
Pagi menjelang. Gio terbangun lebih dulu dari pada Tiara. Dilihatnya, Tiara masih tertidur dengan pulas. Bawah matanya sedikit bengkak, akibat menangis semalam, hidungnya masih merah terlihat menggemaskan. Betapa wanita ini merindukan sosok sang kakak yang seharusnya bisa menggantikan peranan sang ayah.
Gio mendekat, menaikkan selimut yang Tiara pakai lalu mencium kening Tiara singkat. Tiara bergeming di tempatnya saking lelah, tak sadar dengan perlakuan Gio terhadapnya.
Gio bangkit, merenggangkan tangannya tinggi-tinggi lalu pergi ke kamar mandi, mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu pergi ke dapur.
Gio berhenti sejenak, melihat dari jendela ke arah luar, ternyata hujan gerimis namun belum sampai lebat.
"Selamat pagi, Bu." sapa Gio pada ibu mertua yang sedang memasak. Ibu libur berjualan hari ini.
"Pagi. Tiara mana? Kok jam segini belum bangun?"
Gio selesai minum air hangat. Menjawab pertanyaan ibu, " masih tidur, Bu. Tiara kelelahan sepertinya."
Ibu tersenyum senang, tapi Gio tidak mengerti akan senyum ibu itu.
"Mau makanan yang lain dulu?" tawar ibu, mengambilkan pisang yang telah menghangat di atas sebuah piring.
Gio mengangguk. Tidak biasa makan makanan lain sebelum sarapan, tapi tidak enak juga jika menolak. Akhirnya mengambil satu pisang goreng untuk dimakan.
"Bu, Tiara biasanya sarapan apa?" tanya Gio.
"Ini ibu sedang masak nasi goreng. Tidak apa-apa ya, ibu masak yang seperti ini. Nak Gio suka makanan apa? Biar ibu bisa sesuaikan," ucap ibu.
"Saya apa saja, Bu. Soal makan tidak rewel. Hanya menghindari santan dan terlalu pedas saja." ibu mengangguk lalu menyelesaikan nasi gorengnya yang hampir matang merata.
Gio membuat secangkir kopi dan segelas susu, dia simpan di atas nampan lalu menunggu masakan ibu selesai.
"Aku akan bawa sarapan ini ke kamar. Tidak apa-apa, kan Bu?" tanya Gio hati-hati. Ibu tersenyum seraya mengangguk. Hati ibu sangat senang.
"Iya bawa saja. Tidak apa-apa." ucap Ibu. Gio segera berlalu ke arah kamarnya. Ibu tersenyum senang. Tiara beruntung mendapat kan Gio sebagai suami. Semoga perlakuan Gio bukan hanya sementara.
Gio melihat Tiara yang masih saja tertidur. Gio mendekat, menyimpan nampan di atas nakas dan duduk di tepi ranjang. Setelah itu membangunkan Tiara dengan kecupan mesra di bibir beberapa kali.
Merasa terganggu akhirnya Tiara membuka mata, lalu terlonjak kaget. Bangun sambil memeluk selimutnya.
"Kau sedang apa disini?" seru Tiara sambil menjauh. Bingung dengan keberadaan Gio.
Gio juga ikut bingung dengan kebingungan Tiara. Eh tuh kan malah othor juga ikut bingung kalimatnya, kenapa membingungkan begini, para redaers ikut bingung juga gak sih? 🙄🙄🙄
Aaaahhh. Sudah lah!
"Pergi G, sebelum Ibu lihat. Kurang ajar kau, kenapa masuk kamarku sembarangan!" Akhirnya Gio sadar dengan kebingungan Tiara.
Gio tertawa membuat Tiara mendelik tajam.
"Pelankan suaramu. Nanti ibu dengar!" Tiara meradang.
Gio masih tertawa, satu tangannya berada di pinggang sedangkan satu tangan yang lain mengusap kepalanya yang tiba-tiba berdenyut dengan kelakuan istrinya ini.
