
Selesai dengan acara mandiku. Terdengar Devan sedang berbincang di luar, sesekali tertawa bersama suara seorang wanita. Pastilah itu mama.
OMG, apa yang mama rencanakan? Bolehkan aku suudzon karena sikap mama kemarin? Kurasa tidak mungkin jika mama ingin mendekatkan diri pada calon menantunya, mengingat sikap dan kata-kata pedasnya waktu itu.
Pintu di ketuk dari luar.
"Anye, honey. Mama sudah datang, cepatlah!" teriak Devan dari luar. Dia menekan handle pintu hendak membukanya tapi tidak bisa karena tadi sewaktu aku keluar dari kamar mandi, aku mengunci pintu kamar.
"Tunggu sebentar, lagi pakai baju!" Balas aku berteriak, padahal aku sudah selesai berganti baju dari tadi, hanya saja jujur sedikit malas bertemu dengan mama.
"Cepat sayang kasihan mama sudah menunggu!"
"Iya!"
Menarik nafas, lalu menghembuskannya perlahan. Ya ampun. Aku seperti akan berperang saja.
Mama dan Devan duduk di sofa. Mama berdiri saat melihatku keluar dari kamar.
"Anye mau kan menemani mama belanja sayang. Ada tas XX keluaran terbaru, mama mau beli itu." Mama menyebutkan satu tas bermerk ternama.
"Iya, ma. Tentu." Mana mungkin aku menolak. Devan pasti tidak suka.
"Tapi sebelum berangkat, Anye harus sarapan dulu ma. Anye belum makan." Devan berdiri ke meja pantry. "Mama sudah sarapan? Ayo makan sama-sama. Dev masak nasi goreng udang."
"Ah, tidak usah. Mama sudah sarapan tadi. Cepatlah kalian sarapan, mama tidak mau kehabisan tas itu!"
Aku dan Devan makan berdua sedangkan mama sedang sibuk dengan hpnya, entah berbalas pesan dengan siapa, tapi di lihat dari wajahnya mama terlihat sumringah.
"Kenapa, Nye?" tanya Devan mungkin melihat wajahku yang agak murung dan tidak bersemangat.
"Tidak apa-apa. Aku cuma lagi kangen mama Linda." tuturku. Tidak bohong, aku memang kangen mama.
Devan menghela nafasnya berat, dia mengusap rambutku.
"Maafkan aku ya, kalau saja malam itu aku bisa menahan diri, pasti tidak akan seperti ini." sesalnya. Devan lelaki normal, pastilah sulit menahan nafsunya apalagi aku yang terus memaksa.
"Ah sudahlah, Dev. Sudah terjadi. Menyesal juga tidak ada gunanya." selesai dengan sarapan yang kesiangan karena ini sudah jam sepuluh pagi. Devan membuatkan susu khusus untukku. Kali ini rasa vanila. Devan sudah tahu kebiasaanku. Pagi rasa vanila, siang rasa mangga, dan malam stroberi. Untuk rasa coklat memang ada tapi aku jarang sekali meminumnya karena entah kenapa aku mual, padahal dulu aku penggila coklat. Dia pria yang sangat perhatian!
Sesekali mama menatapku dari tempat duduknya, menatapku tajam hingga aku tidak kuat dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Tidak ingin merasa terprovokasi dan malah membuat hal yang tidak diinginkan.
"Sudah selesai?" tanya mama saat kami mendekat.
"Titip Anye ya ma, jangan sampai Anye kelelahan." ujar Devan.
"Aku gak pa-pa Dev, jangan lebay!" ucapku ketus.
"Aku gak lebay. Aku cuma gak mau kamu cape. Kasihan anak aku kan!" Devan mengelus perutku, yang membuat mama melotot tidak suka. Tentu Devan tidak tahu karena tidak melihatnya.
"Sudah, Dev. Kamu juga akan berangkat kan. Hati-hati ya."
Devan memanggil Samuel. Samuel yang selalu stand by di depan pintu apartemen mendekat ke arah kami.
Seperti biasa Samuel menunduk hormat pada kami.
"Mama fikir dia gak perlu ikut Dev. Mama bawa tiga pengawal, apa itu belum cukup?" seru mama protes.
"Tapi Samuel yang biasa menjaga Anye, ma."
"Kamu gak percaya sama mama?" mama meradang, dengan nada sedih. "Mama juga fikirin keselamatan Anyelir, Dev. Pengawal mama lebih hebat dan mumpuni daripada dia. Kamu gak percaya dengan keselamatan Anye sama mama?" Ya ampun drama apa lagi ini?
"Bukan begitu ma, tapi lebih banyak lebih baik kan?!"
