
Vian dan gadis itu sudah sampai di rumah sakit, mereka segera berjalan ke ruangan nenek yang kini masih dirawat. Nenek yang baru saja diperiksa oleh dokter melihat ke arah pintu, cucunya masuk, di belakang pria itu seorang gadis muda mengikutinya.
Vian mendekat ke arah nenek lalu mencium keningnya. "Apa kabar Nenek hari ini?" tanya Vian lalu duduk di samping tempat tidur nenek.
"Nenek baik."
Gadis itu setengah berlari ke arah nenek, dan mengambil tangan nenek serta menciumnya beberapa kali.
"Nenek apa kabar? Sudah lama tidak bertemu. Kenapa Nenek tidak bilang sama aku kalau Nenek sakit?" tanya gadis muda itu dengan wajah yang dibuat merasa bersalah.
Nenek sebenarnya tidak suka dengan anak itu, sebagai seorang wanita gadis muda itu terlalu agresif terhadap cucunya. Kelakuannya sangat tidak bisa dipuji, bahkan di bawah rata-rata menurut nenek. Nenek lebih suka dengan cantik yang berpenampilan sederhana dan apa adanya.
"Nenek baik, bagaimana dengan kabarmu?" Meskipun tidak suka nenek tetap harus beramah-tamah dengan anak ini.
"Aku juga baik, Nek. Aku sedih saat mama bilang kalau Nenek masuk rumah sakit. Vian juga tidak bilang sama aku, jadi aku tidak tahu kalau Nenek sakit." gadis muda itu bersungut menatap Vian dengan kesel.
"Memang Nenek yang melarang Vian untuk mengatakannya kepada orang lain. Nenek di sini juga baik-baik saja, banyak yang menjaga, jadi kalian tidak perlu khawatir dengan keadaan Nenek." ucap nenek sambil menarik tangannya dari tangan gadis itu.
"Nenek sudah makan belum?" tanya gadis itu seraya mengambil mangkuk bubur dari atas nakas. Tangannya dengan lincah mengaduk aduk bubur yang ada disana dan bersiap untuk menyuapkan nya kepada nenek. Tangan nenek yang keriput menepis pelan tangan gadis muda itu.
"Nenek sedang tidak ingin makan." Nenek menolak.
"Nenek harus makan yang banyak, supaya nenek cepat sembuh dan pulang ke rumah. Kita bisa saling bercerita lagi Nek, dan aku akan belajar memasak bersama nenek. Ayo Nek dua suap saja." bujuk gadis muda itu. Vian menggelengkan kepalanya. Dia sangat tahu persis dengan sifat anak ini. Mencari-cari perhatian nenek dan juga perhatiannya.
Nenek kembali menepis tangan gadis muda itu, terlihat wajahnya kini cemberut karena nenek tidak menghargai perhatiannya
"Nenek tidak mau makan, lidah nenek rasanya pahit. Apalagi sekarang."
Alvian yang mendengar nenek berkata seperti itu menahan tawanya, dia sampai menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Kenapa dengan lidah nenek? Apa yang nenek mau makan aku akan belikan di luar?" tanya gadis muda itu.
Vian semakin melebar akan senyumnya, menahan tawanya agar tidak menyembur keluar. Gadis muda ini tidak tahu sama sekali dengan yang nenek maksud. Bukan soal makanan yang nenek maksudkan, tapi dengan keberadaan dirinya yang ada di sini membuat nenek tidak ingin makan.
"Sudahlah Ve, jangan paksa nenek. Kalau kau terus memakainya nenek bisa muntah." Vian berkata membuat gadis yang dipanggil Ve itu sekarang menyimpan mangkuk makanannya kembali di atas nakas.
Vian berdiri lalu duduk di sofa, dia memperhatikan Velove yang kini masih membujuk nenek untuk memakan buah. Berbeda sekali jika nenek dengan Cantik, nenek bisa makan dengan lahap hingga habis di suapi wanita itu.
Bibir Vian tersenyum kala mengingat Cantik hari kemarin, dia terlihat sangat halus dan tidak mencari perhatian atas dirinya dan sangat peduli pada nenek. Tiba-tiba saja dia ingin sekali bertemu dengan Cantik lagi. Tapi apakah wanita itu mau?
Velove menyerah, dia memilih menyingkir dari nenek dan mendekat ke arah vian. Nenek sangat sulit sekali diminta makan. Lebih baik dia mengganggu Alvian saja.
"Nenek sangat sulit sekali untuk diajak makan." Ve mengeluh, wajahnya terlihat bete, dia mendudukan dirinya dengan kasar di sebelah Alvian.
