
Akhirnya Tiara tak bisa melakukan apa-apa lagi. Gio sangat pintar bicara dengan ibu, hingga ibu hanya setuju dan tersenyum saat pria itu berbicara.
Ah... Kalau saja ibu tahu bagaimana nasib anaknya ini. Dia harus menjadi tawanan selama enam sampai tujuh tahun ke depan. Menghadapi bos dengan sifat seperti angin cukup sulit baginya. Kadang angin itu sangat pelan hingga membuat nyaman, tapi kadang angin itu ribut membuat hidup orang di sekitarnya berantakan. Dan sekarang pun dia seperti itu, tak nampak berbahaya, tapi membelenggu!
"Saya pamit dulu, Bu. Sudah malam, besok saya berkunjung lagi. Semoga untuk sementara ibu betah disini!" ucap Gio lalu bangkit dari duduknya. Ibu juga ikut bangkit sementara Tiara menatap malas pada bosnya ini yang hanya tersenyum padanya. Senyum mengerikan yang sama sekali tak ingin dia lihat.
"Ibu sangat betah tinggal disini, Lumayan nyaman." tutur ibu. "Terima kasih atas bantuan yang di berikan pak Gio. Bapak sudah sangat baik pada kami. Dengan adanya program bantuan ini, kami sangat terbantu! Perusahaan Bapak memang sangat perhatian dengan karyawan, menyejahterakan karyawannya. Semoga perusahaan semakin maju ya, Pak. Dan bapak sehat selalu!" Doa ibu untuk Gio dan juga perusahaan.
Cih program darimana? Program membelenggu anak orang? Tiara mendelik sebal. Bisa sekali dia bilang kalau ini adalah program! Pembohong! Penjahat!
Tiara mengeratkan kepalan tangannya, dia sangat sebal dengan pria ini, ingin sekali mengacak-acak wajahnya.
"Tiara antarkan Nak Gio keluar. Ayo!" titah ibu seraya menggerakkan tangannya.
Tiara membuka mulutnya lebar. Tadi saja ibu masih menyebutnya Pak dan sekarang menyebutnya Nak? Ah..., Ibu sudah kena bujuk rayu pria itu!
Dengan malas gadis itu bangkit dan mengantarkan Gio ke teras. Rumah yang di sewa Gio hingga tiga bulan ke depan ini juga cukup nyaman sebenarnya meski ukuran dengan rumahnya lebih kecil, tapi untuk hanya tinggal berdua cukup lah.
"Saya pulang y. Semoga kamu betah tinggal disini." tuturnya.
Hanya dua tahun, tidak akan cukup baginya. Tujuh tahun? Lumayan lah! Kenapa tidak genapkan saja sepuluh tahun?!
Gio masuk ke dalam mobilnya lalu pergi dari sana dengan senyum lebar di bibirnya.
"Bos kamu baik juga ya, Ra!" Ibu sedang membereskan dapur, kembali mengukus dagangan ibu yang tadi siang tak laku di jual dan tak habis di makan para pekerja.
"Baik dari mana?" tanya Tiara ketus.
"Jarang loh ada bos yang peduli pada karyawannya,sampai di bangunkan rumah lagi. Dan ibu ska dengan gambar rumahnya!" ibu menambahkan.
Tiara hanya tersenyum meringis. Sepertinya tak mungkin jika dia mengatakan kebebasannya sudah di kontrak selama tujuh tahun ke depan. Ibu pasti akan sedih dan juga menyesal karena bahagia di atas penderitaan anaknya. Biarlah. Biarkan saja dia yang menanggungnya sendiri. Toh hanya tujuh tahun, tak sebanding dengan ibu yang berjuang sendirian selama ini.
"Ya, sudah kamu istirahat sja dulu. Ibu sebentar lagi juga akan istirahat, bereskan ini dulu sedikit lagi." ucap ibu.
Tiara menganguk, dia memang cukup lelah hari ini. Bukan lelah fisik, tapi lelah hati dan fikiran!