DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 32



Pulang sekolah, aku dan Sofia berjalan ke arah gerbang. Sudah ada Edgar yang menunggu disana. Lagi Edgar mengacak rambutku saat aku baru saja sampai.


Tapi belum juga tangan itu di turunkan ada sebuah tangan lain dan menghempaskan tangan Edgar, dengan posesifnya dia menarikku dan memeluk pinggangku.


"Jauhkan tanganmu!" ucapnya kasar. Edgar menatap Devan dengan tajam begitu juga sebaliknya, aura mendung seperti hujan yang siap mengeluarkan petir dan mengubah lautan di sertai badai. Oke aku terlalu berlebihan, tapi rasanya jika tidak segera di jauhkan, mereka akan membuat kekacauan disini!


"Jauhkan tanganmu juga!" Edgar berusaha menarikku tapi Devan dengan cepat menarik ku ke belakang tubuhnya.


Terlihat kilatan marah di mata keduanya.


"Bang, kita pulang yuk!" Sofia ketakutan dan berusaha menarik tangan Edgar, tapi Edgar masih diam di tempatnya menatap Devan dengan tatapan tajam dan menusuk.


"Ini, pria yang udah hancurin wanita, dasar bedebah!!!!"


Bugh!!!


Aku, Sofia dan beberapa orang yang lain refleks berteriak saat Devan terjengkang karena pukulan Edgar yang tepat mengenai pipinya.


"Dasar bajingan!! Harusnya elo gak lakuin itu!!" Edgar meneriaki Devan yang masih terduduk di trotoar.


Devan berdiri, lalu meludahkan darah dari mulutnya.


Dua orang berjas hitam datang menghampiri. Lalu dengan segera mengunci pergerakan Edgar saat dia mencoba melawan. Dua lawan satu, bukan lawan seimbang.


Sofia berteriak saat melihat kakak tersayangnya tidak bisa berbuat apa-apa. Wajah Edgar merah seperti menahan kesakitan karena tangannya yang di kunci ke belakang oleh salah satu pengawal Devan.


Devan menatap Edgar dengan nafas memburu. Dia maju beberapa langkah, tangannya sudah terangkat dan siap melayang, tapi terhenti karena aku yang lebih dulu berlari dengan tangan terentang di depan tubuh Edgar.


Entah kekuatan dan keberanian dari mana aku melakukan hal seperti itu. Aku pasrah jika aku akan terkena pukul. Aku menutup mataku. Menunggu tiga detik, tapi tidak ada lagi yang terjadi selanjutnya. Tidak ada rasa sakit atau apapun.


Aku membuka mataku. Kepalan tangan Devan tepat beberapa senti di depan hidungku. Dadaku berpacu dengan cepat, nafasku rasanya sesak.


"Anye minggir!" ucap Devan masih dengan tatapan membunuhnya. Nada suaranya masih datar.


Aku hanya menggelengkan kepalaku. Takut jika Devan akan melukai Edgar.


"ANYE MINGGIR!!!" Teriak Devan yang sudah murka.


Dia mencengkeram bahuku dengan keras membuatku meringis kesakitan. Untuk kedua kalinya. Devan memperlihatkan wajah murkanya. Menyeramkan!


"Devan kita pulang, please!" ucapku memohon. Devan masih terdiam di tempatnya, menatap Edgar, seperti singa yang akan menerkam mangsanya.


"Sayang." panggilku dengan nada suara di buat selembut mungkin. Ku belai rahang Devan, wajah yang kaku penuh amarah itu perlahan melembut, lalu menatapku dengan sorot mata tak percaya.


"Kita pulang!" ucapku tegas. Devan menurunkan kepalan tangannya dan berganti menggandeng tanganku. Lalu beranjak pergi meninggalkan Edgar dan Sofia. Wajah Devan terlihat berbinar dengan senyuman lebar, menuntunku ke arah mobil.


"Sayang. Bisa kau lepaskan Edgar?" tanyaku sebelum masuk ke dalam mobil yang sudah di buka pintunya oleh Devan.


Devan menoleh sedikit. "Lepaskan dia!" Lalu dengan segera kedua orang itu melepaskan Edgar.


Sofia dan Edgar menatapku dengan tatapan penuh arti, aku hanya tersenyum. Mobil meninggalkan area sekolah.


Devan terlihat tersenyum sumringah. Dia tampak bahagia. Apa mungkin karena tadi aku memanggilnya sayang?


Jelas aku seperti wanita penggoda sekarang. Aku hanya tidak mau Edgar dan Devan saling adu jotos yang mana akan membuat wajah keduanya jelek, dan Sofia pasti akan menangisi kakaknya.


Devan mengambil tanganku dan mengecupnya beberapa kali, sedangkan tangan satunya lagi memegang kemudi. Mobil pengawalnya mengikuti kami dari belakang.


"Eh, ini bukan jalan ke rumah!" Devan hanya tersenyum mendengarku.


"Memang!" ucapnya santai lalu semakin cepat menjalankan mobilnya.


Sampai di apartemen Devan. Dua penjaga itu masih mengikuti kami di belakang dan menunggu di depan pintu saat kami masuk ke dalam apartemen.


