
Tidak aku sangka, Nanda benar-benar keras kepala! Aku sulit menemuinya, di kontrakannya, bahkan aku juga mengikuti dia sampai di kantornya. Ini sudah hari ketiga semenjak kejadian itu, tapi Nanda sangat sulit sekali untuk ku temui. Nomor hpnya sudah tidak aktif lagi. Apa dia benar-benar menghindariku?
Ku tatap gedung tinggi nan mewah ini. Mahendra corp., sebuah perusahaan yang cukup terkenal di negeri ini. Berada di kancah lima besar perusahaan terbesar di bidang logistik, dan pemiliknya pengusaha sukses Bima Satria Mahendra. Seorang yang sudah tidak muda lagi namun terlihat sangat tegas dan berwibawa. Mirip lah seperti ayah Surya, bedanya usia Pak Bima beberapa tahun di atas ayah. Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya, salah satunya saat dia mengundang kami di acara pernikahan putri pertamanya. Yumna Azzura Mahendra.
Jujur, sedikit rasa menyesal kenapa dulu aku tidak lebih cepat datang kesini dan mengenal Pak Bima. Putrinya sangat cantik. Bak artis korea, dengan senyum yang menawan. Bisa saja kan kalau aku dan dia...
Haisssshhh... aku berfikir apa sih? Jangan fikirkan wanita yang sudah menjadi istri orang!
Fikirkan Nanda. Fikirkan Nanda!
Aku menepuk kepalaku, bayangan Yumna menghilang dan tergantikan dengan bayangan Nanda. Ahh... senyum Nanda juga tak kalah menawan!
Haruskah aku menemui Nanda langsung di dalam sana?
Iya!
Aku harus menemuinya! Harus bisa bertemu dengannya!
Resepsionis mengangguk dan mengucapkan kata selamat datang padaku saat aku mendekat ke arahnya.
"Bisakah saya bertemu dengan Pak Bima?"
"Bapak sudah punya janji? Maaf, dengan bapak siapa?" tanyanya ramah.
"Saya Samuel Mathew Rudolf, dari R.A corp., saya belum punya janji."
"Sebentar, pak. Saya tanyakan dulu sama sekretarisnya ya. Silahkan jika bapak berkenan tunggu dan duduk di sebelah sana, pak!" tunjuknya pada sofa mewah tak jauh dari sana. Aku mengangguk memilih duduk, kaki ini lelah setelah seharian pergi memantau proyek pembangunan mall.
Tak berapa lama, wanita itu datang mendekat padaku.
"Kebetulan pak Bima sedang longgar, pak. Bapak bisa menemui pak Bima di ruangannya!" aku bangkit berdiri. Wanita itu meminta seseorang mengantarku ke ruangan Pak Bima.
Kami pergi ke lantai teratas gedung ini dan melangkah menuju sebuah pintu besar. Ada tulisan ruang CEO di luar pintu tersebut.
Pak Bima sedang duduk di mejanya. Dia fokus melihat berkas-berkas di tangannya. Kelopak matanya berkedip sesekali, lalu meneruskan membuka lembar demi lembar kertas-kertas bernilai milyaran itu.
"Oh, pak Sam!" dia tersenyum saat melihatku dan bangkit dari duduknya. Kami saling mendekat dan saling menjabat tangan satu sama lain.
"Apa kabar, pak Bima? Maaf saya mengganggu waktu anda!" ucapku.
"Ah tidak masalah! Silahkan duduk!" Aku duduk di tempat yang di tunjukan olehnya. "Apa yang membawa pengusaha muda berbakat seperti pak Samuel datang kemari?"
"Maaf sebelumnya pak Bima. Ini bukan urusan bisnis atau kerjasama, tapi ini..." aku menggaruk belakang leherku, merasa ragu, padahal tadi sudah membulatkan tekad untuk menemui Nanda lewat tangan pak Bima. Nanda pasti tidak akan menolak bukan?
"Tapi...?" Pak Bima menunggu aku melanjutkan pembicaraan.
"Ummm... anu... ini..." rasanya ingin sekali aku memukul mulutku ini. Bicara saja apa susahnya?! batinku berteriak. Keringat dingin seketika mengalir dari keningku.
"Soal... " huftt... berat!
"Itu soal...." Sial!
"Soal...?" bertanya lagi. Aku menghembuskan nafas kesal.
