DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 157



"Honeeeyy?!"


"Eh.. Hehe... Ya Honey?" Tatapannya menakutkan!


"Benar yang dia bilang?" tanya Devan menyelidik.


"Hanya... tiga kali!" jawabku jujur. "Itupun saat berlibur di pulau..."


Takk!


Dia menyentil keningku keras. "Sakiiit!" aku mengelus keningku yang baru saja di sentilnya. Panas! Dasar kejam!


"Kamu pasti lagi mikir aku kejam kan?" aku hanya diam.


"Awas saja, itu baru hukuman awal. Nanti setelah aku sembuh total, aku akan kasih kamu hukuman yang sebenarnya!"


Glek...


Sepertinya aku tahu jenis hukuman apa yang dia maksud. Dia pasti akan mengikat tanganku di atas ranjang dan menyiksaku seperti dulu. Membuat aku tersiksa karena perlakuannya sampai aku memohon untuk di tuntaskan. Aaaaahhh... aduh membayangkannya saja membuat aku merasa panas sekarang!


Axel menangis. Gara-gara Devan aku sampai lupa kalau aku harus menyusui anak ku ini. Segera aku mengeluarkan sumber nutrisi untuk Axel, dia minum dengan lahap.


Devan menarikku hingga aku bersandar di dadanya. Dia mencium pucuk kepalaku dengan sayang. Rasanya menyenangkan. Hangat.


Grep.


Aku menoleh pada Devan yang sedang menutup kedua matanya.


"Dev! Lepaskan!" ucapku sambil menepuk keras tangannya dari dadaku yang terbebas. Bukannya melepaskan dia malah memainkan jari-jari tangannya pada tonjolan disana hingga aku merasakan bajuku basah akibat ASI yang terbuang percuma.


"Gak mau! Enak saja, Axel bebas menikmati kenapa aku enggak!" Ya ampun, apakah dia cemburu pada anaknya sendiri?


"Devan, lihat baju aku basah. Airnya terus mengucur!" protesku. Devan mencebik saat aku membuang tangannya. Tapi tak lama dia kembali lagi menyimpan tangannya disana.


"Devaaan!" ucapku mulai kesal, mencubit lengannya yang masih betah disana.


"Dokter bilang aku harus sering berlatih menggerakkan tanganku supaya cepat kembali normal. Kamu gak mau gitu bantu aku supaya cepat kembali sembuh seperti dulu?" tanyanya sambil menyeringai.


"Ini mah modus, bukannya latihan!" ucapku sebal.


"Apa bedanya? Yang penting tanganku berlatih gerak kan!!" ucapnya lagi.


Haaah ya ampun! Masih sakit saja dia sudah seperti ini. Bagaimana kalau dia sembuh nanti?


Tahan Anye. Ya Tuhan, berikan hambamu kekuatan untuk menahan godaan ini!


...★★★...


Keesokan harinya mereka datang lagi ke rumah sakit. Devan sedang menjalani terapi bersama dokter. Kali ini aku membawa mereka ke ruanganku. Daniel sedang sekolah. Ah iya, tadi pagi Daniel telfon. Dia bilang merasa sebal karena Sofia terus saja ingin menempel dengannya. Maklum, Sofia anak terakhir yang mendambakan seorang adik.


Sofia duduk sambil menunduk dengan wajah sedihnya.


"Sudahlah. Lain kali dekati dia baik-baik. Jangan memaksakan kalau dia tidak mau!" ucap Nanda.


"Kenapa dia?" tanyaku. Aku meletakkan Axel ke dalam boks bayi, dia baru saja tertidur setelah menyusu.


"Dia di tolak lagi sama Daniel!" ucap Nayara.


"Bahkan dia di usir oleh anak nakal itu!" Sambung Samuel.


"Anak yang berani! Persis seperti ibunya!" Kak Mel tertawa, Sofia mendelik ke arah kak Mel dan mencebik sebal. Aku ikut tertawa, merasa lucu saat membayangkan wajah Sofia yang bete.


"Keterlaluan! Gue di tolak anak kecil!" Sofia memberengut kesal meremas ujung dressnya.


"Daniel memang tidak mudah di dekati! Dia terbiasa sendiri sedari kecil. Bahkan teman di sekolahnya saja hanya sedikit." terang ku.


"Kalau gue punya anak perempuan, kira-kira Daniel mau gak ya gue jodohin?" Harap Sofia menatapku.


"Lagian Sof. Gimana mau ada anak kalau gak ada bapaknya? Cari dulu dong buat calon bapaknya baru bikin anaknya!" seru Nayara, kami semua tertawa melihat ekspresi Sofia yang semakin kelam.


"Huhh, mentang-mentang udah punya tunangan. Sombong!" decih Sofia. Aku dengar beberapa bulan yang lalu Sofia memutuskan hubungannya dengan Ariel, karena ternyata Ariel menjalani hubungan dengan Luna di belakangnya.


"Sabar, siapa tahu nanti ketemu sama orang bule disini!" ucap Nayara mengelus punggung Sofia.


