
Tiara berjalan di tepi pantai. Tatapan matanya kosong menatap kakinya yang melangkah di antara ombak-ombak yang kini berlarian ke tepian. Dia biarkan kaki telanjangnya terkena air. Sepatu heels ia bawa di tangannya, berayun ke depan dan ke belakang seiring dengan laju langkah kakinya.
Pasir-pasir yang terbawa arus melewati jari-jari kakinya yang putih. Air laut itu terasa hangat, pastilah karena matahari sangat terik hari ini meski sudah agak condong ke barat.
Lelah dengan berjalan cukup jauh. Tiara duduk di tepi pantai di atas pasir yang hangat karena terkena sinar matahari. Tak ia pedulikan dengan sinar matahari yang masih menyengat menerpa kulit wajahnya. Pohon kelapa dengan ukuran sedang itu tak bisa melindunginya dari sengatan sinar matahari yang terik.
Tiara tercenung. Dia memainkan pasir dengan jari-jari kakinya, menggerakkan tangannya untuk mengambil pasir dan mengubur kakinya dengan benda lembut itu. Hangat. Tapi tak sehangat hatinya kini. Tiara merasa galau sekarang!
Hingga detik ini tak ada seorangpun dari dua orang itu yang mengangkat panggilannya. Semuanya ada di luar jangkauan. Mereka sepertinya marah. Benar-benar marah!
Tiara sangat bingung sekarang ini. Dia menelungkupkan kepalanya pada tangannya yang terlipat di atas lutut. Menyembunyikan wajahnya dari beberapa orang yang memandangnya. Air matanya tak berhenti mengalir sedari tadi. Dia sungguh dalam dilema sekarang. Ingin bercerita tapi pada siapa?
Selain Alea dia tak bisa percaya dengan orang lain. Ibu... Ah, jangan. Ibu sudah terlalu tua, tak baik bagi ibu terlalu keras berpikir dengan masalah hidup dirinya. Tiara sudah dewasa. Semua permasalahan harus ia selesaikan sendiri!
"Apa yang kau lakukan disini?" Suara seorang yang sangat dia kenal terdengar dekat di sampingnya. Duduk di samping Tiara. Tiara tak ingin mengangkat kepalanya. Dia terlalu malu dengan keadaannya yang seperti ini. Tak pernah dia memperlihatkan wajah sedihnya apalagi air matanya kepada pria ini.
Aneh. Padahal dia seringkali di jahati oleh pria ini, di buat kesal setengah mati, atau di buat marah hingga kepalanya ingin pecah, tapi dia tak pernah merasa rapuh dan sedih, dan juga kalah seperti ini.
Gio terdiam, dia menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan pelan. Membiarkan angin laut membawa hangat nafasnya ke arah lain.
"Kenapa menangis? Mau cerita?" Gio bertanya dengan hati-hati. Dia melik Tiara yang sepertinya enggan untuk mengangkat kepalanya dan sekedar untuk menatapnya.
Tiara tak menjawab. Tiara hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Sekali lagi Gio menghembuskan nafasnya dengan pelan hingga Tiara bisa mendengar suara nafas lelaki itu dengan jelas.
"Aku gak tahu ada apa dengan kamu, Tiara. Tapi bisakah kamu jelaskan dengan apa yang terjadi? Jangan hanya diam. Aku bingung harus berbuat apa jika kamu diam seperti ini. Apa yang terjadi?" Gio bertanya. Dia mendekatkan dirinya pada Tiara hingga lengan mereka saling menempel.
Tiara kembali menggelengkan kepalanya. Gio mencebik kesal. Dia memang keras kepala. Seperti anak kecil saja!
"Ya sudah kalau kamu gak mau bicara. Kita pulang?" ajak Gio. Tiara kembali menggelengkan kepalanya. Gio menggaruk lehernya yang tak gatal. Bingung harus melakukan apa pada gadis ini.
"Apa aku harus membawamu seperti penculik supaya kamu mau ikut pulang?" Gio mencoba berkelakar.
Tiara mencebik kesal masih dalam posisinya menelungkupkan kepalanya. Pria ini keterlaluan! Dia kasar sekali, tak bisakah bujuk atau lakukan apapun yang manis untuk membujukku? Pantas saja jika dia berhati beku!
Tak ingin menjawab, Tiara hanya menggelengkan kepalanya.
"Oke. Aku ajak pulang gak mau dan aku mau culik juga kamu menolak. Aku akan tunggu kamu sampai kamu mau pulang dengan ku." Gio menyandarkan kepalanya di pundak Tiara, melepaskan sebagian berat tubuhnya di pundak gadis itu. Tiara masih belum mau bicara juga. Dia hanya diam menerima pelakuan Gio.
Dia sungguh tak ingin pria itu melhat dirinya yang rapuh, tak ingin melihat kesedihan yang dia alami. Gio menatap ke arah laut yang kini mulai memerah. Udara semakin dingin sekarang, tapi Tiara tak juga ada tanda-tanda untuk bangkit dan pulang dari sini. Setidaknya carilah tempat yang hangat. Jangan tempat dengan banyak angin seperti ini! Dia bisa masuk angin!
Gio menarik dirinya. Dia membuka jasnya dan menyelimuti tubuh Tiara. Di usapnya kepala Tiara dengan lembut. Dia mendekat dan mencium kepala gadis itu dengan sayang.
"Menangis lah dulu, kalau kamu gak mau cerita. Setelah kamu tenang kita pulang, ya!" ucapan Gio begitu lembut di telinga Tiara. Tiara mengangguk, masih dalam posisinya semula. Gio tak ingin memaksa, jika memang gadis itu masih enggan untuk pulang ataupun bercerita maka dia akan menunggu saja. Urusan ibu tadi dia sudah telpon dan mengatakan kalau dia sudah menemukan Tiara.
