
Suara sirine dari mobil ambulans terdengar nyata mengiringi perjalanan kami ke rumah sakit. Axel sedang di tangani oleh perawat, dia di bantu dengan alat pernafasan dan juga alat deteksi jantung. Terdengar lemah. Rasanya menyakitkan melihat putra sendiri terbaring tak berdaya seperti ini.
Axel, mama mohon. Kuat lah, Nak!
Menempuh perjalanan beberapa saat, hingga kami tiba di rumah sakit terbesar di kota ini. Axel di bawa turun, lalu brankarnya di dorong masuk menuju ruang UGD. Selama itu aku menatap wajah Axel yang tengah terpejam. Tangan kecilnya tak aku lepaskan sama sekali. Dokter membawa Axel masuk, dia menyuruhku untuk menunggu di luar. Lalu pintu di tutup.
Ku lihat dari jendela kaca, tapi tak terlihat apapun dari sana, terhalang oleh tirai putih di dalam.
Devan, baru saja sampai bersama Gio di belakangnya. Mereka sangat khawatir dan menanyakan keadaan Axel. Gio terlihat kesal dan juga penuh amarah, terdengar dia mengutuk sang ayah.
"Axel di dalam, Dev. Dokter sedang menangani Axel!"
"Gio!" ku panggil dia. Dia berhenti menendangi dinding di depannya. Menatapku dengan sorot mata penuh kekesalan dan amarah.
"Gio. Sudah, nak. Nanti kakimu sakit!" ku tarik dia dan ku peluk. Nafasnya kasar, dadanya naik turun, gemeletuk di giginya terdengar jelas olehku.
"Kalau saja aku gak sama kalian, pasti Axel gak akan celaka!" sesalnya.
"Hei, jangan bilang seperti itu. Jangan salahkan diri kamu sendiri, nak!"
"Tapi gara-gara bapak, Axel jadi sakit, bu!" dia mendorongku dan manatapku. "Kalau saja kami bisa kabur... kalau saja bapak gak ancam kami..."
"Sudah, nak. Axel pasti akan baik-baik saja! Sudah ya!" ucapku. Ya, ku harap Axel baik-baik saja!
"Hukum saja dia, bu! Aku tidak peduli lagi sama bapak! Bahkan kalau bapak di hukum sampai mati, itu lebih baik! Bapak gak akan bisa sakiti orang lain lagi! Bapak gak akan bisa berbuat jahat lagi!" dia berkata dengan geram.
"Iya, semua pasti akan ada balasannya!" ucapku. Ku elus punggungnya, dia meringis kesakitan.
Baru aku ingat. Gio juga terluka!
"Biar aku yang antar Gio menemui dokter!" Devan mendekat ke arah kami. Tapi Gio menggelengkan kepala.
"Aku mau tunggu Axel!"
"Gio." aku mensejajarkan diri dengan Gio. "Obati luka kamu, nak. Jangan sampai luka itu jadi infeksi!" Dia tetap menggelengkan kepalanya. Tetap keukeuh ingin menunggu Axel bangun.
"Ibu mohon, nak!"
"Tapi aku tidak mau pergi dari sini, bu!"
"Tapi kamu mau kan di obati?" kali ini dia mengangguk. "Tunggu disini sebentar!"
"Dev, aku cari perawat untuk obati Gio!" Devan mengangguk. Meskipun aku juga tidak mau meninggalkan Axel, tapi aku juga tidak boleh abai dengan Gio. Aku pergi mencari perawat, dan kemudian kembali ke ruang tunggu di depan ruang UGD dengan perawat yang sudah membawa kotak obat.
Gio dan perawat duduk di kursi tunggu, dia sedang di bersihkan luka-lukanya dengan alkohol. Guratan-guratan merah bekas pecutan sabuk terlihat jelas di punggungnya, merah, beberapa mengeluarkan darah. Dia hanya menggigit bibir bawahnya, dan mencengkeram sandaran kursi, menahan rasa sakit. Dia meringis kesakitan tapi dia tidak menangis sama sekali. Sesekali dia menoleh ke arah pintu ruangan dimana Axel berada. Dia anak yang kuat. Selesai di bersihkan lalu perawat mengoleskan salep pada punggungnya.
Ayah macam apa tega melukai anaknya sendiri?
Perawat pamit kepada kami usai mengobati Gio. Kami mengucapkan terimakasih padanya.
Devan membuka jasnya dan memberikannya pada Gio. Bajunya sudah tak layak pakai, robek dan juga kotor. Gio hanya terdiam menatap pintu yang sedari tadi terus menutup. Matanya berkaca-kaca. Aku mendekat padanya dan memeluknya.
"Axel pasti selamat kan, bu?" tanya Gio.
"Pasti, nak. Doakan saja!" Seketika tangis Gio yang sudah ia tahan pecah seketika. Gio menangis hebat, terisak meminta maaf padaku. Ku peluk dia dengan erat.
