
Gio kembali ke Kalimantan tanpa Tiara. Pekerjaannya tidak bisa ditunda atau diundur lagi, memang perusahaan ini semakin maju setelah ada dalam kepemimpinan Gio.
Heru masih setia menemani meskipun kini wajahnya lebam akibat pukulan Gio. Pria itu tidak menaruh dendam atau apapun karena memang dirinya lah yang menjadi sebab Naura meninggalkan pria itu.
Gio juga sudah meminta maaf pada Heru atas kejadian di Bali. Dia merasa bersalah karena sudah membuat Heru terluka akibat pukulannya. Benar apakata Tiara jika Heru melakukan hal itu memang karena dirinya, karena rasa sayang dan hormatnya, meski Heru mengtakan jika itu hanyalah tugas, tapi Gio melihat ada sorot lain di mata pria itu untuknya.
Gio sadar akan sesuatu, mungkin Heru sama dengan dirinya. Dulu dia juga akan melakukan hal yang sama dengan Axel, akan melakukan apapun asal Axel dan juga keluarga Aditama bahagia.
Gio mengusap wajaha
nya dengan kasar. Baru saja sehari dirinya sudah rindu dengan mantan keasihnya. Bukan yang ono ya, mantan kekasih yang kini manjadi istrinya 🤭🤭.
Heru sedang menyelesaikan pekerjannya sementara Gio kini mengeluarkan hpnya untuk menelepon Tiara. Gio sangat kangen sekali dengan wanita itu.
Gio berdiri di dekat jendela, sedikit dia buka untuk merasakan udara sore yang ternyata masih saja panas. Langit di kejauhan sana terlihat mulai lembayung dengan warna indahnya.
Gio yakin jika Tiara sudah pulang dari bekerja. Sebenarnya ingin sekali dia membawa Tiara kemari dan memberinya pekerja saja menjadi sekretarisnya sepeti dulu, tapi Tiara masih bingung jika meninggalkan ibu.
Gio tidak tega juga jika memisahkan ibu dan anak itu. Gio berkata agar Tiara berhenti bekerja dan hanya diam di rumah saja, tapi permintaannya ditolak mentah-mentah oleh mantan sekretarisnya itu. Bosan katanya jika hanya di rumah saja. Lagipula, ibu juga sudah mulai mengurangi kegiatannya.
“Hai Istriku. Apa kabarmu, istriku yang cantik?…” sapa Gio saat panggilan itu dijawab oleh istrinya
Heru yang mendengarkan bosnya berbicara lewat telepon dengan istrinya hanya melirik sekilas lalu kembali pada pekerjaannya.
...***...
Tiara baru saja selesai menelpon dengan Gio, dia lalu bergegas untuk mandi. Saat Gio tadi meneleponnya Tiara baru saja sampai di rumah. Tidak enak juga jika tidak mengangkat telpon dari suaminya itu.
Selesai dengan acara mandinya, Tara lalu menolong ibu untuk memasak. Cantik juga kini tiinggal dengan mereka. Selain karena untuk menjaga Tiara, cantik juga di beri tugas untuk membantu meringankan pekerjaan di rumah ini.
Ibu dan Tiara kini sedang masak bersama, Tiara sedang membersihkan ikan dari sisiknya sedangkan ibu sedang membuat bumbu kuning dan menggerusnya di dalam sebuah cobek batu.
“Kamu gak berencana untuk berhenti kerja, Ra?” tanya ibu pada Tiara.
“Enggak, ah Bu. Lagian mau apa juga berhenti dan diam di rumah? Bosan!” tutur Tiara pada ibunya. Cantik hanya menoleh sekilas pada sosok ibu dan anak itu.
Tiara hanya diam. Bingung untuk menjawab. Siapa yang ingin hidup jauh dari suami?
“Nanti saja, Bu. Lagipula Gio juga kan bisa pulang empat hari sekali, atau seminggu sekali.” jawab Tiara lagi.
“Kamu mau buat suamimu bangkrut dan kurus?” Ibu bertanya lagi. Tiara terkekeh.
