
Malam semakin larut dari jam di tanganku ini sudah lebih dari tengah malam. Mataku mengantuk sekali. Aku haus sekali dan juga lapar. Negosiasi dengan mereka juga membutuhkan tenaga yang lumayan meski hanya berbicara dan sedikit mengotot!
"Om! Hei, siapapun!" panggilku. Suaraku terdengar serak.
Seorang pria datang mendekat.
"Ada apa?!" tanya dia garang.
"Kalian tega sekali. Aku haus dan juga lapar! Walaupun aku tahanan kalian, tapi kalian tidak boleh membuat sandra kelaparan kan?"
"Tunggu sampai besok pagi. Jam segini mana ada penjual makanan!" dia berbalik.
"Om, tega sekali!" cicitku.
"Jangan berisik! Atau mulutmu akan kami lakban supaya diam!"
Dasar tak berperasaan!
"Hei om, setidaknya berikan aku air. Aku haus!" seruku lagi. Dia berdecak sebal lalu pergi keluar dan beberapa detik kemudian kembali dengan sebotol air.
"Tolong buka tutupnya untukku, bolehkan?" Tanyaku dengan memasang wajah memelas dan memohon. Dia membuka botolnya dengan kasar lalu mendekatkan botol itu ke tanganku yang terikat di depan.
"Menyebalkan sekali! Sudah ini tidur saja. Jangan ganggu, kami sedang main!" ucapnya sebal.
"Iya! Om kapan bos mu datang?" tanyaku lagi.
"Tidak tahu!" ucapnya sinis lalu pergi meninggalkan aku. Menyebalkan sekali!
...*...
Aku terbangun saat hari menjelang siang. Jam sembilan. Panas matahari yang melewati jendela menyengat kulitku. Mataku juga terasa silau. Tidak bisakah mereka memindahkan ku ke tempat yang teduh? Panas disini!
Serasa ada yang memperhatikan aku menyipitkan pandanganku, perlahan cahaya silau itu memudar, menggantinya dengan satu sosok yang sangat aku kenal.
"Sudah bangun?" dia tersenyum miring. Lipstik merah menyala terlihat sangat pantas di bibirnya yang tipis. Tiga orang berbadan tinggi berdiri di belakangnya dengan sikap tenang. Dua dari mereka memakai masker dan satu orang memakai kacamata hitam, khas para preman, jenggot dan juga kumis menghias di wajahnya.
"Hai, mama. Apa kabar?" tanyaku, ikut tersenyum padanya. "Setelah berpisah dengan papa, mama terlihat lebih langsing sekarang!"
"Cih. Senang kamu?" Dia tertawa, terdengar sedikit mengerikan tawanya itu, seperti tawa nenek sihir dalam cerita sebuah dongeng.
"Ya tentu saja senang, bukannya mama tidak perlu lagi repot-repot pergi ke tempat fitnes?! Mama harusnya berterimakasih padaku! Haha..." Dia terlihat marah, maju beberapa langkah hingga sampai di depanku. Dia menjepit kedua pipiku dengan satu tangannya. Sakit!
"Masih bisa sombong kamu! Lihat saja setelah aku jual kamu di pasar gelap. Kamu tidak akan bisa berkata apa-apa lagi. Tadinya aku tidak mau repot-repot untuk datang kemari. Tapi mereka bilang kamu juga sudah menebak siapa dalang di balik penculikan kamu kan? Jadi kenapa aku tidak kabulkan permintaan kamu untuk ketemu sama aku sebelum kamu MATI!!" bisiknya di akhir kalimat.
"Aku sudah hubungi seseorang dan mereka akan datang cepat atau lambat!" ucapku. Dia tertawa lagi. Rasanya aku mulai sebal mendengar tertawanya yang mengerikan.
"Siapa? See?" Dia mengeluarkan hpku yang telah dia rusak menjadi beberapa bagian. "Bagaimana mereka akan menemukan kamu kalau hp kamu saja sudah jadi barang rongsokan begini? Apa lagi ini di tengah hutan!"
Aku terkejut, membelalakan mataku bulat-bulat. "Kenapa kamu jahat? Apa tujuan kamu culik aku? Uang? Aku bisa kasih berapapun sama kamu!"
"Semua sudah hilang, Anye! Semua sudah hilang. Dan itu KARENA KAMU!!" teriaknya di akhir kalimat. "KENAPA KAMU HARUS HANCURIN HIDUP AKU!! AKU SUDAH BERUSAHA SELAMA INI UNTUK MENDAPATKAN APA YANG AKU MAU!!!" telingaku sakit, dia tidak kira-kira berteriak di depan wajahku. Rahangku juga terasa sakit karena cengkramannya.
