DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 188



"Kecelakaan?" Devan terkejut. Aku mengangguk, memperlihatkan isi pesan di hpku. Salah satu orang ayah menemukan Nanda di Surabaya, Nanda masuk dalam berita kecelakaan di salah satu tv lokal disana.


"Dev, bisakah kita pergi?" tanyaku. "Aku tidak tenang ingin lihat keadaan Nanda."


"Oke. Tapi kita harus bawa anak-anak ke rumah mama, tidak mungkin membawa Axel pergi jauh apalagi sebentar lagi malam tiba.!" ucapnya. Aku mengangguk. Segera kami menyiapkan keperluan Daniel dan Axel. Devan menelfon seseorang untuk memesankan tiket penerbangan menuju Surabaya malam ini.


Di perjalanan menuju kediaman keluarga Aditama, kami hanya diam. Hanya Axel yang terus berceloteh saat melihat sesuatu di luar jendela mobil. Daniel dan aku menjawab seperlunya. Sedangkan Devan fokus mengemudi, sesekali dia menjawab panggilan Axel.


Sampai di kediaman mama. Kami turun. Mama menyambut kedatangan kami berempat. Axel berlari ke pelukan sang nenek, sedangkan Daniel berjalan santai dengan sikap sok coolnya. Anak ini... Coba dia bisa seperti Axel, lebih periang, atau sedikit terbuka pada kami. Lebih menunjukkan ekspresi yang lain daripada muka datar sedatar tembok sepanjang waktu. Aku heran menurun pada siapa sifatnya ini?


"Cucu nenek!" mama mencium pipi gembil Axel dengan gemas, Axel tertawa saat mama mengangkatnya. Sedangkan Daniel hanya diam saat mama menciumya, lalu terus berjalan menuju ke dalam rumah.


"Daniel, jangan begitu!" ku peringatkan dia.


"Sudah, tidak apa-apa. Daripada dia kesal!" mama selalu membela. Begitu setiap kali bertemu.


Mama menggendong Axel dan membawanya ke dalam, kami juga sama mengikuti langkah mama di belakangnya. Masuk ke dalam rumah, terlihat papa baru saja keluar dari kamarnya dan menghampiri kami. Mengambil alih Axel dari gendongan mama, mencium pipi Axel dengan gemas. Axel menolak, menghalau wajah papa. Tidak suka dengan kumis yang sengaja papa tumbuhkan disana.


Kami duduk di ruang keluarga. Axel di ambil alih oleh asisten senior, sedangkan Daniel bersama Hanson di taman belakang.


"Ma, pa. Kami ingin menitipkan Axel dan Daniel disini untuk dua hari. Kami harus ke Surabaya, ada urusan penting disana." Devan mengungkapkan alasan kepergian kami, tapi tidak mengatakan hal antara Nanda dan Samuel. Dia hanya mengatakan kalau Nanda mendapatkan kecelakaan dan kami ingin melihat kondisinya. Jika memungkinkan, kami akan membawa Nanda kembali pulang.


"Ya tentu. Mama akan senang mengurus cucu-cucu mama. Mama selalu kesepian kalau mereka tidak ada!" ucap mama, lalu menoleh ke arah Axel yang sedang di suapi tak jauh dari kami.


Setelah mendapat izin dari mama dan papa, kami pergi. Daniel memang anak kecil, tapi dia juga sudah mengerti dengan apa yang terjadi pada kami. Dia bisa maklum dengan urusan orang dewasa. Kadang aku bingung, kenapa dia tidak seperti anak lain yang merengek meminta ikut jika di tinggal orangtuanya?! Dia hanya bilang 'kalian pergi saja. Biar aku membantu nenek menjaga Axel.'


...★★★...


Pesawat sudah landing beberapa menit yang lalu. Samuel mengirimkan orangnya untuk menjemput kami, menuju ke hotel karena malam sudah semakin larut. Setelah mendapat kabar itu Sam segera pergi dan mencari penerbangan dengan pemberangkatan tercepat. Dia pasti senang dengan ketemunya Nanda.


