Ridwan merasa menyesal. Mata hatinya sudah tertutup saat itu, mencintai wanita yang salah. Dan kini dia merasa sangat bersalah karena telah menuruti hawa na*su semata.
"Ridwan jangan seperti itu! Aku juga meninggalkan orangtuaku karena siapa? Aku bersedia hidup denganmu karena aku sangat sayang denganmu, aku sangat cinta denganmu, Kau tidak bisa meninggalkan aku begitu saja!" jerit Sinta.
"Kau meninggalkan orangtuamu karena kau yang menginginkannya, dan sialnya aku kenapa aku juga mmenurut padamu! Aku menyesal karena mencintai mu dan meninggalka dua orang yang sangat aku cintai!" Ridwan berkata dengan kesal. Siapa juga yang dulu mengajaknya untuk pergi?
"Setelah sampai di kota nanti aku izinkan kau untuk pergi. Tidak bukan aku izikan, tapi kau memang harus pergi!" Ridwan berkata dengan serius.
"Bisa, kau telah memintaku untuk meninggalkan keluargaku, dan sekarang aku melakukan hal yang sama. Kau tidak ingin pergi meninggalkan ku maka aku yang akan pergi setelah ini!" Ridwan berkata.
"Jangan coba-coba ka lakukan itu. Aku tidak akan membiarkamu pergi dariku!" Jerit Sinta. Tangan wanita itu menarik-narik tanga Ridwan dari kemudi.
"Apa yang kau lakukan Sinta? Ini bahaya!" Ridwan panik, di tengah hujan lebat seperti sekarang ini mobil malah mlaju dengan kecepatan tinggi karena Sinta ikut menekan kaki Ridwan pada pedal gas.
"Jika kau tetap ingin meninggalkan aku lebih baik kita mati!" Pandangan Sinta menggelap. dia sudah tidak waras.
"Jangan gila kamu Sinta! Ini bahaya!" teriakan Ridwan tidak digubris wanita itu. Sinta semakin dalam menekan kaki Ridwan dengan satu tangan yang lain pula, sedangkan tangan kirinya merebut kemudi.
"Aku memang gila! Tanpa kamu aku memang gila! Apa salahnya kalau aku meminta hidup yang layak padamu, hah? Aku rela meninggalkan keluargaku hanya intuk hidup berdua denganmu, apa salahnya kalau kau menuruti apa mauku, aku sudah bersamamu lebih dari lima tahun! sekarang aku tidak mau kau tinggalkan, dan aku tidak peduli, kita mati sama-sama!" jerit Sinta.
Ridwan mencoba menyingkirkan Sinta dari kemudinya, tapi wanita itu memang sudah bener-benar tidak waras. Dia tetap tidak mau melepasskan kemudi dari tangannya.
Ridwan membanting setir saat melihat ada seorang gadis di pinggir jalan yang hendak menyebrang. Gadis itu hanya diam di pinggir jalan dengan payung dan satu tas kresek di tangannya, menunggu mobil lewat agar segera bisa menyebrang. Namun, nahas. Mobil yang dikendarai Ridwan dan kekasihnya melaju kencang menuju ke arah gadis itu.
Malang tidak bisa dielakkan lagi. Tubuh kurus sang gadis yang tidak sempat menghindar itu melayang melewati atap mobil setelah tubuhnya terbentur dengan keras mobil yang di kendarai Ridwan. sedetik kemudiian...
Brakkk....
Mobil itu menabrak pembatas jalan tepat pada sisi kiri, hingga membuat mobil kemudian terpelanting dengan keras di jalanan.
...***...
Ridwan terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kaki dan lehernya di sangga. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit sekali. Ridwan menatap ke sekeliling ruangan. Semua dindingnya bercat putih, satu labu infus tergantung di sampingnya.
Seorang wanita terlihat keluar dari dalam ruangan itu tatkala Ridwan baru sadar dari tidurnya, tak lama mereka datang bersama dengan beberapa orang, termasuk polisi..
"Saudara Ridwan. Anda telah mengalami kecelakaan pada tanggal enam oktoober dan mengakibatkan satu orang tewas di tempat. Anda merupakan tersangka utama menurut olah TKP karena anda yag mengemudikan mobil tersebut."
Ridwan hanya terdiam, ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sehingga dirinya ada di tempat ini. Kecelakaan. Meninggal. Siapa?
Polisi kembali menyebutkan tentang kronoogi kecelakaan itu, menurut CCTV mobil melaju kencang ke arah si penyebran jalan dan mengakibatkan gadis itu tertabak, dan seorang yang merasa dengan Ridwa meninggal dunia.
Ridwan menghela nafasnya, ada kelegaan di dalam hatinya tatkala mendengar Sinta meninggal. Untung saja bukan gadis itu, gadis yang tidak bersalah harus ikut celaka karena pertengkarannya dan Sinta kala itu.
Setelah menjalani dua minggu perawatan di rumah sakit, dan melakukan mediasi dengan pihak korban, akhirnya di setujui jika Ridwan tidak akan di penjara tapi sebagai tanggung jawab dia harus mengganti biaya pengobatan yang gadis itu jalani. Gadis itu telah koma, dan belum sadar hingga saat ini.
Bagaimanapun caranya, Ridwan tidak bisa tinggal diam, setelah sembuh nanti dia berjanji untutk membantu membiayai pengobatan gadis itu.