
Mobil melaju di jalanan yang cukup ramai. Cuaca sangat terik di luar sana. Para penjual makanan berjajar di sepanjang jalan, ada juga yang mengambil separuh jalanan trotoar.
Ahh...aku tersenyum, mengingat bayangan masa lalu menyenangkan yang sudah lama sekali tidak aku rasakan akhir-akhir ini.
Biasanya sepulang sekolah, aku dan ketiga sahabatku, walaupun tidak sering, tapi kami beberapa kali berjalan di trotoar seperti ini. Berjalan santai sambil menikmati jajanan di dalam plastik bening, entah itu cilok atau bakso bakar, atau yang lainnya, dan minuman harga murah meriah yang kami temukan disana. Berjalan sambil bercanda besenda gurau satu dengan lainnya. Ahh, kangennya masa-masa itu!
"Sam. Bisa pelankan kecepatannya sedikit?" pintaku, Samuel hanya mengangguk dan mobil kemudian berjalan pelan.
Sambil mengusap perutku, aku tersenyum menatap keluar jendela.
Devan mendekat dan menyimpan dagunya di bahuku. Mengelus lembut perutku membuat gerakan kecil menggelitik dari dalam sana.
"Ada apa? Mau beli sesuatu?" tanya Devan. Aku menggeleng.
"Cuma inget masa lalu." menghela nafas berat, itu aku. "Biasanya kalau pulang sekolah jalan di trotoar sambil jajan, sekarang gak pernah!" menerangkan walau entah apakah Devan akan menanggapi ceritaku atau tidak. "Jadi kangen yang lain!"
Kami terdiam beberapa menit.
"Mau jalan di luar?" tanya Devan aku langsung menoleh, tidak percaya.
"Kita bisa jalan sebentar disana kalau kamu mau. Tapi cuma sebentar ya!"
"Iya." ucapku bersemangat.
Mobil berhenti, Devan lebih dulu keluar, seorang bodyguard datang menghampiri membawakan payung dan membukanya menghalangi sinar matahari yang terik menerpa langsung ke kulitnya. Aku menyusul keluar dari dalam mobil, Devan mengambil alih payung itu ke tangannya saat aku keluar. Dia lebih memayungiku agar tidak kepanasan sedangkan bahu nya sendiri terkena terik matahari.
Dua bodyguard berjaga di belakang. Mobil meninggalkan kami untuk menunggu di ujung jalan. Aku melingkarkan tanganku di lengan Devan. Rasanya menyenangkan. Semenjak sibuk, Devan hampir tidak pernah ada waktu denganku untuk sekedar jalan-jalan. Jujur aku jenuh berada di dalam apartemen terus menerus.
"Dev, mau itu!" tunjukku pada eskrim yang ada disana, eskrim potong yang bisa aku beli dengan harga di bawah lima ribu. Murah kan?
"Apa itu higienis?" tanya Devan, aku mengangkat bahuku.
"Aku mau, ya. Haus!" cicitku sambil menyentuh leherku.
"Air mineral saja kalau begitu!"
"Tapi aku maunya eskrim." Devan terus bicara intinya agar aku tidak membelinya dan mengajakku ke kafe atau mini market jika inginkan eskrim.
"Percuma turun disini kalau gak beli yang aku mau!" aku merajuk, berjalan lebih cepat meninggalkan Devan.
"Sayang, jangan cepat-cepat kamu itu baru keluar dari rumah sakit!" Devan mengingatkan dia berjalan dengan cepat hingga langkah kami kembali sejajar. Aku lupa.
"Oke, tapi cuma satu potong, oke!" akhirnya. Aku mengangguk dengan senyuman bahagia.
Kami berjalan dengan lambat, dengan aku yang menikmati es potong ku.
"Sudah ini kita pulang ya!"
"Iya." jawab ku. Biarlah cuma sebentar lain kali aku akan minta jalan-jalan seharian.
