
Semenjak kedatangan Ridwan dua bulan yang lalu, Tiara tak pernah melihat pria itu lagi. Hatinya selalu was-was. Takut dan juga khawatir sebenarnya. Apalagi dia tak tahu dengan nomor yang bisa dia hubungi. Entah apa yang sedang terjadi dan dialami kakaknya dia hanya bisa berdoa semoga sang kakak bahagia dan terhindar dari masalah.
"Ra!" panggil Cantik.
"Ara!" sekali lagi memanggil seraya berteriak kesal. Tiara terkejut, refleks menoleh pada Cantik. Hampir saja minuman yang dia pegang jatuh.
"Aku panggil sedari tadi kamu gak dengar?" tanya Cantik dengan kesal.
"Eh,, maaf-maaf. Apa? Kamu mau tanya apa?" tanya Tiara dengan senyum khasnya.
"Aku tanya, Nanti sore kamu bisa gak temani aku ke mall?" tanya Cantik dengan kesal. Cantik membenarkan letak kacamata yang baru dia beli beberapa hari setela insiden tempo hari dengan Maria di halte bis. Meskipun dia tidak bermasalah dengan penglihatannya, tapi dia tetap memakai kacamata sebagai penyamaran dirinya.
"Ke mall? Mau apa?" tanya Tiara.
Cantik menepuk dahinya, "Ke mall mau apa? Mau beli ikan! Ya belanja lah!" tutur Cantik dengan gemas. "Aku butuh sepatu baru, Ra. Lihat ini sepatuku sudah tidak nyaman di pakai." Cantik mengangkat satu kakinya memerlihatkan sepatu miliknya.
"Belum rusak!" ucap Tiara.
Cantik mencubit lengan Tiara dengan gemas.
"Awww... sakit!" seru Tiara terpekik.
"Memang belum rusak, tapi ini dalamnya sudah tidak enak di pakai. Lagipula kan kita pulang jam empat nanti. Sedikit hiburan ke mall tidak apa-apa lah. Lagipula semenjak kita kenal sedari dulu, kita gak pernah ke mall. Ayo lah, Ara. Temani aku ya!" Mohon Cantik sambil menggoyangkan tangan Tiara, Tiara yang sedang menyesap minumannya hampir saja tersedak karena rengekan temannya ini.
"Kau ini aku hampir tersedak!" Tiara memarahi Cantik, Cantik hanya tersenyum meringis memperlihatkan gigi gingsulnya yang membuatnya terlihat manis.
"Aku tidak bisa, bagaimana kalau ibu marah karena aku pulang telat?"
"Kau ini menyebalkan sekali. Ayolah sekali-kali tidak apa-apa, nanti aku akan telpon ibu untuk meminta izin pada beliau, ya,,, ya...!" Cantik memohon sampai mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Tapi aku..."
"Ibu juga tidak akan apa-apa. Asalkan kau bersamaku bukan dengan yang lainnya." ucap Cantik dengan pedenya. "Aku mohon, Ra. Aku kalau tidak dengan mu dengan siapa lagi?" tanya Cantik dengan nada dan wajah memelas. Tiara selalu tidak tahan dengan wajah itu, imut bagai anak kucing yang sedang memohon perhatian dari majikannya.
"Kenapa aku selalu terjebak dengan rengekanmu?" tanya Tiara. Cantik hanya tersenyum meringis.
"Karena kau kakakku yang paling cantik dan juga baik, rajin menabung, dan juga tidak sombong, sayangnya masih jomblo!" Cantik tertawa keras, hingga beberapa orang yang duduk di sekitar mereka menatap keduanya.
Tiara merasa malu dengan tingkah teman yang sering mengakui dirinya kakaknya. Padahal usia mereka hanya berbeda dua tahun saja, tapi Cantik terkadang sangat manja pada Tiara. Terkadang kekanakan, terkadang lebih dewasa. Membingungkan!