“Suamiku kaya, pulang pergi setiap hari juga gak akan buat dia bangkrut, hehe …” Cantik menggelengkan kepala mendengar pertanyan dan juga jawaban ibu dan anak itu.
“Kau ini, kaya juga kalau mengeluarkan uang jutaan setiap hari lama-lama bisa habis juga!” Ibu melotot pada Tiara.
“Kalau begitu aku akan bilang agar dia membeli pesawat pribadi saja.” jawab Tiara acuh. Ibu yang mendengar ucapan putrinya itu melempari Tiara dengan kunyit yang ada di tangannya. Tepat mengenai punggung Tiara.
“Kamu ini jangan mentang-mentang suami kamu kaya jadi bisa seenaknya saja menyuruh Gio pulang pergi sering-sering. Kasihan dia juga kan bisa capek dalam perjalanan.” Ibu mengingatkan. Tiara hanya meringis mendengar ucapan ibu.
Gegas Tiara menyelesaikan pekerjannya dan mencuci tangannya dengan menggunakan sabun. Tiara berjalan ke arah ibu dan memeluknya dari belakang.
“Kami akan baik-bak saja, Bu. Lagipula Gio bilang tidak apa-apa aku disini menemani ibu.” tiba-tiba Tiara sedih jika harus meninggalkan ibunya sendirian.
“Ibu tahu, Gio sangat sayang dengan kita, tapi sekarang kamu adalah tanggung jawabnya, kamu gak boleh hanya memikirkan diri kamu sendiri. Biar ibu sendiri disini, tugas ibu sudah selesai. Setelah menikah, anak perempuan adalah tanggung jawab suaminya.” Tiara ingin menangis mendengar ucapan ibu. Dia belum siap sama sekali jika harus meninggalkan ibu sendirian disini.
“Aku berat meninggalkan Ibu, Bagaimana kalau ibu ikut saja dengan kami ke Kalimantan?” tawar Tiara. Ibu mengelus tangan Tiara dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“Di rumah ini terlalu banyak kenangan yang sulit untuk ibu tinggalkan. Ya... meski rumah ini sekarang sudah jauh beda dengan kondisinya seperti dulu, tapi Ibu tidak mau pergi dari sini.” Tiara memeluk ibu semakin erat. Benar apa yang dia tebak selama ini jika ibu tidak akan mau meninggalkan rumah ini. Entah apa yang harus Tiara lakukan, Tiara berada di dalam dilema.
Tiara terdiam dan terisak di belakang tubuh ibu, Ibu hanya mengelus lengan Tiara yang melingkar di depan lehernya.
“Kamu jangan bingung, lagipula sekarang kan ada Cantik yang jaga ibu, kalau kamu mau ikut dengan Gio, ibu tidak apa-apa.” Cantik yang sedari tadi memperhatikan ibu dan anak ini juga tengah menahan rasa panas di dalam matanya. Cantik sangat mengerti dengan kesedihan keduanya. Ibu terlihat sedang melambaikan tangan kepadanya. Cantik mendekat dan memeluk keduanya bersamaan.
“Kalau aku pergi, aku seperti anak yang tidak berbakti pada ibu, sedari dulu aku ibu yang asuh dan ibu yang besarkan. Sekarang sudah aku besar aku … aku gak tahu, Bu.” Tiara menangis memeluk ibu, Cantik yang sedari tadi menahan rasa sedihnya kini ikut menangis dengan kedua orang itu.
“Ini adala resiko orangtua, tidak mungkin jika kami para orangtua akan terus menahan anaknya agar selalu bersama. Kalian juga butuh kehidupan yang berbeda. Ibu ikhlas, Ra.” pecah sudah tangis Tiara saat itu, rasa sesak di dalam dada tercurahkan. Cantik pun ikut menangis dengan mereka, tidak menyangka jika ternyata pengorbanan seorang ibu sangat besar seperti ini.
“Aku akan jaga ibu dengan baik, Ra. Kalau kamu mau pergi jangan khawatir, aku akan jaga ibu dngan baik.” Cantik kini menangis semakin keras, melebihi tangisan Tiara.