
"Dasar laki-laki sama saja!" teriak Cantik membuat beberapa orang menatap heran kepadanya.
Jam sudah berganti dengan angka selanjutnya tapi yang ditungu tidak juga kelihatan batang hidungnya. Cantik sudah terlanjur kesal. Tiga gelas kopi dua gelas jus, dan tiga piring cemilan sudah ia habiskan, rasanya perutnya kini sudah sangat penuh dengan apa yang dia makan sedari tadi.
Dia mengetuk-ketukan jarinya di atas meja dengan kesal, beberapa kali dia melihat ke arah jam yang berjalan dengan sangat lambat dan juga terasa lama. Dia berdecak kesal, ini kedua kalinya dia menunggu seorang pria di sebuah tempat makan, kemarin menunggu Romi, sekarang menungggu seseorang yang bahkan di sendiri tidak tahu siapa namanya. Mr. Espreeet. Terserahlah! Siapapun namanya, tidak penting baginya. Dia hanyalah seorang pria yang menyebalkan yang sudah membuat janji tapi dia ingkari.
Setiap orang yang datang masuk ke dalam kafe dia lihat, siapa tahu pria yang menahan KTP nya itu, tapi Cantik herus menelan kecewa saat yang dia kira pria itu ternyata bukan. Tidak ada orang lain yang mendekatinya atau sekedar menagih uang ganti rugi motor kepadanya. Eh, tapi Cantik juga tidak tahu bagaimana rupa pria itu. Dia memakai helm dan juga masker, yang dia liat hanya matanya yang hitam pekat.
Cantik bangkit dengan kesal, dia akan pulang saja. Masa bodoh jika dirinya harus mengulang membuat KTP dan juga ATM yang baru. Rasanya sangat kesal sekali menunggu tanpa kepastian. Nomor telpon pria asing itu juga sulit di hubungi, hanya nada tuutt panjang yang membuat telinganya panas dan dadanya meluap karena emosi.
Cantik menggebrak meja sebagai pelampiasan kekesalannya. Beberapa orang melihatnya dengan aneh tapi Cantik tidak peduli. Kini wanita itu menaikkan kaca mata yang melorot di hidungnya.
Dasar pria kurang ajar! Brengsek! Sudah membuatku menunggu lama! Cantik mengumpati pria itu dalam hati.
Dia hendak melangkahkan kakinya, tapi belum juga melangkah suara seseorng memanggil namanya membuat dia menoleh ke arah samping.
"Nona Cantika?" tanya orang itu.
Seorang pria dengan setelan jas hitam, rambut cepak, tubuh tinggi lebar, dengan rahang tegas dan hidung mancung terlihat menudukkan kepala kepadanya.
"APA!!!" Cantik dengan kesal membentak pria itu dengan suara keras. Saking kesalnya dia hingga membentak orang asing tanpa sebab. Tapi dia menyebutkan nama Cantik dengan lengkap, mungkin saja dia orang yang Cantik tabrak tempo hari, bukan?
Si pria yang baru saja dibentak hanya diam dengan kening yang mengerut lucu.
Baru saja datang, sudah kena bentakan!
"Maafkan saya karena saya datang terlambat. Saya harap Nona tidak marah karena terlalu lama menunggu. Kami ...."
"Hei. kau pikir aku ini apa, aku ini patung yang tidak akan marah menunggu lama, begitu? Kau tahu ini sudah jam berapa? Aku menunggu mu dari tadi dan ini sudah hampir tiga jam! Tiga jam! Kau tahu? Aku bisa menghasilkan uang yang banyak dengan waktu tiga jam. Kau banyak sekali membuang waktuku!" Sembur Cantik sambil memperlihatkan jam yang ada di pergelangan tangannya di depan wajah pria itu.
Pria itu masih tetap diam dengan wajah yang berekspresi datar, tidak bergeming sama sekali di tempatnya.
"Maafkan kami kalau Nona telah menunggu lama, saya juga tidak menyangka kalau kejadiannya akan selama ini. Saya sangat menyesal karena telah membuat Nona menunggu lama."
"Beguslah kau mersasa seperti itu. Sekarang kau berikan KTP dan juga ATM ku. mana?!" Cantik menadahkan tangannya, meminta barang miliknya di kembalikan.
"Maaf, Nona saya tidak membawanya. Nona ...."
