DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 102



"Elo gini banget sih, putus cinta ya?" tanya Riana sambil tersenyum mengejek. "Padahal dulu elo salah satu most wanted waktu di sekolah!"


"Diem lo. Bukan urusan elo!" Cercaku. Satu lagi suapan masuk ke dalam mulutku, mengunyah dengan perasaan kesal. Riana benar-benar membuat mood ku semakin berantakan.


Dia terus saja mengoceh membuat telingaku sakit.


Tak sengaja saat aku melihat keluar, seperti aku melihat seseorang yang sangat aku rindukan, Anye! Benarkah dia? Dia seperti memperhatikan aku dari kejauhan.


Segera ku sambar air minumku.


"Eh, Dev. Mau kemana?" tanya Riana saat aku beranjak dan melangkah cepat, meninggalkan Riana dan juga makananku yang masih tersisa banyak.


"Aku harus pergi!" tak peduli lagi, ku larikan kakiku keluar dari kafe. Mencari arah dimana tadi aku melihat Anye. Benarkah?! Anye akhirnya...


Tidak ada! Dimana dia?


Aku terus berlari sambil mencari keberadaan istriku. Menoleh kesana kemari aku ingat dia pakai baju merah tadi.


"Dev!" suara teriakan dari belakangku. Itu suara Riana yang mengejarku. Aku tidak hiraukan. Aku takut kehilangan jejak Anye. Terus melangkah meninggalkan Riana. Aku hanya inginkan Anyelir.


Ku lihat dia sedang menyebrangi jalan dengan cepat. Segera aku berlari kesana menyusulnya.


"Anyelir!" teriakku, dia tidak mendengarkan. Ah, Anye ku memang masih marah, apalagi saat tadi sepertinya dia melihatku dengan Riana! Dia salah faham!


"Anye tunggu, sayang!" aku berlari dan mencekal tangannya nafasku terengah. Dia menoleh.


"Eh mas, ada apa sih? Lagi buru-buru nih!" Bukan! Bukan Anyelir! Lalu dimana dia?


"Eh mas, lepasin dong!" serunya sambil menghempaskan tanganku lalu pergi berlari. Aku terpaku. Bukan Anye. Bukan! Aku sudah gila, tapi aku yakin tadi aku lihat Anye. Bagaimana jadi bukan Anyelir? Aku menatap gadis yang tadi sedang berjalan cepat di trotoar. Orang lain!


Bagaimana aku bisa kehilangan Anye. Aku yakin tadi dia ada disini. Aku yakin tadi yang aku kejar itu Anyelir!


"Woooyyyy. Minggir!!! Mau mati ya!!!" teriak seorang pengemudi sambil menyalakan klakson mobilnya, di susul dengan suara-suara klakson dari pengemudi lain yang juga ikut berteriak.


Seseorang menarik tanganku ke pinggir.


"Devan elo jangan gila. Mau mati bunuh diri jangan di depan gue!" aku menoleh. Riana berteriak dengan penuh emosi.


"Hei elo denger gak?!" teriaknya lagi, kali ini dia menepuk pipiku agak keras. Sedangkan aku hanya diam seperti orang linglung. Tidak bisa menjawab Riana.


"Sini!" dia menarik tanganku kembali ke kafe tempat kami tadi. Entah kenapa aku hanya menurut saja, sambil sesekali aku mengedarkan pandangananku ke segala arah masih mencari Anye.


"Elo gila? Kejar orang sampai ke tengah jalan, mau di tabrak mobil?"


Aku menoleh menatap Riana yang terlihat khawatir dan marah.


"Tadi...itu... Anye..."


"Anye siapa? Minum dulu!" Riana menyodorkan air putih yang baru saja di bawakan oleh pelayan. Aku masih diam, entah kenapa semua ini membuat aku tidak berdaya, tidak bisa berfikir apapun. Riana mengangkat gelas dan memberikan aku minum langsung dari tangannya.


"Tenangin diri dulu!"


"Ada apa?" tanya Riana lagi.


"Anyelir siapa?"


"Istriku!"


"Haaa... istri? Kapan elo nikah?" tanya Riana bingung. Aku hanya diam.


"Oke, ya udah gak usah jawab. Sekarang tenangin diri dulu. Mau gue anterin pulang?" tanya Riana lagi. Aku menggeleng.


"Gue bisa pulang sendiri. Gue cuma butuh ketenangan!" ucapku.


"Elo ngusir gue?" taya Riana sengit. "Gue gak setuju entar elo lari lagi ke tengah jalan. Kalau ke tabrak gimana? Meskipun kita musuh di masa lalu tapi gue gak bisa biarin orang yang gue kenal mati sia-sia karena cinta!"


"Gak akan. Gue gak akan mati sebelum nemuin istri gue!" aku meyakinkan. "Dah sana pergi aja!" usirku lagi.


"Gak! Berhubung gue gak ada kerjaan dan gue masih khawatir, gue akan tunggu disini sampe elo pulang!"


Dasar dia keras kepala! Aku berdiri. Daripada pusing mendengar dia mengoceh, lebih baik aku kembali ke kantor.


"Eh mau kemana?" tanya Riana sambil ikut berdiri.


"Balik ngantor!" ucapku cuek. "Makasih atas perhatiannya, gue balik dulu." Aku berbalik dan melambai tanpa melihat dia lagi.


Aku gila! Bagaimana aku bisa menyangka kalau orang lain adalah Anye? Tapi aku yakin itu dia...Apa aku berhalusinasi lagi?


*


*


*


Devan : Author, please. Gue gak tahan!!! Jangan siksa gue!😭😭😭 Suruh Anye pulang...


Me : Yakin? Anye mau kagak?


Devan : Harus mau! Gue udah gak tahan.. 😭😭😭


Me : 🤦. Yaah apalah daya. Anye pulang, neng. Babang Dev udah mau gila tuh!


Anye : Author tolong bilangin. Anye yang cantik jelita lagi having fun main ski di gunung. Gak mau balik, apalagi sekarang disana lagi musim banjir!


Me : Tuh denger kagak, bang?!


Devan : 😭😭😭 tegaaaa....


Me : 😒😒😒😒


Anye : 😈😈😈😈


...Devan end (karena tidak tahan dengan cerita hidupnya)...