"Hei." Devan memelukku dari belakang, dan melabuhkan dagunya di pundakku. Ku elus pipinya, namun pandanganku tak pernah terlepas dari langit malam nan kelam di luar sana. Langit mendung, menutupi cahaya bulan. Lampu-lampu jalanan dan gedung-gedung masih menyuguhkan pemandangan indah di luar sana.


"Nanda pasti akan baik-baik saja. Bukannya tadi Sam sudah melaporkan keadaan Nanda?" Devan selalu tahu apa yang aku fikirkan.


"Aku cuma berfikir, bisakah Nanda memaafkan Samuel?" lirihku.


"Semoga saja! Sam juga tidak akan tinggal diam jika Nanda tidak memaafkannya!"


Benar. Melihat bagaimana Sam selama ini, meskipun Nanda tidak atau belum memaafkannya tapi aku yakin kalau Sam akan terus berusaha untuk mendapatkan maaf dari Nanda.


Ku putar tubuhku menghadap ke arahnya. Memeluknya erat. Sangat erat. Devan selalu menjadi penenang di saat hatiku gundah.


Pagi menjelang. Ku ambil bajuku dan baju Devan yang berserakan di lantai dan menyimpannya di atas ranjang. Lalu melangkahkan kakiku ini ke kamar mandi, sedikit merilekskan diri dengan berendam di bathtub yang sudah ku campur dengan sabun dan aromatheraphy. Tubuhku lelah setelah percintaan kami semalam.


Ku sandarkan kepala ini, dan menutup kedua mataku merasakan hangat dari air yang merendamku.


Blurb..


Blurb..


Terdengar suara sesuatu masuk ke dalam air, aku membuka mata. Devan sudah mendudukan dirinya di hadapanku. Air dari bathtub meluber keluar.


"Dev, kenapa kamu masuk kesini?"


"Aku kira kamu tidur tadi!" alasan! Dia kira aku putri duyung, tidur di air?!


"Sini!" menepuk dadanya. Tapi kemudian dia mengambil dan menyimpan telapak kakiku disana. Memijitnya perlahan. Aku kembali bersandar dan memejamkan mataku menikmati pijitan Devan yang sangat lembut. Nikmat sekali.


Hampir tiga puluh menit kami berada di dalam kamar mandi, tidak melakukan apapun selain Devan memijiti seluruh tubuhku dan memandikanku. Meski aku tahu adik kecilnya membesar dan ingin mencari sarangnya, tapi Devan cukup tahu saat dimana aku sedang tidak ingin di ganggu. Cukup semalam dia sudah mendapatkan jatahnya!


Setelah sarapan kami pergi ke rumah sakit. Tak sulit karena jaraknya dari hotel kami cukup dekat.


Samuel berdiri di luar kamar Nanda, dia bersandar pada tembok sambil memainkan ujung sepatunya menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri. Wajahnya terlihat sendu.


"Sam. Kenapa tidak masuk?" tanyaku.


"Aku di usir!" ucapnya, dia terlihat lelah dengan gurat hitam di bawah kelopak matanya.


"Istirahat saja. Biar Nanda kami yang akan urus!" Devan berujar, tapi Sam menggelengkan kepalanya.


"Aku mau menunggu disini!" ucapnya. Dia cukup keras kepala!


Devan menghela nafasnya, dia menatap Sam dengan iba. "Aku akan temani Samuel. Kamu masuk saja ke dalam." titahnya padaku.


"Oke!"


Ku buka pintu itu. Semua yang ada di dalam sana menoleh padaku, ada dokter dan juga perawat, dan salah seorang lainnya, mungkin teman Nanda.


"Nanda!" aku memanggilnya. Dia hanya tersenyum saat melihatku. Dokter dan perawat sudah selesai memeriksa, mereka pamit keluar. Nanda setengah berbaring di tempatnya, kakinya di balut perban putih, lengannya pun sama. Ada bekas memar di kening dan pipinya.


Aku mendekat ke arah Nanda, dan memeluknya penuh rindu. Begitupun dia melukku erat. Dia keterlaluan!