Oke lah, Tiara anak bungsu, tapi sekarang dia mendadak punya adik dengan sikap konyol seperti ini.
"Aku mohon, aku mohon, aku mohon!" Cantik bersikeras. "Ayolah kakakku tersayang, Kita kan tidak pernah keluar bersama, kita keluar hanya perjalanan ke kantor saja. Pulang, pergi. Aku bosan, nanti sore kita hangout bareng ya. Please!" Cantik masih mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, kelopak matanya berkedip dengan cepat.
"Iya, iya. Tapi kalau aku di marahi ibu, aku tidak mau sendirian!" ucap Tiara pada akhirnya. Kesal tapi juga tidak bisa berkutik jika Cantik sudah seperti ini.
"Yes!! Asiikk!" Cantik berseru, tak peduli dengan tatapan orang yang kemudian menggelengkan kepalanya, sudah biasa melihat tingkah gadis ini yang heboh.
Tiara rasanya malu saat melihat karyawan yang lain menatap pada dirinya dan juga Cantik, dia ingin menutupi wajahnya tapi percuma juga semua orang sudah tahu akan dirinya. Rasanya Tiara ingin punya jurus menghilang untuk terhindar dari tatapan karyawan lainnya. Dasar Cantik, buat malu saja!
*
Sore hari setelah pulang bekerja keduanya langsung menyetop taksi, mereka langsung berangkat menuju mall terbsar di kota ini, yang kebetulan tidak jauh lokasinya dari kantor tempat mereka bekerja.
Hanya butuh waktu empat puluh menit mereka telah sampai, setelah menungggu dan kesal karena macet di jam pulang kerja. Semua orang ingin cepat sampai id rumah, dan juga istirahat.
Tiara dan Cantik masuk ke dalam sana. Mereka langsung masuk ke dalam toko sepatu, mencari apa yang Cantik mau.
"Jangan lama-lama!" hardik Tiara.
"Iya, aku hanya ingin cari sepatu saja gak akan lama!" Cantik kesal, Tiara seperti tidak penah belanjan saja, kan harus memilih dan mencoba!
Bosan menungggu Tiara berdiri dan menyusuri rak sepatu, beberapa di antaranya dia lihat dan dia cek harga, sedikit tidak percaya dengan harga yang tertera di setiap sepatu itu. Ini termasuk mahal untuk ukuran kantongnya, tapi dia maklum sih. Cantik tinggal sendirian, orangtuanya cukup berada, gaji yang di peroleh Cantik juga untuk keperluan pribadi, sesekali memberi pada orang tuanya, itupun terkadang orangtuanya masih memberikan uang jatah bulanan pada Cantik. Terkadang Tiara iri dengan kehidupan Cantik yang jauh dari kata susah, tapi ia juga sadar setap manusia sidah ada garis dan jalannya masing-masing.
"Kau mau beli juga? Biar sekalian aku bayarkan!" seru Cantik yang kini sudah ada di samping Tiara.
"Eh tidak usah. Sepatuku masih nyaman ku pakai." tolak Tiara.
"Oh aku kira kau ingin membeli sepatu juga!" lirik Cantik pada sepatu milik Tiara, dia tahu itu bukan sepatu dengan harga yang biasa, dia pernah melihat merk yang ada di dalam seepatu milik Tiara, harga sepatunya bahkan cukup menguras kantongnya. Ya ... percaya saja dengan pilihan bosnya tidak mungkin jika akan memberikan barang murahan untuk wanita yang dicintainya.
Selesai dengan sepatu, Cantik menarik Tiara masuk ke dalam toko baju. Cantik mengambilkan dua buah kaos dengan gambar yang sama.
"Aku ingin kita punya baju couple!" senyum Cantik mengembang sempurna dengan bahagianya. Dia memberikan kaos itu pada Tiara untuk di coba di badannya. Tiara menempelkan baju itu, dan melihat size yag ada disana. Ya... pas dengan ukuran tubuhnya.
Tiara hanya menurut apa yang Cantik mau, gadis keras kepala itu pasti tidak akan mendengar penolakannya.