Sudah sejak lama sekali kami tidak berkumpul seperti ini. Rasanya ingin sekali kembali ke masa lalu dimana kami masih sering bersama-sama.


"Oh iya. Kakak jadi lupa!" Kak Mel mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. sebuah kertas berwarna soft pink dengan pita berwarna ungu.


"Apa ini?" tanyaku. Mataku membelalak seketika melihat dua nama yang tertulis disana. Satu bulan lagi? Aku menutup mulutku yang terbuka.


"Serius?" aku menatap kak Mel dan Alex bergantian yang duduk bersandingan di depanku. Alex merangkul bahu kak Melati.


"Tentu saja!" ucap Alex.


"Bagaimana bisa?" tanyaku tetap tak percaya.


"Tentu saja bisa!" jawab Kak Mel. Ah, mereka kompak sekali.


"Aku berusaha move on dari seseorang." sambung kak Mel lagi.


"Aku juga! Ternyata rasa saling menghargai dan mencintai lebih indah daripada rasa penolakan dan susah move on!" Alex menambahkan, yang di tanggapi kak Mel dengan anggukan kepala. Rasanya mereka sedang menyindir seseorang disini!


Ya sudahlah.


Aku sangat bersyukur dengan keadaan mereka sekarang! Bagaimanapun kisah mereka yang membuat aku masih penasaran, aku bahagia akhirnya kak Mel dan Alex akan menjemput kebahagiaannya bersama dengan orang yang mereka cintai.


"Kakak sengaja membuat dua undangan khusus buat kamu dan Ayah Surya, lebih cepat dari yang lainnya setelah Samuel bilang dia dan yang lainnya akan datang ke Paris, sekalian kami juga ingin foto prawedding disini." ucap Kak Mel.


"Trimakasih kak. Semoga saja Devan dan juga Axel sudah di perbolehkan untuk pergi jauh." Kak Mel terlihat sedikit kecewa di raut mukanya.


"Tapi yang pasti aku akan berusaha untuk datang meski sendiri... ah tidak. Tentunya bersama ayah!" sambungku lagi. Kak Mel tersenyum dan mengangguk.


"Kakak mengerti. Trimakasih."


"Haaaah... Kalau saja Ariel masih ada aku juga pasti akan ajak dia untuk foto praweding disini!" Celetuk Sofia.


"Hei apa kamu belum bisa move on? Lelaki seperti Ariel sudah tidak bisa di harapkan!" ucap Samuel yang mendapat anggukan kepala dari kami semua.


"Lagipula, bang Ed juga gak terlalu suka sama si Ariel sejak dulu. Paling tidak cari lah yang badannya berisi, jangan yang mirip seperti lidi!" ucap Edgar. Sofia mencebik kesal.


"Ih bang Ed, mau kurus mau gemuk, aku kan tahunya dia dulu setia! Menyenangkan. Bukan seperti bang Ed yang menyebal..."


Tok. Tok.


Suara pintu terbuka. Kami semua menoleh ke arah pintu, termasuk Sofia yang terpotong pembicaraannya.


Hanson datang mendekat ke arah ku dan memberikan selembar laporan dari sekolah Daniel.


Ku lihat pandangan Sofia yang tidak teralih dari pria tinggi itu. Apalagi saat Hanson membuka kacamata hitamnya. Mata birunya terlihat indah. Mulut Sofia terbuka, menganga seperti seorang yang bod*h, lalu sudut bibirnya tertarik ke samping dengan pandangan mengagumi.


"Ini panggilan rapat orangtua untuk besok, Madam!" ucap Hanson.


"Iya. Trimakasih. Mana Daniel? Apa dia disini?" tanyaku yang tak melihat Daniel.


"Tuan muda meminta kami untuk pulang ke mansion kedua, madam!" Huhh anak itu, demi menghindari Sofia dia pulang ke mansion ayah yang lain! Ah sudahlah!


Hanson kemudian pamit pada kami semua. Sofia masih melongo menatap kepergian Hanson sampai dia menghilang di balik pintu.


"Dia tampan kan?" tanya Nanda pada Sofia. Sofia tersadar dan kembali ke tengah-tengah kami semua.


"Ya... Beda tipislah sama Ariel!" ucapnya tidak mengakui. Padahal jauh sekali perbedaan antara Ariel dan Hanson. Meski Ariel juga tampan dengan hidung mancung dan alis tebal. Tapi jika di bandingkan dengan Hanson tentu kalah jauh. Hanson, selain punya wajah tampan, cool, dengan rahang tegas, dia juga punya body lebih tinggi, kekar nan seksi di balik setelan jasnya.


Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja aku tahu. Aku pernah beberapa kali melihat Daniel berenang bersama Matt dan Hanson. Sebagai seorang wanita meski sudah punya suami, tapi aku juga tidak mau melewatkan pemandangan indah itu kan? Hehe... Sssttt jangan sampai Devan tahu, bisa gawat nanti 🤫🤫🤫.