DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 7



"Mulai hari ini, ada orang baru yang akan ikut bekerja bersama-sama dengan kalian. Namanya... uhukk... Axel. Kalau kalian ingin mengenalnya boleh kalian lanjutkan nanti saat jam istirahat atau jam senggang!" ucap manajer kafe sedikit bergetar saat berbicara di hadapan para anak buahnya. Keringat dingin membasahi keningnya, tahu persis siapa yang berdiri diantara mereka.


"Lola! Tolong hari ini kamu ajarkan, dan beri tahu apa saja yang harus di lakukan orang baru!" seorang pekerja senior mengangguk patuh.


"A- Axel, untuk hari ini... An- Kamu harus ikuti senior di depan kamu ini. Jika ada yang an- kamu tidak tahu, tanyakan saja padanya!" ucapnya gugup. Selalu saja lidahnya terbelit, karena tak terbiasa memanggil bos besar dengan sebutan namanya.


"Baik, pak manajer!" Axel mengangguk dengan semangat, dia menaikkan kacamata tanpa lensa yang melorot kembali ke tempatnya.


Para pegawai membubarkan diri dari sana. Dan segera melakukan tugasnya masing-masing.


Axel tidak pernah ikut campur dengan pekerjaan di luar perusahaan, maka dari itu para pegawai tidak tahu bahwa Axel lah pemilik tempat kerja mereka, kecuali manajer tentunya. Yang mereka tahu Gio lah pemilik kafe tersebut.


"Kamu. Tolong lap semua meja yang ada disini, ya. Setelah itu ambil pel di belakang dan pel semua lantai ruangan ini." Wanita bernama Lola memberi perintah pada Axel. Axel menerima lap bersih yang di berikan Lola.


"Ren. Kamu lap kaca aja ya. Biar kali ini yang ngepel dan lap meja anak baru!" kali ini memberi perintah pada Renata.


Renata menagangguk lalu pergi ke belakang untuk mengambil peralatan.


"Itu, kamu ikuti Renata ambil peralatan." tunjuknya ke arah Renata.


"Baik, mbak!" ucap Axel lalu segera berjalan mengikuti Renata dari belakang.


Dada Axel berdebar saat melihat punggung Renata. Gadis mungil itu tetap berjalan, tanpa tahu kalau Axel mengikutinya.


Renata membuka pintu, di ruangan kecil itu terdapat beberapa alat kebersihan yang di perlukan. Tak lama Renata kembali keluar dengan sapu, ember, lap pel, dan juga kain untuk meja. Dan juga alat pembersih kaca.


"Maaf. Mbak yang tadi bilang aku harus bantu kamu!" ucap Axel, Renata terdiam dia lantas menyerahkan beberapa alat kebersihan pada Axel.


"Oke, bawa ini. Bisa bantu aku kan?" tanya Renata, dia menyerahkan ember dan alat pel padanya.


"Eh iya!" Mereka lalu kembali ke depan bersamaan, ada rasa bahagia dan berdebar di dada Axel saat dia bersama dengan Renata.


Axel mulai membersihkan meja. Meski ia tidak pernah melakukannya, tapi ia cukup mahir karena sering melihat maid bekerja mengelap meja dan sebagainya.


'Hanya mengelap meja apa susahnya? Anak bayi pun bisa!' batin Axel.


Dia mulai mengelap meja, semua permukaannya. Sampai ia yakin tak ada debu yang menempel disana.


Tangannya bekerja sedangkan ujung matanya memperhatikan Renata yang sedang membersihkan kaca tak jauh darinya. Gerakan gadis yang sedang membersihkan kaca itu terlihat seksi di matanya.


"Xel, mau sampai kapan kamu bersihkan meja satu itu? Pindah kesana. Sebentar lagi kita akan buka!" peringat Lola, membuat Axel tersadar.


"Iya mbak. Maaf!" senyum Axel kikuk.


Ya, sedari tadi dia baru membersihkan satu meja itu saja. Dia lantas berpindah pada meja yang lain.


Terlihat Renata tersenyum melihat Axel yang kena omel kak Lola. Kak Lola memang terkenal bawel jika sudah mengenai pekerjaan.


Hari semakin siang. Keadaan kafe lumayan ramai, apalagi sekarang mendekati waktunya jam istirahat. Biasanya ada beberapa anak kuliah ataupun karyawan akan mampir kesini bahkan tak jarang beberapa pengusaha juga akan datang kesini.


"Xel, tolong kamu antarkan makanan ini ke meja nomor dua belas ya!" kak Lola memberi instruksi seraya menggeserkan nampan berisi makanan dan minuman.


"Baik kak!" ucap Axel menyambut nampan itu.


'Ini baru sehari, Xel. Harus semangat!' gumamnya dalam hati memberi semangat pada dirinya sendiri.