"APA?!! Kau tidak membawanya?! Kau ini gila atau bagaimana sih? Aku sudah menunggu lama untuk KTP dan juga ATM ku dan au datang kesini tidak membawa serta? Oh ya Tuhan. Bunuh saja aku!" Cantik menepuk keningnya dengan sedikit keras. Dia rasanya lelah sekali dan ingin memukul seseorang. Bolehkah dia melakukannya pada pria ini?
"KTP dan ATM Nona ada, tapi bukan padaku." ucap pria itu yang membuat Cantik menoleh menatap pria itu dengan tatapan yang tidak ia mengerti.
"Apa maksudmu?" tanya Cantik.
"Sebenarnya yang Nona tabrak tempo hari adalah atasan saya, bukan saya." Pernyataan pria itu membuat Cantik melongo. Dia merass sia-sia saja sedari tadi marah-marah dengan pria ini dan ternyata bukan pria ini yang dia maksud?!
"Lalu kenapa kau yang datang kemari? Mana bosmu? Kenapa kau tidak membawa saja barang milikku?" tanya Cantik dengan kesal. Butuh kunci yang banyak baginya untuk bisa menahan amarah yang kini sudah sampai di tenggorokan.
"Saya hanya diberi perintah oleh bos untuk menjemput Nona dan bertemu dengan beliau di luar sana," ucapnya dengan sopan.
Cantik mengerti, pria ini hanya seorang pengawal atau asisten.
"Enak sekali dia bilang ingin berremu denganku di luar. Kenapa dia tidak datang saja kesini dan bertemu denganku?" tanya Cantik dengan nada sewot.
"Ada satu hal yang membuat atasan saya tidak bisa datang untuk bertemu dengan Nona disini. Harap maklumi," pinta pria itu lagi. "Silahkan Nona." Dia menggeserkan tubuhnya dan memberikan jalan untuk Cantik lewat.
Dengan kesal Cantik melangkah kakinya. Baru saja dua langkah dia berhenti dan menoleh kepada pria itu lagi.
"Bayarkan makananku!" Lalu setelah itu Cantik pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.
Pria dengan tubuh tegap itu mengeluarkan uang yang ada di dalam dompet nya mengambil satu lembar yang berwarna merah dan ia berikan kepala pelayan kafe. Wanita pelayan itu mengernyitkan dahinya dengan bingung dan takut.
"Maaf, Pak. Tapi harga makanan yang Nona itu makan lebih dari segini. Silahkan Bapak lihat apa saja yang sudah Nona Itu makan." Wanita itu memberikan nota pemesanan pada pria itu. Kali ini dahi pria itu yang mengenrnyit. Tidak menyangka jika dia harus membayar dobel dari apa yang tadi ia berikan.
Cantik sudah ada di luar kafe. Dia menunggu pria yang tadi memintanya untuk keluar, seraya menoleh ka arah kanan dan kiri. Siapa tahu ada mobil yang menunggu di tepi jalan. ingin tahu dimana pria yang dia maksud. Tapi tidak ada mobil yang berhenti atau menunggu di tepi jalan itu.
Pria dengan pakaian hitam itu akhirnya keluar dari dalam kafe, dia berjalan di depan Cantik.
"Mari, Nona!!" serunya lalu dia terlebih dulu berjalan untuk meembawa Cantik ketempat dimana sang bos menunggu.
Beberapa langkah, Cantik kemudian berhenti.
"Tunggu! Kau ini mau mengajakku kemana?" tanya Cantik. Dia tidak tahu kemana pria ini akan mengajaknya, jangan sampai dia tertipu. Bagaimana jika pria ini adalah sindikat penculik atau penjual organ dalam? Pasar gelap begitu?
"Kita bertemu dengan atasan saya." Pria itu berkata.
"Tidak mau." Cantik berdiam diri dan melipat kedua tangannya di depan dada. Dia tidak bisa di bohongi. Pria ini sangat mencurigakan. Mungkin saja bos nya hanya alasanya saja supaya dia mengikuti pria ini dan lalu di jalanan yang sepi dia dibius dan dibawa ke markas besar untuk di ambil orrgan dalamnya.
"Nona tiidak mau KTP dan juga ATM nona?" tanya Pria itu dengan nada datar.
"Kau ini orang asing, aku tak mau mengikutimu. Bagaimanapun juga aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi! Bisa saja kalian ini adalah sindikat penculik atau penjual organ dalam," seru Cantik
Pria dengan setelan jas rapi itu hanya menghela nafas dan menghembuskannya. "Harap anda berhati-hati dengan apa yang baru saja Anda bicarakan. Saya memang orang asing, tapi saya bukan penculik ataupun penjual organ dalam seperti yang Anda tuduhkan."