"Kenapa kamu pergi? Dasar tidak berperasaan! Kami cari kamu selama ini! Kenapa kamu lari dari masalah kamu? Kenapa kamu gak cerita soal permasalahan kamu selama ini? Kenapa aku harus tahu dari orang lain kalau kamu sedang kesusahan?" aku mencercanya dengan pertanyaan. Nanda terisak di dalam pelukanku.


"Kalian bicara saja dulu. Aku akan tunggu luar!" wanita itu pamit pada kami berdua. Nanda melepas pelukannya dariku.


"Trimakasih, Fel. Sudah jaga aku semalam. Kamu pulang saja, istirahat. Ah iya, ini salah satu sahabat aku Anyelir. Yang pernah aku ceritakan. Nye ini temanku Felly, yang selama ini bantu aku!"


"Anyelir!" aku mengulurkan tanganku. Dia menyambutnya.


"Felly!" dia sebutkan namanya, tersenyum. Senyumnya sangat cantik, dengan lesung pipi yang menambah kesan manis pada wajahnya.


"Trimakasih sudah jaga Nanda selama ini." ucapku.


"Sama-sama. Nanda sudah banyak bantu aku selama disini!"


Felly pamit untuk pulang. Aku duduk di tempat Felly tadi.


"Kamu jahat sudah buat kami pusing selama ini! Sekarang lihat keadaan kamu, kalau saja kamu gak pergi kamu gak mungkin kecelakaan seperti ini, kan?! Kamu tega ninggalin ayah kamu? Dia sangat rindu sama kamu! Kamu tega ninggalin kita, si Sofia selalu marah-marah sama aku. Nayara, dia selalu kesal saat kamu gak ada!" ku cubit lengannya yang tak sakit, gemas. Dia mengusap lengannya yang sakit karena ulahku. Daripada menangis aku lebih suka memarahinya seperi ini!


Nanda memang sosok penengah diantara kami. Sifatnya yang kalem dan juga tidak gampang emosian membuat dia selalu bisa menenangkan hati kami. Tidak seperti aku dan Sofia, kami lebih mendahulukan amarah. Dan Nayara, kalau anak itu lebih suka manja padanya, mungkin karena semasa SMA mereka lebih sering berangkat dan pulang sekolah bersama-sama karena rumah mereka searah!


"Iya maaf!" dia menjulurkan lidahnya keluar seraya membentuk huruf V dengan jari tangannya.


"Bagaimana keadaan bapak? Apa bapak baik-baik saja? Apa kamu sering jenguk bapak?" tanya Nanda, wajahnya berubah muram.


"Bapak baik-baik saja! Dia sangat kangen sama kamu. Kenapa kamu bohong kalau kamu ada di Kuningan?"


"Biar bapak gak khawatir!" ucapnya dengan nada riang.


"Iya gak khawatir. Tapi kemudian apa? Saat bapak tahu, bapak langsung sakit, Nanda!"


Ya, saat itu Sam bilang ayah Nanda datang dan menanyakan keadaan Nanda. Terpaksa dia berbohong. Lalu pada minggu ke empat, ayah Nanda berkunjung ke Kuningan dan tidak mendapati Nanda disana. Setiap kali pulang beliau tidak pernah bertemu dengan putrinya hingga akhirnya curiga, dan menginterogasi sang adik ipar!


Memaksakan diri untuk kuat dan tegar, nyatanya hati yang terluka dan fikiran yang lelah membuat ayahnya jatuh sakit. Siapa yang tak akan sakit kalau putri yang dia sayangi mengalami hal pahit seperti ini?


Semenjak Sam mengambil kembali rumah itu dan menyerahkannya pada ayah Nanda, dia juga menempatkan seseorang disana untuk menemani dan membantu calon mertuanya tersebut.


"Tapi waktu aku telfon, bapak juga maklum kok sama aku! Aku cuma ingin menenangkan diri dulu." cicitnya.


"Menenangkan diri? Selama hampir seratus hari? Iya! Tapi bapak gak tahu kamu ada dimana! Dia terus kepikiran sama kamu!"


