DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio Part 177



Tiara menatap Gio yang tengah tertidur pulas. Ini seperti de javu baginya. Terbangun di samping pria itu yang tengah tertidur dengan pulas. Namun, kali ini tak ada senyum kebahagiaan atau rasa ingin berteriak yang dia tahan di dalam mulutnya. Tiara hanya bisa menahan suara tangis yang bisa saja membangunkan pria itu dari harinya yang lelah.


Wajah Gio sembab, dia sudah menangis dengan hebat tadi entah berapa lama, Tiara tak menghitung waktu. Bahkan dia hanya ingin waktu berhenti dan juga menghentikan isak tangis pria ini. Rasanya sakit juga menyaksikan pria yang dia cintai, yang biasanya terlihat sangat kuat, sangat berwibawa, dan juga sangat arogan kini hanya terlihat seperti anak TK yang menangis karena di ganggu temannya.


Tiara mengusap kening Gio, menyingkirkan rambut yang menutupi kening pria itu, merapikannya ke belakang. Tak ada pergerakan dari Gio. Pria itu pastilah lelah dengan keadaan mereka hari ini. Tiara mendekat dan mengecup bibir Gio, lalu ke ujung hidungnya, dan berlanjut dengan kecupan sayangnya di kening. Dia harus pergi saat ini juga, membiarkan Gio seperti layaknya bermimpi.


Dengan perlahan Tiara mengangkat tangan Gio dan menyimpannya dengan pelan di atas kasur, jangan sampai dia terbangun. Tiara bangkit dan berdiri di tepi ranjang. Dia berjalan ke sisi ranjang yang lain untuk mengambil sepatunya dan juga tas.


Melirik ke arah Gio yang tidur membelakanginya. Tiara mendekat untuk menaikkan selimut pada tubuh itu. Tubuh yang pernah dia kagumi dan dia bayangkan suatu saat akan berada di atas tubuhnya yang polos. Benar-benar pria ini membuatnya sering berpikiran kotor!


Sekali lagi mendekat dan mencium pelipis Gio dengan sayang.


"I love you, My Cold Boy! Trimakasih karena kau sudah memberikan semua hal yang terindah untukku! Anggap saja selama ini kau tidur dan bermimpi indah. Aku tak pernah ada di dalam kenyataanmu, aku hanya mimpi indahmu. Dan kau akan melupakan mimpi itu seiring berjalannya waktu." bisik Tiara, mencium kepala Gio dengan lamat, lalu menarik dirinya saat air matanya kembali akan terjatuh.


Tak tahan. Tiara segera beranjak dari kamar itu, dan segera keluar dari apartemen Gio. Lalu berlari ke arah lift.


"Aaaahh.... Hiks... huuu..." Tak tahan dengan apa yang terjadi, Tiara memilih berjongkok agar dia tak jatuh. Kejadian hari ini sungguh menguras emosi dan juga tenaganya. Pikiran dan juga hatinya sangat kacau dia rasakan.


Sadar denga lift yang semakin turun, Tiara menggapai dinding dan bangun meski dirinya sangat lemas. Dia harus keluar dari tempat ini jika tak ingin Gio menoleh kembali padanya.


Menggerakkan tangannya, Tiara menghentikan sebuah taksi yang akan melintas. Taksi itu berhenti, Tiara segera masuk ke dalam sana dan mengatakan kemana tujuannya.


Di dalam taksi, Tiara tak berhenti menangis. Sopir melihat penumpangnya tapi tak berani bertanya. Ini pasti urusan anak muda, keluar dari sebuah apartemen mewah apalagi jika bukan karena marahan dengan kekasihnya?


"G. Kau mau berjanji padaku?'


"Hem... Apa?"


"Jika kau bangun nanti dan aku tak ada, kau jangan cari aku ya!"


"Kenapa?"


"Aku ingin kau menganggapku hanya sebagai mimpi!"


"Kenapa seperti itu?"


"Karena jika mimpi tak kan terasa menyakitkan jika kau melupakan aku. Aku pun akan sama akan melakukan hal itu. Aku akan anggap semua yang terjadi dengan kita hanya mimpi, dan aku akan terbangun esok hari. Aku akan bangun, mandi, dan bersiap untuk mencari pekerjaan! Menjalani hariku dengan normal seperti sebelumnya."


"Kau harus mau. Atau aku memilih untuk tak akan bangun dan terus terbuai dengan mimpi indah ini. Percayalah G. Aku pasti tak akan kuat kalau kau tak melakukan hal seperti yang aku minta."


"Lalu kalau kita bertemu suatu hari nanti?"


"Karena ini hanya mimpi, tentu kau akan merasa pernah bertemu atau melihatku. Kau harus berkata pada dirimu sendiri, 'Aku pasti pernah bertemu dengannya di dalam mimpi'. Kau hanya perlu melakukan hal itu, dan pergilah. Lanjutkan langkah kakimu dan jangan menoleh lagi!"


"Lalu bagaimana dengan mu? Apa kau akan melakukan hal yang sama seperti itu?"


"Aku tentu berbeda! Aku orang yang gampang melupakan mimpi, tinggal melanjutkan tidurku dan mimpi yang lain akan datang untuk menghapus mimpi sebelumnya!"


Tiara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia sudah benar dengan meminta Gio untuk berjanji. Baginya memang mustahil bersanding dengan Gio yang memiliki nama Aditama di belakang namanya.


"Tisu, Neng?" Sopir menyodorkan tisu dengan satu tangannya, dia hanya melirik Tiara dari kaca spion yang ada di depannya.


Tanpa bicara Tiara meraih kotak tisu itu dan mengeringkan wajahnya dari sisa air mata yang tak mau berhenti mengalir.


...***...


Gio membuka matanya setelah yakin Tiara keluar dai kamar tu, dia terdiam sejenak. Sudah berjanji kepada Tiara jika dia akan bangun dan menganggap itu senmua hanya mimpi.


Ingin sebenarnya dia mengejar dan memeluk Tiara dari belakang. Tapi Tiara tak akan memaafkannya jika dia melanggar janjinya.


My Cold Boy. Satu lagi julukan Tiara yang di berikan kepadanya. Tentu setelah ini dia kan kembali memegang julukan itu tanpa My di depannya. My Cold Boy, hanya milik Tiara, dan tanpa tiara dia hanya pria dingin, arogan dan menyebalkan. He's Cold Man now!


Sial! harusnya dia tak menjanjikan apa pun pada tiara!


Gio menyibak selimut dan bangkit dari kasur nya, dia segera berlari ke luar dari unit nya bahkan dia tak ingat dengan alas kaki. sandal atau apapun itu!


Gio terdiam menatap lift yang ada di depannya, angka-angka dengan urutan terbesar hingga terkecil terlihat disana. Gio tahu jika Tiara sudah sampai di lantai bawah. Dia segera berlari kembali ke dalam unitnya.


"Heru! Ikuti Tiara pastikan dia selamat sampai pulang nanti!" Gio menelpon Heru. yang mendapat jawaban oke dari pria beku itu.


Dia memang berjanji untuk tak bertemu atau apa pun itu, tapi Tiara juga tak meminta dia berjanji dengan Heru atau yang lainnya, kan?


Gio melihat aplikasi di hpnya, titik merah dengan keberadaan Tiara berjalan perlahan, dan dia tahu kemana tujuan gadis itu sekarang. Pulang ke rumah. Tiara memang akan menganggapnya sebagai mimpi, tapi setidaknya rumah itu nyata dan bukan mimpi!