"Lalu kenapa kau tidak menyuruh bos mu saja yanng datang kemari dan menyerahkan milikku? Aku juga akan memberian ganti rugi yang pantas untuk dia." Cantik keukeuh .
Cantik berpikir sebentar dan lalu mengeluarkan hpnya, dia menyalakan dan mencari nama yang baru saja minggu lalu di simpan di hpnya.
Belum juga dia menekan ikon hijau, getar di benda pipihnya itu mengagetkannya hingga membuata Cantik hampir saja kehilangan hpnya dari tangan.
Mr. Ekspreeet, sedang memanggil.
"halo?" Cantik dengan hati-hati mengangkat telpon nya.
"Kau tidak percaya dengan apa yang dikatakan asistenku??" tanya pria itu dengan nada datar di telponnya.
Cantik terdiam mendengar ucapan pria itu, bagaimana dia bisa tahu akan percakapan yang mereka bicarakan? Padahal pria itu tidak ada disana.
"Kalian ini mencurigakan, jadi pantas saja jika aku tidak mau ikut dengan kalian. Jawab aku, apa kalain ini sindikat penculik? Apa kalian ini ...."
"Bukan! kami hanya orang biasa. Bukan apa yang kau kira." ucap pria itu dengan tegas.
Hal itu tidak membuat Cantik percaya begitu saja. Orang-orang ini hanyalah orang asing yang tidak ia kenal sama sekali, banyak kemungkinan kalau mereka berbohong.
"Jadi? Apa kau tidak mau milikmu kembali?' tanya pria itu lagi.
"Aku mau tapi kau keterlaluan sampai membuat ku menunggu lama, kau bayangkan saja aku menunggumu sampai hampir tiga jam? Kau bilang ingin bertemu dengan ku untuk mengembalikan milikku tapi kau ingkar janji, Pak! Lalu apa salahnya kalau kau tidak bisa datang kau titipkan saja KTP dan juga ATM ku ada asisten mu ini? Aku juga pasti akan membayar kerugian yang aku sebabkan untuk motormu itu. Kenapa juga kau riibet sekali memintaku untuk mengikutinya? Aku tidak mau!! Kalau kau mau aku membayar kerusakan motormu, kau datang saja kesini!" Cantik berkata dengan panjang lebar dan juga kesal. Dia sampai menghentakkan kakinya.
Terdengar suara tawa dari seberang sana. tawa yang sangat renyah, tapi membuat Cantik semakin sangat kesal.
Cantik menunggu, tapi tidak ada suara lain yang terdengar dari seberang sana, masih dengan tawa renyah yang berkepanjangan.
Apa dia ini sudah gila?
"Hei Pak. Kau ini sebenarnya mau apa? Jangan menyusahkan dirimu sendiri, cukup kau panggil saja asistenmu dan aku akan menunggu dia disini. Aku tidak mau mengikuti dia. TITIK!"
"Hahha .... Aku tidak bisa. Kau yang harus berhadapan denganku karena kau lah yang menabrakku kemarin itu." Cantik semakin kesal dengan ucapan pria itu.
"Aku sudah baik hati menunggu mu selama hampir tiga jam, salahkan dirimu sendiri yang tidak menemuiku. Aku sekarang sudah kesal!" geram Cantik dengan teriakan keras.
"Jadi kau mau menyalahkaku?" tanya pria itu dengan kekehan di bibirnya.
"Iya kau memanng salah, aku kan sudah bilang kalau kita akan berteu disini kenapa kau tidak datang, huh?!!" seru Cantik.
"Aku memang mengajakmu untuk bertemu, tapi aku juga belum menyetujui waktunya kapan kita bertemu, kan? Kau sendiri yang menungguku disana. Aku belum setuju atau mengiyakan, jadi kau jangan salahkan aku. Salahkan saja dirimu yang langsung mematikan panggilanku tadi." ucap pria itu dengan santai. Cantik mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-bukunya memutih. Dia merasa geram dengan pria ini. Berani-beraninya pria itu mempermainkan dirinya.
Cantik mencoba untuk mengingat kembali, memang dirinya juga yang memutuskan panggiilan itu dan belum mendapatkan jawaban dari pria itu. Tadi memang dia yang langsung berangkat ke kafe ini.
