DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 63



Tiara dan Gio duduk di meja makan yang berbentuk bundar. Di hadapan mereka sudah terhidang beberapa makanan laut yang enak. Wangi. Sangat menggugah selera.


Gio haya diam, dia makan dengan pelan. Berbeda dengan gadis di depannya ini, dia makan dengan cepat dan sangat berantakan.


Ayolah, Tiara! Makan elegan sedikit lah! tapi Gio hanya mengatakannya di dalam hati. Gadis ini sudah seperti singa lapar, tadi saja dia mencercanya dengan kata kasar, juga dengan tatapan murka karena perlakuannya. Dia tidak mau sampai Tiara melakukan hal itu lagi padanya. Bos di bentak asisten? Haihhh sudah hilang wibawanya entah kemana!


Untung saja Gio memesan tempat pribadi. Kalau dia makan di meja bersama pengunjung lainnya, mau dimana dia taruh mukanya?


"Uhuk, uhuk!" Tiara terbatuk. Dia tersedak karena terlalu cepat makan.


"Pelan-pelan makannya!" ujar Gio. Dia memberikan sapu tangannya pada Tiara yang baru saja selesai minum. Gio menunjuk sudut bibir Tiara. Tiara mengerti maksudnya itu. Bibirnya kotor! Dia lap mulutnya dan kemudian menyimpan sapu tangan itu di atas meja.


Tiara kembali lagi pada makanannya, tak peduli bagaimana reaksi Gio saat dia memilih makan dengan menggunakan tangan. Masa Bodoh! Makan pakai tangan itu lebih enak daripada pakai sendok! Lagipula mereka juga tidak bersama dengan pengunjung lainnya! Dia tidak akan mempermalukan Gio!


"Bisa makan pelan sedikit gak sih? Makan itu harus di kunyah dengan baik!" tutur Gio akhirnya. Tiara sudah menghabiskan hampir sepiring udang goreng, dua buah lobster saus lada hitam, satu kepiting ukuran besar. Dan tak lupa, satu piring nasi! Mantap!


Sekilas Gio tak percaya. Apa benar dia ini wanita? Ususnya sepanjang apa? pikirnya.


Tiara tak menjawab. Dia hanya mendelik kesal pada Gio. Kembali tangannya ia ulurkan untuk meraih piring berisikan udang yang belum habis. Ckckck.


"Tiara. Kamu bisa sakit perut makan sebanyak itu!" Gio memperingatkan lalu terdiam saat gadis itu hanya menjawab dengan pelototan. Gio tersenyum takut, dia menggerakkan tangannya mempersilahkan Tiara untuk kembali makan. Biarlah. Biarkan saja anak itu makan sepuasnya!


Selesai makan, Gio mengantarkan Tiara untuk pulang ke rumahnya. Niat untuk membawa gadis itu ke apartemennya dan membantunya bersih-bersih ia urungkan saja. Mood Tiara sedang tidak baik saat ini! Lagipula karena acara makan malam barusan, mereka jadi keluar dari restoran hampir jam delapan malam.


"Ahh...!" Tiara mendesah, gelisah duduk dengan tak tenangnya. Dia memegangi perutnya yang sakit. Salahnya tak mendengar apa yang tadi Gio katakan. Dia terlalu emosi dan makan dengan tak tahu aturan!


Gio menepikan mobilnya di tepi jalan, dia melihat Tiara yang kesakitan. Khawatir.


"Kamu kenapa?" tanya Gio. Dia melepas seatbeltnya dan mendekati Tiara. Keningnya mengucur peluh besar-besar.


"Sakit!" Tiara mengeluh sambil memeluk perutnya sendiri.


"Mana yang sakit?!"


"Perut aku, Pak. Sakit!" keluhnya. Gio merasa panik sendiri, tak pernah ada dalam situasi seperti ini. Dia lalu kembali melajukan mobilnya dengan kencang di jalanan.


"Sabar, ya. Kita cari klinik!" Gio terus fokus dengan jalanan, sesekali melirik ke arah Tiara lalu kembali ke jalanan. Menekan klakson beberapa kali pada kendaraan di depannya.


"Gak usah, Pak. Masa sakit perut karena kekenyangan juga harus ke klinik?" ujar Tiara, malu.


"Kalau sakit tetap harus ke dokter Tiara!"


Dih, Pak Gio lebay!


"Gak deh, Pak. Gak usah! Aku cuma sakit perut karena kekenyangan, bukan sakit perut karena mau lahiran!" tolak Tiara. Tapi Gio tidak mau mendengarkan. Dia malah menghentikan mobilnya di pelataran sebuah klinik.


Dengan cepat Gio keluar dari dalam mobil dan berlari memutari mobilnya. Gio membuka pintu mobil Tiara, membukakan seatbelt, dan kembali menggendong Tiara dengan paksa meski gadis itu bertahan pada sandaran kursinya.


"Pak Gio, apa-apaan sih. Jangan lebay!" teriak Tiara saat Gio masuk ke dalam klinik itu. Lagi-lagi dia digendong oleh bos lebaynya ini. Beberapa orang yang ada disana menatap mereka dengan heran.


Satu orang asisten mendekat ke arah mereka, karena mendengar seruan Gio. Mengira jika pasien yang baru datang adalah pasien gawat yang harus segera langsung di tangani.


Dokter segera datang dan memeriksa Tiara. Begitu malunya Tiara saat dokter membuka bajunya sedikit dan memeriksanya. Apalagi Gio ada diantara mereka.


Dokter menggelengkan kepalanya. Dia kira tadi ada yang salah dengan perit wanita ini yang membuncit, tapi nyatanya dia tidak mengandung sama sekali.


"Maaf, dokter. Maafkan kami. Sebenarnya saya tidak mengandung, saya hanya sakit perut karena kekenyangan!" Ujar Tiara malu. Luar biasa malunya dan itu karena Gio! Dia sudah bilang untuk tidak ke klinik. Dan dia mempermalukan diri mereka sendiri!


"Pak! Kalau cuma kekenyangan tidak perlu ke klinik! Cukup tunggu saja beberapa menit dan berikan kayu putih pada perut yang sakit. Bagus jika Bapak perhatian pada istri, tapi dalam hal ini jadi mengganggu pasien lain kan?!" ujar Dokter itu menatap Gio dengan kesal karena memotong antrian.


Gio hanya tersenyum malu. Padahal dia tadi tahu itu cuma sakit karena kekenyangan, tapi kenapa dia panik seperti itu saat melihat Tiara kesakitan?!