
Anyelir.
Baru beberapa bulan yang lalu aku melihat lampu ruangan operasi menyala, dan sekarang aku harus melihatnya lagi. Menunggu dengan hati yang berdebar, panik, risau, takut. Namun sekarang bukan hanya aku saja yang menunggu, tapi ayah dan juga Samuel. Semua yang terjadi bagaikan mimpi. Aku ingin terbangun dari mimpi buruk ini!
Bangun, Anye! Bangun!
Tapi semakin keras aku menampar pipi ini semakin terasa pula kenyataan yang harus aku hadapi. Semua ini nyata!
Melirik ke arah ruangan itu. Sudah dua jam berlalu tidak ada tanda-tanda bahwa pintu akan segera di buka.
Devan, kali ini kamu harus selamat. Tahukah kamu kalau Daniel juga shock melihat keadaan kamu. Bahkan dia masih belum sadarkan diri sampai sekarang.
Masih aku ingat dengan jelas bagaimana Devan dan Daniel terjatuh dari ketinggian lantai tiga bangunan itu. Devan menggunakan tubuhnya sebagai tameng agar Daniel tidak terluka, tapi dia mengorbankan dirinya sendiri untuk anaknya. Dokter bilang tulang kaki, kanan, tulang punggungnya, dan tulang lehernya patah. Kepalanya juga berdarah akibat benturan keras.
Kumohon. Kumohon. Kamu harus selamat!
"Tenang saja. Baru dua nyawa yang hilang, dia masih punya tujuh nyawa tersisa!" Samuel berkata yang membuat aku dan ayah memandang ke arahnya.
"Kamu fikir dia itu kucing!" aku melotot pada Samuel. Dia tertawa garing.
"Please deh Sam. Di saat seperti ini bercandanya jangan keterlaluan!" Aku marah! Samuel tidak tahu tempat jika ingin bercanda seperti itu! Tidak tahukah dia kalau aku sedang takut menunggunya? Takut jika pada akhirnya Devan... Dia... akan...
"Nangis, nangis aja. Gak usah di tahan seperti itu." Sam duduk di sampingku menepuk bahuku pelan.
"Minggir Sam! Kamu malah buat putriku jadi sedih. Sana jaga Daniel di kamarnya!" Ayah mengusir Samuel. Ya itu lebih baik jika di banding dia terus berada disini dan mengatakan lelucon yang tidak-tidak.
"Aku cuma mau menghibur dia!" Sam berkata dengan bibir mengerucut.
"Lebih baik kamu pergi dan carikan aku makanan. Aku lapar!" ucapku.
"Oke!" Sam beranjak pergi.
"Ayah. Devan akan baik-baik saja kan?" tanyaku. Ayah memelukku dan mengusap bahuku pelan, tidak berkata apa-apa. Tapi dari sikapnya seakan ayah menjawab, 'ayah juga tidak tahu'.
Kami terus menunggu. Nyatanya makanan yang di bawa Samuel hanya aku makan sedikit saja.
Pintu ruangan operasi terbuka. Dokter keluar dari dalam sana. Dia juga membawa Devan serta di belakangnya. Beberapa alat terpasang di tubuhnya. Banyak selang yang ada di tubuh Devan dan juga banyak bagian tubuhnya di penuhi dengan perban, persis seperti mumi, dari mulai kepala hingga ke kaki. Perawat membawa Devan dengan cepat ke ruang lain.
Aku mengikuti Devan, setengah berlari ke ruangannya.
Sampai di ruangan.
"Tunggu saja. Sekarang masih dalam reaksi obat bius. Dia akan baik-baik saja!" ucap dokter. Ini seperti de javu dimana Devan pernah mengalami hal ini, dua bulan yang lalu.
Dokter dan perawat keluar dari ruangan. Sedangkan aku menunggu Devan sampai sadar seperti waktu itu.
Ayah mengelus bahuku pelan. "Lebih baik kamu pergi ke ruangan Daniel. Biar Devan ayah yang akan temani!" ucap ayah. Rasanya berat sekali meninggalkan Devan, tapi Daniel juga pastinya membutuhkan aku!
Di ruangan lain, anak kecil itu tengah tertidur lelap. Selang infus terpasang di lengannya yang mungil. Wajahnya tidak sepucat seperti tadi, tapi keringat dingin membasahi dahinya. Matanya yang terpejam bergerak-gerak, sepertinya Daniel sedang tidur dalam gelisah.
Ku elap dahinya yang basah dengan tisu, dan mencium keningnya. Kasihan anak ini, di umur yang masih kecil seperti ini dia sudah mengalami hal yang buruk. Aku harap tidak akan ada trauma yang akan mengganggunya di kemudian hari.
"Papa... Papa... Jangan!" Daniel berteriak. Tangannya terulur seakan dia sedang ingin meraih sesuatu. Matanya terbuka, kembali wajahnya basah oleh keringat.
"Daniel, you okay?" tanyaku. Mata Daniel berkaca-kaca.
"Papa..." ucap Daniel terisak.
"Papa baik-baik saja. Sebentar lagi papa juga akan bangun!" ucapku seraya mengelus kepalanya pelan, tapi entah kenapa terasa ketakutan yang teramat sangat dalam hatiku. Takut jika aku berbohong pada Daniel.