*
Sampai di apartemen, ada mama disana. Dia sedang duduk di meja pantry dengan beberapa hidangan di depannya. Mama berdiri, wajahnya sumringah saat kami masuk ke dalam. Menyambut kami dengan penuh senyuman. Berbeda dengan Devan wajahnya masih terlihat kesal.
"Selamat datang sayang, mama sudah menunggu sedari tadi." Ujar mama sembari memelukku erat. Mencium pipi dan keningku.
"Sudah lama, ma?" tanyaku.
"Lumayan, sudah dari jam sepuluh tadi."
"Devan gak bilang mama mau datang." aku melirik suamiku tang malah membuang muka ke samping.
"Ah sudah lah! Jangan terlalu di fikirkan. Tadi mama ke kantor tapi Seno bilang Dev sedang jemput kamu karena kamu pulang hari ini. Jadi mama siapkan ini semua buat kamu. Mama yang masak semua ini!" Mama menarikku ke meja pantry, banyak hidangan disana termasuk kue dan puding stroberi.
"Mama, kenapa repot-repot ma." Sungguh aku tidak ingin ini semua.
"Tidak apa-apa mama hanya ingin menjadi orangtua yang baik untuk kamu. Ayo kamu pasti belum makan." Mama mulai membuka piring untukku. "Mau makan sama apa?" Aku menoleh peda Devan. Dia masih berdiri di dekat sofa. Sepertinya dia masih enggan bertemu mama.
"Kamu makan saja, mama akan bicara sama Devan." Aku mengangguk, mama pergi mendekat ke arah Devan, tapi Devan malah menghindar masuk ke dalam kamar. Ya ampun, kenapa sifat Devan malah seperti anak kecil sih?
Mama mengikuti Devan ke kamar, beberapa saat mereka belum keluar juga, mungkin sedang berbicara sesuatu yang lain. Aku menghentikan makan ku. Sedikit penasaran dengan apa yang di bicarakan ibu dan anak itu.
Pintu kamar sedikit terbuka, ku lihat mama menangis dan terduduk di lantai. Suaranya terdengar menyayat. Kasihan. Devan menatap ke arah luar jendela. Seperti tidak peduli pada mama yang terus melantai sambil menangis.
"Dev. Mama kenapa di lantai?" tanyaku sambil menarik tangan mama untuk bangun.
Mereka hanya diam. Hanya mama yang sesegukan menangis tertahan.
"Ma, Dev!" mencari jawaban tapi mereka masih diam.
"Ma, pulanglah. Anye harus istirahat!" titah Devan masih bergeming di tempatnya dengan tangan menopang pada sisi jendela.
Apa Devan mengusir mama?
"Anye kamu istirahat ya. Mama akan jenguk kamu lagi besok!" ucap Mama mengelus pipiku, aku hanya mengangguk. Lebih baik aku tidak membuat ulah. Suasana hati Devan sedang tidak baik.
Mama pergi. Aku mendekat ke arah Devan, raut wajahnya tidak aku suka sama sekali. Memeluk Devan dari belakang. Punggungnya hangat sekali. Ku rasakan dada Devan mengembang lalu kempis, suara nafasnya terdengar kasar.
"Dev, aku mau tidur. Temani!" cicitku. Devan berbalik dan tersenyum, mengacak rambutku lalu menarikku ke atas tempat tidur.
Aku bersandar di dadanya yang bidang.
"Dev, mama kenapa di lantai tadi?" bertanya, berharap tahu apa yang mereka bicarakan tadi.
"Tidak apa-apa, mama sendiri yang ingin melantai tadi. Jangan di fikirkan." ujarnya sambil mengelus rambutku.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyaku lagi. "Apa ini masih soal kemarin itu?"
Diam.
Hening.
"Dev, bisakah kamu maafkan mama? Aku kangen pelukan mama Linda, tapi sekarang aku tidak bisa ketemu sama beliau, bisakah kamu berbagi sayang mama untuk aku?" Devan terdiam menghentikan laju tangannya. "Aku gak punya orangtua lagi. Hanya mama Linda, dan papa Yudhistira, sekarang aku juga punya mama Mauren dan papa, tapi aku merasa aku cuma sendiri."