"Aku ini orang yang sibuk. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu. Kau tahu, Pak. Aku sampai mengorbankan waktu ku yang berharga hanya untuk bertemu dengan mu!" berang Cantik dengan marah. Dia tidak salah, juga tidak berbohong. Waktu menonton drakornya harus ia korbankan hanya untuk bertemu dengan pria yang bahkan kini membuatnya naik darah. Ini belum bertemu, bagaimana jika nanti mereka bertemu?
"Oh ya? Apa kau sesibuk itu? Sekarang kau juga sedang sibuk memarahiku. Kau benar-benar orang yang sangat sibuk sekali." lagi-lagi terdengar tawa disana.
Dia pria gila! Apa menurutnya ini lucu?
Cantik merasa pembicaraan ini melantur kemana-mana. Panjang bagai rel kereta api yang tidak ada putusnya. Pria ini begitu sangat-sangat menyebalkan!
"Jagan banyak b**ot. Kembalikan KTP dan ATM ku dasar bajingan!!! teriak Cantik yang sudah mulai habis kesabrannya.
Pria yang ada di depannya itu hanya menatap Cantik dengan tidak percaya.
Gadis ini tidak tahu siapa yang dia umpat sekarang.
Pria itu hanya bisa diam menyanjung keberanian dari seorang gadis culun berkacamata tebal di depannya ini. Dalam hati dia juga bertepuk tangan atas umpatan -yang untuk pertama kalinya- orang lain berikan untuk atasannya itu.
"Aww!!!! Kau kasar sekali, bukan mencerminkan gadis yang baik ternyata. tadinya aku akan menikahimu, tapi sepertinya kau tidak mudah untuk aku taklukan." Cantik melotot mendengar penuturan pria itu.
Apa-apaan pria ini? Sembarangan sekali pria itu mengatakan hal itu dengan mudah. Menikah? Sialan!
"Heh... Kau pria yang menyebalkan dan mesum. Kau ambil saja KTP ku dan ATM nya, aku sudah tidak butuh lagi. Aku bisa membuatnnya sendiri!" teriak Cantik dengan geram. Beberapa pejalan kaki melihat Cantik yang sedang marah-marah tak karuan di telpon, tapi wanita itu tak peduli dengan kadaan dirinya. Dia sedang kesal dan juga marah sekarang ini.
"Kau benar tidak butuh KTP mu dan juga ATM? Oke, tidak apa-apa. Aku akan buang saja semunya. Lagian fotomu di KTP juga sangat jelek, dan juga ATM mu kau tidak akan butuh lagi karena aku sudah mengosongkan semua nya milikmu."
"WHAT??!! kau gila? Uangku kau kemanakan?" tanya Cantik dengan seruan keras.
"Uang mu yang mana? Kau hanya punya uang lebih kurang delapan juta di rekeningmu, dan aku hanya mengambil enam juta untuk biaya cat motorku saja, biaya kerusakan yang lain aku tidak ambil dari uangmu. Kau sangat menyedikan sekali. Dan sisanya, jika kau tidak mau ambil sendiri KTP dan juga ATM mu ya sudah aku akan pindahkan saja semua yang ada ke rekeningku. Aku akan kembaikan sisanya padmu jika kau mengambilnya sendiri."
Tutt ....
Panggilan terputus.
"Halo? Halo? Hei apa yang kau lakukan dengan uangku. Kembalikan uangku dasar berengsek!" Cantik tidak mendengar suara apapun lagi dari seberang sana. Dia melihat layar hpnya yang kini mati. Ingin rasanya dia membanting hpnya ke lantai trotoar, tapi urung dia lakukan. Hp dengan harga dua juta, yang bagaimana yang dia akan beli? Tidak akan muat memorinya untuk dia mengkoleksi poto-poto artis kesayangannya.
Cantik ingat dengan apa yang dikatakan pria itu tadi. Saldo rekening miliknya apa benar dia kosongkan? Dengan gerakan cepat gadis itu segera membuka aplikasi bank nya. Matanya melotot saat meihat angka yang tertera disana. NOL.
Pria itu benar-benar telaah membuat kering isi tabungannya hingga tak tersisa. Bersih-sih-sih!
"AAAkkhhhhh.... Dasar kurang ajar kau pria menyebalkaaaannn!!!" jerit Cantik dengan keras. Pria yang ada di depannya kini tengah menahan rasa sakit di telinganya akibat teriak wanita ini.