"Aku gak nyangka, ternyata kamu memang benar-benar bisa nekat seperti ini! Tidak menyangka nyonya Aditama bisa berbuat seperti ini. Oh bukan tapi mantan Nyonya Aditama!" kataku lirih lalu tertawa mengejek. "Hina! Tapi aku tidak heran kalau..."
Plak...
Pipiku sakit. Tamparannya mengena sekali hingga aku merasakan bibirku sobek sedikit. Rasa amis terasa membuat aku mual ingin muntah. Apalagi aku sedang kelaparan sekarang!
"Dasar kurang ajar! Bilang aku hina lalu bagaimana dengan diri kamu sendiri?!" teriaknya lagi.
"Aku? Memangnya aku hina kenapa?" tanyaku. Dia mendecih sebal.
"Hehh, Kamu pergi dari suamimu dan pergi ke pelukan lelaki lain, berapa banyak pria yang sudah kamu layani sampai kamu bisa mendapatkan semua ini? LEBIH HINA SIAPA, HUHH??!!!" dadanya naik turun, dia terlihat sangat emosi.
"Kenapa? Mau mengikuti jejakku?" Tanyaku. "Setidaknya aku tidak terobsesi dengan seseorang. Mencelakai seorang wanita lalu menikahi suaminya dan menjauhkan ibu dari putranya. Lalu apa itu bisa di sebut hina? Bahkan untuk menyingkirkan seseorang yang memiliki bukti itu kamu juga harus mencelakai orang lain? Memerintahkan seseorang untuk membakar Vila Green Mansion? Demi apa? Demi kedudukan? Demi harta? Demi membalaskan rasa sakit hati?" ungkapku. Matanya membulat. Dia kira aku hanya tahu dia menyingkirkan ibu Lita, itu saja?! Bahkan aku juga tahu asal usul wanita tua ini.
Dia semakin keras mencengkeram pipiku.
"Dari mana kamu tahu? Ternyata aku salah menilai kamu. Harusnya aku singkirkan kamu saat pertama kali aku melihatmu lagi!" teriaknya. Matanya merah, memancarkan amarah dan ketakutan. Aku tertawa lirih.
Hei. Harusnya aku yang ketakutan karena terikat disini, kata hatiku ingin menjerit.
"Haha... Apakah kamu menyesal bertemu denganku lagi? Dulu aku bukan siapa-siapa dan tidak tahu apapun tentang mu, tapi sekarang aku tahu semuanya. Semuanya! Dan aku berharap sebentar lagi kamu akan merasakan akibat dari perbuatan masa lalu kamu! Hahaha..."
"DIAAAMMM!!!!" dia berteriak melepas cengkeramannya di pipiku, menamparku sekali lagi.
"Puas?" tanyaku melihat dia semakin murka.
"Diam kau!" Dia merogoh tasnya. Aku terkejut saat melihat ujung pistol yang tiba-tiba ia todongkan di depan mataku. "Memangnya kenapa kalau aku yang melakukan semua ini? Aku hanya ingin bersama dengan orang yang aku cintai, apa itu salah? Dia yang merebut Stevan dariku! Dia yang membuat aku membencinya seperti ini!"
"Tapi dia sahabatmu kan?"
"Ya. Dia memang sahabatku! Tapi dia sama sekali tidak pernah peduli dengan perasaanku, padahal dia tahu aku suka dengan Stevan! Dia sendiri yang bodoh! Percaya dengan semua jebakanku. Dia percaya kalau Stevan sudah berhianat. Dan aku yang membuat mobilnya kecelakaan. Aku mengikuti dia dan mengarahkannya ke jurang. Dan sekarang, setelah aku bisa bersama Stevan kenapa kamu harus datang dan memisahkan aku dari dia!"
"Aku hanya bantu kamu untuk menerima kenyataan, karena kenyataannya papa Stevan tidak pernah peduli padamu!" Dia terlihat semakin murka.
"Sebaiknya kau ku bunuh saja disini!" teriaknya. "Kamu tahu semua rahasiaku. Dan rahasia akan tetap menjadi rahasia! Setidaknya tidak akan ada orang lain lagi yang tahu semua ini. Haha..." Dia tertawa dengan nada jahat. Mulai menggerakkan jarinya dan menekan moncong pistol itu di keningku.
"Matilah kamu!" ucapnya.
Dorrr!!!
*
*
*