DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 187



Aku, Devan, dan Samuel, sedang duduk di ruang keluarga. Sam sudah membaik keadaannya, dia sudah tidak mabuk lagi sekarang. Wajahnya yang lebam semakin lebam akibat pukulanku tadi. Sam terdiam begitu pula aku dan Devan.


"Aku salah. Maaf!" cicit Sam akhirnya. Dia mengompres wajahnya dengan menggunakan es. Dadaku masih bergemuruh emosi, rasanya belum cukup hanya memukulinya dengan sepatu mahalnya saja.


"Malam itu aku di jebak. Dan kebetulan Nanda yang mengantarku pulang..." lalu mengalirlah cerita tentang mereka, dari mulai meeting yang di lakukan Sam, sampai dia kembali dari Kuningan, tempat yang di duga Sam, kalau Nanda ada disana. Aku menutup mulutku tak percaya saat mendengar dari Samuel kalau Nanda sedang kesusahan. Tidak percaya kalau sahabatku itu menyembunyikan kesusahannya dari ku. Pastilah Sofia dan Nayara juga tidak tahu, karena mereka tidak menelfonku sama sekali.


"Lalu dimana Nanda sekarang?" tanyaku, rasa khawatir bergelung di dalam hati ini. Sam menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu. Orangku masih mencari Nanda, belum ada kabar!"


Tubuhku lemas, aku bersandar di dada Devan. Menangis tersedu.


"Lalu, bagaimana dengan ayahnya?"


"Dia sudah kembali ke rumahnya. Semua hutang yang di pinjam wanita itu sudah aku lunasi. Tapi dia tidak tahu kalau Nanda sudah menghilang!"


Nanda, kenapa kamu tidak pernah cerita dengan kesusahan kamu? Kenapa kamu pergi dari sini? Dimana kamu? Lihatlah Samuel. Bukan aku ingin membela dia, tapi lihatlah Samuel sekarang. Dia menyesali perbuatannya!


...★★★...


Satu bulan telah berlalu. Samuel terlihat semakin kacau karena Nanda belum di ketemukan. Ayah juga sudah membantu menurunkan orang-orangnya, tapi tak ada kabar tentang Nanda.


Sofia dan Nayara juga akhirnya tahu tentang kabar itu. Mereka membenci Samuel, melakukan hal yang sama menggunakan sepatu dan tas mereka. Meluapkan rasa kesal dan amarah.


Meski begitu Sam tetap membantu kami di perusahaan, setidaknya dia tidak terlalu berlarut dalam kesedihan dan rasa bersalah.


Hampir setiap hari kami mencari tahu keadaan Nanda. Nihil!


"Sudahlah. Nanda pasti baik-baik saja disana." Devan mengelus rambutku. Ku pandangi taman kecil yang nampak dari luar jendela kamarku.


"Aku takut, Dev. Bagaimana kalau Nanda hamil? Dia pasti sangat menderita disana!" Aku juga pernah merasakan hal itu, bedanya aku ingin Devan bahagia dengan kak Mel, tapi Nanda... entahlah!


Apalagi setelah aku menemui kekasih Nanda, dia bilang dia tidak mau bertemu dengannya lagi. Nanda wanita yang kotor, begitu katanya. Rasa cinta Nanda pada pria itu membuat dia berani jujur. Ku akui Nanda hebat, tapi dia juga bodoh! Kenapa juga dia harus pergi? Kenapa juga dia tidak mau menerima pertanggung jawaban Samuel? Sam tidak terlalu buruk. Dari fisik dia punya body bule yang seksi dan menawan.


"Kamu juga tahu kan bagaimana sifat Nanda, dia tidak mudah menceritakan kesusahannya pada yang lain. Dia pasti akan pulang sebentar lagi." aku hanya mengangguk. Semoga!


...★★★...


Dua bulan.


Tiga bulan.


Samuel semakin kacau. Dia sering menyalahkan dirinya sendiri. Tubuhnya tidak lagi fresh, dia seperti bunga yang sudah lama tidak tersirami air. Layu, kusam, menyedihkan. Bahkan dia tidak peduli lagi dengan keadaan dirinya. Jambang yang memanjang, Kumis dan jenggot yang tak terurus.


"Sam, urus wajahmu! Axel takut dengan jenggot itu!" seruku saat Axel mengelak untuk di ciumnya. Mungkin hanya Daniel dan Axel yang bisa membuat dia tertawa, selain dari itu... tidak!


"Memang apa salahnya dengan jenggot?! Dengan begini tidak ada wanita yang ingin mendekatiku!"


Salah! Justru karena Sam dengan jambangnya membuat dia semakin terlihat cool! Hanya saja Sam selalu menghindar dari para wanita itu. Memberikan mereka sikap ketus dan juga mengatakan bahwa ia akan menikah yang membuat beberapa memilih menjauh.


"Hei Sam, bagaimana kalau suatu saat Nanda pulang dan melihat kamu seperti ini apa dia mau? Para wanita suka dengan pria yang bersih, termasuk aku dan Nanda!" Sam menoleh padaku. Axel kabur saat ada kesempatan, dia memilih bermain dengan mainannya.


Tring! Satu notif terdengar di hpku. Mataku berbinar saat melihat apa yang tertulis disana, tapi kemudian saat melihat pesan berbentuk foto... Aku melepas hpku hingga membentur lantai.


"Sam. Nanda..." Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sam mendekat dan mengambil hp di lantai. Matanya terbelakak, membulat. Dia lalu pergi dan berlari ke arah pintu. Terdengar sekilas dia menelfon seseorang.


Devan baru saja pulang dari kantor, dia mendekat dan mencium keningku. Aku masih terdiam mematung.


"Ada apa dengan Samuel?"


"Nanda! Dia ketemu!"


Tersenyum senang. "Benarkah? Dimana?!"


"Surabaya. Tapi Nanda..." tercekat lalu memangis. Devan bingung melihat ku.


"Ada apa, honey? Bilang sama aku ada apa?" Dia meraup pipiku dengan tangan besarnya. Axel terdiam, menatap kami dengan bingung.


"Dia, korban kecelakaan!" akhirnya aku bisa bersuara.