"Bu, kalau terjadi apa-apa dengan Axel, berikan saja jantungku buat dia, bu! Aku sudah sayang Axel, aku juga sayang kalian. Ambil saja jantungku berikan pada Axel! Kumohon!" mendengarnya bicara seperti itu, aku jadi ikut menangis juga. Begitu besar kepedulian Gio pada Axel hingga dia bisa bicara seperti itu!
"Aku sudah gak punya siapa-siapa lagi bu. Aku gak mau punya bapak jahat seperti dia. Lebih baik aku berikan jantungku ini pada Axel. Dia punya orang tua yang baik. Aku gak mau ibu dan bapak sedih. Berikan saja, bu. Aku rela!" dia menangis terisak di pelukanku. Anak sembilan tahun mengatakan hal seperti itu, menurutku luar biasa!
Devan duduk di sisi lain Gio. Dia merangkul kami berdua.
"Maaf kan saya, pak! Maaf!" ucap Gio pada Devan. Devan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Tak lama Leon datang, dia bersama dengan Nanda di belakangnya. Devan bangkit dan menerima baju yang ia suruh Leon bawakan untuk Gio dan Axel.
"Anye! Bagaimana keadaan Axel?" tanya Nanda. Aku berdiri dan menghambur ke pelukannya.
"Tidak tahu. Axel masih di dalam. Dokter belum keluar!" ucapku di sela tangis. Nanda mengusap kepalaku pelan.
"Axel pasti baik-baik saja!" ucapnya. Semoga, Nan. Semoga!
Kami duduk di kursi tunggu, menatap kembali ke arah pintu yang entah kapan akan terbuka.
Beberapa saat lamanya akhirnya dokter keluar juga. Kami semua menghambur ke arah dokter untuk menanyakan keadaan Axel. Dokter bilang keadaan Axel gawat dan harus menjalani operasi. Karena sesuatu hal yang membuat adanya pendarahan di bekas operasi Axel yang terakhir kali.
"Apa sudah ada donor yang cocok? Akan lebih baik kalau Axel mendapatkan jantung baru, mengingat keadaan Axel saat ini yang kritis!" tanya dokter itu.
"Biar aku saja, Dokter!" Gio berlari mendekat ke arah kami.
"Tolong keluarkan jantung ku, berikan pada Axel!" Ucapnya pilu, masih terisak. Dokter menatapku bingung.
"Dik, dengar! Donor jantung itu tidak sembarangan kita mengambil jantung dari orang yang masih hidup! Lagipula jantung orang yang akan meninggal belum tentu juga akan cocok dengan Axel!..." Dan dokter menjelaskan dengan ringan agar Gio faham. Gio menunduk sedih setelah mendengar penjelasan dari dokter.
"Lalu aku harus bagaimana agar Axel selamat?" Nanda mengelus bahu Gio.
"Apa tidak bisa di lakukan operasi sementara sampai kami menemukan jantung itu?" Tanyaku. Dokter menoleh nafas panjang. Sepertinya aku tahu apa yang dokter fikirkan.
Leon berlari ke arah kami, dan memberikan hp nya pada Devan. Devan menempelkan benda itu di telinganya, lalu berjalan sedikit menjauh dari kami. Terlihat wajahnya berubah serius lalu tersenyum sedikit. Tak lama dia kembali mendekat padaku.
"Dokter, jika Axel di bawa ke Singapura, apa dia kuat?" tanya Devan pada dokter. "Kami sudah menemukan pendonor jantung yang cocok untuk Axel, tapi itu ada di Singapura!"
Dokter tersenyum dan mengangguk, "Kita lihat keadaan Axel setelah operasi nanti!" lalu dokter permisi untuk kembali mengecek keadaan Axel.
"Beneran Dev?" tanyaku tak percaya.
"Ya, akhirnya. Setelah bertahun-tahun kita mencari, Axel pasti akan sembuh setelah mendapatkan jantung baru!"
Aku memeluk Devan, menangis terharu. Axel tidak akan kesakitan lagi. Akhirnya...
Ku lepaskan diri ini dari Devan dan menatap Gio yang masih menunduk mengusap air di sudut matanya.
"Kamu dengar Gio, tidak perlu mengorbankan jantung kamu untuk Axel, cukup kamu jaga dia dengan segenap jiwa kamu!" ucapku. Gio mengangguk.
"Baik, bu. Aku janji, aku akan jaga Axel sampai kapanpun." ucapnya di antara isaknya.
"Mulai sekarang, panggil kami mama dan papa, sama seperti Axel! Kamu putra kami kan?" dia menatapku dengan mata yang semakin berkaca-kaca. Gio menghambur memelukku dengan erat.
"Trimakasih, mama. Papa!" ucap Gio.