"Maaf. Waktu itu aku masih shock. Setelah malam itu, aku memutuskan untuk kasih tahu Romi. Romi sangat sayang sama aku, aku gak mungkin bohongin dia, bakal ketahuan juga kan kondisi aku? Dulu dia bilang akan terima aku apa adanya, tapi setelah aku jujur sama dia, dia malah hina aku! Dia memang benar, aku sudah kotor!" mata Nanda berkaca-kaca.


"Aku coba untuk menghilangkan semua beban fikiranku dengan bekerja, tapi rasanya sulit! Maka dari itu aku mengundurkan diri dari Mahendra corp. dan pergi kesini, Felly temanku saat SD kebetulan kami masih sering kontak di IG, dan aku bekerja di toko kuenya!"


"Romi keterlaluan! Pria busuk! Mintanya yang masih utuh! Padahal sendirinya juga suka ganti-ganti cewek kalau aku lihat dia akhir-akhir ini!! Aku juga gak yakin apa dia pria yang masih suci?!" ucapku kesal.


"Terus kenapa kamu menolak Samuel? Dia sudah mau tanggung jawab, itu bagus bukan?!" ku tatap mata Nanda. Nanda menundukan pandangannya menghindariku.


"Aku gak suka sama Samuel. Aku hanya anggap dia kakak!" ucapnya.


"Jauhkan semua fikiran kamu soal anggapan kakak sama dia. Jadikan dia suami kamu! Izinkan dia menebus semua kesalahannya sama kamu! Dia sudah menderita selama ini. Dia sudah cari-cari kamu selama ini sampai dia hampir gila! Aku yang akan menjaminnya. Kalau dia melakukan hal yang salah lagi biar aku yang akan penggal kepalanya! Ku potong milik dia dan ku berikan untuk makanan piranha. Dua gigi taringnya akan ku jadikan kalung Xander dan Cleo!" ucapku geram.


Nanda tertawa renyah. "Anye, kamu mengerikan!" dia menutupi mulutnya dengan tangan.


"Aku serius!" ucapku.


"Iya aku tahu, kamu gak akan main-main dengan ucapan kamu! Trimakasih! Tapi aku sekarang ingin sendiri dulu!


"Apa maksud kamu? Bagaimana kalau kamu hamil? Apa sudah ada tanda-tandanya?" aku menyentuh perut ratanya.


"Tidak ada!" dia menepis tanganku. "Tidak ada bayi di dalam sini!"


"Jangan bilang kalau kamu gugurkan anak itu?!" rasa takut dalam diriku. Ingat apa yang terjadi padaku dulu, hanya satu malam dengan insiden itu, dan lalu terciptalah Daniel!


"Tidak! Enak saja! Memang kamu fikir aku ibu macam apa tega membunuh anakku sendiri? Kalau ada bayi di perutku tentu aku akan minta pertanggung jawaban sama ayah biologisnya!" itu berarti Nanda tidak hamil? Aku harus bilang 'baguslah' atau bagaimana ini? Kalau Nanda hamil tentu Sam tidak akan bersusah payah lagi membujuknya, bukan?


"Lalu kalau tidak ada bayi berarti kamu tidak mau menerima Samuel?" tanyaku menyelidik. Nanda menatapku sekilas, lalu membuang pandangannya.


"Aku ingin waktu untuk menenangkan diri!"


"Sampai kapan? Kamu sudah tiga bulan lebih menenangkan diri disini apa tidak cukup?" tanyaku, kesal sebenarnya dengan pemikiran Nanda. Tidak biasanya dia sulit di ajak bicara!


Dia menghela nafas berat.


"Aku tidak tahu, Nye! Aku masih belum bisa terima Sam!"


"Kamu masih cinta Romi?" tanyaku. Nanda terdiam.


"Aku tanya kamu masih cinta Romi? Jawab!!" berteriak dengan kesal, mengguncang bahunya. Nanda menunduk. Aku tahu sifat Nanda, dia sulit move on jika sudah jatuh hati pada seseorang!


"Iya! Aku masih cinta dia. Maka dari itu aku gak bisa terima Samuel!"


Ya ampun, haruskah aku panggil dokter untuk mengoperasi Nanda, membuang virus menjijikan bernama Romi dari hati dan fikiran dia?!