
Gio telah sampai di rumah Tiara. Rumah ini kokoh dan indah, baru selesai pembangunannya dua minggu yang lalu. Hanya ada ibu di dalam sana. Tiara belum pulang. Padahal dia sudah pergi sedari tadi dari hotel.
"Kemana anak itu?" Gio bergumam dengan kesal. Tiba-tiba saja pergi dan juga mematikan telponnya sepihak. Membuatnya khawatir saja!
Gio mengambil hp dari dalam saku bajunya. Dia kembali menelpon Tiara untuk menanyakan keberadaan gadis itu.
Satu kali panggilan dan langsung diangkat. Gio yang sudah dilanda emosi dan juga rasa khawatir tak sengaja berbicara dengan nada tinggi.
"Dimana kamu sekarang, hem?! Aku kan sudah bilang agar kamu turun dan biarkan aku antar kamu pulang. Kenapa tidak menurut?! Apa kamu tidak tahu kalau aku ini khawatir?!" ucap Gio. Dadanya kembang kempis karena emosi. Sungguh dia khawatir dengan keadaan gadis itu, jika saja dulu Tiara sering mematikan telpon sepihak dia sudah biasa, tapi saat ini rasanya aneh jika Tiara melakukan itu. Mungkinkah gadis itu sedang marah?
"Tiara dimana kamu? Ada apa sebenarnya, Sayang?" Kali ini Gio bertanya dengan nada yang rendah, dia mengatur nafasnya sendiri yang kini merasa lelah tanpa sebab. Dia menunggu, tapi Tiara tak bebicara satu patah katapun.
Tut... Tut... Rasa hatinya semakin tak karuan saat Tiara mematikan telponnya sekali lagi. Gadis itu sengaja melakukannya membuat Gio merasa dirundung rasa tak nyaman.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kemana Tiara pergi?" gumam Gio dengan menahan perasaanya.
Gio masuk ke dalam mobil, dia terdiam menatap rumah sederhana yang tampak sangat baru itu. Ibu berdiri disana dengan raut wajah khawatir. Kedua tangannya saling meremas satu sama lain, mulutnya komat kamit seperti merapalkan doa. Jika tahu Tiara tidak pulang ke rumah Gio tak akan menyusulnya kesini dan membuat wanita paruh baya itu khawatir.
"Sial! Dimana kamu Tiara!" Gio memukul kemudinya dengan kencang.
Gio menghubungi seseorang.
"Cari tahu dimana Tiara sekarang. Lacak nomornya sampai dia ketemu!" ucap Gio dengan ekspresi dingin. Gio menutup telponnya lalu melajukan mobilnya keluar dari pelataran rumah Tiara dan menuju jalanan besar.
Entah kemana Gio harus mencari Tiara saat ini. Dia hanya bisa mengandalkan Heru untuk mencari sinyal dari ponsel Tiara. Dimana gadis itu berada sekarang?
...***...
"Kenapa kakak bawa aku kesini?"
Alea merasa kesal dengan sang kakak yang membawanya lebih jauh lagi ke sebuah tempat yang sangat asri. Mobil mereka terus saja berjalan melewati perkebunan teh yang sangat luas, kesejukannya sangat memanjakan mata setiap yang melihatnya. Udaranya juga sangat sejuk hingga membuat Alea kesal karena salah kostum.
Bayangkan saja, siapa yang memakai gaun pesta dan pergi ke tempat sejuk seperti ini? Dasar kakak gila!
Ken tertawa kecil melihat adiknya yang kini memeluk tubuhnya sendiri. meski ini memang masih terbilang siang hari tapi udara memang sangat sejuk dibandingkan dengan ibu kota atau kota-kota besar lainnya.
"Ada jaket kakak di belakang. Ambil saja." Titah Ken. Alea memutar kepalanya, ada jaket disana disamping peralatan dokter yang selalu kakaknya bawa di dalam mobil.
Sebagai seorang dokter Ken selalu siap sedia dengan peralatan itu, jika suatu waktu tenaganya di butuhkan dimanapun dan kapanpun.
Lea mengambil jaket yang ada disana. Di hanya menutupi depan tubuhnya dengan jaket yang tentunya kebesaran di tubuhnya. Lumayan, tidak terlalu dingin lagi sekarang. Lea membuka heelsnya, dia mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan memeluknya di dalam jaket.
