
"Hai!" sapanya dengan senyum yang terlihat menyebalkan baginya.
"Ka ...." Sadar dengan tulisan yang tertera di atas meja, Wakil CEO, gadis itu urung meneruskan kata-katanya. Pantas saja tadi dia membiarkan dirinya hanya berdiri. Rupanya si pria bunga menyebalkan yang beberapa hari lalu ia temui.
'Aduh! Kenapa harus dia? Apa dia sedang mengerjaiku?!' geram, sebal, takut, tapi tak bisa melakukan apa-apa.
"Selamat datang di perusahaan kami." Gio tersenyum smirk. Dia mengembalikan rokok mahalnya ke dalam bungkusannya, dan lalu duduk di kursinya. Menaikkan satu kakinya ke kaki yang lain, dan menautkan setiap jari-jari tangannya.
"Silahkan duduk nona!" ucap Gio.
Akhirnya, kakinya pegal dan ia butuh itu. Tidak harus di pinta untuk kedua kalinya, dia segera duduk.
"Selamat datang di perusahaan kami, Nona Tiara Anastasya. Benar?" tanya Gio yang sebenarnya tidak perlu di jawab.
"Benar, Pak. Trimakasih!" ucap Tiara, dia hanya menunduk saat pria itu menatapnya dan memindainya dari atas ke bawah.
Gio terdiam. Penampilan gadis itu berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Jika kemarin dia memakai jeans dengan banyak sobekan dan juga baju kaos longgar yang menenggelamkan tubuhnya, kali ini dia memakai setelan kemeja putih lengan panjang, dengan rok setinggi lututnya memperlihatkan betisnya yang ramping.
Gio membuka lembaran biodata milik Tiara.
"Sudah pengalaman bekerja?" tanya Gio.
"Belum, Pak."
'Dia bercanda! Dia bisa baca disana kenapa masih harus tanya juga?'
"Usia?"
"Dua puluh tiga, Pak." Aneh!
"Sudah punya pacar?"
Semakin aneh!
"Kenapa tidak jawab?" tanya Gio saat gadis itu masih terdiam.
'Pertanyaan macam apa ini! Apa orang ini mesum?!'
"Belum, Pak!" jawabnya.
"Jangan GR. Saya tidak mau pekerjaan kamu terganggu karena kamu banyak memikirkan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan." ucap Gio.
"Tidak, Pak. Meskipun saya punya pacar, tapi saya yakin bisa profesional dengan pekerjaan saya." ucapnya mantap.
Aneh hanya staff keuangan biasa di tanya sampai detil?!
"Bagus! Saya memang butuh seseorang yang bisa profesional dengan pekerjaannya supaya tidak ada kesalahan dan tidak melamun saat bekerja. Mulai hari ini kamu saya terima bekerja di perusahaan ini untuk jadi asisten saya."
Rahang gadis itu terjatuh ke bawah, dia melongo dengan bingungnya.
"Oh, saya lupa. Apa tim HRD kami tidak memberitahu Nona kalau staff keuangan sudah penuh?" tanya Gio. Tiara menggelengkan kepalanya.
"Maafkan atas kelalaian tim kami. Sementara ini, hanya ini saja posisi yang kosong. Apa Nona tidak mau?" Gio mengeluarkan sebuah kertas dari dalam laci mejanya dan menyimpannya di atas meja di depan Tiara.
"Tolong baca saja dulu kontrak pekerjaannya. Siapa tahu Nona Tiara berminat! Kalau tidak tentu kami akan mencari orang lain." tutur Gio.
Tangan Tiara menyambut kertas tersebut dan membacanya. Dari atas sampai ke bawah. Dan matanya membelalak saat melihat nominal gaji yang di tawarkan. Matanya tiba-tiba saja berbinar. Sudut bibirnya tertarik ke samping.
Gio tersenyum tipis melihat raut wajah itu. Terlihat dengan jelas di mata Tiara binar bintang yang membuat manik mata coklatnya bersinar terang.
"Ini ... serius?" tanya Tiara menunjuk pada kertas di tangannya. Gio mengangguk.
"Tapi kalau Nona tidak mau juga tidak apa-apa. Saya akan cari orang lain yang mau!" Gio merebut kertas itu dari tangan Tiara.
"Saya mau, Pak! Mau!" seru Tiara, dia dengan cepat mengambil kertas itu kembali. Untuk ukuran orang tanpa pengalaman gaji sebanyak itu tentu sangat banyak. Fantastis!
Tiara melihat sekali lagi kertas di tangannya, lidahnya menjulur di sudut bibirnya, tersenyum dengan senang. Pastinya ia akan betah disana dengan gaji sebesar itu.
Biarlah menjadi kacung juga, yang penting bayarannya gede!
Gio hampir saja menyemburkan tawanya melihat reaksi lucu Tiara, tapi ia tahan dan ia tutupi mulutnya dengan kepalan tangannya.
Sepertinya dia silau dengan gajinya.
"Ekhem!"
Gio berdehem membuat Tiara tersadar dari kesenangannya. Tiara segera mengatupkan mulutnya dan menegakkan punggungnya.
"Bagaimana, Nona? Apa benar mau?" tanya Gio. Tiara menatap Gio dan mengangguk dengan cepat.
"Ya mau lah, Pak. Masa bayaran sebesar ini saya nolak! em..maksud saya, saya merasa terhormat sekali bisa bekerja di perusahaan besar ini!" ralatnya dengan senyuman yang canggung. Mudah-mudahan saja pria itu tidak mendengar atau sudah lupa dengan kalimat pertamanya.
Dasar mulut lemeshh! Rasanya ingin sekali dia menepuk mulutnya yang sering keseleo itu.
Gio menatap Tiara, masih dengan ingin tertawa.
"Ya sudah. Tanda tangan. Dan kita bisa segera bekerja sama! Ingat. Setiap waktu adalah hal yang saat berharga, jangan sia-siakan. Karena waktu gak akan bisa di ulang kembali."
"Ah. Kayak lagu aja, Pak!" lagi-lagi mulutnya tak bisa di kondisikan. Tiara segera menutup mulutnya dan menyambar pulpen yang ada di atas meja.
"Tanda tangan disini kan ya, Pak?" Tiara mencoba mengalihkan Gio yang kini melongo menatapnya.
Gio menggelengkan kepalanya.
Bisakah dia bekerja sama dengan gadis ini?