
Kedua pengganggu itu terus saja berkeliaran di hadapanku. Tidak Devan. Tidak Alex. Mereka seperti anak TK yang sedang mencari perhatian yang lain. Membuatku pusing saja! Setiap hari ada saja yang mereka lakukan. Fiuhhh.... Ampun... Haruskah aku menghilang lagi?! Tapi sayangnya tugas yang di berikan ayah padaku masih belum bisa aku selesaikan!
Hari ini aku ada janji dengan seseorang. Jam makan siang nanti tepatnya. Biasalah masalah perusahaan. Aku rasa aku mulai bosan dengan urusan kantor dan berkas-berkas. Kegiatan yang sama, hanya itu-itu saja. Aku rindu masa SMA ku, paling tidak aku ingin merasakan bangku kuliah yang normal.
Selama ini aku mengenyam pendidikanku di rumah. Ayah sangat ketat dalam pendidikanku, katanya takut kalau aku akan terbawa suasana negative jika belajar di luar. Aku faham itu. Gaya orang bule lah. Terlalu ekstream menurut ayah, dan juga karena perbedaan bahasa, aku juga termasuk payah dalam bahasa inggris, apalagi bahasa Prancis. Lebih sering lidah keseleo saat bicara. Oke untuk masalah itu aku tidak keberatan.
Aku sangat rindu ketiga sahabatku, bagaimana kabarnya mereka sekarang? Ku buka IG ku, mencari nama Sofia, Nanda, dan Nayara. Satu persatu aku kirimkan pesan, kalau bisa aku ingin bertemu mereka nanti malam.
Satu persatu membalas pesanku. Yang paling ekstrem Sofia. Dia meminta kontak milikku, dia bilang akan telfon untuk memarahiku. Oke lah kali ini aku pasrah. Memang aku yang salah karena tidak memberi kabar selama lima tahun ini.
Edgar dan mama papa nya juga aku larang untuk memberitahu Sofia dan yang lainnya. Aku takut keberadaanku akan terbongkar oleh Devan dulu. Tapi sekarang apa yang harus aku takutkan lagi?
Benar saja. Sofia langsung menelfonku. Telingaku langsung panas mendengar lengkingan suaranya. Ah sudah lah, nasib. Di jelaskan di dalam telfon juga jika debat dengan Sofia aku pasti kalah!
...*...
Malam tiba, kami bertemu di sebuah kafe langganan kami dulu. Memori masa SMA kini terulang kembali. Bedanya statusku yang kini seorang ibu. Maafkan mama Daniel. Mama izin bersenang-senang sekarang! Hehe.
Seperti biasa. Kami grup riweuh, sangat memalukan kalau sedang bertemu, saling berteriak dan berpelukan bagai Telletubbies. Terutama Nayara, suaranya yang melengking membuat seisi kafe menatap ke arah kami. Maklum lama tidak bertemu.
Kami makan malam dengan hidangan sederhana tapi rasanya sangat nikmat mungkin karena suasana yang berbeda. Sambil berbincang dan juga terkadang aku harus menutup telingaku atau mengusap lenganku karena aku di aniaya oleh Nayara dan Sofia. Nanda tanya tertawa melihat aku yang menatapnya meminta batuan.
"Jadi? Yang di katakan bang Ed tadi itu bener? Kamu selama ini di Prancis?" taya Sofia, Nanda dan Nayara menatapku juga penasaran dengan jawabanku. Aku hanya tersenyum.
"Iiihh mauuuu..." Nayara menggoyang-goyang lenganku, mukanya terlihat lucu. "Bisa lihat Eiffel tiap hari. Aaahhhh!" dia berseru sendiri sambil menangkupkan kedua telapak tangan di pipinya. Kami tiga lainnya hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak yang satu ini.
"Liburan musim dingin nanti aku bawa kalian kesana. Aku bawa kalian berseluncur ke gunung dan kita menginap ke vila pribadi ayah." ucapku bangga.
"Cih sombong!" ujar Sofia
"Ya harus sombong lah. Kan secara sekarang Anye ini sudah berubah menjadi nona Laura! Anak pengusaha terkaya di negeri ini dan negerinya!" Nanda berkoar dengan nada menggoda ku.
"Hehh sudahlah. Aku suka dengan kekayaan, tapi aku lebih suka berkumpul dengan kalian." ucapku. Ketiganya terkekeh.
"Eh cerita dong, bukannya ayah kamu sudah meninggal? Gimana bisa hidup lagi? Dan gimana bisa kamu ketemu sama ayah kamu?" Tanya Sofia.
"Oke, ceritanya panjang. Aku butuh tambahan kopi kalau kalian ingin dengar cerita." Ucapku, Nanda memanggil seorang pelayan dan meminta dua gelas kopi, dan dua gelas jus untuk kami semua.
Cerita pun di mulai. Mereka mendengarkan. Ekspresi wajah mereka berubah-ubah, dari senang, sedih, dan marah.
"Harusnya dulu aku tampar Devan tiga kali!" ucapnya dengan emosi saat mendengar perlakuan Devan hingga aku nekat kabur. Aku mendelik ke arah nya, Nanda dan Nayara juga sama. Sofia terlihat sangat kesal.
"Sudah, tenang. Kita lanjut dengar cerita Anye!" Nanda menenangkan Sofia. Aku lanjut cerita hingga akhirnya aku ada disini duduk dengan mereka. Hanya saja minus tidak aku ceritakan soal aku akan mengakuisisi beberapa perusahaan disini. Itu urusan lain yang mereka tidak perlu tahu. Yang mereka tahu aku hanya akan membuat Devan dan mamanya bangkrut.