"Ada saja! kamu pastinya suka nanti. Tidur lah, perjalanan masih satu jam lagi. Nanti akan kakak bangunkan kalau sudah sampai!" Ken mengacak rambut Lea, Lea merengut tak suka. Gadis itu merapikan kembali rambutnya selepas tangan Ken yang sudah kembali pada kemudi.
"Kakak gak balik ke rumah sakit?" Lea bertanya, menatap kakaknya dengan serus. Tidak biasanya pria ini begitu santai sekarang sampai bisa membawanya sejauh ini. Jika hari biasanya bahkan minta di antar untuk ke mall saja dia tak pernah bisa.
"Kakak libur dua hari ini." ucap Ken dengan santai.
"Libur? Bukannya kakak sedang sibuk-sibuknya, ya?" Lea mengerutkan keningnya.
"Sudah. Jangan bahas soal pekerjaan atau apapun. Lebih baik kamu telpon bos kamu untuk izin karena kita akan kembali ke kota besok siang."
"Kita mau ngapain kesini, sih?" Tanya Lea sambil membuka tas yang ada sampingnya.
"Bersenang-senang. Melupakan kesedihan kita berdua!" ucap Ken dengan senyuman kecut di bibirnya.
"Gak da sinyal." Lea memperlihatkan layar hpya. Ken juga megeluarkan hp dari saku celananya.
"Pake punya kakak." Menyerahkan hp miliknya pada Lea.
"Sama, ini juga gak ada!" Lea membuka galeri di hp milik kakaknya.
"Hei apa yang kau lihat. Kalau tidak ada sinyal kembalikan hp ku!" Ken mencoba meraih hp miliknya, tapi dia tak bisa begitu saja abai dengan kemudi. Jalanan tak semulus di jalan besar, terlalu banyak lubang dan juga kerikil yang membuat mobil sedikit berguncang.
"Pinjam sebentar! Lea menjauhkan hp di tangannya. Dia menepis tangan Ken dan berbalik arah memunggungi kakaknya yang kini merengut dengan sebal.
Lea tertawa penuh kemenangan saat kakaknya tak lagi bisa berkutik. Dia menoleh dan menjulurkan lidahnya mengejak sang kakak.
Satu persatu dia melihat poto yang ada disana. Tak banyak memang, tapi dia sangat penasaran. Semua poto yang ada disana kebanyakan poto Tiara. Hanya sedikit poto dirinya dan juga poto kedua orngtuanya, bahkan bisa di hitung dengan menggunakan jari. Poto Tiara yang diambil tentunya dari kejauhan, tanpa gadis itu tahu. Ken sudah menjadi pengagum rahasia Tiara sedari dulu.
"Dasar fans fanatik!" Lea menyimpan hp kakaknya di atas dashboard mobil. Ken berdecak sebal, mengambil hp itu dan kali ini memasukkannya ke dalam saku bajunya. Untung saja dia menyimpan poto Tiara yang lain di tempat yang tersembunyi. Bagaimana kalau Lea tahu dirinya mengambil gambar Tiara saat memakai baju renang? Adiknya itu pasti akan mengejeknya habis-habisan degan sebutan Dokter Mesum atau Dokter Cabul!
Waktu itu Tiara dan Lea memang sedang berenang bersama. Ken dan kedua orangtuanya tak ada di rumah, maka dari itu Tiara berani memakai baju renang milik Lea, terusan sebenarnya dengan rok kecil yang menutupi bokongnya, tapi tetap saja Ken sangat suka melihat Tiara yang sedang seperti itu.
Ken sempat terkejut saat dia pulang ke rumah dan melihat Tiara yang berjalan di tepi kolam renang dengan pakaian renang milik Lea. Hidungnya seketika terasa panas, dia sempat mengambil gambar poto Tiara sebelum cairan merah keluar dari hidungnya dan segera cepat pergi ke kamarnya.
Ah ... Gadis itu memang tak semolek adiknya, tak secantik adiknya, tapi entah kenapa bagai magnet yang membuat Ken tak ingin melupakan dia. Dan gadis itu bersama dengan Gio sekarang.... sudahlah.
Dia hanya berharap Gio tak menyia-nyiakan Tiara. Awas saja kalau pria itu membuat Tiara menangis sedikit saja. Ken janji akan merebut Tiara dari tangan dia. Tak peduli dengan posisinya jika memang dia harus terancam ditendang dari rumah sakit dan tak bisa bekerja di instalasi kesehatan manapun. Tiara lebih berharga dari itu semua.