Alvian membuka hp nya, lebih baik dia mengalihkan pandangannya dari wanita yang berpakaian minim tersebut.
"Aku sudah bilang biarkan saja nenek, tapi kau tidak mau mendengarkan aku." Alvian tidak melirik lama sekali kepada wanita ini, dia memilih sibuk dengan hpnya.
"Aku kan hanya ingin memberi perhatian kepada nenek supaya nenek cepat sembuh. Apa aku salah memberi perhatian seperti itu kepada nenek?" tanyanya dengan cemberut.
"Tidak salah, tapi memang nenek tidak mau makan, mau bagaimana lagi?" tanya Vian dengan cuek.
"Kau ini menyebalkan Vian." Velove berdecak dengan sebal, dia melipat kedua tangannya di depan dada. Tapi Vian tidak peduli sama sekali. Vian tetap sibuk pada hpnya membuat gadis itu semakin kesal.
Vian tidak menggubris keberadaan gadis itu, Ve merasa bosan dengan kediaman yang ada. Dia mendekat ke arah Vian dan menyandarkan kepalanya pada lengan pria itu.
"Vian aku lapar, kita cari makan yuk." Vian tidak menoleh. Udah dia duga kalau gadis ini ikut kesini dia pasti akan berulah.
"Kau ke kantin aja sendiri. Aku akan menjaganya nenek."
"Masa kau tega membiarkan aku mencari makanan sendirian. Ayo kita makan, kau juga belum akan siang kan?"
"Aku tidak biasa makan siang. Sana kau saja sendiri." usir Vian. Velove merasa sebal, dia mencebikkan bibirnya berharap terlihat imut di depan Vian.
Pintu ruangan terbuka, seorang gadis terlihat masuk setelah mengucapkan selamat siang.
"Vian, siapa dia?" tanya Velove pada Vian. Vian hanya terdiam melihat cantik yang kini berjalan ke arah nenek. Vian terpesona melihat cantik yang begitu beda hari ini, padahal cantik sama seperti hari-hari kemarin, memakai celana jins dan kemeja kotak-kotak andalannya. Dia tidak menyangka akan kedatangan Cantik ke sini.
"Nenek apa kabar?" tanya Cantik dia menyimpan sesuatu di tangannya ke atas mnkas yang ada di samping brangkar milik nenek.
"Kabar Nenek baik," jawab nenek pada Cantik.
Nenek melambaikan tangannya kepada dua orang yang duduk di sofa.
"Vian, kenapa kamu diam saja ada Cantik di sini." Cantik menolehkan kepalanya ke arah lambaian tangan nenek, dia terpaku melihat seorang pria yang kini duduk dengan seorang wanita muda.
"Hai, kenapa kamu hanya diam saja. Kenapa tidak menyambut Cantik?" Nenek kembali melambaikan tangannya dengan lemah. Raut wajahnya kini tersenyum, berbanding terbalik dengan saat Velove datang. Velove terheran karena nenek terlihat begitu semangat dengan kedatangan wanita lain.
Vian yang terkejut masih terdiam di tempatnya, hingga nenek harus kembali memanggil cucunya itu. "Vian, kemari! Tolong bukakan apa yang Cantik bawa." Nenek memanggil Vian untuk mendekat ke arahnya. Alvian berdiri dan menghampiri neneknya, Cantik terdiam dia tidak menyangka jika pria yang kini mendekat ke arahnya itu adalah Alvian. Pria yang sedari kemarin ingin cantik lihat wajahnya.
Cantik terpaku melihat wajah Alvian, tidak ada cacat sama sekali di wajah pria itu, malahan terlalu sempurna untuk dia abaikan.
Cantik menundukkan kepalanya, sadar jika dirinya terlalu terpesona dengan pria itu. Alvian dengan santai berjalan ke arah nenek, tapi di dalam dadanya dia merasa aneh. Serasa ingin berlari dan bersembunyi. Padahal sebelum Cantik datang dia tidak merasakan hal seperti itu.
"Tolong bukakan yang Cantik bawa," Nenek meminta tolong kepada Alvian, dengan segera pria itu mengambil tas yang cantik bawakan untuk nenek.
Satu persatu Alvian keluarkan dari dalam tas itu. Ada beberapa kue tradisional yang ibu buat kan khusus untuk Nenek, Alvian mengeluarkan wadah lain masih terasa hangat dia memberikannya kepada nenek.
"Apa ini?" Nenek bertanya pada Cantik.
"Itu bubur buatan ibu. Aku tidak bisa memasak, jadi aku minta bantuan kepada ibu untuk membuatkannya." Cantik berkata dengan jujur, sangat malu sekali sebenarnya. Dia sama sekali tidak bisa memasak. Nenek tertawa mendengar pengakuan Cantik. Wanita ini terlihat sangat malu-malu, tapi membuat dia malah terlihat imut. Apalagi mata yang besar di balik kacamata tebal itu.
