
Entah ini benar atau tidak. Aku hanya diam saat Samuel membongkar dan membuang kartu sim hpku. Yang aku tahu sekarang aku hanya ingin pergi jauh, dengan anakku!
'Kita akan hidup berdua nak. Kamu dan mama. Kita hanya akan berdua!' ku usap lembut perutku. Gerakan halus terasa dari dalam sana.
Kami berganti kendaraan, bukan dengan mobil, kereta, atau kapal laut, tapi pesawat. Pesawat pribadi kata Samuel! WOW!
Mimpi apa aku? Pesawat komersil saja aku tidak pernah dan sekarang aku naik pesawat pribadi? Samuel mengajakku naik pesawat pribadi? Eh... tapi ini pesawat milik siapa? Apa milik Sam? Seorang bodyguard punya pesawat pribadi?! Tidak mungkin! Atau Sam adalah salah satu pebisnis handal? Tapi masa dia kerja jadi bodyguardku?! Oohhh... jangan-jangan Sam ini adalah salah satu anggota mafia? Bos kah atau apa? Tadi helikopter, dan sekarang pesawat pribadi π±π±π±. Bukankah berarti aku keluar dari kandang harimau masuk ke kandang singa?! Matilah aku...π΅π΅π΅...
Sam mendekat dengan nampan makanan di tangannya, aku sedikit beringsut menjauh. Kenapa tidak terfikirkan sebelum ini siapa Sam sebenarnya?! Jangan-jangan dia mafia penjual organ dalam tubuh manusia dan di jual di pasar gelap. Atau dia penjual anak di bawah umur, apa lagi anakku sebentar lagi akan lahir dan dia akan mudah mendapatkan uang dari pasangan yang tidak memiliki keturunan?! Aku tidak mau! Apa yang harus aku lakukan? Kabur, tidak mungkin! Ini berada di ketinggian setinggi awan, bahkan aku bisa melihat bulan dengan jelas tanpa terhalang awan sedikitpun. Melompat sama dengan aku bunuh diri!
"Kenapa?" tanya Samuel saat melihat aku tidak nyaman.
"Tidak. Tidak ada!"
"Ini makan. Kamu pasti belum makan, kan?!" Ya aku lapar, lihat hidangan beef steik nan lezat itu perutku jadi bergejolak, padahal barusan masih baik-baik saja.
"Aku tidak lapar. Kamu saja yang makan!" menolak dengan halus.
"Hei, aku tahu kamu makan terakhir itu siang tadi kan? Pasti lapar, jangan egois, kamu punya nyawa lain yang tidak bisa kamu abaikan!" Sam memotong daging itu ukuran kecil-kecil. Lalu menyodorkannya padaku. "Buka mulutnya!"
Aku ragu. Aku takut!
"Tidak ada racunnya!" Sam tersenyum dengan sangat manis. Dia menyuapiku lagi dan lagi, bahkan aku belum sempat menelannya dia sudah menyodorkan makanan itu lagi hingga mulutku penuh.
"Aku makan sendiri saja!" ucapku sambil merebut piring dari tangannya. Mulutku pegal karena mengunyah dalam jumlah banyak.
"Nah gitu dong! Anak manis!" mengacak rambutku. Aku rindu Devan, hikss...! Biasanya Dev akan menyuapiku dan mengacak rambutku kalau aku bersikap manis.
"Hei jangan nangis!" Sam mendekat dan mengelus pundakku.
"Aku kangen Devan! hikss... aku kangen!"
"Ya sudah lalu bagaimana? Kita pulang ke apartemen?" tanya Sam. Aku terkesiap. Aku tidak mau pulang. TITIK!!!
"Tidak mau! Aku mau pergi dari dia!" Ucapku tegas, berhenti menangis. "Kamu juga harus tanggung jawab sudah bawa aku sejauh ini, masa kamu mau balikin aku kesana?!" Kalau di fikir-fikir sikapku seperti anak kecil yang tidak mau pulang karena takut di marahi.
"Ya sudah jangan nangis dong!"
"Aku gak nangis!" aku meyakinkan, walau dalam hati dan fikiranku Devan masih mendominasi.
"Sam, boleh aku tahu kita akan kemana?" tanyaku pelan.
Sam menoleh ke arahku. "Kita pulang ke rumah!" ucapnya pasti tanpa keraguan. Rumah. Definisi rumah seperti apa nanti disana? Apakah seperti yang aku bayangkan atau tidak? Semoga saja menyenangkan!
"Sebenarnya kamu ini siapa Sam?" upss, mulutku tidak bisa di tahan! Ada istilah 'terlalu banyak tanya bisa memperpendek umurmu!', tapi bagiku itu dalam artian lain, terlalu banyak tanya adalah artinya aku tidak kesepian. Aku tidak penasaran! π
"Aku? tentu Samuel!" Sam mendekat memegangi daguku. Aku malu. Dadaku berdetak cepat. Dia menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri membuat kepalaku bergerak. "Perasaan kamu gak terbentur, kenapa kamu gak ingat sama aku?!" Samuel terlihat khawatir.
Aku menepis tangannya hingga terlepas dari daguku. "Aku gak hilang ingatan! Aku cuma tanya, kamu dengan fasilitas ini, kamu itu siapa?!" tanyaku tanpa ragu, menunjuk dia dengan garpu di tanganku. "Ini terlalu mewah. Yang punya jet pribadi itu kalau tidak pengusaha ya gangster!"
Samuel tertawa, terkikik dia memegangi perutnya. Apa yang lucu?!
"Jadi...Ahhahhaa, sikap kamu takut tadi itu karena kamu mikir aku culik kamu gitu?" tertawa, dasar menyebalkan!
Aku menunduk malu. "Bisa saja kan?!" Aku merengut, kesal. "Kamu bisa saja anggota mafia yang ingin culik aku buat minta tebusan sama Devan, atau kamu mau ambil organ dalam buat di jual di pasar gelap, atau kamu bawa aku buat ambil anakku!" ucapku memberanikan diri.
"Kalau perkiraan kamu karena aku culik kamu, itu salah! Buat apa culik kamu, dan minta tebusan? Devan itu di banding atasanku tidak ada apa-apanya! Seluruh kekayaan keluarga milik dia hanya seujung kuku dari bosku!"
"Berarti kamu mau jual organ dalam, dan anakku?!" aku membulatkan mata, dan mengacungkan pisau steak ke arahnya. Melindungi diri dengan pisau itu meski aku tidak yakin sama sekali. Bisa saja dia mengeluarkan pistol, atau mungkin pisau yang terselip di pinggangnya kan? Aku takut.
Samuel berhenti tertawa, dia menatapku tajam, dan menyeringai padaku!
"Mungkin saja! Tapi kami lebih tertarik dengan anak yang akan kamu lahirkan. Bagaimana kalau kamu menurut saja. Kamu ikut tinggal disana, sementara kamu juga bisa asuh dan didik anak kamu untuk kami! Asal kamu menjadi gadis yang penurut!"
Apa maksud dia?! Jadi dia inginkan putraku, dan ingin aku jadi pengasuhnya, begitu?
Dasar baj*ngan!!
*
*
*π‘π‘πΏπΏπΏ
*Ayo like komennya mana nih, baca gratis masa gak kasih jempol sih π€π€, komen nya juga ya, ππ»