"Maaf pak Bima, saya tidak bisa mengatakannya! Maaf sudah mengganggu waktu anda!" aku hendak bangkit, merasa emosi pada diriku sendiri, tapi berhenti karena dia berbicara. Menebak sebenarnya.
"Soal wanita?" aku kembali duduk.
Di usianya yang sudah menginjak kepala lima, dia pasti sudah banyak pengalaman. Dia bisa menebaknya!
"Hahhh..." dia tertawa mendecih. Benar! Aku sudah mempermalukan diriku sendiri!
"Urusan cinta memang rumit! Dia mempermainkan dan mempermalukan si yang empunya hati!" ucapnya dalam tawa penuh ejekan.
Tak ku sangka pria ini ternyata punya sifat yang seperti ini. Terang-terangan mengejekku! Awas saja kalau suatu saat kami menjalin kerja sama aku akan...
"Cinta memang keterlaluan! Siapa gadis itu? Apa salah satu karyawanku?" tanya pak Bima. Aku tidak jadi meneruskan ucapanku dalam hati tadi.
"Iya!"jawabku cepat.
"Siapa gadis beruntung yang sudah membuat Samuel Mathew Rudolf bersusah payah datang kesini?" Apa dia peduli?
"Nanda. Nanda Ratna Anjani!" jawabku cepat. "Tolong saya, sudah beberapa hari ini saya tidak bisa menemuinya. Dia selalu menghindar!" upsss... Kenapa juga aku dengan mudahnya berbicara seperti ini? Apa karena sudah ketahuan juga? Dimana wibawa kepemimpinanku?
"Tunggu sebentar." ucapnya lalu pergi ke mejanya, mengangkat telfon dan tak lama berbicara pada seseorang.
Pak Bima kembali duduk di hadapanku. Dia menghela nafas kasar, aku menatapnya. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi!
"Maaf. Sepertinya anda harus kecewa, pak Sam. Aku dapat info kalau Nanda sudah menyerahkan surat pengunduran diri pagi ini!"
"Mengundurkan diri? Tapi kenapa? Apa alasannya?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut ku begitu saja. Aku terkejut sampai menegakkan diriku di kursi! Kenapa Nanda sampai mengundurkan diri?
Pak Bima menggelengkan kepalanya. "Tiba-tiba saja dia ke ruang HRD dan mengundurkan diri!" ucapnya.
"Tapi kenapa?" tubuhku tiba-tiba merasa lemas. Bertanya pada diri sendiri. "Kenapa? padahal aku berharap bisa menemui dia tanpa penolakan!" menatap pak Bima, lalu menatap ke arah luar.
Pak Bima bangkit dari tempatnya dan mendekat ke arahku. Dia duduk di sampingku dan menepuk bahuku beberapa kali.
"Jangan patah semangat, ya. Wanita memang seperti itu kalau sedang marah. Siapkan saja pengawal untuk memantau terus keadaan dia. Aku takut kalau gadis itu akan lari dan pergi untuk menenangkan diri." ucapnya. Apa dia sedang menakutiku?
"Jangan bercanda! Dia tidak akan lari dariku! Dia cuma marah!"
Dia hanya mengangkat kedua bahunya.
"Berjaga-jaga tidak ada salahnya bukan?!" ucapnya.
Tidak akan!
Dia tidak akan lari dariku!
Tapi entah kenapa kaki ini membawaku berdiri. Sesuatu yang terasa menakutkan serasa sudah mendekat di depan mataku.
"Trimakasih atas bantuan pak Bima." Hanya itu yang aku ucapkan seraya sedikit membungkuk. Dia tersenyum. Aku setengah berlari ke pintu.
"Jangan patah semangat, pak Sam! Tunjukkan kalau kau sangat peduli maka gadis itu tidak akan lari!" seru pak Bima dari tempatnya. Aku mengangguk lalu benar-benar pergi dari sana. Hampir saja menabrak sekretarisnya yang membawa nampan dengan dua buah cangkir teh di tangannya.
Dia tidak akan lari dariku! Pak Bima hanya asal bicara saja. Dia seperti pernah mengalaminya saja! Aku mendengus kesal sambil terus berjalan keluar dari area perusahaan itu.
...----------------...
Bima: "Author, apa sih bawa-bawa gue segala?!"
Author: "Heheeee... eksis lagi dikit napa sih. Biar para readers gak lupa sama babang Bima!"
Bima: 😒😒😒
Author: 😁😁😁😁✌✌✌