Tiara melihat baju couple yang lain di sebuah sepasang manekin, rasanya jadi ingin juga meski dia tidak tahu dengan siapa nanti dia akan pakai baju couple itu.
"Kau mau beli yang itu? Coba aku lihat gambarnya!' Seru Cantik saat Tiara menyentuh baju itu di tangannya.
"Bagus, Ra. Kalian pasti akan cocok jika pakai baju itu, kalian pasti akan serasi jika memakai baju itu." seru Cantik dengan senangnya.
"Benarkah? Kau seperti tahu saja bagaimana rupa pasanganku! Asal kau tahu ya, dia itu punya tompel di pipinya, giginya maju, alisnya tebal seperti Shinchan. Dan dia juga sedikit gendut, perutnya itu.... ah,,, entah lah, aku sedikit sebal jika sudah membayangkan perut buncitnya." ucap Tiara dengan wajah yang di buat kesal.
"Benarkah?" Cantik bertanya tidak percaya. Tiara hanya mengangguk.
"Kau pasti akan terkejut jika melihat dia nanti, makanya aku tidak pernah mengizikannya untuk menjemput, karena aku tidak mau dia jadi bahan olokan satu kantor!" bisik Tiara.
"Aku tidak percaya!" ucap Cantik. Dia lebih tak percaya gads ini bisa menyebutkan Gio dengan sadis seperti itu.
"Tidak percaya, ya sudah!" nanti kapan-kapan aku kenalkan dia pdamu!" ucap Tiara sambil menahan tawa melihat ekspresi Cantik sekarang.
Tiara meminta seorang penjaga toko untuk meminta stok baju yang sama persis, kaos berwarna putih dengan gambar dan tulisan yang sama itu segera penjaga toko carikan. Tiara dan Cantik mengikuti.
Penjaga toko memberikan baju yang sama persis. Tiara melihat baju itu dengan seksama, tak ingin ada yang terlewatkan apalagi cacat di baju itu.
"Size ini terlalu kekecilan Ra. Dia mana muat dengan size ini. Minta dua nomor di atas ini, Mbak!" seru Cantik pada penjaga toko.
Tiara terdiam, Kenapa sepertinya Cantik sangat hapal dengan ukurannya? Padahal dia belum tahu ukuran pria yang di maksud dan juga untuk siapa baju ini, niat Tiara ini akan dia berikan kalau dia punya pasangan nanti, dan niat itu tergerak saat dia mengingat Gio. Akh,... kangen sekali dengan pria itu...
**
Hachuuu....
Gio menarik tisu yang selalu tersedia di dalam mobil, dia menyusut hidungnya yang kini terasa gatal.
"Kau jelas sedang di bicarakan bos!" ucap Heru yang fokus dengan jalan d depannya.
"Ya, dan kurang ajarnya gadis itu menyebutkan aku punya tompel,alis tebal, dan juga gigi tonggos serta perutku yang buncit! Awas saja dia ... Lain kali kalau aku bertemu dengan dia aku akaan balas semua kata-kataya!" ucap Gio dengan geram.
Dia mematikan hp Heru dengan kesal, memang sedari tadi saat Cantik membawanya ke toko sepatu, Cantik telah melakukan panggilan dan memasang mikrofon ukuran kecil di tubuhnya, Gio sangat ingin mendengar suara Tiara, dan hanya inilah yang bisa dia lakukan. Tapi awas saja, bukannya mengagungkan dan memuji dirinya, gadis itu malah menjatuhkan harga dirinya. Dasar keterlaluan!
Heru hanya terdiam tapi bahunya naik turun sedikit.
"Berani kau menertawaiku, turun kau disini!" ancam Gio. Heru segera berdehem untuk menghentikkan tawanya yang tertahan.
Bertahun-tahun selama dia menjadi pengawal Gio, hanya gadis inilah yang sangat berani dengan bosnya ini.
Gadis yang berani!