Gio berhenti tertawa, lalu merangkak naik ke atas kasur. Tiara takut, refleks dirinya mundur.
"Memangnya kenapa kalau ibu dengar?"
"Memangnya kenapa kalau aku macam-macam?" tanya Gio dia menarik tangan Tiara membuat Tiara berseru, tapi masih menguasai suaranya agar tidak ketahuan ibu.
Kini Tiara ada di bawah tubuh Gio.
"Kau amnesia atau apa? Lihat ini tandanya apa?" Gio menarik tangan Tiara yang terdapat cincin kawin. Tiara terdiam lalu tersenyum malu. Gio menatap Tiara dengan kesal.
"Kita sudah menikah ya? Hhe... aku lupa!" ucap Tiara dengan tawa untuk menutupi rasa malunya. Gio memutar bola mata malas.
Keterlaluan! Malam pertama tidak terjadi apa-apa dan sekarang dia lupa jika aku adalah suaminya!
"G. Turun dari atasku! Kau berat!" pinta Tiara.
"Tidak mau!"
"Kau berat Gio!" ucap Tiara dengan penekanan nada pada nama suaminya.
"Tidak mau! Kau harus aku beri hukuman karena melupakan pernikahan kita!" ucap Gio. Tanpa menghiraukan penolakan istrinya Gio segera menyambar bibir Tiara dan memaksa melesakkan lidahnya disana.
Tiara membulatkan matanya. Tak menyangka dengan perlakuan suaminya. Di pukulnya dada Gio dengan keras. Tapi pria itu malah semakin erat memeluk tubuh Tiara hingga tangan Tiara tidak bisa lagi bergerak diantara dada mereka.
Sejenak Gio melepaskan pagutan bibir mereka. Tiara menarik nafas dalam-dalam menggantikan udara yang masuk ke dalam paru-parunya.
"G, aku belum gosok gigi!" protes Tiara. Sungguh malu sekali pasti aroma mulutnya tidak enak.
"Memangnya kenapa? Kau bau?" tanya Gio. Tiara memalingkan wajahnya ke arah lain. Merah padam wajah itu. Dia jadi berpikir bagaimana semalam dia tidur, pasti tidur nya tidak cantik sama sekali. Apakah Gio terkena tendangannya?
Gio menarik dagu Tiara, kembali mem*gut bibir itu dengan lembut tidak seperti tadi. Tiara terhanyut dengan perlakuan Gio, tak ada lagi perlawanan hingga tak sadar mereka.... eng-ing-eng....
Monggo lanjutkan sendiri seperti apa maunya. Othor gak mau dapat surat cinta dari editor dan disuruh revisi. 😁😁
Hujan telah mengguyur bumi dari dua puluh menit yang lalu, kini semakin deras. Udara dingin seketika terasa membuat sepasang pengantin baru itu saling mendekatkan diri. Mencoba mencari kehangatan dari kulit yang tanpa balutan busana sama sekali. Gio menarik selimut hingga ke leher, menutupi tubuh polos istrinya, sesekali mengganggu dan menggoda sang istri.
Tiara malu bukan main. Dia kira peraduan tubuh mereka akan terjadi melalui proses setidaknya beberapa hari untuk membiasakan diri satu sama lain. Eh... ternyata... Proses percetakan anak terjadi lebih cepat dari yang dia duga.
Akh, malu bukan kepalang. Tiara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sedangkan Gio memeluk Tiara dari belakang dengan senyuman lebar di bibirnya. Puas hati, merasa menang karena telah menciptakan lukisan di beberapa tempat di kulit tubuh istrinya.
Lelah yang mendera membuat mereka kembali terlelap dan melupakan sarapan yang kini bersedih karena tidak disentuh sama sekali.
.
.
.
.
.
Adegan cangkul mencangkul terpaksa di skip man teman, hiks... 🤧🙏
bulan kemarin othor di suruh revisi 4 bab. Dan sekarang kapok, selain itu menghindari otak oleng karena kepanasan 🤣🤣