DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
255



Tiara mendesis kesal saat setelah Gio turun dari atas tubuhnya. Peluh bercucuran membasahi tubuh keduanya. Gio tersenyum melihat wajah kesal sang istri. Dia ambil tubuh ramping itu untuk masuk ke dalam pelukannya. Ditariknya selimut ke atas sampai ke bahu Tiara.


"Kau ini keterlaluan Gio!" teriak Tiara, kali ini dia menumpahkan rasa kesalnya pada pria itu. tangannya yang ramping memukuli dada Gio dengan keras, tapi Gio biarkan saja. Dia memang pantas mendapatkannya. Dia sudah menjadi milik Tiara, seharusnya apapun yang terjadi dia harus meminta izin terlebih dahulu pada istrinya ini.


"Maaf, maf. Aku gak akan lakukan lagi. Lain kali aku akan meminta izin padamu jika ada lagi yang ingin memelukku." ucap Gio. Tiara mengangkat kepalanya mendengar ucapan sang suami.


"Jadi kau mau memeluk wanita lain lagi, begitu?" desis Tiara dengan pelototan tajam di matanya.


Gio tersenyum kaku, bukan itu maksudnya. "Maksud aku jika ada ibu hamil yang ingin memeluk ku tentu aku akan meminta izin padamu terlebih dahulu. Aku akan meminta izin agar kau tidak salah paham lagi." Gio berkata dengan bingung hingga mengulang ucapannya.


"Mau itu ibu hamil atau bukan aku gak kan izinkan kamu menyentuh wanita lain Gio Arian Aditama!" teriak Tiara di dekat telinga Gio. Gio hingga mengusap telinganya yang seketika langsung panas akibat suara merdu istrinya.


Gio terkekeh dan memeluk Tiara dengan erat. Dia mencium kepala Tiara dengan sayang. "Iya, aku akan hindari semua wanita demi kamu, semua. Mau itu yang hamil atau tidak, aku akan menjauhi mereka semua."


Tiara kembali mengangkat kepalanya dan menatap pria itu dengan tajam. Cukup dirinya merasa cemburu karena pertemuan Gio dengan Naura tempo hari, sekarang ini jangan ada lagi yang membuat hatinya cemburu. Cemburu itu gak enak, Bro!


"Awas kalau kau dekat dengan wanita lain, aku akan pulang saja ke rumah ibu, dan akan mengurangi jatahku dengan mu!" ancam Tiara lagi. Gio kembali tertawa. Istrinya ini memang ajaib sekali, tukang ancam, dan tukang perintah, tapi kenapa Gio semakin suka?


"Iya, aku janji, tidak akan dekat dengan wanita, selain kau. Istriku tercinta!" seru Gio lalu mencium wajah istriya dengan rakus di beberapa tempat.


Tiara menarik dirinya, dia menyibak selimut dan hendak bangkit.


"Mau mandi, aku lapar!" ketus Tiara. Gara-gara bergulat dengan Gio ... Salah! Dia yang di serang! Tiara jadi kelaparan sekarang, sedari siang tadi dia tidak makan, membuat perutnya terasa lapar sekali.


"Kalau lapar makan Ara, bukan mandi!" tegur Gio saat wanita itu akan membuka pintu kamar mandi.


Tiara hanya meringis mendengar ucapan Gio. "Gak lucu!" lalu dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi sementara Gio tertawa puas di tempatnya.


Tiara menatap tubuhnya yang polos di cermin, banyak tanda merah yang Gio buat disana, beberapa sedikit ungu, sialnya pria itu membuatnya di leher, pasti aka sulit untuk ditutupi.


Jujur saja setelah pertemuannya dengan Naura kemarin itu, Tiara jadi seringkali merasa takut. Takut ketika Gio memikirkan orang lain, sikap Gio kemarin saja berubah banyak terhadapnya. Menjadi pendiam dan sulit untuk di ajak bicara. hatinya merasa sakit, merasa ingin menangis, merasa rapuh, apakah ini devinisi cemburu Tiara?


"Ara!" Suara ketukan di pintu dan panggilan Gio terdengar di luaran sana.


"Iya?!" Tiara berteriak.


"Bisa cepat sedikit? Aku mau pakai toilet!" Gio berteriak lagi dari luar. Tiara menepuk dahinya. Kenapa itu menjadi kebiasan Gio jika dirinya sedang mandi?


"Ara, tolong bukakan pintu, aku tidak tahan lagi!" Suara pintu kembali di ketuk dari luar membuat Tiara mau tidak mau membukakan pintunya untuk Gio. Pria itu berlari ke arah toilet dan segera duduk disana. Tiara menggelengkan kepalanya dan lalu masuk ke ruang kaca. Tiara mandi sedangkan Gio melanjutkan hal lainnya. Mereka melakukan kegiatannya masing-masing.


Selesai mandi Tiara segera memasak untuk makan malam yang sudah terlanjur malam ini, Dia malas memasak makanan berat. Hanya mie instan yang dia makan dengan campuran telur di dalamnya. Maid sudah menawakan diri bersedia memasak untuk mereka berdua, tapi Tiara menolak dan sedang ingin makan mie instan saja. Terkadang maid yang ada di rumh itu merasa keheranan dengan istri majikannya ini, dia hidup dengan sangat sedehana bahkan tidak manja sama sekali.