
Axel telah sampai di depan kafe. Dia bersandar di badan mobilnya menunggu Renata keluar dari dalam sana.
Lima belas menit lagi.
Axel akan menunggunya dengan sabar. Padahal tadi dia menunggu Gio hanya lebih dari lima menit dan dia sudah marah-marah.
Yang di tunggu akhirnya keluar juga. Axel mendekat, dan memberikan buket bunga padanya. Renata terdiam menatap bunga cantik itu.
"Buat kamu!" ucap Axel.
Renata menerima bunganya dengan dada yang berdebar. Padahal dia sudah mewanti-wanti pada hatinya untuk tidak terjebak dengan perasaannya, tapi apalah daya kalau ternyata hatinya masih saja lancang dan berkhianat!
"Xel, aku minta waktu lagi. Aku masih tidak ingin ...."
"Ayo kita berteman?" potong Axel. Jika Renata tidak ingin bertemu dengannya maka Axel akan lebih sabar jika harus memulainya lagi dari awal.
Hati Renata sakit mendengarnya. Berteman? Rasanya seperti ada pisau yang menyayat hatinya. Akh ... apa yang dia fikirkan, harusnya dia senang bukan kalau Axel menginginkan mereka hanya berteman? Kenapa hatinya bisa serumit ini?
"Renata. Kalau kamu tidak mau bertemu aku, seperti yang kamu mau. Aku akan tetap menemui kamu. Bagaimana kalau kita berteman dulu. Kita jalani dari awal lagi. Pelan-pelan. Seperti dulu? Apa aku harus kembali lagi jadi Axel si pelayan kafe supaya kamu bisa terima aku?" tanya Axel.
Senyuman terbit di bibir Renata. Dia menggelengkan kepalanya.
"Cel, kita harus cari tempat. Aku mau bicara sama kamu!" tatap Renata tepat di mata Axel.
"Kemana? Makan malam?" Tanya Axel senang tapi juga was-was. Apa yang mau Renata bicarakan dengannya sampai-sampai mereka harus mencari tempat.
"Aku lebih ingin ke taman." jawab Renata. Axel membuka pintu mobilnya dan meminta Renata untuk masuk ke dalam sana.
"Oke tuan putri, silahkan masuk!" ucap Axel mempersilahkan. Renata masuk ke dalam mobil.
Tiga puluh menit mereka sudah sampai di sebuah taman kota. Axel memilih taman yang tidak terlalu ramai. Meski Renata tidak bilang taman yang seperti apa tentu dia tidak ingin ada yang mengganggu jika ingin berbicara serius dengannya.
Udara cukup dingin sore itu, angin menghantarkan bau lembab bersemilir, menandakan sebentar lagi akan turun hujan, apalagi di dukung oleh langit yang menghitam.
Mereka berjalan dan duduk di sebuah bangku kayu. Renata menarik nafasnya untuk mempersiapkan dirinya.
Axel terdiam menunggu apa yang ingin di bicarakan Renata.
"Xel. Kita berpisah saja. Kita jangan bertemu lagi." Air mata Renata mengalir begitu saja. Dia sudah memikirkan hal ini dari beberapa hari yang lalu. Biarlah kalau sekali lagi dia harus berpisah dengan apa yang dia rindukan. Kakaknya. Jantung kakaknya. Setidaknya dia merasa lega karena Axel-lah pemilik jantung itu.
Axel tergagap. Tidak menyangka akan mendengar hal ini dari Renata.
"Pisah?" tanya Axel tak percaya. Renata menundukkan pandangannya. Air matanya mulai benyak meluncur dari mata cantiknya. Dia sama sekali tidak berani menatap Axel.
"Enggak Re. Aku gak mau!" ucap Axel. "Kenapa? kenapa kamu mau pisah sama aku? Kamu mau pergi dari aku, iya?" tanya Axel geram. Dia marah. Tak terima. Menatap Renata tajam.
"Xel, please. Aku gak pantas buat kamu. Aku sudah gak layak buat kamu. Aku ini kotor!"
Lagi-lagi itu yang dia dengar. Dia merasa bosan dan marah dengan setiap ucapan Renata akhir-akhir ini.
"Re. Berhenti kamu bicara seperti itu. Memangnya kamu fikir aku suka sama kamu dan ingin menikahi kamu karena apa? Bukan karena kamu layak atau enggak! Tapi karena aku suka sama kamu. Aku sayang sama kamu. Aku gak peduli meskipun kamu kotor atau kamu bilang gak layak, bahkan kalau kamu ada dalam lembah kenistaan, aku juga gak peduli! Aku sangat cinta kamu! Aku sangat sayang sama kamu. Aku gak peduli, Re!"