"Aku mau ketemu papa!" ucap Daniel, dia berusaha bangun dari tidurnya.
"Aku mau ketemu papa!" teriak Daniel merajuk.
"Oke. Pelan-pelan. Mama akan panggil perawat untuk bantu kamu!" Menekan sebuah tombol, ku panggil perawat atau dokter. Menenangkan Daniel yang sedari tadi merengek ingin bertemu dengan Devan, tidak biasanya dia merengek seperti ini.
Tak lama dokter dan perawat datang, dokter itu memeriksa keadaan Daniel.
"Ingin menjenguk papa, hem?" tanya dokter itu dengan senyuman. Daniel mengangguk hingga rambut poninya bergoyang.
"Boleh pergi kesana, tapi ingat. Kaki dan tanganmu masih sakit, jangan bergerak terlalu banyak." Tunjuk dokter di depan wajah Daniel. Kalau tidak ada Devan entah apa yang terjadi pada putra kami. Bisa saja Daniel mungkin sudah tiada, dia hanya mengalami luka kecil, ada beberapa bagian di tulang kaki dan tangannya yang retak sedikit. Tangan kiri dan kaki kiri Daniel di gips untuk meminimalisir pergerakan.
"Kalau kau patuh aku akan izinkan kau setiap hari menemani papa mu yang superhero itu!" ucap dokter itu.
"Benarkah?" tanya Daniel dengan wajah yang berbinar. Dokter itu mengangguk, dia memindahkan Daniel ke kursi roda dengan hati-hati, dan suster membantu membawa Daniel ke ruangan Devan.
Kami hanya melihat Devan dari kejauhan. Ini masih dua jam pasca operasi, dokter bilang obat bius efek dari operasinya masih belum hilang. Devan sedang tertidur dengan tenang persis seperti mumi.
"Karena aku, papa jadi celaka!" Daniel menyentuh kaca, seolah dia menyentuh Devan secara langsung. Ayah berada disana sedang menunggui Devan.
Aku berjongkok di depan Daniel, mengambil tangan mungilnya dan menciuminya.
"Niel. Semua ini sudah takdir. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Papa pasti akan bangun, oke?!" Daniel mengangguk.
"Kita kembali ke kamar!" Daniel mengangguk lagi. Kami di bantu perawat kembali lagi ke kamar Daniel. Daniel masih harus banyak istirahat. Dokter bilang anak-anak lebih cepat dalam masa pemulihan, aku harap Daniel pun juga demikian. Dia anak yang aktif kasihan kalau sehari-hari hanya diam saja!
Aku tidur di atas brankar bersama Daniel, menenangkannya yang sedari kembali dari kamar Devan terus terisak.
"Aku salah. Aku menyesal ma!" ucap Daniel.
"Sudahlah. Jangan di fikirkan, honey!"
"Tadinya aku benci sama papa. Kalau saja aku tahu papa akan seperti itu aku pasti akan lebih baik padanya." sesalnya.
"Kenapa kamu benci papa?" tanyaku.
"Papa jahat. Kenapa tidak sedari dulu mencari kita? Dia pergi sangat lama. Aku selalu di ejek di sekolah. Mereka bilang aku anak yang tidak punya papa!"
Deg.
Ternyata aku tidak pernah tahu apa yang di rasakan putraku. Hatinya terluka, merasa sedih, tapi aku... aku egois!
"Niel. Kamu harus tahu, papa kamu adalah pria terhebat yang pernah ada selain kakek dan juga uncle Sam-mu." ucapku mengusap rambutnya yang lembut.
"Bukan papa kamu yang pergi meninggalkan kita, tapi mama yang pergi dari papa kamu!" ucapku. Daniel mendongak menatapku bingung.
"Kami punya sedikit masalah, dan mama pergi. Lalu uncle Sam yang membawa mama pada kakek! Selama ini papa mencari kita. Hanya saja mama masih belum mau kembali pada papa." jelasku.
"Jadi papa sebenarnya peduli pada kita?" tanya Daniel lagi.
"Iya. Papa sangat peduli pada kita. Maafkan mama Daniel. Semua ini adalah kesalahan mama. Mungkin kalau saja mama lebih cepat memaafkan papa kamu dulu, kita sudah hidup bahagia." Daniel mengusap sudut mataku yang basah.
"Jangan menyalahkan diri mama. Mama bukanlah orang yang akan sembarangan mengambil keputusan." Lihatlah anakku ini. Harusnya aku yang menghibur dia, tapi malah dia yang menghibur ku.
Ayah masuk ke dalam ruangan aku turun dari brankar, memberikan ruang untuk ayah, ayah memeluknya dengan sayang, bertanya apa yang Daniel rasakan. Daniel memeluk ayah dengan erat. Dia terisak, menangis menyesali perbuatannya selama ini pada Devan. Ayah mengelus kepala Daniel pelan.
Daniel kembali terlelap setelah meminum obatnya. Aku meminta empat pengawal untuk menjaga di depan pintu. Meski pimpinan Black Shadow sudah mati di tembak saat setelah melemparkan Daniel, tapi aku merasa takut akan pihak lain yang ingin menggunakan kesempatan itu untuk menyerang kami.
Kembali mengunjungi kamar rawat Devan. Dia masih terlelap. Kapan dia akan bangun?
Dev cepatlah bangun. Daniel merindukan mu!