
Axel sedang berada di ruangannya. Dia sedang menatap kartu undangan di tangannya. Kartu undangan berwarna biru dan merah muda yang sangat cantik. Di kartu undangan itu ditulis dengan indah nama mereka. Tanggal dan hari pernikahan yang sudah ditentukan. Namun sayang, dengan keadaan Renata yang seperti sekarang sepertinya mereka harus menunda pernikahan itu. Keadaan renata sedang tidak baik semenjak dirinya tahu sedang mengandung.
Lebih dari seribu undangan yang sudah mereka buat, hanya saja belum mereka sebarkan. MUA juga sudah dipesan. Begitu juga dengan hotel. Terpaksa semua itu dibatalkan. Axel menghela nafas berat. Dia menggoyang kan kursinya ke kanan dan ke kiri dengan perlahan.
Gio masuk ke dalam kantor axel, dia membawa berkas penting bernilai miliaran di tangannya. Dia melihat Axel yang hanya terdiam menatap kartu undangan. Gio menggelengkan kepalanya pelan.
Pria itu sedari kemarin hanya menatap undangan tersebut. Pastilah Axel tengah bersedih karena renata ingin mengundurkan hari pernikahan mereka.
Dia tahu pasti bagaimana perasaan Axel sekarang. Hari bahagianya harus tertunda lagi. Gio mendekat ke arah axel setelah menyimpan berkas tersebut di atas meja, dia menepuk pundak Axel pelan.
“kenapa ini harus terjadi?” ucap axel lirih.
“ini adalah salah satu ujian yang akan menilai besarnya rasa cinta kalian. Renata sedang tertekan, dia pasti akan segera kembali seperti dulu. Sabar saja”
“aku bisa sabar, tapi bagaimana dengan renata. Dia sangat tertekan dan sangat frustasi dengan kehamilannya ini. Aku takut dia akan berbuat nekat.”
“percayakan saja. Renata bukan gadis yang seperti itu!”
“ya. Aku harap. Aku sangat rindu dengan renata yang dulu.” ujar accel.
“kita pergi. Ada rapat yang harus kita hadiri.” ucap gio.
Axel menyimpan kartu undangan di atas meja nya. Dia kemudian bangkit dari duduknya dan mengambil jas yang tersampir dibelakang kursinya. Mereka kemudian pergi untuk menghadiri rapat.
gio mengemudikan mobil sedangkan Axel mengeluarkan hp-nya. Dia menghubungi sang Mama di rumah. Dia sedikit khawatir dengan keadaan Renata. Hampir setiap hari axel menanyakan kabar Renata kepada sang mama
“bagaimana kabar renata Ma?”
' renata baik-baik saja. Dia sedang berada di taman.'
' iya dia makan dengan baik, hanya saja dia sering melamun.'
“tolong temani dia ya ma.”
' tentu. Jangan khawatir.'
“terima kasih.” Axel menutup teleponnya. Dia menyandarkan dirinya pada sandaran mobil.
“Sudah tenang saja. Renata tidak akan melakukan apa-apa yang akan membahayakan anaknya.”
“Aku cuma takut dia berbuat yang tidak-tidak pada anak yang tidak bersalah itu.”
Axel ingat jelas sapa yang renata lakukan waktu itu. Dia mencoba melukai dirinya dengan memukul perutnya sendiri. Mungkin dia berpikir janin itu akan gugur dengan apa yang dia lakukan. Dia juga pernah melihat renata sedang menenggak sesuatu yang axel kira adalah obat untuk menggugurkan kandungan. Untung saja dia segera menggagalkan rencana renata. Renata hanya menangis dan menyesali perbuatannya. Sejak saat itu accel memerintahkan seseorang selain mama untuk memantau renata saat dirinya tidak ada.
...***...
Tiara sedang mengerjakan tugasnya. Dia fokus menatap layar komputer di hadapannya. Tangannya bergerak lincah di atas keyboard. Sesekali dia mengusap matanya yang terasa panas dan pegal. Dia juga menarik kedua tangannya ke atas. Meregang kan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
Dia menatap kursi kosong yang lain di ruangan itu. Gio sudah pergi semenjak satu jam yang lalu. Rasanya sepi tidak ada bos bawel yang suka seenaknya sendiri. Tukang atur, tukang perintah, tukang marah-marah!
'Hais. Apa yang aku pikirkan. Justru enak tidak ada si bawel itu!' batin tiara.
Tiara kembali dengan pekerjaannya. Dia tidak mau lagi peduli dan memikirkan gio.
Apa memikirkan dia. Tidak ada gunanya!