DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 195



Cantik mendekat satu langkah. Dia menyingkirkan tangan putih yang menunjuk pada wajahnya. Sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyetarakan tingginya dengan Maria yang beberapa senti di bawahnya. "Kau tahu. Kenal lama atau baru, nyatanya Romi lebih bisa dekat dengan ku! Dan kau juga tadi dengar kan apa yang dia bilang? Oh... aku akan terima tawaran dia saja untuk mengantar ku pulang!" semakin suka Cantik melihat wajah marah Maria.


"Dasar kau wanita jal*ng! Jangan berani-beraninya kau pergi dengan dia?" jerit Maria tak tahan.


Maria mengangkat satu tangannya ke atas tinggi-tinggi.


Plak!!


"Akh... Dasar wanita sialan!" Maria dan temannya terkejut, tangannya kalah cepat dengan tangan Cantik yang baru saja mendarat di pipinya. Sakit dan perih. Pasti meninggalkan bekas merah cap lima jari disana.


Cantik tersenyum, menarik satu sudut bibirnya ke samping. Cantik pernah menghadapi pembunuh bayaran profesional, hanya menghadapi wanita yang kalap sedang di rundung cinta itu baginya soal mudah, apalagi keahlian yang wanita ini punya hanya sekedar mengandalkan mulut dan emosi semata.


"Kau... Dasar kau wanita mur*han. Dasar jal*ng!" Jerit amarah Maria. Dia maju bersama dengan temannya. Mengeroyok Cantik dengan tak tahu aturan.


Lima menit kemudian....


Cantik keluar dari dalam toilet setelah merapikan rambut dan gaunnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri dan mendapati sebuah tulisan di pintu toilet.


Pantas saja toilet sepi sedari tadi. Ternyata wanita itu menempelkan kertas 'Toilet rusak'!


Tangan Cantik terulur untuk mencopot tulisan itu, tapi dia urungkan.


"Cantik!" seru suara seseorang yang kemudian mendekati Cantik di pintu toilet. Cantik menoleh dan tersenyun. Tiara datang dengan wajah penuh rasa khawatir.


"Kau lama sekali di toilet!" tegur Tiara. Cantik menerima tas yang disodorkan Tiara padanya.


"Tadi tulisan ini tidak ada. Jadi aku tidak tahu kalau toilet tidak bisa di pakai." tutur Cantik.


Tiara sedikit menjauhkan dirinya dari Cantik dua langkah mambuat Cantik bingung dengan sikap Tiara.


"Jadi kau belum... membersihkan dirimu?" tanya Tiara dengan ekspresi dan nada jijik. Terbayang jika Cantik.... Ih..... Tiara menggidik geli sekaligus... Ah sudahlah.


"Enak saja! Hanya toilet yang rusak. Aku sudah membersihkan diriku. Dan aku juga sudah... Ngomong-ngomong kenapa pembahasan kita jadi soal toilet? Kau keterlaluan Tiara! Jorok!" Cantik berdecak dengan kesal. Dia menggaet tangan Tiara untuk kembali ke area pesta.


"Eh jangan menyentuhku!" Tiara menarik lengannya.


"Tanganku sudah bersih. Nih cium saja ada aroma wangi kan? Aku cuci tangan setelah dari toilet!" ucap Cantik kesal sambil menyodorkan tangannya ke hidung Tiara. Tiara tertawa melihat ekspresi kesal Cantik, membuat gadis itu semakin imut dan memang benar-benar cantik.


...*...


"Akh... Sialan! Buka..!!" teriak seseorang dari dalam bilik toilet. Dia menggedor dan menendang pintu toilet dengan keras. Berharap jika ada seseorang yang mendengar dan mengeluarkan mereka dari sini. Gadis itu kererlaluan! Mengunci mereka berdua di dalam bilik toilet.


"Sepertinya tidak ada orang di luar, Maria." ucap Febi, teman Maria. Dia duduk di atas tolilet yang tertutup, satu tangan membersihkan wajahnya dengan tisu, sedang satu tangan yang lain menyodorkan sebungkus tisu pada Maria.


"Keringkan dirimu. Kau sangat basah dan bau!" ucap Febi.


"Diam kau!!" bentak Maria kesal. Tapi dengan gerakan cepat dia meraih tisu dari tangan Febi dan dia pakai untuk mengeringkan wajahnya.


"Awas saja dia. Lain kali kalau bertemu lagi akan aku buat dia menyesal!" teriak Maria marah. Dia ingat perlakuan wanita cantik itu, tak menyangka jika wanita itu jago berkelahi. Menendang, menjambak, dan menamparnya. Bahkan dengan beraninya memasukkan kepalaya ke dalam toilet. Tak satu pun pukulan dari Maria dan Febi yang mengena pada Cantik.