"Please tolong, jangan tinggalin aku." Axel memegang erat tangan Renata. Dia beralih, berlutut di tanah yang kotor di hadapan Renata. Tak peduli dengan celana mahalnya yang kini bernodakan lumpur.
"Please. Aku mohon" Axel mencium tangan Renata di atas pangkuannya, dia melabuhkan kepalanya disana bersimpuh di hadapan gadis itu.
Renata terdiam, baru kali ini ada seorang pria yang sampai memohon dan bersujud di hadapannya.
"Please, Re. Aku benar-benar gak peduli. Yang aku inginkan hanyalah membahagiakan kamu. Tolong biarkan aku membahagiakan kamu. Tolong biarkan aku menghapuskan semua kesedihan kamu. Aku mohon. Aku gak mau pisah sama kamu. Cuma kamu satu-satunya wanita yang bisa membuat aku berbeda, yang bisa membuat aku bahagia!" ucap Axel.
"Please tolong, biarkan aku jaga kamu ya?!" ucap Axel mantap.
Renata mengusap air matanya.
"Please, mama dan papa juga sudah sayang sama kamu. Aku mohon. kita sama-sama, ya? Jangan lagi mengingat masa lalu kamu yang menyakitkan. Anggap itu tidak ada! Anggap itu tidak pernah terjadi.
Renata terisak di tempatnya, tidak menyangka kalau pemuda ini benar-benar tulus padanya.
Axel menatap Renata, berharap gadis itu mengatakan sesuatu.
Renata lagi-lagi menyusut air mata di pipinya. Lalu dia mengangguk.
"Aku akan coba," lirih Renata.
Axel menarik kedua sudut bibirnya ke samping. Dia begitu senang luar biasa hingga bangun dan melonjak senang. Renata tersenyum malu. Beberapa orang menatap ke arah mereka.
...***...
Axel hanya diam saat Renata mengusirnya dari kost-an. Inginnya membawa Renata pulang ke rumahnya, tapi Renata bersikeras untuk kembali tinggal di tempat sempit itu.
"Re, pulang ke rumah saja ya. Aku khawatir disini kamu sendirian." tutur Axel. Renata hanya menggelengkan kepalanya.
"Xel, aku mau hidup mandiri. Aku gak pa-pa, kok. Sudah biasa. Apa kamu lupa sebelum ini aku juga hidup sendiri?" tanya Renata.
"Aku gak lupa. Tapi dengan kondisi tangan kamu .... Lebih baik kamu gak usah kerja ya?" ucap Axel khawatir.
"Aku akan tetap kerja, lagian kerjaan aku juga sekarang cuma bersih-bersih sama catet pesanan. Tangan kiri ku gak terlalu banyak bergerak. Enggak angkat yang berat-berat, kok!" Renata menenangkan Axel.
Axel tetap tidak mau terima.
"Re ...."
"Xel. Please. Seperti kamu minta sama aku. Aku juga minta sama kamu, jangan larang aku buat kerja, ya?!" pinta Renata.
Axel menghela nafasnya. "Oke, tapi kamu janji sama aku kalau kamu capek, kamu harus istirahat."
"Iya!" ucap Renata. Dia mendorong dada Axel hingga menjauh dari pintu.
"Sudah sana kamu pulang. Sudah malam."
"Aku gak mau pulang. Masih ingin disini!" ucap Axel dengan nada manja. Renata menghela nafasnya, pria ini berubah-ubah, baru dia tahu kalau Axel bisa manja juga.
"Xel jangan manja! Aku mau mandi dan istirahat." Renata melotot. Axel kecewa tapi dia juga harus mengerti keadaan gadis itu.
"Besok pagi, kalau kamu ada waktu jemput aku ya. Antarkan aku kerja!" pinta Renata. Axel mengangkat wajahnya dan tersenyum senang.
"Oke. Ya sudah, aku pulang kalau begitu. Selamat malam, Re. Selamat beristirahat!" Axel mendekat dan mencium pucuk kepala Renata, membuat gadis itu terdiam mematung.
Axel pamit pada Renata, dan kemudian pergi untuk menuju ke arah mobilnya yang ia parkir di pinggir jalan.
Renata menatap kepergian Axel. Dia memegangi dadanya sendiri yang berdetak begitu cepat.
Hati memang tak bisa di bohongi. Sebesar apapun keinginannya untuk menjauh dari Axel, tapi hatinya terus saja menginginkan dia.
Biarlah. Mungkin memang benar apa kata Axel. Dia harus melupakan kejadian masa lalu dan dia harus terlahir baru lagi.