"Tidak apa-apa, nanti kalau nenek sudah keluar dari sini, Nenek akan ajari kamu memasak. Mau?" tanya nenek. Cantik mengangguk dan tersenyum dengan malu.
Velove yang mendengar nenek beramah-tamah dengan cantik merasa iri.
"Nenek aku juga ingin memasak," ujar Velove dengan berseru sambil mendekat ke arah nenek. Wajahnya cemberut tapi dia berusaha untuk tetap tersenyum.
Ve melirik sebal ke arah cantik. Dia bingung dengan wanita ini, bagaimana dia bisa mengambil hati nenek. Penampilannya saja urakan seperti ini. Tidak selevel dengan dia yang cantik dan elegan.
"Kamu kenapa repot-repot membawakan ini untuk nenek?" nenek mengacuhkan Velove, bertanya dengan senyuman ramah kepada Cantik.
"Tidak repot, Nek. Sebenarnya aku juga kebetulan pergi ke sekitar sini. Dan ingat dengan nenek, jadi aku sekalian mampir. Gimana keadaan Nenek saat ini?" tanya cantik dengan canggung. Avian sedari tadi berdiri di sana dan menatapnya, membuat Cantik salah tingkah. Dia ingin ikut di dalam selimut Nenek untuk bersembunyi saja.
Nenek tersenyum melihat cucu dan calon istrinya ini malu-malu. Tidak seperti wanita yang kini berada disamping Alvian. Dia malah sengaja menempelkan tubuhnya ke lengan alvian. Sebagai seorang wanita rasanya malu sekali melihat gadis zaman sekarang, tidak malu mengejar seorang pria terlebih dahulu.
"Nenek sudah makan belum?" tanya Cantik, dia berusaha melepaskan dirinya dari rasa canggung yang ada.
"Aku suapi ya, Nek?" Cantik mengambil bubur yang dibuatkan ibu, menyendoknya lalu meniupinya dengan pelan hingga bubur itu hangat kemudian menyodorkannya ke dekat mulut nenek. Nenek yang memang sangat senang dengan perlakuan Cantik, dengan senang hati nenek membuka mulutnya. Nenek makan dengan lahap. Hal itu membuat Velove merasa kesal, padahal tadi dia bersusah payah untuk membujuk nenek makan, tapi wanita tua itu sama sekali tidak mau disuapi.
'Siapa sebenarnya wanita ini sampai nenek mau makan dengan disuapi oleh dia?' velove bertanya pada dirinya sendiri. Ve melirik ke arah Cantik dengan perasaan kesal, tapi dia tidak bisa melakukan apapun di depan Vian.
Nenek makan dengan sangat lahap, hingga tidak terasa semua bubur yang di bawakan Cantik tandas hampir tidak tersisa. Hal itu membuat Velove merasa sangat marah. Namun, dia hanya memendamnya saja di dalam hati. Apakah besok dia juga harus membawa bubur untuk nenek? Dia harus memesan dari tempat yang spesial besok!
"Kapan kalian akan melaksanakan pernikahan?" tanya nenek yang membuat Velove tersedak ludahnya sendiri.
Velove langsung bangkit dan berjalan menuju nenek dan kedua orang muda itu.
"Menikah? Siapa?" tanya Velove tak percaya.
"Kamu belum tahu?" Nenek bertanya pada Velove. Sudah dia duga jika Velove tidak tahu dengan hal ini. Kalau saja Velove tahhu pasti sedari tadi dia akan marah-marah dan mungkin juga dia tidak akan datang kesini.
"Tentu saja Vian dan Cantik. Mereka akan menikah sebentar lagi. Iya kan, Vian, Cantik?" tanya Nenek. Vian menganggukkan kepalanya sedangkan Cantik menundukkan kepalanya dengan malu.
Mendengar hal itu, Velove merasa marah. Dia erasa di hianati. Vian tidak mengatakkan hal apapun selama ini kepadanya. Bahkan, dia juga tidak tahu jika Vian akan merencanakan pernikahan dengan seseorang.
Velove marah, tanpa berkata apapun dia meningalkan ruangan itu.
Cantik melirik ke arah pintu yang baru saja ditutup dengan kasar oleh wanita seksi tadi. Dia merasa bersalah kepada wanita itu. Pastilah dia menyukai pria ini, tapi kenapa pria ini tidak menikah saja dengan dia? Kenapa dia malah mengatakan kepada nenek kalau Vian akan menikah dengan dirinya? Orang kaya sungguh membingungkan.