Devan menarikku dengan paksa dan mencium bibirku. Tangannya menarik pinggang ku hingga menempel padanya. Aku kehabisan nafas karena tidak siap dengan yang di berikan Devan. Ku pukul dadanya dengan keras. Devan melepaskanku. Segera aku menghirup udara banyak-banyak. Devan terkekeh.


"Maaf." cicitnya.


"Kamu mau aku mati?" cecarku dengan pelototan.


Cup.


Satu ciuman singkat mendarat di bibirku.


"Tentu tidak sayang! Aku tidak mungkin membunuh orang yang paling aku sayangi. Apalagi ada calin anakku disini!" ucaonya sambil mengelus perutku. Ada perasaan senang dan membuncah di dalam dadaku. Rasanya seperti jutaan bunga, bahkan lebih banyak lagi!


Ku belai wajah Devan yang memar.


"Apa ini sakit?" tanyaku.


"Stop. Kalau kamu terus cium aku, bisa bahaya." peringatku. Devan terkekeh malu.


"Tahu aja!" Dia kembali tertawa saat aku melotot.


"Kamu tambah manis kalau sedang marah seperti itu." cubitnya di hidung ku.


"Jadi kalau aku tidak marah, aku jelek?" cecarku.


"Tidak. Setiap saat kamu cantik. Saat kamu senyum, tertawa, marah, bahkan saat kamu diam atau sedang tidur mengiler pun kamu tetap cantik!"


"Kamu puji atau menghina?" Aku kesal, ku tonjok perutnya. Devan pura-pura merintih kesakitan.


"Ayo, aku obati." Devan mengikutiku ke sofa dan duduk manis disana. Aku mengambil kotak obat dari laci lemari kecil di bawah tv dan beberapa buah es batu dari kulkas.


Belum juga duduk di sofa, Devan menggeser tubuhnya hingga alhasil aku duduk di pangkuannya.


"Dasar nakal!" ucapku sambil menyentil keningnya. Devan lagi-lagi hanya terkekeh. Lalu terdiam saat aku mulai mengompresnya dengan es batu.


Devan terus menatapku.


"Apa Edgar selalu seperti itu?" tanya Devan tiba-tiba.


"Apa?"


"Mengacak rambut kamu?" ucap Devan lagi.


"Gak mungkin kamu gak tahu kan?" lirikku, dan dia tersenyum. "Dasar posesif!"


"Tidak apa kan, posesif pada calon istri sendiri." ucapnya lalu mengambil tanganku dan mengalungkan di lehernya.


"Aku gak suka ada orang lain yang menyentuh milikku." ucap Devan dengan dinginnya.


Cup.


"Bibir ini milikku."


Cup.


"Hidung ini milikku."


Cup.


"Pipi ini milikku."


"Jangan pernah ada lelaki lain yang sentuh kamu!"


Dasar posesif!!


Lalu mencium seluruh wajahku hingga aku kesal.


"Jangan terus cium aku Dev, apa kamu gak ngerasa kalau di bawah bokongku sudah ada yang mengganjal?" Devan terkekeh dengan seringai jahilnya. Dia akan membuka suara, tapi aku tutup mulutnya.


"Jangan minta yang aneh-aneh. Aku gak akan kasih meskipun kamu nangis sekarang!."


Devan melepaskan tanganku dari mulutnya. "Jangan GR. Aku akan minta tapi nanti kalau kita sudah menikah." ucapnya dengan senyuman.


"Mana Seno? Aku tidak lihat dia tadi? Kamu gak pecat dia kan?" seketika wajahnya berubah. Aku tahu dia akan marah sebentar lagi.


"Dia aku tugaskan ke kalimantan satu minggu ini!"


"Sayang sekali, padahal aku ingin sekali..."


"Kenapa harus minta Seno? Ada aku yang notabene ayahnya kenapa harus menyebut Seno? Aku jauh lebih ganteng dan keren daripada dia. Kamu bebas melihat senyum aku setiap hari. Bahkan setiap detik!" ketusnya.


Aku hanya tersenyum.


"Kapan kamu ijinkan aku buat ketemu mama dan papa kamu? Makin lama perut kamu pasti makin besar Nye!" ucapnya lagi.


Benar semakin lama perutku semakin besar.


"Nanti saja kalau aku lulus sekolah. Lagi pula itu masih dua bulan lagi. Aku mendekati ujian Sekarang! Aku tidak mau konsentrasiku pecah karena masalah yang akan timbul nanti. Setidaknya aku bisa membuat papa bangga dengan kelulusanku. Untuk terakhir kalinya sebelum aku... membuat mereka sangat kecewa dengan kehamilan ini." Devan tersenyum menarik lenganku membawaku pada ciuman lembut yang sangat membuai.


Prang....!!!!


Suara sesuatu yang pecah terdengar di dekat kami. dan betapa terkejutnya aku, disana berdiri kak Mel dengan sebuah kotak yang sudah tergeletak di bawah lantai. Mata kak Mel berkaca-kaca, mulutnya setengah terbuka.


"Kak Mel..!!!"