Sepuluh menit setelah dia menelpon Heru. Gio mendapat kabar kalau Tiara pergi ke rumah Ken, lalu kemudian pergi ke arah laut.
Gio menarik tubuh Tiara ke dalam pelukannya. Tiara masih terdiam. Matanya kembali berkaca-kaca dengan perlakuan pria ini padanya.
"Ara. Aku sangat sayang sama kamu. Bisakah tidak ada rahasia di antara kita? Aku pernah gagal dalam suatu hubungan. Dan kali ini aku gak mau gagal lagi, Ra. Aku ingin kita menjalani hidup berdua hingga akhir hayat hidup kita."
"Hwaaaa...." Tiara tak tahan. mendengar perkataan pria itu dirinya jadi semakin sedih dan merasa banyak salah. Dia melingkarkan tangannya pada tubuh Gio dan menagis di dada pria itu dengan kencang. Biarkan saja jika jas mahalnya terkena noda make upnya yang luntur, toh dia bisa membeli ratusan bahkan ribuan jas mahal itu dengan mudah.
Gio mengusap kepala Tiara dengan sayang. Bahu gadis itu naik turun karena tangis. Tak ingin bertanya, karena mungkin percuma, tak akan jelas juga jika menjawab sambil menangis seperti itu. Gio hanya diam menunggu Tiara untuk kembali tenang. Jangankan satu jam. Sampai besok pun Gio akan menunggu.
"Pak Gio.... hiksss... aku...aku..." sulit untuk berkata karena tangisnya tumpah dengan hebat. Tiara semakin erat memeluk Gio. Mencoba menenangkan diri supaya bisa bercerita tapi ini sangat sulit!
"Ssshhh... Sudah. Sudah. tenangkan saja dulu tangis mu setelah selesai baru bicara. Nanti aku akan belikan kamu eskrim!" Gio tertawa merasa lucu sendiri, dia seperti sedang mencoba membujuk anak kecil untuk berhenti menangis.
"Dasar jahat! Aku bukan anak kecil! Hiks hwaa...." Tiara kembali menangis. Gio tertawa sambil mengusap bahu Tiara yang di lapisi jas miliknya.
Setelah hampir satu jam lamanya barulah Tiara benar-benar mereda rasa tangisnya. Seperti yang Gio janjikan. Dia membelikan Tiara eskrim rasa vanilla.
Tiara makan eskrim itu dengan sangat nikmat, hingga tak sadar jika sudut mulutnya sudah belepotan oleh eskrim yang ada di tangan. Gio tertawa kecil melihat Tiara yang seperti itu. Benar-benar mirip dengan Nathalie, keponakanya.
"Apa tertawa?" Tiara mencebik kesal melihat Gio yang tertawa seperti sedang mengejeknya.
"Tidak ada!" Gio mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya dan mendekat ke arah Tiara, mengelap sudut bibir Tiara dengan lembut. mata Tiara terpaku melihat perlakuan manis Gio padanya.
"Sudah ini kita pulang?" tanya Gio yang sebenarnya adalah ajakan untuk gadis itu. "Ibu sedang khawatir di rumah."
Tiara terdiam, dia berghenti menjilati eskrimnya. Tak ingat dengan ibu yang sedari tadi dia tinggal di rumah. Ibu hanya tahu jika dirinya menghadiri pesta bersama dengan Kenzo.
Tiara mengangguk pada akhirnya. "Tapi sebelum pulang aku ingin bicara sesuatu." Tiara memegang legan baju Gio. Gio hanya mengangguk. Dia senang jika Tiara mau bercerita apapun itu.
Habis dengan eskrim di tangannya. Gio mengajakTiara untuk berjalan ke arah diamana mobilnya terparkir. Dia salah tadi, sedikit menyesal meninggalkan mobilnya sedikit lebih jauh. Jadilah mereka harus berjalan kaki menuju mobilnya terparkir.
"Sebenarnya aku mau bicarakan sesuatu yang penting denganmu, Pak!" Gio menoleh saat Tiara memanggilnya bapak. Tak suka dengan panggilan itu sama sekali. tapi Gio tak ingin membantah. biarkan saja dulu Tiara ingin bercerita apa.
"Aku ingn putus saja." lirih Tiara tapi sangat terdengar jelas oleh pria itu. Gio terdiam dia menarik tangan Tiara hingga gadis itu berhenti melangkah.
"Apa maksud kamu? Putus?" Gio tak menyangka jika itu yang ingin Tiara bicarakan. Putus. Bahkan hubungan mereka masih belum genap satu hari. Gio menatap Tiara dengan tajam sedangkan gadis itu mengindari tatapan Gio melihat ke arah dimana ombak datang membasahi kaki mereka.
"Kenapa? Kenapa mau utus? Apa aku tak layak untuk kamu?" Gio mengubah tatapannya menjadis sendu. Pria itu sungguh tak menyangka jika Tiara menginginkan hal itu.
"Apa kini karena Kenzo?" Gio berkata dengan nada dinginnya. Dia ingat jika Tiara pergi ke rumah Kenzo tadi.
Tara menggelengkan kepalanya.
"Lalu siapa jika bukan karena dia?"
"Karena aku gak pantas buat Bapak. Aku hanya gadis miskin yang tak punya apa-apa. Bahkan aku juga rela menukar tujuh tahun hiidup ku hanya untuk sebuah rumah yang kami huni saat ini!"