"Kamu benar-benar ragu sama mama?" mama memasang wajah sedihnya, bahkan matanya berkaca-kaca. Ya ampun, hebat sekali calon mertuaku ini.
"Dev, sudah. Sam ikut kamu saja. Aku gak pa-pa kok sama mama. Lagipula mama juga gak mungkin biarin aku kecapekan kan?! Gak mungkin biarin aku di jahatin sama orang juga." Aku memotong debat antara ibu dan anak itu. Ku lihat mama tersenyum tipis. Devan masih tidak terima tapi memerintahkan Samuel untuk keluar.
"Jangan khawatir. Kami pergi dulu ya. Kamu baik-baik bekerjanya, semoga sukses." Devan tersenyum lalu mengacak rambutku hingga menjadi berantakan.
"Dev, rambut aku!" seruku. Devan terkekeh.
"Kalau saja aku bisa temani kalian." sesalnya.
"Udah deh jangan banyak drama. Lagian cuma belanja aja."
"Ya sudah. Belanja lah yang banyak. Jangan sungkan-sungkan, apapun yang kamu mau, beli saja. Untuk hari ini kamu boleh pakai sebanyak apapun untuk belanja."
"Kamu fikir aku ini matre apa?!" satu tinjuan keras mendarat di lengannya, Devan pura-pura meringis.
"Lihat ma, calon menantu mama sangat galak! Bahkan mama juga tidak pernah memukul aku!" Devan merajuk mengadu pada mama. Mama hanya tertawa ringan melihat tingkah anaknya.
"Maka kamu harus jadikan Anye wanita yang lemah lembut nanti!" Bijak sekali bukan?
"Mama tahu, Anye sangat keras kepala dan manja!" bisik Devan tapi jelas aku juga bisa dengar.
"Dev!" Devan tertawa karena melihat aku yang sudah marah.
"Ya sudah, kalau kalian bertengkar terus mau kapan kita berangkat?" seru mama kesal.
"Sebentar ma." Tahan Devan. Devan membungkuk dan mencium singkat perutku.
"My boy, jangan buat mommy susah oke. Jadilah anak yang baik." Lagi Devan mencium perutku, membuat wajah mama berubah merah. Terlihat raut wajah tidak suka.
"Dev, sudah. Aku berangkat dulu ya." Aku mulai melangkah, tapi lagi-lagi Devan menahanku. Ya ampun apa lagi sih? Tidak tahu apa kalau NYONYA sudah meradang!!
"Apa lagi?!" aku mulai kesal.
"Ini belum!" rengeknya dengan menunjuk bibirnya sendiri. Ya ampun, dasar manja! Gak tahu tempat kalau minta cium.
"Dev, ada mama." Bisikku lalu melirik mama sekilas. Mungkin kalau mama siluman sudah keluar tanduk dan taringnya.
Cup.
"Lama nunggu kamu!" tersenyum jahil, dan mengusap bibirku hingga lipstikku membekas di ibu jarinya. "Lain kali tidak usah pakai lipstik. Kamu cuma boleh cantik di depan aku!" Ish dasar Mr Possessive, lain kali ingatkan untuk mengganti kontak D menjadi Mr. Possessive!
"Ya sudah, aku akan merindukanmu." memelukku erat.
"Ya ampun Devaaann!!!" mama sudah meradang. "Mama senang melihat kedekatan kalian, tapi bisakah jangan ada drama? Mama sudah capek lihat sikap lebay kamu! Papa kamu juga gak segitunya sama mama!" Apa mama cemburu melihat kedekatan kami? Haha, satu kelemahan mama! Bagus!
"Ya, sayang! Tolong lepaskan aku. Aku mau bersenang-senang sama mama. Aku juga akan merindukanmu, sangat!" Devan melepaskan pelukannya walaupun enggan. Aku melingkarkan tanganku di pundaknya. "Kamu hati-hati. Sering telfon aku nanti, oke!" Aku memberanikan diri menciumnya, tepat di hadapan mama. Bahkan sengaja dengan suara decapan yang keras. Tidak peduli apakah tanduk dan taringnya sudah keluar atau belum.
"Ya sudah lah. Mama tunggu di luar!" Suara mama ketus terdengar emosi! Menutup pintu dengan keras. Berhasil! Akan kuntunjukkan pada mama kalau kebahagiaan putranya sangat bergantung padaku.
Ku dorong dada Devan, mengakhiri ciuman kami. Bibir Devan mengerucut lucu.
"Sudah, mama sudah marah!" Devan terkekeh dengan berat hati melepasku.
Menghela nafas panjang. Siap untuk berperang!! Apa aku terlalu lebay?
.
.
.