"Silahkan, pak. Hidangannya sudah sampai!" ucap Axel ramah sambil menyimpan makanan itu ke atas meja.


"Trimakasih!" Axel melirik sebal karena pria itu meliriknya sambil menahan tawa.


"Kenapa anda tertawa pak? Apa ada yang salah?"


"Tidak ada. Saya datang kemari karena khawatir pada anda. Khawatir kalau anda tidak kuat dan pingsan!"


"Anda fikir saya pria yang lemah?"


"Oh tidak! Bukan begitu, saya hanya memastikan saja. Anda tidak pernah terjun pada pekerjaan seperti ini. Dan saya salut, kalau anda bisa bertahan sampai saat pulang nanti!" Axel mendengus kesel. Ini berarti penghinaan!


"Awas saja. Sampai di rumah nanti jangan harap anda akan selamat, Tuan Gio!"


"Kalau anda masih punya tenaga untuk melakukannya, aku akan senang! Akan aku tunggu!" tantangnya.


Axel pergi dari sana dengan perasaan kesal, sedangkan Gio tertawa puas. Kapan lagi dia bisa melakukan hal itu pada bossnya?!


...***...


Axel berbaring di kamarnya, tangan dan kakinya rasanya kram tidak mampu ia gerakkan. Dia sangat lelah sekali.


"Bagaimana bisa dia bekerja yang seperti ini? Ini sangat melelahkan!" keluhnya. Dia membayangkan kalau Renata juga pasti kesakitan tangan dan kakinya seperti ini, apalagi dia itu wanita hidup sendiri dan tidak ada yang mengurusnya.


"Masih ada tenaga untuk berdebat?" suara seseorang terdengar dari arah pintu. Axel menatap Gio yang tengah bersandar disana dengan malas.


"Pergilah! Jangan ganggu aku!" usirnya. Gio tertawa lirih lalu mendekat ke arah Axel, duduk di samping pemuda itu.


"Aku salut! seorang Axel bisa melakukan hal yang seperti ini demi seorang wanita!"


"Tentu saja! Memang jatuh cinta bisa separah ini ya? aku baru tahu, kalau ternyata kita bisa melakukan hal di luar nalar untuk bisa mendapatkannya!"


"Ya. Begitulah! Cinta memang membingungkan membuat seseorang berubah dalam waktu sekian detik."


"Heem, dan itu sangat mengganggu kalau sampai aku tidak mendapatkan dia. Kau lihat dia kan tadi? Dia biasa saja, tapi menurutku dia manis. Entah kenapa rasanya aku sangat ingin dekat dengan dia. Rasanya jantung ini berdetak sangat cepat saat melihat dia, dan kemudian otak ini memerintahkan kaki dan tanganku untuk berjalan terus mendekati dia. Gio. Apa menurut kamu aku sudah gila? Aku ingin orang asing menjadi partner hidupku!" Axel memegang dadanya sendiri, meski hanya membayangkannya saja dadanya derdetak sangat cepat terasa oleh tangannya.


"Tidak. Tidak gila! Itu wajar. Manusia memang sudah ditakdirkan seperti itu bukan?" ucap Gio lirih, hatinya terasa tercubit dengan perkataanya sendiri. Dia menatap wajah Axel yang terlihat bahagia.


"Ya sudah, tadinya aku datang kesini untuk berdebat, tapi melihatmu lemah seperti ini, tidak tega juga! Hehe..." Gio menepuk paha Axel yang sedang pegal sampai pemuda itu berteriak kesakitan.


"Gio, Sialan kau!" pekiknya. Gio hanya mengangkat dua jarinya membentuk huruf V, lalu segera pergi meninggalkan Axel.


Gio berjalan ke arah kamarnya. Dia membuka jasnya dan juga dasinya melemparkannya ke atas kasur. Dia membuka pintu balkon kamarnya dan menatap langit sore yang sudah mulai menghitam. Di keluarkannya sebatang rokok lalu memantikan api pada ujung rokok tersebut. Menghisapnya, lalu menghembuskan asap putih itu ke udara.


Bayangan seorang gadis tercipta pada asap yang ia kepulkan. Senyumnya juga manis, tak kalah manis dengan gadis yang Axel incar.


Kembali mengingat, entah itu anugerah atau kebodohannya yang membuat hatinya kini seperti batu.


Gio juga pernah merasakan cinta. Bahkan dia pernah menyangka kalau sampai menua dan mati bersama dengan cintanya itu. Tapi pada kenyataannya, gadis itu pergi dengan orang lain. Meninggalkan dirinya dan memilih menikah dengan pria yang lebih berada. Dasar gadis matre!


Harusnya dia mengatakan saja kalau dia itu asisten CEO dari R. A group. tapi tidak dia lakukan, Gio hanya ingin seorang yang tulus mencintai dirinya.