"Aku senang akhirnya kamu bisa ketemu ayah kamu Nye, dan juga memberi pelajaran pada Nenek Sihir itu!" ucap Sofia menggebu-gebu.
"Ya, aku beruntung karena ternyata selama ini di kelilingi oleh orang-orang kiriman ayah." aku mengambil cangkir kopi ku dan menyesapnya. Hangat. Nikmat.
"Gimana rasanya jadi orang kaya?" tanya Nayara.
"Enak lah! Apa-apa tinggal tunjuk! Tapi aku gak punya teman baik seperti kalian. Mereka berteman dengan ku karena berhubungan dengan pekerjaan, atau sengaja ingin cari muka pada ayahku, supaya ayahnya bisa membujuk ayah untuk menjalin kerjasama, atas dasar pertemanan kami." ucapku malas.
"Dan Daniel? Kapan keponakan kami akan datang kesini?" tanya Nayara antusias. Begitu juga yang lainnya. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.
"Tidak tahu, anak itu susah buat di atur." ucapku.
"Ya lihat saja. Emak bapaknya kayak gini, ya anaknya kayak gitu!" Sofia tertawa terkekeh menunjuk aku. Apa maksudnya dia? Dia berhenti tertawa saat aku mendelik ke arahnya. "Hehe Sorry!" dua jarinya terangkat ke atas sambil tersenyum lebar di kedua pipinya.
Meski adakalanya mereka menyebalkan tapi aku senang berteman dengan mereka.
...***...
Aku tersenyum puas. Kepemilikan Aditama group kini berganti nama menjadi milikku. Aku harus berterima kasih pada ayah dan juga pada yang lainnya yang sudah membesarkan nama perusahaan ini, aku hanya tinggal menikmati hasilnya sekarang.
Samuel menyebalkan, dia bilang ingin menyaksikan hancurnya Devan, tapi orang itu malah tidak ada disini. Ya sudahlah. Proyek bernilai jutaan Euro lebih penting untuk di tangani daripada perusahaan ini.
Ana berdiri di depanku. Aku menyerahkan amplop coklat padanya.
"Suruh kurir untuk mengantarkan ini ke rumah kediaman Aditama!"
"Baik nona!"
Ana pergi keluar dari kantorku. Aku tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka. Maafkan aku papa Stevan. Aku minta maaf Devan!
...***...
Terdengar suara gaduh di luar sana. Aku tidak tahu apa itu, tapi kenapa sekurity tidak langsung tangani?
Sedetik kemudian pintu terbuka. Tidak biasanya orang yang masuk tidak mengetuk pintu. Lalu kemudian setelah aku mendongakan wajahku aku tahu siapa orang yang masuk ke dalam ruanganku. Dia berjalan dengan cepat ke arahku, dan tanpa aku duga setelah dekat denganku dia melayangkan telapak tangannya hingga menyentuh pipi kiriku.
Plakkk!
Rasanya perih! Ini tidak aku duga sama sekali. Untuk ke sekian kalinya aku di tampar lagi! Ana yang baru saja masuk ke dalam terkejut melihat aku yang di tampar oleh wanita ini.
"Dasar Jal*ng kamu! Setelah kamu selingkuh dengan pria lain sekarang kamu gunakan kekuasaan kamu untuk hancurkan usaha kami? Dan aku juga tahu kalau kamu yang kirim semua foto itu pada suamiku! Dasar wanita rendah!" teriaknya. Ana maju untuk mengusir wanita ini, tapi dia tetap bersikukuh untuk bertahan.
Aku berdiri dari dudukku. Menghempaskan nafasku dengan kasar.
"Lalu kenapa kalau aku gunakan kekuasaanku untuk hancurkan kalian? Tidak salah kan? Yang berkuasa yang menang!" ucapku sambil berjalan ke arah nya. Rasanya sangat geram sekali.
"Dasar kamu wanita sialan. Kamu sudah bikin kami bangkrut. Apa kamu belum puas sudah ambil perusahaan keluargaku, dan sekarang kamu juga berniat untuk menjungkirbalikkan usaha ku yang lain?" Dia berteriak dengan geram lalu lagi-lagi mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dia melayangkan tangan itu ke arah pipiku, tapi ku tepis, dan ku dorong tubuhnya hingga dia tersungkur di lantai. Jangan harap dia akan bisa menyentuhku lagi!
"Wanita murahan! Berani kamu melawan aku!!" teriaknya lalu bangkit dari sana.
"Kenapa tidak berani? Beginikah kelakuan nyonya Aditama pada orang lain? Tidak beradab dan tidak tahu sopan santun! Masuk ke dalam kantor orang lain dan tiba-tiba tanpa sebab menamparku? Upsss aku lupa. Tepatnya mantan nyonya Aditama! Benar kan?!" tanyaku dengan sinis sambil menutupi mulutku yang tertawa kecil.
"Kamu memang pantas di tampar, bahkan harusnya di beri pelajaran! Semua ini jebakan kamu kan? Kamu kan yang membuat aku bangkrut dan juga di ceraikan Stevan?!!" teriaknya tidak terima.
"Kenapa jadi salahkan aku? Salahkan diri Anda sendiri karena sembarangan memilih berinvestasi pada hal yang tidak jelas asal usulnya! Dan untuk perceraian Anda, mana aku tahu! Anda yang pastinya lebih tahu apa dan bagaimana kehidupan Anda sampai papa Stevan menceraikan Anda!" ucapku. Dia terlihat semakin geram. Maju dengan cepat dan menggerakkan tangannya.
Plakk!