
Tiara baru saja turun dari taksi, dia berjalan dengan gontai menuju ke arah rumahnya. Di geserkannya pagar rumah yang sudah lama berkarat. Belum tersentuh cat atau apapun untuk membuatnya terlihat mulus. Ya... tak ada laki-laki disini untuk membantu mereka membereskan atau memperbaiki segala hal yang rusak.
Tiara membuka pintu rumah yang tak terkunci. Tak ada ibu disana, yang terdengar hanyalah suara dari arah kamar mandi, terdengar seperti seseorang sedang menyikat baju. Hahh.... mesin cuci sudah hampir dua bulan ini rusak, dan dia belum bisa menggantinya dengan yang baru!
"Bu..." Tiara membuka lebar pintu kamar mandi yang terbuka sedikit. Ibu sedang duduk di atas kursi plastik kecil, menoleh pada Tiara yang baru saja pulang.
"Sudah pulang? Sudah makan?" tanya ibu, dia membasuh tangannya yang penuh dengan sabun lalu bangkit dan keluar dari dalam kamar mandi.
"Sudah," jawab Tiara lesu. "Ara ke kamar dulu deh, ganti baju." Ibu menatap putrinya yang tak bersemangat menjauh darinya. Dia melihat baju Tiara yang berbeda dari saat dia berangkat tadi.
Selesai mengganti baju, Tiara membantu ibu mencuci. Walaupun tak banyak, tapi ia tak tega juga membiarkan ibu mencuci sendirian. Dia juga tak menggubris ucapan ibu yang menyuruhnya untuk istirahat di kamar.
"Biar ibu yang jemur baju. Kamu istirahat sana!" titah ibu setelah baju selesai di cuci dan siap untuk di jemur.
Kali ini Tiara menurut. Dia memang sangat lelah. Lelah karena tadi belanja dengan Gio. Kakinya pegal. Dia segera beranjak ke dalam kamar.
Tiara manatap hpnya yang menyala. Ada beberapa panggilan dan pesan. Dari Kenzo dan juga... Gio.
Tak berminat membacanya. Tiara hanya melempar hpnya ke atas kasur dan menutupnya dengan bantal. Lebih baik dia tidur saja daripada fikirannya melanglang buana kemana-mana. Bukan kemana-mana, tapi pada...
"Akh... masa bodoh!" ujar Tiara lalu menjatuhkan dirinya diatas kasurnya yang sudah lepek.
...***...
Gio terdiam termangu di depan kolam. Dua kakinya ia celupkan, bergerak perlahan mengayun di dalam air. Matanya tak pernah berpindah dari satu tempat, tapi fikrannya tak ada disana.
"Hei. Kak Daniel nanyain tuh. Telfon sana nanti!" ujar Axel.
Gio hanya menoleh sekilas dan mengangguk, lalu kembali lagi menatap ke arah semula.
Axel menghela nafas. Sepertinya dia tahu dengan apa yang terjadi pada kakanya yang satu ini. Galau! Ingin tertawa, tapi kasihan juga.
"Mau cerita?" tanya Axel, yaa...meskipun sepertinya ia sudah bisa menebaknya.
"Cerita apa?" tanya Gio.
"Yeee... yang galau siapa... Aku kan gak tahu kamu mau cerita apa, ya... terserah!" ucap Axel santai.
"Siapa yang galau?" Gio menoleh kembali pada adiknya ini. "Sok tahu!" ucapnya lagi lalu segera bangkit dan pergi meninggalkan Axel seorang diri disana.
"Yee... dia gak sadar!" Axel bedecak kesal.
Gio melangkah ke dalam rumah, dia lebih memilih masuk ke dalam kamarnya untuk merehatkan diri. Menenangkan diri.
Dia ingat dengan tatapan Kenzo pada Tiara. Dia ingat pada panggilan Kenzo yang manis pada Tiara. Dia ingat pada setiap ucapan Kenzo pada Tiara. Apa Kenzo menyukai Tiara?
Mengingat hal itu dia merasa kesal. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah benar apa kata Axel kalau dia sedang galau?