"Ada aku!" ketusnya.
"Kamu itu suamiku."
"Aku juga bisa jadi ibumu dan ayahmu!" tetap ketus.
"Kasih sayang orangtua pada anaknya itu beda sama kasih sayang suami pada istrinya."
"Ya jangan di bedakan!" Aduh suamiku ini. Bagaimana aku harus bicara?
"Dev! Aku cuma ingin merasakan kasih sayang dari mama apa salah? Mama kan sudah minta maaf. Aku saja sudah maafkan mama, masa kamu tidak?!" tanyaku. Tetap diam.
"Dev, kalau kamu terus memusuhi mama, bagaimana anak kita akan dekat dengan neneknya nanti? Dia pasti iri kalau melihat teman-temannya dapat kasih sayang dari neneknya. Yang aku dengar, kasih sayang nenek pada cucu lebih besar dari kasih sayangnya pada anak...eh..." aku terdiam, berfikir. "...aku benar tidak ya? Dulu Nanda bilangnya gimana sih? Jadi bingung!" kepala ku mendadak gatal, karena memikirkan perkataan Nanda dulu sewaktu kami masih sekolah. Dia bilang neneknya lebih protektif pada Nanda daripada kepada ayahnya dulu.
Tiba-tiba Devan menyburkan tawa. Renyah sekali.
"Kamu itu lucu!" ucap Devan mencubit pipiku. Sakit. Tapi aku senang karena Devan sudah tertawa kembali.
"Oke, jadi intinya?"
Lampu hijau. Yes!!
"Aku mau kamu maafin mama. Aku mau dekat dengan mama, aku mau kasih sayang mama. Aku mau jadi anak mama. Boleh?" pintaku sambil menyeringai.
"Oke! Tapi kalau mama berlaku menyebalkan lagi jangan harap aku akan maafin mama. Biarkan saja kalau aku jadi anak durhaka. Aku cuma ingin istri dan anakku tidak susah, tidak sedih, tidak lelah." aku mengangguk. Menyodorkan jari kelingkingku padanya.
"Janji, aku akan lapor jika mama mulai menyebalkan!" Devan menyambut jari kelingkingku, kami seperti anak TK. saling menautkan jari dan tersenyum dengan kekehan.
"Dev."
"Hem?"
"Yuk!"
"Kemana?"
"Gak mau nengokin baby gitu?"
"Memang boleh?" Devan langsung terbangun. Otomatis membuatku terdorong.
"Kata dokter sih boleh." Devan menyeringai hingga giginya terlihat. Aku tahu dia sudah menahan diri selama dua malam ini. "Tapi tidak jadi, aku mau tidur saja!" seketika wajahnya berubah cemberut. Aku berbalik menarik selimut hingga ke dadaku. Menahan tawa melihat wajahnya yang lucu tadi.
"Dasar PHP!" berteriak sambil menyusupkan satu tangannya ke dalam bajuku. Dagunya menggelitik belakang leherku. Aku terkikik geli.
"Ampun! Ampuni aku Dev." aku bersuara tapi malah terdengar mendesah menurutku. Tangannya terus nakal bermain di dadaku. Itu adalah area yang membuatku cepat bernafsu.
"Tadi menawari kan?" bisiknya. "Jadi aku terima tawaranmu!" Menjilat dan menggigit telingaku. Darahku berdesir, rasanya panas, gerah.
Devan membalikkan tubuhku, melucuti semua. Aku hanya diam, pasrah, menerima semua perlakuan Devan. Dia mencium, menggigit, menj*lat semua yang ia mau. Meny*su seperti bayi kehausan, dengan satu tangan yang mulai mengobrak-abrik isi celana dalam ku.
Dengan pelan dan penuh perasaan dia membuat ku bahagia lahir batin.
*
*
*
Telat up karena author merasa bosan, buntu, dan butuh penyegaran, jadi sedari kemarin cuma berbaring sambil membaca komik 🤭🤭🤭. Maafin yak.
Jangan lupa dukungan buat DEVANYE ya. 🙏🏻